Erik, Sorang pemuda dari keluarga miskin sering di hina dan bully. dia tidak taku kalo dirinya adalah orang kaya.
hingga suatu hari ayah angkatnya sakit dan memberitahu Erik kalo dirinya bukanlah anaknya dan kedua orang tuanya memberitahukan dirinya salah orang berada.
sejak saat itu kehidupan Erik berubah, diapun membalas. semua orang yang sudah menghina dan membully nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taofik irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 23 terpaksa menikah
"Dasar, anak gak guna ibu dan bapakmu sudah senang kau di kota,"ucap ibunya Erik begitu kecewa. Dia berfikir sudah begitu berharap Erik bisa memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga nya.
"Sudahlah, Erik cepat nikahi Mira."ucap ayahnya. "Pak, aku gak mau punya menantu seperti dia. Ibunya selalu menjelek kan ku"sahut ibu.
"Tapi Bu, Erik harus bertanggung jawab dengan perbuatannya."jawab ayah Erik.
"Sudah terserah kau saja, ibu sudah gak mau lagi punya anak sepertimu." Ibunya langsung beranjak keluar dengan menggedong anaknya yang masih kecil.
"Pergilah ke rumah orang tua Mira, selesaikan Masalah yang kau buat."ucap ayah Erik nampak kecewa.
Erik pun pergi ke rumahnya Mira pagi itu, Mira terus menggenggam tangannya. "Tak apa, aku akan meyakinkan ibuku."ucap Mira.
Tok-tok,"Bu .."Mira langsung masuk rumahnya. Ibunya kaget saat dia datang,"Mira, kau pulang sama siapa?"tanya ibunya dia langsung melihat Erik, ibunya pun kaget."Kenapa dia di sini" ekspresi wajah nya langsung berubah.
Ayah nya yang akan berangkat kerja melihat Erik di hadapannya. "Mau apa kau ke sini!"ucap ayah Mira. "Pak jangan begitu, ada yang mau Erik omongin sama bapak dan ibu. Tenanglah"ucap Mira..
Sambil duduk ibu dan ayah Mira saling menatap, "cepat katakan ada apa!"pekik ayah Mira.
"Pak, Bu, saya...e~sa saya mau melamar Mira." Ucapnya dengan terbata-bata.
Mereka langsung tertawa, "lelucon apa ini.."ayah Mira tertawa terbahak-bahak. "Kau sudah punya apa ingin menikah, lagian ibu juga gak mau punya menantu sepertimu. Ibu, bapakmu lihat mereka banyak hutang."ucap ibunya Mira.
Erik menunduk, "Bu, pak, Mira harus menikah dengan nya."jawab Mira.
"Apa!! Apa kau sudah tidak waras dia orang susah, ibunya banyak hutang, kerja nya hanya jualan. dia bisa ngasih makan apa? Apakah dia bisa menyediakan makan, bisa menyediakan rumah temat tinggal untuk mu, ngurus dirinya saja gak becus."ibunya Mira terus menghina Erik.
Erik sudah tahu, akan seperti ini, dia Hanya diam.
"Bu, Mira sedang hamil..."ucap Mira. Sontak mereka kaget menoleh pada Mira.
"Apa!! Sama dia, tidakkk ibu tidak Sudi kenapa kau bodoh. Ibu tidak mau punya menantu seperti dia." Sambil menangis ibunya Mira melihat Mira.
Ayah Mira beranjak dari kursi.
Plakkkk
Menampar Erik ,"kurang ajar, kau beraninya!" begitu kesal melihat Erik .
"Pak, sudah hentikan ini kesalahan Mira. Biarkan kami menikah." Sambil menghalangi ayah Mira yang akan memukuli Erik.
Duduk lemas ayah Mira Hanya diam, ibunya terus menangis. "Pak bagaimana ini?"tanya ibu Mira. "Kita tidak bisa apa-apa lagi Bu, biarkan dia menikah."ucap ayah nya.
"Ibu tidak mau, ibu tak akan merestui kalian."ujarnya sambil menangis ibu nya masuk ke kamarnya.
\*\*\*
Keesokan harinya Mira dan Erik pun menikah. Hanya di hadiri ayah mereka masing-masing karena ibu Mira tidak merestui pernikahan mereka. Begitupun ibunya Erik.
Dengan mas kawin satu gram emas dan seperangkat alat solat mereka menikah dengan terpaksa.
Tapi Mira, dia terlihat tetap bahagia sambil menatap Erik dia mengucapkan ijab qobul merekapun resmi menjadi suami istri di saat usianya yang masih muda.
Erik Pun tidak menyangka akan menikah secepat ini, dia tidak pernah membayangkan akan menjadi suami dari Mira.
"Pak,..."Erik langsung memeluk ayahnya sambil menangis, ayah nya mengelus punggungnya "mungkin ini sudah jadi jalan hidupmu."sahutnya.
Selesai menikah di rumah nya Mira. Ia Erik tinggal di rumahnya Mira, tetangga mereka menggosip kan pernikahan mereka yang sembunyi-sembunyi.
Mira yang terlihat bahagia dengan pernikahan nya terus memeluk Erik.
"Mira, sepertinya gue gak bisa di sini terus. Gue harus pergi lagi ke kota. Bisakah kau diam di rumah saja,"pinta Erik.
"Gak, Erik kalo kau pergi aku juga ikut."sahutnya.
Erik hidup di kota, dengan kerja yang belum pasti baginya akan jadi beban buat Erik jika Mira ikut.
Sore hari saat Erik beranjak keluar kamar. Dengan Mira ibunya dan ayahnya tidak melirik Erik. "Sayang ayo makan."ucap Mira Melayanu Erik.
"Masih numpang, Beraninya hamilin anak orang." Celetuk ibunya Mira . Mira langsung menoleh pada ibu nya. "Bu, sudah lah ini bukan kesalahan Erik, Mira yang salah." Ujar Mira.
"Andaikan kau dengar kata bapak jangan pergi ke kota lebih baik kau kuliah mungkin tidak seperti ini. Sekarang aku mau jadi apa? Mau hidup berumah tangga jadi beban bapak terus?" Ucap ayah Mira.
Erik kesal jadinya, "pak, Bu. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan anak ibu. Tapi saya akan coba kerja."ucap Erik.
Selesai makan Erik beranjak ke luar, Mira sedang beres-beres. Dia tidak tahu Erik pergi.
Sambil berjalan sendiri, tetangganya terlihat berbisik-besik saat Erik lewat.
Sepanjang jalan ia berfikir untuk kembali ke kota, namun dia ingin sendiri dan Mira tinggal di kampung saja. Namun sayangnya Mira selalu ingin ikut.
"Apakah aku berangkat sembunyi-sembunyi saja" gumamnya.
Duduk sendiri, mencoba menghubungi Eza temannya sekolahnya.
"Rik, tumben nelpon ada apa ini?"tanya Eza
"Za, Lo sekarang di mana?,"tanya Erik. Eza belum tahu dia menikah dengan Mira teman sekolahnya yang dulu dia tidak suka.
"Di kota lah, kenapa? Lo sekarang di mana?" Sahut Eza.
"Za, gue menikah dengan Mira."ucap Erik
"Apa!!! Kenapa bisa? bukannya Lo ga suka dengannya." Eza kaget mendengar Erik menikahi Mira .
"Gue terpaksa, Mira hamil.nanti gue ceritakan, tapi za gue bingung belum kerja juga bisakah Lo bantu gue."ucap Erik meminta bantuan Eza sahabatnya.
Eza Terdengar mendecak,"ya sudah kalo Lo mau kesini coba saja nyari di sini."sahutnya.
"Thanks ya, nanti gue kabari lagi "ucap Erik menutup telepon nya.
Sedikit ada rasa tenang, sambil duduk di depan rel kereta melihat kerta lewat. Erik berfikir besok ia akan berangkat lagi ke kota mencari peruntungan di kota tempatnya Eza kuliah.
Hari makin malam, Mira terlihat mengirim pesan \[ kau di mana, cepet pulang aku ke rumah ibumu gak ada\] pesan Mira.
Erik begitu malas pulang ke rumah Mira, melihat ibunya begitu membencinya. Bahkan ayah ya terus menyindirnya.
Dengan langkah kaki yang pelan iapun beranjak pulang ke rumah Mira. "Erik katanya Mira hamil ya.."ucap tetangga Mira saat Erik akan masuk rumah Mira. Erik hanya senyum tidak berkata apa-apa.
Mereka rupanya sudah tahu, "dari mana saja, aku mencari mu."ucap Mira yang sendang berbaring di kamarnya.
"Gak dari mana-mana, hanya keluar sebentar. "jawab Erik.
"Iya gue besok harus pergi, Mira dengarkan kata gue. Diam Lah di rumah jangan ikut gue akan coba nyari kerja suapaya kita bisa mandiri tidak membebani ibumu."ucap Erik.
"Tapi Erik, kenapa gak nyari dulu di kampung aku tidak bisa jauh darimu."sahut Mira.
"Mengertilah, aku malu apalagi sebentar lagi punya anak. Aku gak bisa di sini terus" Erik terus membujuk Mira supaya tidak ikut.
Malam hari, Termenung dia harus siap di tinggalkan Erik. Erik sedang tertidur pulas di kasur. Dalam hati nya dia begitu berat jauh dari Erik.
Mira beranjak ke tempat tidur memeluk Erik yang sedang tidur pulas, "Erik, kehamilanku belum besar. Bisakah aku ikut ? Bisakah aku membantumu kerja."ucap Mira.
Erik tidak habis Fikir dengan Mira dia terus-terusan ingin ikut.
Baginya tidak bebas jika ada seseorang yang ikut dengan nya ke kota.
"Terserah kau saja..."ucap Erik dia sudah bingung dengan istrinya yang selalu ingin bersamanya.