NovelToon NovelToon
Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Konflik etika / Romantis
Popularitas:106.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Christina

"Ayu gak punya uang, Bu. Kan ibu tahu sendiri, penghasilan Mas Bagas sebagai pemula baru dua juta. Setiap hari ibu minta di talangin terus, ya habis dong uangnya."

"Kamu ini, sama mertua pelitnya minta ampun. Udah sana belanja, gak usah banyak drama. Pakai dulu uang kamu, nanti ibu ganti."

Menyebalkan sekali. Tapi aku malas melayani ibu mertuaku lebih lama untuk berdebat.
Aku ikuti saja kemauannya. Tapi aku punya ide, supaya mertua ku kapok menyuruh ku belanja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Christina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip Hangat

"Ayu, tunggu !!!" Teriak Mbak Dita.

Mbak Dita menghentakkan kakinya dengan kesal lalu masuk ke kamar. Tak lama dia kembali dan menyerahkan sertifikat itu pada kami.

"Dasar serakah !" Teriak Mbak Dita tepat di depan wajahku. Aku balas dengan senyum semanis mungkin. Memang begitu, biasanya maling teriak maling. Tak sadar diri.

"Ya Allah,"

Saat mau pergi, ibu mertua mendadak menangis dan bersimpuh di lantai, membuat kami keheranan.

"Bu, bangun, Bu. Kenapa ibu menangis ?" Mas Bagas berusaha membawa ibunya untuk bangkit.

"Ibu sudah gak punya rumah lagi, Gas. Ibu mau tinggal di mana ?"

Aduh, drama apa lagi ini ?

"Bu, ibu sama bapak tetap tinggal disini. Ini rumah ibu. Hanya nama pemilik sertifikatnya saja yang dirubah." Ucap Mas Bagas merangkul ibunya.

"Iya, Bu. Meskipun menantu ibu ini kelihatan menyeramkan bagai siluman ular di mata ibu, tapi Ayu gak bakal tega mengusir ibu sama bapak. Justru Ayu mau menyelamatkan rumah ini dari kerakusan dan ketamakan pihak lain." Ucapku sengaja melirik Mbak Dita.

"Ibu harap kalian mau tinggal disini."

"Kenapa kami harus tinggal disini, Bu ? Kami sudah tenang tinggal di kontrakan."

"Rumah ini kan sudah menjadi milik kalian, masa gak ditempati. Lagipula kandungan kamu sudah semakin besar, Ayu. Ibu mau kalian tinggal disini."

Wah, tumben ibu menyuruh kami tinggal disini. Bukannya dia senang aku tak ada disini ? Jangan-jangan ada akal bulus dibalik senyuman sok tulus.

Ya ampun, kenapa sekarang isi kepalaku penuh dengan pikiran negatif ? Tapi maklum, Citra ibu mertua selama ini kurang baik, selalu Julid, seolah-olah tak menginginkan keberadaan ku. Wajar kalau aku mencurigainya saat tiba-tiba perhatian.

"Jangan berpikiran negatif, Ayu. Ini demi kebaikan cucu ibu. Kamu gak usah sungkan tinggal disini. Bukannya ini sudah menjadi rumah kamu ? Hanya tinggal urus proses balik namanya."

"Gimana sayang ?" Tanya Mas Bagas.

"Nanti aja bahasnya, Mas. Kita fokus dulu buat balik nama sertifikat rumah."

"Bagas, ibu mohon tinggal lagi disini. Ibu janji akan bersikap baik, adil sama kamu dan Ayu juga." Bujuk ibu mertua.

"Ibu jangan sedih, jangan banyak pikiran juga. Biar Bagas dan Ayu rundingan dulu."

Ibu mengangguk setuju dan kami pun bergegas pamit.

Sepanjang jalan tak ada obrolan sama sekali antara aku dan Mas Bagas. Dari ekspresinya sepertinya suamiku sedikit kesal padaku. Mungkin dia menganggap sikapku terlalu berlebihan. Terserah saja dia mau berpikir apa. Aku melakukan ini juga demi kebaikannya.

...

"Sayang, gimana pendapat kamu soal pindah lagi ke rumah ibu ?" Tanya Mas Bagas saat kami beranjak tidur.

"Mas mau aku stres karna sikap ibu dan Mbak mu ?"

"Ya, gak mau. Kesehatan kamu nomor satu, sayang. Agar anak kita juga sehat."

"Jadi, udah paham kan jawabannya."

Tak ada jawaban lagi. Suamiku diam dan memelukku dari belakang. Dia paling paham kalau istrinya begitu keras kepala. Lebih baik diam daripada terjadi pertarungan lagi.

.

.

Usia kandunganku sudah menginjak bulan ke tujuh. Perutku juga sudah terlihat besar. Bahkan sekarang aku lebih gampang capek. Seperti saat ini, aku dan Rina sedang berbelanja bahan pentol di pasar tapi rasanya aku sangat lelah.

"Rin, aku capek. Kita duduk dulu yuk, sambil makan bakso disana." Ajakku menunjuk tukang bakso yang mangkal.

Kami menikmati dua porsi bakso ditemani es teh manis. Tapi jangan sampai ketahuan Mas Bagas. Dia melarang aku makan pedas dan es. Maaf Mas, hari ini aja aku nakal.

"Yu, itu bukannya mertua kamu ?"

Mataku langsung mengikuti arah telunjuk Rina. Benar saja, itu memang ibu mertua dan kakak iparku. Mereka baru keluar dari toko baju. Mereka terlihat sangat ceria dengan membawa beberapa tentengan plastik.

Katanya usaha Mbak Dita dan suaminya bangkrut, kenapa sekarang malah hura-hura ? Dapat duit dari mana ? Masa iya hutang lagi ?

"Gak kamu samperin, Yu ?"

"Lagi malas ribut, Rin. Udah, lanjut makan aja, Rin."

Kami pun lanjut menikmati bakso yang sempat terabaikan.

"Ayu ?"

Aku mendongak mencari sosok yang memangil namaku.

"Mbak Intan ?"

Wah, kebetulan sekali bertemu tetangga dekat rumah ibu. Mbak Intan ini teman ngobrol ku saat masih tinggal di rumah ibu mertua. Kami layaknya besti, karena sama-sama tidak suka dengan Mbak Dita.

"Akhirnya ketemu kamu juga, Yu. Lama banget kita gak gibah. Betah yah kamu ngontrak."

"Hehehe, betah banget, Mbak. Adem, nyaman, kupingku gak bisulan gara-gara dengerin ceramah ibu mertua."

"Kamu enak, udah nyaman di kontrakan. Nah aku, pusing tiap hari dengar keributan."

"Keributan apa, Mbak ?"

Kami mulai bercerita panjang lebar. Berbulan-bulan tinggal di kontrakan, ternyata banyak gosip hangat yang tak terdengar.

Pertama, Mbak Dita sudah jarang dikirimi uang sama suaminya, karena sekarang Mas Adit kerja serabutan. Ternyata waktu itu bukan usaha mereka yang gagal, tapi Mas Adit kena tipu investasi bodong.

"Tapi aneh lho, Mbak. Kalau Mbak Dita udah jarang dikirimi uang sama suaminya, terus bisa belanja-belanja kayak tadi, uangnya dari mana ?" Aku heran sendiri.

"Oh, kakak ipar kamu itu ada di pasar juga ?"

"Iya, barusan aku lihat sama ibu kayaknya habis belanja banyak."

"Mm, kayaknya duit dari suamimu deh, Yu."

"Ah, gak mungkin, Mbak. Mas Bagas cuma ngasih uang bulanan sama ibu. Nominalnya juga cuma satu juta. Aku tahu banget, karena aku yang kirim uangnya tiap bulan."

"Itu yang kamu tahu, yang kamu gak tahu, gimana ? Kalau di ingat-ingat, suami kamu seminggu sekali datang ke rumah ibu mertua kamu. Aku sempat heran kenapa kamu gak pernah ikut. Apa memang suami kamu gak ngajak, atau kamu yang males ke rumah ibu mertua kamu ?"

"Masa sih, Mbak ? Mas Bagas gak pernah bilang kalau dia ke rumah ibunya. Wah, ada yang gak beres ini."

"Aku kurang paham sih kalau itu. Kamu cari tahu dulu aja. Ya udah, aku pamit duluan yah. Suamiku udah jemput."

"Oke, Mbak. Hati-hati."

Mbak Intan pamit pulang, sementara aku malah terdiam sambil menerka-nerka apa yang terjadi. Jangan-jangan Mas Bagas bohong lagi. Kalau iya, kenapa sekarang dia suka banget bohong sama istri sendiri ? Astaghfirullah, harus sabar sampai jidat lebar kalau kayak gini.

"Ayu ! Hei, jangan melamun, gak baik. Kamu pasti kepikiran ucapan Mbak-mbak tadi yah ?"

Aku mengangguk.

"Udah, lebih baik kamu cari tahu dulu aja. Jangan asal percaya juga sama omongan orang."

"Iya juga sih, Rin."

"Ya sudah, mending kita pulang. Udah siang, makin panas. Kasihan kamu kepanasan."

Aku membayar dua porsi bakso dan es teh pesanan kami tadi lalu beranjak pergi. Sebelum pulang, kami mampir dulu ke gudang membawa bahan untuk pembuatan pentol. Saat ini Rina tidak bekerja menjual pentol lagi, tapi dia bekerja di bagian produksi pentol, bertugas mengkoordinir pengiriman ke lima cabang dekat sini.

Setelah beres, aku kembali ke kontrakan.

Mas Bagas belum pulang, hari ini dia turun langsung ke cabang-cabang untuk mengecek.

Di kontrakkan pikiranku melayang-layang tak karuan, kepikiran ucapan Mbak Intan. Nanti harus ditanyakan ke Mas Bagas. Biar tak penasaran seperti ini.

1
Ayu Rizka
ko gk ada kelanjutannya kak udah nunggu lama banget
Veni Damayanti
Luar biasa
Fatmah Abujahja
bagus ceritanya bisa jadi pembelajaran
Duda Fenta Duda
waduh suamimu ayu dakda tegasnya
vi
cerita nya 👍
Maulida Hayati
Luar biasa
Er Ropah
ska nih klo critanya menanntu bar2.....😄
sweetpurple
Luar biasa
Ritmaridu
kesel banget dgn org kayak mbak Dita,selalu nyalahin org atas takdir dia,padahal dia yg buat kesalahan,org kayak mbak Dita enaknya di apain ya😡😡
Norizah Mat Isa
Biasa
novita setya
yowes itu buah dari perbuatanmu dita. nikmati jalani..sukur2 sambil bertobat
novita setya
ciee ngarep banget siii..maap2 aja y gus fatih ga doyan sm lea..bukan muhrim
R. Kamal
pasti bekum nyesek tu jantung... msh luassssss heee
novita setya
sing salah bakale seleh..tuhkaaan kaaan disimpan serapat apapun ttp ketahuan..wuhuuu bakal dinikahin sm siapa nih..
R. Kamal
penyakit ngeyel dan pikun dipelihara akhirnya ketahuan juga ada janin...
novita setya
hasil tespek hoax tuh😄urine melia yg dipake. gus fatih udh ancang2..
R. Kamal
lanjutkeunnnn
novita setya
panggung part 2 digelar..pemeran utama princes lele dan ratu lelel. keknya 11-11,5 sm induk lelel
novita setya
td lea dan dita dipanggilin odong2 aja..
novita setya
usilnya ayu nurun ke kiara. si lea bener2 setan kw kelakuannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!