Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.
Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?
Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Selama hampir satu minggu, secara rutin di pagi dan malam hari Bian menghafalkan surat-surat dalam Juz 30. Di H-1 yaitu tepatnya di hari sabtu, seharian dari pagi hingga malam Bian menghafalkannya. Pagi tadi ia di temani oleh guru ngaji, namun saat menjelang sore, guru ngajinya pamit karena ada urusan.
Pukul 20.00 malam Bian merasa membutuhkan seseorang untuk membantunya menghafal. "Telepon Widya saja ah, dari pada wanita itu pacaran lebih baik mendengarku mengaji," gumamnya.
Kurang dari setengah jam Widya pun tiba di kediamannya dengan wajah kesalnya. "Maaf, lagi-lagi aku mengganggumu," ucapnya tanpa rasa bersalah sebab ia berniat akan memberikan Widya bonus serta tambahan cuti di akhir bulan.
Sebetulnya bukan maksud Bian untuk terus merepotkan Widya, hanya saja hanya Widya-lah satu-satunya orang yang tahu serta mendukung hubungannya dengan Annisa. Bian tak mungkin cerita masalah ini dengan teman-teman genk motornya.
"Aku harap bapak segera menikah ukhti-ukhti itu, sehingga tidak lagi mengganggu akhir pekanku!" gerutunya sembari meraih Juz Amma di meja ruang keluarga kediaman Bian, ia menyandarkan tubuhnya di sofa kemudian meminta Bian untuk memulainya.
Bian memulainya dari surat An-Naba'. Widya sempat terkejut, melihat Bian melafalkan surat yang baginya tergolong panjang, terdiri atas 40 ayat, Bian mampu melafalkannya dengan lancar, tanpa habatan. "Woaahhh Pak Bian keren," pujinya dengan bangga, namun ia tak ingin membuat Bian besar kepala, sehingga ia kembali memasang wajah seriusnya. "Oke, next An Naazi'aat!!"
Memasuki surat Al-Bayyinah, mata Widya sudah tidak di ajak kompromi lagi. Perlahan Juz Amma yang berada di tangannya terkulai jatuh di dadanya, matanya sudah terpejam lelap.
"Issh malah tidur lagi ni orang," gumam Bian, ia melirik jam di tangannya sudah menunjukan pukul 23.00 sehingga wajar saja jika tertidur. Bian berjalan ke belakang rumahnya untuk memanggil asisten rumah tangganya.
"Maria, tolong bantu aku memapah Widya ke kamar tamu!" perintahnya, ia tak ingin menyentuh Widya sehingga ia meminta asistennya memapah tubuh Widya ke kamar tamu. Bian tak tega jika harus memembangunkan wanita itu dan menyuruhnya pulang tengah malam.
"Jangan lupa di selimutin ya, Mar!"
Setelah memastikan Maria membawa Widya ke kamar tamu, barulah Bian naik ke lantai 2 untuk beristirahat.
...****************...
Pagi harinya Widya bangun dari tidurnya dengan perasaan bingung. "Dimana ni gue?" ia melihat sekeliling, kamar yang tampak asing baginya. Widya baru teringat jika dirinya semalam membantu Bian menghafal Juz 30. "Waduh gue ketiduran, pak Bian marah enggak ya?" ia menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian ia keluar dari kamar tamu dan bergegas mencari Bian.
Dari arah dapur, Widya melihat Maria berlari ke arahnya. "Maaf mba Widya, pak Biannya sudah pergi pagi-pagi sekali. Apa mba Widya mau sarapan? Saya akan buatkan, tapi saya buru-buru mau ke Gereja sekalian arisan," ucap Maria.
Widya mengerutkan keningnya. Apa maksud Maria menawarinya sarapan jika dia saja sedang buru-buru. "Tidak usah Maria, kau pergi saja ke Gereja, aku mau pulang dan lanjut tidur lagi di kostan," ucap Widya.
"Kalau begitu saya permisi dulu mba Widya, pacar saya sudah menunggu di depan," Maria berlari keluar dari kediaman Bian.
"Lain kali kalau sudah mau pergi, tidak usah menawariku makan," teriak Widya, ia kembali ke kamar tamu untuk mengambil tasnya, baru kemudian ia keluar dari kediaman Bian.
Untuk yang kedua kalinya Widya bertemu dengan Caroline. "Duuh sial banget hidup gue pagi-pagi ketemu ulat keket," gerutunya.
Caroline memandangi penampilan Widya yang berantakan. "A-apa kau tidur di rumah Bian?" tanyanya dengan terbata-bata.
"Iya memang kenapa?" tanya Widya sewot, ia kemudian menutup mulutnya karena menguap.
"Beraninya kau tidur dengan Bian!!" teriak Caroline. "Katakan sekarang Bian di mana?"
Caroline terlihat sangat marah sekali, wajahnya merah padam karena menduga Widya tidur dengan Bian. Widya tersenyum nakal, ia berjalan mendekat ke arah Caroline sembari memaikan rambutnya. "Setelah puas tadi malam, apa lagi yang di lakukan oleh ketua genk motor gede kalau bukan Sunmori keliling Jakarta," ucap Widya.
"Dasar babu brensek!" Caroline mengangkat tangannya hendak menjambak rambut Widya, namun dengan gesit Widya menangkap tangan Caroline. "Jangan pernah berani menyentuhku, atau aku patahkan tangan gatalmu itu!!" Widya menghempaskan tubuh Caroline menjauh darinya.
Kemudian ia masuk ke mobilnya yang sudah terparkir di teras. "Sukurin, cari saja sono Bian keliling Jakarta," Widya tertawa bahagia kemudian ia menginjak pedal gas mobilnya. Widya merasa, akan aman jika mengatakan Bian mengikuti Sunmori sebab, sepengetahuannya Caroline tidak mengetahui markas Bian yang terbaru.
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
haduh.
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...