NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Sementara Mentari pergi ke ruang baca untuk menghibur diri, Jenaka turun ke ruang olahraga. Langkahnya mendadak terhenti, melihat Lingga berpegangan di palang, menyeimbangkan tubuh, sementara Rani berlutut sambil membantu kaki Lingga melakukan gerakan berjalan.

Melihat kondisi Lingga, sepertinya pria itu sudah berlatih keras di palang sejak Jenaka pergi bersama Mentari tadi pagi, dan Rani yang malang juga tampak lelah.

Lingga hanya memakai celana pendek biru, dan mengikatkan kausnya di dahi untuk mencegah keringat menetes masuk matanya. Keringatnya bertetesan saat dia memaksa otot-ototnya melakukan keinginannya. Jenaka tahu Lingga pasti merasa sakit luar biasa. Rasa sakit itu terungkap dari rahangnya yang mengeras dan bibir yang memutih.

Jenaka sangat khawatir Lingga berusaha terlalu keras, kemarin malam saja Lingga membayar dampak latihannya yang terlalu keras dengan kram yang menyiksa, dan firasat Jenaka mengatakan siksaan itu akan terulang malam ini.

“Waktunya latihan di kolam renang,” ucap Jenaka dengan riang, berusaha supaya suaranya tidak terdengar cemas. Rani mendongak dengan ekspresi lega yang tidak disembunyikan seolah mengatakan 'Yess Jenaka datang, tugasku selesai.'

Lingga malah menggeleng. “Belum,” gumamnya. “Setengah jam lagi.”

Jenaka memberi isyarat pada Rani untuk meninggalkan ruang olahraga, ia menghampiri Lingga dan mengelap wajah pria itu, setelah itu bahu dan dadanya. “Jangan memaksa diri terlalu keras,” sarannya. “Nanti kakimu malah cidera. Ayo, kita ke kolam renang. Istirahatkan dulu ototmu.”

Lingga terkulai di palang dengan napas tersengal, dengan cepat Jenaka membawakan kursi rodanya, dan Lingga langsung menurunkan tubuh ke kursi. Setelah memastikan Lingga nyaman, barulah Jenaka menyalakan pusaran air kolam dan ketika berbalik wanita itu mendapati Lingga memelototi bokongnya saat tadi ia membungkuk. Jenaka baru menyadari betapa banyak bagian tubuhnya tersingkap dalam pakaian mini yang di kenakannya.

Lingga menyunggingkan senyum kecil yang nakal ke arahnya, lalu mencengkeram katrol dan mengayun tubuh ke atas kolam renang, setelah itu dengan cekatan menurunkan tubuh ke air. Dia menghembuskan napas lega ketika air berpusar meredakan kepenatan ototnya yang tegang.

“Aku tidak menduga kau pergi selama ini,”ucap Lingga sambil memejam lelah.

“Aku berbelanja hanya setahun sekali jadi wajar jika lama,” Jenaka berdusta.

“Siapa yang menang, kau atau Tari?” tanya Lingga sambil tersenyum, masih berbaring dengan mata terpejam.

“Kurasa adikmu,” erang Jenaka, ia duduk di pinggir kolam sambil meregangkan ototnya yang tegang. “Berbelanja menggunakan rangkaian otot yang ternyata seratus persen berbeda dengan yang digunakan saat angkat beban.”

Lingga membuka mata sedikit dan mengamati Jenaka.

“Kenapa tidak bergabung di sini bersamaku?” undangnya. “Masuklah.”

Undangan yang menggoda. Jenaka menatap air yang berpusar-pusar, lalu menggeleng karena banyaknya hal yang harus ia lakukan.

“Tidak. Ngomong-ngomong,” Jenaka mengubah topik, “Bagaimana caramu membujuk Rani membantumu latihan?”

“Dengan memadukan rayuan, pemaksaan, dan ancaman.” Sahut Lingga sambil menyeringai kecil. Tatapannya merayapi pakaian mini Jenaka, setelah itu memejamkan matanya lagi dan memasrahkan diri larut dalam kenikmatan air berpusar.

Jenaka berkeliling ruang olahraga, mengembalikan benda-benda ke tempat semula dan bersiap memberikan pijatan untuk Lingga setelah keluar dari kolam.

Percakapan mereka berlangsung santai, bahkan hanya tentang hal sepele, tapi Jenaka merasakan suasana hati yang berbeda di balik percakapan ringan mereka. Lingga menatapnya sebagai seorang wanita, bukan terapis.

Jenaka ketakutan sekaligus gembira melihat kesuksesannya menggoda Lingga dengan pakaian mininya, karena awalnya ia menduga akan butuh waktu lebih lama sampai bisa menarik perhatian Lingga.

Cara pria itu menatapnya lekat-lekat mengirimkan pesan yang tidak bisa Jenaka tafsirkan. Sebagai terapis, Jenaka tahu apa yang pasiennya butuhkan. Tapi sebagai wanita, ia tidak tahu apa-apa, ia bahkan tidak sepenuhnya yakin Lingga tidak menatapnya dengan tatapan murahan.

“Baiklah, sudah cukup,” ucap Lingga parau, membuyarkan lamunan Jenaka. “Kuharap Rani tidak memendam kekesalan padaku karena tadi memaksanya untuk menemaniku berlatih. Menurutmu, apakah dia akan memberiku makan?”

“Tari dan aku akan memberikan makanan sisa untukmu,” Jenaka menawarkan dengan murah hati, sembari tertawa.

Beberapa menit kemudian Lingga telungkup di meja dengan handuk menutupi pinggul, ia mengembuskan napas gembira saat jemari kuat Jenaka melakukan keajaiban di tubuhnya.

Lingga menopang dagu di tangan yang dilipat, ekspresi wajahnya seperti melamun dan asyik sendiri, khas pria yang berkonsentrasi memikirkan rencana dalam hatinya. “Berapa lama lagi aku bisa berjalan?” tanya Lingga.

Jenaka terus memijat kaki Lingga sambil mempertimbangkan jawabannya. “Maksudmu hingga kau bisa mengayun langkah pertama, atau bisa berjalan tanpa bantuan?”

“Mengayun langkah pertama.”

“Aku berani mengatakan enam minggu lagi, meski itu hanya perkiraan kasar,” Jenaka mengingatkan. “Jangan menjadikan jawabanku sebagai patokan. Kau bisa melakukannya dalam empat atau lima minggu, bisa juga dalam dua bulan. Semua itu tergantung pada seefektif apa aku menyusun program terapimu. Kalau kau terlalu memaksa diri hingga cidera, waktunya akan makin lama lagi karena harus mengobati cideramu itu.”

“Lalu kapan rasa sakitku akan berkurang?”

“Setelah ototmu terbiasa menyokong berat badanmu dan mekanisme pergerakanmu. Apakah kakimu masih mati rasa?”

“Tidak,” jawab Lingga. “Aku bisa mengatakan di bagian mana kau menyentuhku saat ini."

"Bagus, sekarang berbalik.” pinta Jenaka.

“Aku suka pakaianmu," ucap Lingga setelah terlentang dan bisa menatap Jenaka. Jenaka tidak memperdulikan tatapan Lingga, dan tetap fokus pada jemarinya yang terus bergerak dalam ritme yang tak terputus.

Karena Jenaka hanya diam saja, akhirnya Lingga mendesak lebih jauh. “Kakimu indah. Aku melihatmu setiap hari, dengan celana olahragamu yang begitu pendek, tapi aku tidak menyadari betapa indah kakimu hingga aku melihatmu memakai pakaian ini.”

Jenaka mengerutkan keningnya, dari pernyataan itu saja membenarkan kecurigaannya bahwa selama ini Lingga tidak menyadari keberadaannya sebagai wanita.

Jenaka separuh memutar punggungnya ke arah Lingga saat jemarinya memijat betis kanan Lingga, berharap pijatan kuat akan mengendurkan kram. Ketika tangan hangat Lingga singgah di paha Jenaka yang tersingkap, di bawah roknya, ia memekik. “Lingga!” jerit Jenaka, mendorong tangan Lingga keluar dari balik roknya. “Hentikan! Apa yang kaulakukan?”

“Kau bermain-main dengan kakiku,” sahut Lingga dengan tenang. “Aku juga mau bermain-main dengan kakimu biar adil.”

Jemari Lingga berada di antara paha Jenaka sementara ibu jarinya di sisi luar. Jenaka bergodik saat merasakan sentuhan Lingga, ia mengepit tangan Lingga untuk mencegahnya bergerak makin ke atas.

“Aku menyukainya,”ucap Lingga, ia tak keberatan Jenaka menjepit tangannya di paha mulus wanita itu. “Kakimu kuat dan ramping. Apa kau tahu seperti apa rasa kulitmu? Sutra dingin.”

Jenaka menggeliat, mencoba mengendurkan cengkeraman, tapi jemari Lingga justru merayap makin ke atas. Jenaka menghirup udara hingga paru-parunya penuh dan menahannya, tubuhnya kaku, matanya melebar dan waswas ketika mencoba memadamkan kobaran panik di perutnya. jantungnya seakan melonjak-lonjak liar di dada.

“Lepaskan Lingga,” bisik Jenaka.

“Baiklah,” ucap Lingga. Tepat ketika tubuh Jenaka mulai melemas karena lega, Lingga berkata, “Bagaimana jika kau menciumku?”

Sekarang jantung Jenaka seakan lompat. “Aku… Menciummu?"

Lingga mengangguk lenuh harap. "Ayo lah, kita kan pernah melakukannya."

"Baiklah, hanya satu ciuman?”

“Aku tidak bisa menjawab,” sahut Lingga, menatap bibir Jenaka lekat-lekat. “Mungkin ya, mungkin tidak. Tergantung sebesar apa kita menyukai ciuman itu. Astaga, Jee... aku pernah menciummu. Kau takkan mengkhianati sumpah sucimu untuk tidak terlibat hubungan dengan pasien. Bagiku ciuman tidak bisa dianggap keterlibatan.”

"Jee?"

"Aku ingin memanggilmu dengan panggilan yang berbeda dari orang lain."

Sejujurnya Jenaka sangat senang mendengarnya, namun ia kembali merasakan tangan Lingga di kakinya kembali bergerak. Meski Jenaka berusaha merapatkan kaki dan mengepit tangan Lingga supaya berhenti menjelajah tubuhnya, entah bagaimana tangan Lingga masih berhasil merayap lebih tinggi.

“Hanya ciuman,” ucap Lingga dengan riang, sambil mengulurkan tangan kiri kepada Jenaka. “Ayolah jangan malu-malu.”

Jenaka tidak malu, melainkan ketakutan. 'Come on Jenaka, dia bukan Cakra. Dia hanya Lingga yang tak bisa menyakitimu,' batinnya. Jenaka membungkuk dan menyapukan bibirnya ke bibir Lingga seringan, sehalus, dan selembut udara. Setelah itu ia memundurkan tubuhnya, sementara tangan pria itu belum beranjak dari pahanya.

“Sudah,” ucap Jenaka.

“Itu bukan ciuman,” protes Lingga, dengan ekspresi kesal. “Aku menginginkan ciuman sesungguhnya, bukan ciuman anak-anak. Aku sudah lama tidak bersama wanita. Aku ingin mencicipi bibir manismu.”

Dengan lemas Jenaka bersandar ke meja. Aku tidak sanggup menghadapi ini, pikirnya dengan kalut, lalu tubuhnya kaku. Ini hanya ciuman, itu saja…

Meski bibirnya yang lembut dan ranum gemetaran di bibir Lingga, Jenaka memberikan ciuman yang pria itu minta, dan ia terkejut ketika tubuh Lingga mulai berguncang.

Lingga menarik tangan dari kaki Jenaka dan merangkul wanita itu dengan dua tangan, tapi dia memeluknya tanpa memberikan tekanan sungguhan, sekadar memberikan kedekatan hangat yang tidak membuat Jenaka takut.

Aroma tubuh Lingga samar-samar memenuhi paru-paru Jenaka. Jenaka mulai menyadari kehangatan kulit Lingga, lidah Lingga yang bermain ringan di lidahnya.

Mata Jenaka yang tadi terbuka, perlahan memejam, dan ia seakan tersesat di kenimatan sentuhan bibir Lingga.

“Astaga, kau wangi sekali,” bisik Lingga, menghentikan ciuman dan membenamkan wajahnya di lekukan lembut leher Jenaka. “Parfum apa yang kau pakai?”

Dengan pening Jenaka mencoba mengingat semua parfum yang ia coba, di mall tadi pagi. “Campuran ini-itu,” ia mengakui dengan jujur.

Lingga terkekeh dan memutar kepala untuk ******* bibir Jenaka lagi. Kali ini ciumannya semakin dalam dan kuat, tapi Jenaka tidak memprotes. Ia justru membalas mencium sedalam Lingga menciumnya, sehingga akhirnya Lingga menelentang di meja sambil tersengal.

“Kau mengambil keuntungan dari pria yang kelaparan,” erangnya, membuat tawa Jenaka tersembur.

“Kuharap Rani tidak membuatkan makan apa pun untukmu karena tadi kau mengganggu kerjanya,” ucap Jenaka, sembari membantu Lingga berpakaian, kemudian mereka bergabung bersama Mentari di meja makan.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!