NovelToon NovelToon
Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:537.7k
Nilai: 4.6
Nama Author: Mei-Yin

Amara Khaira Shaza tidak pernah menyangka perilaku buruknya di masa lalu menjadikan calon suaminya membatalkan rencana pernikahan yang telah disusun rapi. Calon suaminya membatalkannya sepihak tanpa memberinya penjelasan yang gamblang.

Amara patah hati, dia terluka oleh seseorang yang begitu dipercaya. Rasa frustasi dan keterpurukan yang dirasakan membuatnya selalu mengurung diri dan menjauh dari semua orang. Hingga akhirnya dia dikirim oleh kedua orang tuanya datang ke pesantren untuk melupakan segalanya dan belajar ikhlas untuk apa yang telah terjadi dalam hidupnya.

Ketika Amara menyerahkan seluruh cinta dan hidupnya hanya pada Allah, Allah datangkan seseorang yang baik untuk menjadi jodohnya.

Namun, godaan kembali datang saat Amara kembali di hadapkan pada kenyataan bahwa suaminya juga memiliki masa lalu yang kelam.

Akankah kehidupan Amara akan menemukan titik bahagia atau harus kembali menerima cobaan yang lebih dahsyat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei-Yin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu kembali

Tanpa terasa dua minggu telah berlalu. Amara mulai bisa beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan kantor di mana semua karyawannya begitu baik dan tak pernah membedakan.

Tentu saja mereka semua baik, karena Adnan selaku pemimpin juga selalu memperlakukan mereka dengan baik. Memanusiakan orang lain tanpa memandang status mereka.

Amara memegang jabatan direktur, untuk belajar mulai dari bawah sebelum nanti mengambil alih menjadi CEO yang sampai saat ini masih dipegang sang ayah.

Siang itu sekitar pukul sebelas siang Amara mengantarkan sepupunya ke bandara untuk terbang kembali ke Kalimantan.

“Datanglah ke Surabaya kalau kamu gak sibuk,” kata Amara merangkul bahu sepupunya.

“Harusnya aku yang bilang seperti itu, Mara. Jika kamu gak sibuk sekali-kali kunjungi aku di Kalimantan.”

Amara terkekeh dan mengangguk. “Insya Allah. Hati-hati, kabari aku jika kamu sudah sampai,” katanya.

“Yup. Oh ya, hati-hati saat dekat dengan pria, jangan sampai kamu terluka untuk yang kedua kalinya.”

Amara mengangguk. “Doakan saja. Semoga semua proses menuju halalmu juga disegerakan.”

“Calonnya saja belum ada!” Juan terkekeh geli.

“Ibu bilang sudah ada,” kata Amara tak percaya.

Juan terkekeh dan mengusap puncak kepala Amara. Kemudian berbalik dan meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan respons apa pun.

Juan berbalik dan melambaikan tangannya. Amara mengangguk dan tersenyum. Dia menunggu sampai pria itu tak lagi terlihat, lalu memutuskan kembali ke kantor.

Amara sudah siap dibalik kemudi, dia menoleh ke arah jam tangan, berniat mampir di restoran milik ibunya.

Brak!

Tiba-tiba tubuhnya sedikit terdorong ke depan seiring suara yang mengejutkan. Dia menoleh dan menatap ke kaca spion yang memperlihatkan ada sebuah mobil yang menabraknya.

Amara segera turun, pun dengan pengemudi mobil itu.

Deg!

Jantung Amara berdetak cepat seirama saat kini berhadapan dengan pria yang wajahnya tak asing lagi dalam pandangan.

“Maafkan saya,” kata pria itu sambil menunduk. “Saya gak sengaja dan gak hati-hati. Untuk kerusakan mobilnya biar saya yang tanggung,” lanjutnya dengan suara serak-serak basah yang terdengar begitu merdu.

Bukan hanya parasnya yang begitu mempesona, hanya dengan mendengar suaranya saja hati Amara seperti disirami air dingin yang menyejukkan.

“Gak apa-apa, Mas. Ini kecelakaan, gak ada yang tahu kapan dan bagaimana caranya.”

Amara melirik bagian belakang mobilnya yang mengalami kerusakan. Tidak terlalu parah sebenarnya.

“Anda baik-baik saja? Sekali lagi maaf atas kecerobohan saya.” Pria itu tampak menyesal karena kecerobohannya merugikan orang lain.

Amara mengangguk. “Lain kali hati-hati saja. Gak apa-apa, ini bukan masalah besar.”

“Ini kartu nama saya. Bisa hubungi saya di nomor itu, nanti tagihan kerusakannya biar saya yang bayar.” Pria itu menyerahkan kartu nama yang langsung diterima. “Boleh saya minta nomer telepon Anda?”

Amara mengangguk dan menyerahkan kartu namanya. Saat mereka berbalik badan dan berjalan menuju mobil masing-masing, dia seperti mendengar suara pria itu memanggil namanya.

Namun, saat dia menoleh pria itu masih berjalan lurus.

Matanya melirik ke arah kartu nama yang dipegang dengan senyum malu-malu. “Hanif Akram Arsalan.” Bibirnya menyebutkan nama itu dengan rona merah di pipinya.

“Mara, ayah dengar dari Lukman, kamu ditabrak oleh orang. Kamu gak apa-apa, kan? Gak ada yang luka?” tanya Adnan yang langsung masuk begitu saja ke dalam ruangannya.

“Aku oke, Ayah. Hanya mobilku yang sedikit ringsek, tadi minta tolong Mas Lukman untuk bawa ke bengkel,” jawab Amara bangun dari kursi kerjanya dan mendekati sang ayah, mengusap bahunya untuk menenangkannya. “Ayah gak perlu cemas, aku gak apa-apa.”

“Syukurlah, ayah khawatir kamu terluka.”

Amara tersenyum dan menggeleng pelan. Maklum. Orang tua mungkin khawatir mendengar anaknya terlibat kejadian yang tidak terduga.

Adnan mengatakan dia akan pulang lebih dulu karena nanti malam harus menghadiri undangan rekan bisnisnya. Amara mengangguk dan memintanya pulang lebih dulu, dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Jabatan sebagai direktur utama nyatanya tak membuatnya berleha-leha, karena setiap hari ada banyak hal yang harus diperiksa, direncanakan dan dilakukan.

“Menyebalkan,” gerutu Amara sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja kerja.

Pukul tujuh malam, Amara pulang setelah menyelesaikan pekerjaan. Saat membereskan meja kerja dan memasukkan ponsel ke dalam tas, dia kembali melihat kartu nama yang teronggok di atas meja.

Senyumnya tampak malu, dia menunduk sambil menyentuh dadanya yang berdebat tak karuan.

“Allah, perasaan apa ini,” bisiknya pelan.

To Be Continue ....

1
Arya Al-Qomari@AJK
Harris dan keluarganya merasa suci seolah gk punya dosa. orang² yg begini nih yang pada akhirnya tenggelam lebih dulu
Sri Darmayanti
sedih
Dede Bleher
Ajaran ibuku,saurna walaupun kamu bandel tapi jangan pernah serahkan kesucian mu pada pria yg bukan suami mu!
krna kesucian itu kehormatan kluarga.
pun begitu,teman temanku walaupun mereka minum Alkohol dan pernah ke Club malam, mereka masih bersih.
mereka tahu hanya suami yg berhak atas dirinya.
jd tk pernah bablas dlm pacaran!
Rima baharudin
ya allah amara......... jangan bilang gitu org tua mu sedang berusaha membuat mu bangkit kembali, lupakan haris dengan cara mengikhlaskan nya
neng ade
happy ending utk Amara Akram dan kedua putri nya yg satu blm dikasih nama kah . ??
neng ade
sejak awal kedatangan nya di rumah itu niat nya memang ingin menggoda Akram agar mau menikahi diri nya ..
neng ade
syukurlah akhir nya Amara udah sembuh dan bisa berjalan normal lagi .
neng ade
apa tuh hadiah nya .. bikin pemasaran nih. ..
neng ade
ternyata Adnan kenal dngn sopir. mobil itu yg bernama Lukman .. siapa sisik yg bernama Lukman itu
neng ade
itu yg nabrak Mara orang suruhan nya Claudia
neng ade
detektif Adi kah itu yg datang. ??
neng ade
semangat dan sukses selalu utk mu thor 🙏❤❤❤
neng ade
jngn sampai Claudia berhasil kabur
neng ade
jngn ada yg tergiur dngn uang suap yg Claudia kasih
neng ade
obsesi mu akan menghancurkan diri mu sendiri Claudia ..
neng ade
bayi yg tak berdosa itu harus kena imbas nya atas skandal yg melibatkan Akram
neng ade
Luar biasa
neng ade
semoga semua nya cepat selesai ..
detektif Adi harapan ku ada pada mu
neng ade
licik nya ..
neng ade
jadi gregetan juga sm Claudia.. dia ternyata udah hamil dan sengaja menjebak Akram agar bisa menutupi kehamilan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!