"kau membutuhkan uang dan aku membutuhkan seorang istri, bukannya kita akan saling menguntungkan.." kata Vico dengan menatap lekat Antin.
Antin bingung harus bagaimana lagi sekarang,, dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya yang memerlukan banyak uang.
Sedangkan uang yang ia kumpulkan selama ini hanya mencukupi biaya perawatan ayahnya saat ini.
Darimana lagi ia harus mendapatkan uang untuk biaya operasi ayahnya....
IG kenz kcp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikmahkhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Antin sudah didepan tokonya Tante Kila.
Selesai dengan pekerjaan sift paginya ia langsung menuju ke toko tantenya.
Ia langsung masuk saat sudah selesai mengambil sesuatu dijok motornya.
Terlihat ada beberapa pelanggan tengah memilih baju disana, tidak terlalu ramai saat akhir pekan memang. Namun tokonya Tante Kila ini tidak pernah sepi pengunjung.
"tante ada gak...?" tanya Antin kepada Aida.
"ada kak, didalem bu Kila nya.." kata Aida.
"makasihh..." kata Antin sambil menepuk pundak Aida perlahan dan berjalan kedalam.
Dan langsung membuka pintu tanpa permisi, terlihat Tantenya tengah mencacat sesuatu di bukunya.
"misii..." kata Antin.
Kila melihat siapa yang datang ternyata keponakannya dengan senyum centil.
"ngapainnn..." kata Kila dengan sinis.
"ett dahh.. galak bener..." Antin mendudukkan dirinya dikursi depan Tantenya.
Ia mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya dan memberikan kepada Tantenya.
Tantenya menerima dengan binar namun Tak lama langsung menjadi musam.
"kok cuma dikit..." Kila mengernyit menatap kertas bergambar desain baju dari Antin.
"belakangan lagi sibuk, jadi sempetnya cuma segitu.."
"yaellahh An.. padahal temen Tante ada yang nanyain desain kamu lo..."
"siapa.." tanya Antin antusias.
"tante Rina..temen Sma Tante dulu.."
"ehh yang punya butik Itu kan..
didaerah deket rumahnya..." tanya Antin menyakinkan.
"eh.. kamu Tau butiknya..?"
"tantekan pernah ajak aku kesana nganterin kue.."
"ehh iya ya..." Kila menggangguk-angguk.
"bu Rina tanya apa emang soal desain aku.." Antin menopangkan tangannya menggunakan kedua tangannya dimeja. Mendengarnya dengan antusias.
"beliau suka katanya sama desain kamu.." kata Tante Kila.
"ohh ya..." mata Antin berbinar mendengarnya.
"nihh kartu namanya.. kalo kau mau bertemu dengannya..." Kila memberikan sebuah kartu nama kepada Antin.
Antin jelas menerimanya dengan bangga.
"wihhh... boleh dehh kapan-kapan bisa bertemu..." Antin langsung menyimpan kartu namanya di tas selempangnya.
"Tante mau pulang nih..
anterin yahh..." kata Kila sambil berdiri dan langsung mengambil tasnya.
"kok mau pulang baru jam segini.." tanya Antin heran.
"lagi enggak ada pesenan kue..
ngantuk kalo gak ada yang dikerjain..." Kata Kila.
Antin hanya mendengus mendengarnya.
***********
Vico hanya terduduk dikursi kebesarannya sejak tadi, menatap nanar dokumen yang menumpuk didepannya.
Tatapannya kosong sedari tadi, membiarkan pekerjaan semakin menumpuk dimeja. Ia bahkan belum menyentuhnya sama sekali.
Ia hendak menyulut kembali rokoknya yang baru saja habis, namun dengan sigap Pak Kim langsung mengambilnya dari tangan Vico.
"tuan Vico sudah menghabiskan hampir 2 bungkus rokok.." kata Pak Kim melihat putung rokok yang sudah memunuhi asbak, dan 2 bungkus rokok yang satunya sudah kosong dan satunya hanya tinggal setengahnya.
"biarkan aku Pak Kim ..." Vico mencoba mengambil rokoknya dari Pak Kim, namun Pak Kim langsung membuangnya. mengambil bungkus rokok yang masih berisi setengah beserta korek apinya.
"kalau tuan tidak sanggup mengurus tuan besar Laurent, biar saya yang akan mengurus untuk tuan..." kata Pak Kim.
Vico hanya menghela nafasnya menatap jendela kacanya yang langsung menghadapkan pemandangan indah dari atas.
"entahlah Pak Kim..." kata Vico lirih.
Pak Kim menatap sendu kepada Vico, bagaimanapun ia sudah kenal sekali dengan pria didepannya itu.
Ia Sudah menghabiskan umurnya untuk mengabdi kepada perusahaan Glory.
Sifat Vico yang paling tidak bisa untuk melawan orang yang pernah berarti dihidupnya.
Ia mungkin bisa marah ataupun emosi,namun jika berurusan dengan dendam ataupun melawan ia paling tidak bisa.
"tuan makanlah, jam makan sudah lewat dari tadi..." kata Pak Kim.
Vico hanya diam menatap jendela kacanya.
memejamkan matanya, mengerutkan dahinya.
Membuka kembali matanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"aku mau pulang saja Pak Kim..." kata Vico berdiri dari duduknya.
"akan saya antar..." kata Pak Kim bergegas.
"tidak Pak Kim, aku membawa mobil saja.." Kata Vico lesu.
"tapi mobil tuan Vico masih dibengkel karna mogokk tadi,, maafkan saya karna tidak memeriksa mobil anda.." Pak Kim membungkukkan badannya permohonan maafnya.
"ohh..Tak apa Pak kimm..
aku akan menaiki taksi saja..
kau tolong urus pekerjaan saja Pak Kim.." Vico berjalan dengan lesu.
"baik..." kata Pak Kim dan membuntuti Vico dari belakang.
Ia mencarikan taksi untuk Vico, dan memberi info kepada sopirnya untuk membawa kealamat rumah Vico.
Vico hanya diam menatap kaca mobil, entah ada apa dengannya yang begitu sangat tertekan dengan omongan sang Ayah.
Hari ini mungkin ia bisa memarahinya namun jika besuk ia mungkin akan menyerah dan menyetujui apa yang diinginkan ayahnya.
Tidak-tidakk....
Ia tidak bisa melawan terus-terus kepada orang yang dulu pernah berarti dihidupnya.
"maaf tuan...kita sudah sampai.."kata sopir taksi menyadarkan lamunan Vico.
"ohh...." Vico terhenyak dari lamunannya, dan benar ia sudah sampai didepan gerbang rumahnya.
"ini Pak..." Vico memberi ongkos kepada supirnya.
"ongkosnya sudah dibayar oleh orang tadi tuan..." kata Sopirnya.
"ohh..terima kasih.." Vico membuka pintu mobil dan keluar, menutupnya kembali dan berjalan dengan sangat lesu kedalam rumahnya.
"tuan Vico pulang.." Sapa bibi Rum Asisten rumah Vico yang tengah menyapu halaman.
Vico mengangguk dan berjalan masuk meninggalkan bibi Rum yang bingung dengan sikap Vico.
Menaiki tangganya dan langsung membuka pintu kamarnya.
kamarnya yang bernuansa serba putih dan terdapat foto yang besar diatas jendelanya.
Foto keluarganya yang terlihat sangat jelas bahagia dengan senyum bahagia dibibir masing-masing.
Seorang laki-laki yang umurnya hampir setengah Abad bersanding dengan wanita cantik dengan senyum yang begitu manis nan terlihat sangat cantik menggandeng lengan pria disampingnya.
Dan masing-masing dari mereka memangku buah hati mereka dengan penuh kasih sayang.
Seorang wanita yang menggendong seorang bayi perempuan yang berumuran sekitaran kurang lebih 2th.
Dan seorang pria yang berumur 10th berada dipangkuan seorang pria dan dengan memakai topi berwarna hitam dengan senyum yang sangat bahagia sambil mengangkat kedua tangannya keatas.
Disana lah foto ayah,mamanya dan adiknya.
Yang sengaja ia pasang dikamarnya untuk mengobati rasa rindu saat tengah melanda.
Vico memang tinggal sendiri sejak 2th ini.
membuat rumah yang cukup dekat dengan perusahaan dan pekerjaannya.
Ia akan pulang kerumah utamanya satu minggu sekali atau waktu ada acara keluarga.
Namun sejak 2th terakhir ini keluarga yang sebelumnya terlihat bahagia ini dan baik-baik saja, perlahan mulai hancur dengan adanya seorang wanita yang mampu merebut hati ayahnya.
Mamanya yang sampai terkena serangan jantung Karena begitu terkejutnya mendengar Berita tentang suaminya yang sudah ia percayai selama puluhan tahun, lebih memilih wanita ****** daripada dirinya.
Tidak pernah ia duga kejadian seperti ini akan terjadi pada keluarganya.
keluarga yang sebelumnya sungguh sangat baik-baik saja.
Namun sekarang hanya tinggal luka yang digoreskan oleh satu orang.
Vico mengusap air matanya yang menetes melintasi pipinya.
Meraup mukanya dengan kasar, menendang kursi yang ada didepannya.
Jangan lupa like dan vote ya...:))