Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
"Lo emang istri gue, Tapi jangan pernah lupa kalo gue nikahin Lo hanya untuk Maura!" Dilan menatap pada Ana yang juga menatap malas ke arahnya.
"It's okee, Gue tidak akan pernah lupa. dan loe juga harus ingat kalo gue juga mau nikah sama lo juga karna terpaksa!" balas Ana tak kalah pedas.
Berawal dari pernikahan kontrak yang saling menguntungkan, Dilan dan Ana membangun rumah tangga tanpa dasar cinta. Dilan yang ingin memberikan sosok ibu untuk Maura, begitu juga dengan Ana terpaksa menerima tawaran Dilan karna butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? temani author melanjutkan kisah ini yuk
Update rutin setiap hari Rabu dan jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Monica
Setelah enam bulan masa transisi, Maura Group akhirnya menemukan keseimbangan baru. Dilan berhasil mempekerjakan tim asisten yang profesional dan efektif, memastikan batas kerja dan rumah tangga tetap terjaga. Rumah tangga Dilan dan Hana kembali harmonis, ditopang oleh komunikasi yang jujur dan komitmen yang kuat.
Namun, di balik kesibukan dan kebahagiaan mereka, ada satu bayangan yang belum hilang, Monica.
Setelah dipecat oleh Dilan, Monica menghilang dari industri. monica kehilangan semua koneksi dan reputasinya. Dendamnya membara, tidak hanya pada Dilan karena menolaknya, tetapi juga pada Hana, yang ia anggap telah merebut segalanya.
hari Rabu sore. Maura, yang kini duduk di kelas dua SD, diizinkan pulang sekolah sendiri karena sekolahnya hanya berjarak dua blok dari rumah. Dilan sudah mengatur agar sopir pribadi mereka hanya mengawasi dari kejauhan.
Saat Dilan sedang bermain dengan Jendra di taman, Hana menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo?" sapa Hana.
Suara di seberang adalah suara yang tajam dan dingin, membuat Hana tercekat.
"Halo, Istri Kontrak. Kudengar putrimu sudah besar dan pintar, ya?"
Hana langsung mengenali suara itu. "Monica! Kau! Jangan berani-beraninya kau..."
"Aku berani," potong Monica. "Aku bersama putrimu. Dan kau tahu, dia sangat mirip denganmu. Manis, tapi terlalu banyak bicara."
Napas Hana tercekat. Ia menoleh ke luar jendela. Maura seharusnya sudah tiba sepuluh menit yang lalu.
"Apa yang kau inginkan, Monica?" suara Hana bergetar.
"Aku? Aku tidak ingin apa-apa dari uang Dilan lagi. Aku hanya ingin keadilan. Aku ingin Dilan kehilangan hal yang paling berharga baginya, sama seperti dia membuatku kehilangan segalanya."
"Jangan sakiti dia! Aku mohon!" isak Hana, suaranya menarik perhatian Dilan.
"Jangan menangis, Hana. Ini hanya permainan kecil. Kau dan Dilan punya waktu dua jam. Dilan harus datang sendirian ke alamat ini," Monica menyebutkan alamat sebuah gudang tua yang berada di pinggiran kota yang sudah tidak terpakai. "Dia harus datang tanpa polisi, tanpa ponsel, dan tanpa memberitahu siapa pun. Hanya dia. Jika tidak, anakmu akan bernasib sama dengan masa depanku...hancur."
Monica memutuskan sambungan telepon.
Dilan segera mendekati Hana, melihat Hana yang pucat dan gemetar.
"Ada apa, Hana? Kenapa kau menangis?" tanya Dilan panik.
Hana membalikkan ponselnya, menunjukkan nomor tak dikenal itu. "Maura... Maura diculik. Monica yang melakukannya."
Wajah Dilan langsung mengeras, semua ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun lenyap. Dilan segera mengambil kunci mobil, instingnya adalah memanggil polisi dan tim keamanan.
"Tidak, Dilan! Kau tidak boleh!" Hana menahan lengannya. "Monica bilang kau harus datang sendiri, tanpa ponsel, tanpa polisi! Dalam dua jam!"
Dilan mengepalkan tinjunya. "Kau mau aku mematuhi perintah penculik? Dia bisa saja membunuh Maura!"
"Tapi jika kita melibatkan polisi, dia pasti akan melakukannya! Dilan, dia dendam. Dia ingin kau merasakan kehilangan yang sama seperti dia kehilangan segalanya. Jika kau melanggar aturannya, Maura dalam bahaya!" Hana memohon, matanya dipenuhi keputusasaan.
Dilan menatap istrinya, lalu menatap jam. Hanya ada waktu dua jam. Ini adalah situasi hidup atau mati, dan Dilan harus kembali mengandalkan insting lamanya, yang dulu ia gunakan untuk bertahan di bisnis.
"Baik," kata Dilan, suaranya rendah dan penuh bahaya. "Aku akan pergi sendirian. Tapi kita akan bermain dengan aturanku juga."
Dilan berjalan ke ruang kerjanya. Ia mengambil smartwatch lamanya, yang tidak memiliki fungsi telepon tetapi memiliki GPS yang terhubung ke laptop keamanan rumahnya. Ia memasukkannya ke dalam saku.
"Aku akan pergi ke sana sendirian, Hana. Tapi aku ingin kau segera menelepon Edward," Dilan memberi instruksi cepat dan tegas. "Jangan bilang tentang penculikan. Katakan saja aku akan pergi ke alamat ini untuk menyelesaikan urusan mendesak dan aku ingin dia memantau lokasi ini melalui GPS smartwatch lamaku."
"Edward tidak akan percaya itu, Dilan!"
"Dia harus percaya! Dia tahu aku memiliki kebiasaan aneh. Katakan saja aku ingin dia memastikan lokasi itu aman sebelum aku masuk! Itu alasannya! Katakan dia harus datang ke sana setelah 30 menit aku tiba, dan jika dia tidak melihatku keluar dalam 10 menit setelahnya, dia harus segera panggil polisi! Edward adalah pria yang sangat loyal, dia akan mengikutinya tanpa pertanyaan."
Dilan memeluk Hana erat-erat. "Jaga Jendra. Aku akan membawa Maura kembali. Aku janji."
Dilan tiba di gudang tua itu, tepat waktu. Ia memarkir mobilnya agak jauh, meninggalkan ponselnya di dasbor sesuai permintaan Monica.
Dilan melangkah masuk ke dalam gudang yang gelap dan berbau debu. Di tengah ruangan, Maura duduk di kursi tua, terikat tali, dengan lakban menutupi mulutnya. Maura menatap ayahnya dengan mata ketakutan.
Di belakang Maura, berdiri Monica, memegang pisau lipat kecil di tangannya.
"Kau datang sendirian. Bagus, Dilan. Setidaknya kau masih punya hati," kata Monica, tersenyum sinis.
"Lepaskan putriku, Monica. Jangan melibatkan anak-anak," perintah Dilan, suaranya tenang.
"Mudah sekali, ya? Setelah kau merampas semua yang kumiliki, kau pikir aku akan memberimu kebahagiaanmu kembali?" Monica tertawa. "Aku ingin kau merangkak. Aku ingin kau berlutut dan memohon, dan mengatakan kau menyesal telah memilih Hana si Istri Kontrak daripada aku."
Dilan berlutut, matanya lurus menatap Monica. "Aku tidak menyesal memilih Hana, Monica. Aku hanya menyesal karena aku tidak pernah melihat betapa hancurnya dirimu. Tapi itu tidak memberimu hak untuk menyakiti anakku. Aku akan memberimu semua uang yang kau mau, saham, apa pun. Lepaskan Maura."
"Uang? Aku tidak butuh uangmu!" Monica mengayunkan pisau itu, mendekatkan ujungnya ke wajah Maura.
Maura terisak, air matanya membasahi pipinya di bawah lakban.
"Aku ingin kau menderita, Dilan. Aku ingin kau memilih antara hidupmu dan hidup anakmu. Sekarang," Monica mengangkat pisau itu sedikit. "Pilih, Dilan. Kau atau dia!"
Dilan menatap Maura, yang gemetar ketakutan. Ia tahu, Monica hanya ingin balas dendam.
"Baik. Aku," jawab Dilan, bangkit perlahan, mengalihkan perhatian dari Maura. "Aku adalah masalahmu, Monica. Aku akan menggantikan tempat Maura. Sekarang, lepaskan dia."
Saat Monica terdistraksi dengan jawaban Dilan, Dilan memperhatikan Maura. Maura, meskipun terikat, mencoba menggerakkan kakinya, memberi isyarat ke belakang Monica.
Dilan menyadari, Maura melihat sesuatu di belakang Monica. Ia harus mengulur waktu.
"Kau pikir semudah itu?" cibir Monica, mulai berjalan mengitari Dilan. "Kau pikir aku tidak tahu kau menyalakan GPS-mu? Kau masih licik, Dilan!"
Monica tahu tentang GPS smartwatch itu. Hana pasti sudah menelepon Edward, dan Edward pasti panik dan membocorkan sedikit informasi kepada Monica.
"Kau tahu, Dilan? Edward sangat panik saat tahu kau memecat Risa. Dia bilang, Risa adalah satu-satunya orang yang benar-benar bisa diandalkan. Edward yang malang. Dia benar-benar merindukan Risa," desis Monica.
Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang Monica, muncul sosok berbadan tinggi besar yang bergerak cepat.
Itu bukan Edward. Itu adalah Arka.
Arka, yang selalu menjadi superhero cadangan bagi Maura, telah mendengar kepanikan dari Hana saat Hana menelepon Edward. Arka datang duluan.
Arka melompat, membekap Monica dari belakang, dan menjatuhkan pisau itu ke lantai.
"Lari, Dilan! Lepaskan Maura!" teriak Arka.
Monica berteriak, meronta-ronta dalam cengkeraman Arka. Dilan dengan cepat bergegas ke arah Maura, merobek lakban dari mulutnya, dan melepaskan tali ikatan.
Maura langsung memeluk Dilan erat-erat, menangis.
Tak lama kemudian, sirene polisi terdengar dari kejauhan. Edward, yang panik, akhirnya memanggil polisi setelah melihat pergerakan GPS Dilan yang tidak normal.
Dilan, Hana, dan Maura, dengan Maura yang terluka ringan tapi trauma, kembali ke rumah. Arka tinggal untuk memastikan Monica ditangkap dan diadili.
Setelah Maura tertidur di kamar Dilan dan Hana, Dilan memeluk Hana di ruang tamu.
"Monica tahu tentang GPS-ku, Hana. Aku seharusnya tidak melibatkan siapa pun," bisik Dilan, merasa bersalah.
"Arka yang menyelamatkannya, Dilan," balas Hana, memeluk suaminya erat-erat. "Dan Monica di sini bukan karena Risa. Dia di sini karena dia gila dan dendam."
"Aku harus berterima kasih pada Arka," kata Dilan.
"Ya. Tapi kau harus berterima kasih pada dirimu sendiri," ujar Hana, menatap Dilan. "Dulu, kau akan mengandalkan kekuasaan dan uang. Kali ini, kau berlutut di depannya. Kau memilih Maura. Kau menunjukkan betapa jauhnya kau sudah berubah."
Tapi Hana tidak merasakan itu, hatinya kerap terluka karena cintanya yang tanpa sadar tumbuh untuk Dilan, sang suami kontrak yang hanya menganggapnya hanya orang asing.
Apakan Hana akan mempertahankan cintanya atau memilih pergi...