Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap
Asmara menatap layar ponselnya saat ia menunggu di dalam ruangan Andra di Beaufort. Di depan sana ia bisa melihat Seven dan rekan-rekan yang lain, mereka berada di posnya masing-masing sedang bekerja. Gerakan mereka terlihat santai namun duduk mereka tegak dan terstruktur. Asmara jadi ingat bagaimana cara pramugara dan pramugari beraktivitas di dalam pesawat. Persis seperti itu tapi yang ini versi suramnya.
Di ujung sebelah kanan pos sebelum Seven, ada satu-satunya sekretaris perempuan, rambutnya digelung ke atas dan sedang mengerutkan dahinya mengetik secepat kilat. Kalau dari urutannya bisa jadi Namanya ‘Six’. Karena yang sebelah kiri Seven ada pemuda yang sibuk menyortir surat, di dadanya ada name tag bertuliskan ‘Eight’.
Yang membuat Asmara penasaran, mereka sangat sibuk Tidak seperti aktivitas sekretariat di kantornya yang kebanyakan bergosip dan haha hihi dengan suara kencang untuk menarik perhatian.
Asmara membuka pintu ruangan, agar bisa lebih mendengar apa saja aktivitas yang mereka lakukan.
“Ten, kamu kirim email ke mana barusan? Saya sudah bilang ke Rosada, bukan Rosdini!” seru Six. Tapi wajahnya tetap lempeng dan jarinya masih sibuk mengetik.
“Nah itu tahu saya kirim email ke mana, ini lagi dikonfirmasi. Iya saya salah.” gumam Ten sambil tetap mengetik. “Lagian nama mirip-mirip amat. Orang tuanya gak kreatif… bla…bla…bla…” Asmara tidak mendengar dengan jelas omelan Ten. Tapi tetap wajah pemuda itu tanpa ekspresi.
“Pak Bara sudah kirim Memo Internal untuk mesin prototype, saya sedang berusaha mengajukan ke Mas Idris tapi sepertinya beliau tidak bisa ke kantor sampai minggu depan” Kata Eight.
“Kejar dia.” kata Six.
“Hah?!”
“Kejar.”
“Mas Idris sedang di Italy, Mbak Six.”
“Kejar ke Italy. Sekarang juga.” kata Six dengan lebih tegas.
“Nanti sore saya ada janji dengan-”
“Saya yang akan bilang ke pacar kamu, kalau kamu mengejar tanda tangan Boss, atau mau kamu sendiri yang menjelaskan?” tanya Six tegas.
“Saya sendiri saja yang menjelaskan ke pacar.” kata Eight akhirnya menyerah.
“Nine.Tolong bantu siapkan Jet pribadi sekalian urus proses imigrasi untuk Eight dan izin terbangnya. Saya pesankan heli untuk ke bandara.” kata Six.
Eight membongkar sebuah bantex dan menyiapkan kertas-kertas, lalu Nine langsung sibuk dengan ponselnya.
“Heli sudah siap di rooftop, segera berangkat.” sahut Six.
“Lu bawa baju nggak?” tanya Nine ke Eight.
“Kagak, Lu transferin gue biaya perjalanan ya, lebihin buat beli baju.”kata Eight.
“KTP ama Passpor lu mana?”
”Nih.”
“KTP ama Passpor lu cuy,”
“Lah itu yang lu pegang!”
“Ini atas nama Arram?!”
“Lah nama gue emang Arram! Lu kagak liat fotonya sama nih!!” Eight menunjuk-nunjuk foto dan mukanya bergantian karena kesal.
“Loh? Arram bukannya namanya si Seven ya?!”
“Si Seven tuh Jay! Gue Arram! Nama orang jangan dibolak-balik”
“Jangan kebanyakan ngobrol!” tegur Six.
“Siap!” dan kedua pemuda itu langsung memasukkan semua dokumen ke koper besar, lalu berjalan secepat kilat menuju lift.
“Mbak Six saya ke OJK dulu, Tapi mampir ke Ruang Meeting untuk minta tanda tangan Pak DirOps di Surat Konfirmasi. Terkait email yang baru saja salah kirim.” desis Ten sambil berdiri.
“Oke. Besok jangan telat.” desis SIx.
Lalu hening…hanya ada suara ketikan di keyboard dari Six dan Seven.
Asmara pun membatin, Jadi nama si ganteng fakboi ini Jay. Dan mekanisme kerja di kantor ini benar-benar cepat dan efisien. Tanpa buang-buang waktu.
Sesuatu yang akan Asmara adaptasi untuk mengimbangi jadwal Andra yang padat.
“Bu Asmara butuh apa?” tiba-tiba Seven sudah ada di depan pintunya. Berdiri sambil bersandar santai ke pinggir kusen. Tatapannya kali ini lembut, menyapu seluruh tubuh Asmara yang duduk di sofa Andra sambil menyilangkan kaki.
Perasaan tadi dia masih mengetik di Posnya, Asmara melamun sebentar saja sudah muncul di depannya.
“Saya baik-baik saja.” kata Asmara. “Pak Jay.” sambung Asmara.
Senyuman sinis terukir di sudut bibir Seven,”Bahaya itu.” katanya sambil terkekeh.
“Seven, masih jam kantor.” terdengar teguran Six.
Seven menghilangkan senyum sinisnya dan menegakkan posisi berdirinya.
“Sebentar lagi coffe break sore. Saya mau ngopi ke bawah. Ibu mau ikut? Sepertinya Pak Andra masih agak lama meetingnya.” tawar Seven, sepertinya ada maksud tertentu di balik ajakannya
“Ah, saya sebenarnya mau membeli beberapa bingkisan untuk besok ketemu klien.” maksudnya, Asmara berpikir ia harus membawa hampers untuk bertemu Bu Susan, terkait pendekatannya untuk mengatur jadwal pertemuan dengan David Yudha.
“Di bawah ada beberapa toko, sejalan dengan cafe. Ibu bisa pilih hampersnya.”
Asmara menimbang-nimbang, Seven ini sepertinya orang yang cukup berbahaya, namun kantor ini penuh orang. Rasanya tidak mungkin Seven macam-macam dengannya di tempat umum. “Oke Pak.”
“Mbak Six, saya istirahat lebih awal, nanti lembur saya gantikan.” pamit Seven ke Six.
“Oke.” jawab Six pendek, tapi mata gadis itu menatap lurus ke arah Asmara. Sampai Asmara berdiri di depan lift, Six masih menatapnya dari kejauhan.
Tatapannya berbeda dengan tatapan sinis orang-orang di kantor, ini lebih seperti mengamati secara intens. Seakan memata-matai namun terang-terangan.
**
“Kalau boleh saya tahu, siapa klien yang akan ibu berikan hadiah?” tanya Seven saat mereka berdua di dalam lift. Asmara sengaja berdiri agak jauh, di sisi yang berseberangan dengan Seven, mepet dinding, karena Aura predator Seven yang tiba-tiba muncul.
Pemuda itu mengacak-acak tatanan rambutnya sedikit, lalu membuka dua kancing teratas kemejanya dan melipat kain lengannya sampai siku.
Imagenya langsung berubah dalam sekejap. Pemuda itu bahkan menyampirkan rokok di sudut bibirnya. walaupun tidak ia sulut api.
“e-em…eeeeh, namanya Susan. DIa istri David Yudha.” jawab Asmara agak tergagap
“Susan Tanudisastro.” sahut Seven.
“Ah. saya kurang tahu nama belakangnya, Pak Seven.”
“Jay saja, sudah coffee break jadi boleh sebut nama asli. Lagipula saya lebih muda 10 tahun, jadi tidak usah pakai sebutan ‘Pak’.”
“Jay… lebih terdengar manusiawi dibanding ‘Seven’.”
“Hehe…” senyum Seven… sangat memikat, sesuai perkiraan Asmara. Dia bisa langsung membuat seorang gadis bertekuk lutut hanya dengan tersenyum.
Namun, sebagai seseorang yang sudah pernah dikecewakan laki-laki, juga sebagai wanita yang melewati banyak pengalaman hidup, pertahanan Asmara masih teguh. Tampaknya Seven tipe yang suka main-main dengan wanita, namun akan sangat gencar mengejar mangsanya sampai dapat.
Mereka akhirnya keluar dari lift dan ternyata saat berjalan berdampingan dengan Seven, perasaan Asmara jauh lebih sesak daripada saat berjalan bersama Andra. Di gedung itu banyak tenant dan cafe, sudah seperti Mall mewah dengan berbagai tokonya. Dan di saat sore seperti ini banyak orang yang berlalu-lalang. Sepanjang penglihatan Asmara, semua wanita menatapnya dengan kesal, bahkan marah sampai ternganga.
“Jay!” beberapa orang memanggil nama asli Seven dengan kesal, lalu memelototi Asmara.
Seven hanya melenggang santai tak memperdulikan mereka sambil menyulut rokoknya. Di dalam gedung bertuliskan ‘Dilarang Merokok di Area Gedung’.
“Bu Susan menyukai Mawar Putih.” kata Seven, “Juga mungkin bisa ditambah dengan kue manis, dia penggemar kopi pahit.”
“Kamu pernah kirim bingkisan juga ke beliau?”
“Sering. Kami menjaga hubungan baik dengan relasi. Tapi biasanya yang mengatur adalah Six. Saya hanya mengirimkannya. Kalau laki-laki kurang sensitif akan hal-hal semacam itu.”
“Kecuali kamu.”
“Kecuali saya.” Seven mengakui sambil tersenyum.
“Kamu menggunakan hadiah untuk memikat target.”
“Tidak perlu hadiah untuk memikat target, saya menggunakan hadiah untuk mengajak… berbaikan. Kalau saya ada maunya. Hehe.”
“Hm…”
“Kita ngopi di Patio saja ya, lebih tenang di sana untuk mengobrol.”
“Saya ikut saja asal aman.”
“Aman… jelas tidak.” gumam Seven.
“Hah?”
“Bercanda.” Seven meletakkan tangannya di pinggul Asmara dan dengan sedikit tekanan menggiring wanita itu untuk memasuki sebuah lorong. Hal yang sebenarnya risih dirasakan Asmara, namun entah bagaimana ia bahkan tidak mampu menepis tangan Seven.
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer