Aku seorang wanita yang harus memikul beban kehidupan yang amat sangat pahit, hanya demi gengsi dan ambisi untuk menguasi anak laki-lakinya untuk harta dan tahta karena ingin dipandang oleh semua orang.
Awalnya kusangat bahagia karena dipersunting seorang calon imam yang mumpuni dalam segala hal, namun dengan berjalannya waktu semuanya terbuka dengan sengaja yang mengakibatkan buta mata buta hati, jangankan untuk mengerti pedulipun sudah tiada arti lagi.
Hidupku dihiasi dengan rasa penuh pana dan derita, hatinyapun sudah tak sanggup menerima karena duka yang mendalam. Padahal kuhanya pengakuan saja bukan ingin dimanja dan dipuja, pengakuan itu sudah luar biasa. Harta ku punya keluarga ku punya tapi pengakuan sebagai menantu buatnya kini tinggal kenangan semata.
Walau kelihatanya bahagia padahal kami sangat menderita karena perlakuan yang berbeda dan perhatian yang penuh dengan kebencian semata. Hilanglah semua harapan kini tinggal kenangan batu nisan jadi saksi kebencian seorang mert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PASKUD Official Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan jalan di Nusa Dua Bali
Sampailah kami dibandara, beristirahat sejenak dan ayah melakukan cek int tiket pesawat, aku bersyukur tahun ini tahun terindah buat ku, tahun dimana kami sekeluarga bisa berkumpul dan liburan bersama,
Semoga kebersamaan ini terus terjaga hingga akhir hayat kelak.
Cek in pesawat sudh selesai, kami masuk peront dan melakukan pemeriksaan barang bawaan alhamdulillah lolos semua dan kamipun beranjak naik pesawat terbang melanjutkan perjalanan menuju kampong halaman. Kami tahun ini sangat puas dang a bisa ditakbarkan dengan kata kata, aku dipesawat ngobrol santai dengan suamiku
“Yah terima kasih banyak atas segalanya yang kau berikan pada kami, ini hadiah terindah dan sangat indah. Aku tak bisa membalasnya.” Kata mamah
Ayah
“Iya istriku sayang ini ayah lakukan hanya untuk keluarga kecilku baru ini yang mampu ayah berikan, pengennyamah kita berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji berdua sayang. Maaf ya ayah belum bisa mewujudkannya.”
Aku terharu dan memeluk suamiku dengan derai air mata, makasih suamiku engkau memang pembimbing dan imamku untuk segalanya. Engkau yang terbaik engkau yang terindah dan engkau yang paling kucinta yang tiada gantinya. Umi akan setiaselamanya sama kamu sayang, tolong jaga kami ya sayang.
“Yah maafkan kami selama ini selalu membuat kamu susah dan gelisah, membuat kamu terpimcang pincang membuat kamu sepi dalam gelapnya malam aku berjanji sama kamu sayang ku kan kembali seperti dulu merawatmu menjataku dalam segala hal, maafkan aku belum jadi istri yang baik buat kamu.”
Ayah
“Iya sayang. Udah jangan nangis ya sayang aku ga mau nuntut kamu apapun, melihat kamu bahagia dan anak anak bahagia ku sudah senang. Selama ini ku tak bisa berbuat apa apa.”
“Tapi yah bagaimana dengan keluargamu, itukan darah keturunan juga ya mereka juga berhak bahagia dengan kesuksesan ayah sekarang, aku tak mau ada omongan miring lagi yah, cukup tak dianggap aja aku tak apa-apa, aku sadar dan aku paham. Sekarang terserah ayah . Kalau ayah mau ngasih sama mereka sepengetahuan atau tanpa sepengetahuanku aku terima yah, karena kami sudah cukup.” Gumam ibuku.
“Iya sayang aku tetap tak kan melupakan keluargaku, ku kan coba merajut kembali agar kamu dan anak anak dapat tempat dikeluargaku. Masalah aku memberi tahun atau engga aku tetap akan memberitahumu dan ijin padamu sayang.”
“Aku masih dan akan selamanya menghargaimu, karena kamu sudah berjuang menghadapi maut untuk melahirkan anak anakku. Aku tak akan melupakan jasamu menjadikan aku mahluk sadar akan kekeluargaan.” Gumam ayah .
Aku tak sadar pesawat yang kutumpangi sudah mau lending di bandara Sukarno Hatta, kami mellow tapi membuat kami saling menguatkan satu sama lain. Menjadikan kami orang tua yang kuat dan mampu menjadi tumpuan banyak keluarga dan insyaAllah menjadikan orang tua yang lebih paham akan masalah anak anaknya.
Setelah kami sampai dan selesai cek out dari bandara kami beristirahat dahulu dan bersantai dulu, untuk menghilangkan lelah sepanjang perjalanan. Kami dijemput oleh mang ujang super pribadi umi dan sebelumnya sudah dipesan dan dijadwalkan untuk jemput, dan kami langsung berangkat pulang menuju my hommeku.
Ayah
“Bagaimana anak-anak mau langsung pulang apa mampir makan dulu.”
“Boleh yah makan dulu dan bersantai dulu meluruskan tulang belakang sakit banget yah.” Anak anak
“Bagaimana mamang cape engga, kalau cape nanti gentian”, saut ayah.
“Ga pak sanati aja lagian saya malem nginep dulu dibandara jadi sekarang badan pres, kemanapun siap.” Saut mang Ujang.
Oke deh kalau begitu, mamang kita mampir kerestoran dulu, kita makan terlebih dahulu biar ada tenaga.
semangat terus berkarya 👍👍
itu apa ya 🤔🤔
Sahur
sahuuuurrr
Terpaksa menikahi kepsek kejam hadir memberi like...
di tunggu ke hadirannya di karya ku ya...