NovelToon NovelToon
PINGSAN BERUJUNG DUNIA GAME

PINGSAN BERUJUNG DUNIA GAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Action / System / Isekai / Sistem / Dunia Lain / Kebangkitan pecundang / Pemain Terhebat / Game
Popularitas:70k
Nilai: 5
Nama Author: BaDiPra

Kyalowng, nama dunia dari sebuah game petualangan online bernama Deep Dive.

Tak disangka ngototnya seorang pemuda tampan ketika harus mempertahankan gelarnya sebagai pemain terbaik pada game tersebut justru mengundang mala petaka. Tanpa diduga dia masuk ke dalam dunia milik Deep Dive.

Siapa yang membawanya ke sana? Bagaimana mungkin di dunia nyata, seseorang bisa masuk ke dalam dunia game? Tidakkah itu hanya mimpi semata?

Entahlah! Author tidak bisa membuat deskripsi dengan baik. Selanjutnya akan author sertakan nomor bab yang ada gelutnya, menghindari bosan terhadap cerita yang tidak jelas. Mohon dimaklumi. Thanks

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BaDiPra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan pengguna Elemen Soul & Keanehan Dragon (revisi)

Kini hanya tinggal Natura berdiri seorang diri menatap Dragon Sunguungu yang sedang tidur pulas. Sementara yang lain telah pergi turun gunung.

Natura menyeret tubuh orang-orang yang tergeletak tak bernyawa di sana lalu ditata secara rapi. Tanah naik menyelimuti jasad para petualang dan muncul batu nisan di atasnya. Walau seakan tak sopan, namun Natura mengambil hadiah yang muncul dari nisan-nisan itu.

Tiba-tiba saja suara seorang pria terdengar membentak Natura. "Hei kau! Kau datang hanya untuk memulung?" Dari perkiraan tampangnya, pria itu berumur tiga puluh tahunan.

Natura menengok ke arah sumber suara dan mendapati lima orang sedang duduk santai di atas batu. Mereka terlihat angkuh sebab berdiri di atas batu yang berada di pinggir paling atas sarang. Seolah mereka telah memastikan jika Dragon Sunguungu di bawah mereka bukanlah lawan yang pantas untuk diperhitungkan.

Tentu hal itu membuat Natura kesal. Meski begitu rumit memikirkan Dragon Sunguungu yang berperilaku aneh, namun kehadiran lima orang sombong itu benar-benar membuatnya semakin muak. "Apa yang akan kalian lakukan di sini!? Jika kalian hanya ingin mengunci keberadaan dragon ini, maka aku akan membantu."

"Aku adalah Ojosa. Apa yang sedang kau bicarakan? Apakah kau pikir kami terlalu lemah untuk menghadapi Sunguungu? Ojosa bukanlah orang sembarangan," ujar lelaki berpakaian putih yang terlihat elegan, berambut warna putih panjang dan lurus.

"Jika kalian mau menghadapi dragon ini, maka lawanlah aku terlebih dahulu! Aku ingin membunuh kalian sebelum Dragon Sunguungu ini menghanguskan daratan."

Seorang perempuan kisaran umur dua puluh tiga tahun terlihat bosan memandang Natura. Perempuan itu terlihat anggun dengan gaun putih corak emas yang terlihat elegan. Banyak perhiasan emas yang dipakai menunjukan bahwa dia adalah orang kaya. Namanya adalah Anyia. "Ojosa, pemuda itu berlevel nol dengan lencana verifikasi. Apakah dia tak terlalu berbahaya untukmu?"

Ojosa berdiri dan meregangkan tangannya sebagai pelemasan otot. "Tapi, dia akan langsung mati jika dua seranganku mengenainya. Mengapa aku harus takut pada lencana tanda kecacatan?"

"Ojosa, apakah kau berniat melawannya sendiri? Lalu, apa yang harus kami lakukan? Dragon Sunguungu akan mengganggu pertarunganmu. Haruskah kami hanya menontonmu berkelahi?" sahut lelaki yang terlihat berpakaian rapi dengan kesan terpelajar. Namanya adalah Adega.

Di sisi lain, Natura yang sedang muak juga tak mau dipandang sebelah mata. Tentu dia harus membuat kelima orang itu memperhitungkan kehadirannya. "Tenang saja. Jika kalian berempat ingin melawan dragon ini, kalian tak mungkin mengganggu pertarunganku melawan si rambut putih."

"Si rambut putih? Tidakkah kau terlalu merendahkan orang yang sebenarnya paling pantas untuk merendahkanmu?" tanya Ojosa sambil mengeluarkan pedang dua sisi tajam berwarna putih.

"Dragon Sunguungu hanya mengincar lawan terdekatnya. Lalu apa yang sedang kalian tunggu? Takut?" ujar Natura dengan intonasi yang terkesan mengejek.

"Cih!" Ojosa mulai berpikir jika Natura mungkin saja memiliki kemampuan mematikan. Dengan sedikit waspada, dia memikirkan jalan tengah menimbang kembali ucapan Natura. "Kalian lihatlah saja pertarungan kami. Elemen Soul pedangku ini akan membuatnya sadar betapa kuatnya aku," ujarnya sambil memainkan pedang putihnya.

"Baiklah! Jangan biarkan kami bosan," ucap Anyia.

Ojosa tiba-tiba hilang dan kembali muncul di depan Natura dengan pedang siap memotong leher.

Natura langsung bergerak zig-zag ke belakang menghindari serangan mematikan itu. "Lambat," ucap Natura tanpa berekspresi.

"Hmm. Ternyata kecepatan gerak adalah alasan mengapa kau memiliki lencana verifikasi ... Boleh juga. Akan aku buat kau kewalahan menghindari seranganku, wahai manusia cacat," ujar Ojosa sambil bergaya dengan pedangnya lagi.

Natura memperlihatkan pedang andalannya yang tentunya akan merendahkan lawan. "Aku takut kau akan mati dalam sekali serang. Mohon maaf jika hanya pedang buruk rupa ini yang dapat digunakan supaya kau dapat bertahan dari ribuan seranganku," ucap lembut Natura sambil tersenyum.

Wajah Ojosa yang semula tenang, kini mulai memperlihatkan amarahnya setelah mengamati pedang buruk rupa milik lawannya. "Kurang ajar! Beraninya kau menghinaku dengan pedang menjijikkan itu! Akan aku buat kau menjadi tawanan pedang milikku!"

Ojosa mulai menebas Natura menggunakan pedang elemen Soul-nya, namun hal itu hanya membuat lawannya terlihat bosan.

Natura mulai sesekali menyerang Ojosa hingga lelaki rambut putih itu mengambil jarak. Ketika serangan Natura berhasil mengenai lawannya, muncul cahaya hijau yang melayang di udara menuju arah turun gunung.

"Apa yang terjadi? Cahaya apa yang barusan keluar dari tubuhku?" batin Ojosa penuh keterkejutan.

"Oi kukang putih, kau tidak sedang mengatur strategi yang membuatku mati lumutan, 'kan?" tanya Natura sambil memperlihatkan wajah kantuknya.

"Kukang?! Kau anggap aku adalah hewan paling lambat di dunia?! Baiklah jika itu maumu. Aku akan perlihatkan seberapa kaya diriku ini, hingga dapat mengimbangi kecacatanmu!" ujar Ojosa dengan amarah menggebu-gebu.

Ojosa mengeluarkan dan mengonsumsi potion dengan angka romawi tiga; berwarna kuning sebagai penangkal berkurangnya stamina; potion berwarna biru sebagai penangkal berkurangnya mana; potion berwarna coklat sebagai peningkatan pertahanan; potion berwarna biru muda sebagai peningkatan kecepatan lari; dan potion berwarna oren sebagai peningkatan kecepatan serang.

"Siapa namamu? Aku ingin mengenal orang yang membiarkanku meminum semua potion yang aku miliki. Kau pantas dikenang dalam hidupku." Kini asap tipis warna-warni terlihat keluar dari tubuhnya. Warna yang sesuai dengan potion yang telah Ojosa minum.

"Tidak perlu tahu namaku. Aku baru kali ini melihat orang meminum potion sebanyak itu. Keputusanmu tepat," ucap Natura dengan santai.

Ojosa meminum lagi sebotol potion tanpa warna yang berkhasiat mengurangi waktu rehat skill maupun ultimate.

Tanpa Natura duga, Ojosa hilang dan langsung berdiri di belakangnya. Natura lalu melompat cukup tinggi menghindari tusukan dari lawannya yang kini memiliki gerakan serang lebih berbahaya dari sebelumnya.

Ojosa tiba-tiba telah berada di belakang sambil melakukan serangan namun Natura dapat menangkisnya. Walau dapat menangkis, namun bar darah Natura berkurang dua puluh persen akibat terhempas dan mendarat terlalu cepat.

Natura berteriak dalam hati sebab rasa sakit terasa nyata. Dia lupa jika bar darahnya terlalu tipis hingga dapat berimbas buruk hanya dari kecepatan mendarat.

"Ojosa, bar darah lawanmu berkurang jika kau menghempaskannya. Percuma kau menghabiskan sumber daya sebanyak itu hanya untuk pertunjukan sesaat saja," ucap lembut Anyia.

"Ah, rupanya sekarang kau tidak sebanding lagi denganku. Itu karena kau terlalu berlebihan dalam menghinaku. Akan kubunuh secara perlahan dengan serangan menyakitkan pedangku ini," ujar Ojosa.

"Lukai aku dulu dengan pedang itu baru berbicara."

"Kurang ajar. Tak akan aku biarkan kau menghinaku lagi ... Ultimate: Barat Lesos!" Tubuh Ojosa menjadi tembus pandang dengan banyak gelombang energi berbentuk bulan sabit layaknya fatamorgana. Gelombang energi itu memutari tubuhnya dengan sangat cepat. "Skill: Straight Tros!" Dipadukan dengan skill lainnya, Ojosa melesat dengan cepat ke arah Natura membawa gelombang energi tersebut.

Walau Natura dapat menghindari serangan tusukan itu, akan tetapi ketika Ojosa tepat berada di samping Natura, gelombang energi setengah lingkaran itu menjadi berputar sangat cepat dengan lintasan spiral semakin menyebar.

Satu energi setengah lingkaran yang ukurannya kecil berhasil mengenai tangan hingga Natura mengambil jarak cukup jauh dari Ojosa.

Dalam radius lima meter dari tubuh Ojosa, tanah menjadi tercincang-cincang oleh gelombang energi. Tubuh Ojosa segera terlihat lagi dengan memperlihatkan wajah yang penuh akan amarah.

Di samping Anyia, dua lelaki yang dari tadi hanya diam saja kini memperlihatkan wajah gembira sebab melihat Ojosa menggunakan ultimate-nya. Mereka menang taruhan dengan Ojosa sebab Ojosa menggunakan ultimate.

Ojosa tiba-tiba hilang dan muncul kembali di samping Natura yang perhatiannya tengah teralihkan. Pertukaran serangan silih berganti, namun tiada yang terluka walau Natura berhasil mengenai lawannya.

Gerakan mereka berdua menjadi imbang mengingat Ojosa tidak peduli lagi akan serangan dari Natura. "Pedangmu begitu bodoh!" ucap Ojosa sambil menyeringai dan terus menyerang.

Natura bergerak dengan cepat menghindari serangan dari lawannya dan sesekali melancarkan serangan walau sembarang mengenai bagian manapun.

Ojosa melakukan serangan horizontal yang mengandung gelombang energi hingga membuat Natura mengambil jarak cukup jauh. "Tidakkah pedang itu kau rasa terlalu konyol untuk menyerangku? Bahkan tubuhku tidak sedikitpun merasakan sakit walau bola cahaya hijau aneh itu keluar dari tubuhku."

"Yang jelas, sekali kau gagal bertahan, maka item revive-mu akan terdampak. Aku masih menawarkan bantuan yang sama jika misimu adalah mengunci keberadaan dragon."

"Sungguhkah kau menghina kami?" tanya Ojosa dengan nada menyepelekan.

Tiba tiba saja empat jarum melesat ke arah Natura. Jarum itu mengincarnya, dua arah sampingnya, dan belakangnya. Rekan Ojosa-lah yang menggunakan jarum itu hingga memaksa Natura hanya dapat melangkah maju. Sementara itu, Ojosa juga hilang dan muncul lagi di depan Natura dengan pedang mencoba menusuk wajah.

Natura lalu menggunakan lompatan kuat ke belakang guna menghindari serangan mematikan itu.

Kelima lawan Natura terkejut akibat gerakan yang hampir tidak terlihat.

Setelah debu tebal akibat menggunakan gerakan secepat itu mulai menipis, terlihat Natura berdiri tegas dengan pipi kiri yang tergores pedang Ojosa. "Sudah cukup pemanasannya ... Siapapun yang menggunakan senjata ber-elemen Soul, maka aku akan menjadi pencabut nyawanya," ucap Natura dengan tatapan serius.

"Ayolah bung! Terkena lemparan koin pun kau saat ini akan mati," ejek Ojosa.

Pertukaran serangan cepat kini terjadi silih berganti. Di satu sisi Natura berulang-kali dapat mengenai lawannya. Di sisi lain Ojosa merasa geram sebab gerakan Natura sangat sulit untuk di jangkau. Seolah dapat melukai, namun serangan yang diberikan selalu saja dapat dihindari dengan sempurna.

Ojosa mulai panik saat kecepatan serang maupun kecepatan geraknya mulai menurun akibat efek dari potion perlahan habis. Beberapa saat kemudian tubuh Ojosa tak lagi dikelilingi asap berwarna-warni. Dia mulai menghindari, namun Natura terus menyerangnya. Tak peduli walau Ojosa sedang melompat zig-zag, Natura tetap mengikuti gerakan itu dan mendaratkan serangan.

Mata Ojosa tiba-tiba terbelalak ketika merasakan pedang milik Natura berhasil menembus dada. Dia memuntahkan darah dan langsung mundur mengambil jarak.

Keempat rekannya pun langsung menyerang menggunakan banyak jarum hingga Natura terpaksa menjauh. Mereka langsung berdiri di depan Ojosa yang sedang memulihkan diri.

"Dia. Bagaimana mungkin dia dapat memecahkan item revive-ku hanya dengan sekali serang?" tanya Ojosa sambil terduduk memegangi dadanya dengan luka yang perlahan pulih.

"Bukankah aku telah memperingatkanmu akan hal itu?" tanya Natura sambil tersenyum.

"Anyia, Adega dan kalian berdua, aku mengaku kalah taruhan. Sekarang kita harus membunuhnya terlebih dahulu. Hari ini item revive-ku lebih berharga dari apapun di dunia ini," ucap Ojosa sambil kembali berdiri dan bersiap-siap menyerang Natura.

Suara tawa kecil perempuan yang sedikit menggema membuat keenam orang yang ada di sarang menatap makhluk raksasa yang dari tadi hanya tertidur.

Tanpa Ojosa duga, puluhan bola asap warna ungu melesat ke arah mereka. Tanpa dapat menghindar saking banyaknya, bola-bola itu mengenai sekitaran dan membuat mereka menjerit kesakitan.

Natura hanya termenung dengan tubuh bergetar ketakutan menyaksikan lima orang yang hendak menyerangnya, kini berguling meronta-ronta.

Ojosa kembali hidup karena item revive-nya. Namun akibat asap racun yang masih tersisa Ojosa pun akhirnya terkapar tak bernyawa. Keempat rekannya bahkan sampai meronta sebanyak tiga kali sebelum jeritan mereka tak terdengar lagi.

Natura mengacungkan pedangnya kepada dragon Sunguungu akibat kekesalan atas tindakan yang seharusnya tak mungkin terjadi. "Kau! Tidakkah serangan yang baru saja kau lakukan merupakan suatu pelanggaran?! Dragon Sungguungu tak akan menyerang kerumunan! Kau seharusnya hanya mengincar satu orang saja!"

Suara tawa kecil perempuan yang menggema itu kembali terdengar dan Dragon Sunguungu membuka matanya yang besar. Dia lalu berdiri hingga tanah bergetar. Dia merentangkan kedua sayap raksasanya dan seolah tersenyum kepada Natura.

Saat suara angin terdengar ketika dragon mencoba mengepakkan sayapnya, Natura langsung melesat ke langit dengan sangat cepat.

Benar saja dengan perhitungan Natura, Dragon Sunguungu mengepakkan sayap hingga angin kencang menerpa pepohonan. Warna hijaunya alam di sekitar dragon segera menjadi kering menguning akibat kabut warna ungu yang terhempas ke segala arah.

Dari langit, Natura menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, perubahan warna itu memiliki radius cukup jauh. Natura berlari sekuat tenaga membentuk lintasan spiral dan mendarat di tepi sarang.

"Anak manusia, apakah kau tak takut dengan wujudku?" Suara perempuan yang sedikit menggema segera mengabarkan bahwa memang dragon itulah yang berbicara.

"Dari awal aku telah menyadari kejanggalan sikapmu. Tak kusangka kau benar-benar memiliki pikiran seperti manusia," ucap Natura serius sambil berdiri tegas.

Bersambung!!!..............

1
Raysonic Lans™
ternyata not do re mi fa sol la si Do
Raysonic Lans™
Natuna...
Venny
judul novelnya ganti ya 🤭
BaDiPra: Yang satunya udah aku hapus. 🙈
total 2 replies
BaDiPra
Ada kata yang hilang ternyata. 🙈🙈🙈
DokterGigiGingsul
natura, ortuna ,kuzna , skidippipipp
BaDiPra: User Chou kah? 🤣🤣🤣
total 1 replies
Queen Bee
salfok ma natura 😂😂😂 aku baca natural kebiasaan buruk ku
BaDiPra: Tapi emang benar juga kalau panggilnya Natural. 🤭
total 1 replies
ezcyodoz
terus bangun jangan tidur
BaDiPra: Eh ada yg mampir. 😂 wkwkwjwk. Lagi berbenah dulu, aku. Biar penyampaian gk ancur, sama gk kegoda nulis dialog. hahahaha. 😁😀😂
total 1 replies
Souma Kazuya
Selamat kk, sudah masuk genre game dan olahraga 💐💐💐💐😀😀😀😀
Dan semoga novel2 tentang olahraga ranjang yg ikut nimbrung di genre ini bisa terpindah semuanya ☺
BaDiPra: 🤭 Aku berteduh di genre ini, berharap olahraga yang kau sebutkan digusur pemerintah pusat. 😌


Orang² Gk toxic banget kan di genre ini?
total 1 replies
Si Cepat
Ya, menurut saya ka
rya anda bagus👍
BaDiPra: Siap! Perlahan-lahan aku coba tingkatkan lagi kualitas penyampaiannya.
total 2 replies
🎙🅰️dy🅿️acin☯️📖📻
Om Bangun Isekai ini adypacino a.k.a ady Rahman fans lo, folbek ya!!
BaDiPra: Siap! Dah aku polbek bang.
total 1 replies
Nazrul
🤣🤣🤣
Souma Kazuya
entahlah, mungkin itu jg hanya selera pribadiku sih, yg malas baca kalau sampqi 4 paragraf belum dapat yg kena dgn judul bang ☺🙏
trus kata notifikesong nya lumayan mengganggu 🤭
BaDiPra: Seharusnya si pengucap Notifikesiong itu muncul gk di awal, tapi berhubung editor minta diperbanyak unsur system (karena lomba), ceritanya menjadi aku ubah, dan itulah hasilnya. 🙂
total 1 replies
Souma Kazuya
Ketikannya rapi bang, tapi penegasan tema kurang kuat di awal cerita jadi orang terkesan akan malas baca sampai akhir. Seharusnya bab 1 dibuat singkat tapi langsung mengena penegasan tema cerita
BaDiPra: Ok, thank you atas masukannya.

Masih sulit buat fokus ke alur cerita.

Waktu nulis di awal-awal, bagian menuju klimaks cerita belum dibuat, jadi belum begitu tegas waktu itu.

Apalagi genre minornya harus ada, tapi merusak alur cerita yang harusnya cepat. 😆
total 1 replies
🌟Sugali🌟
ceritanya terlalu mengada-ada orang bodoh juga tau kalo punya pesan itu di baca dulu baru di buang bukan di abaikan..
di tambah setiap kata dari karakter MCnya yang pintar main game tapi tolol saat di dalam game gak masuk akal.. 👎
BaDiPra: Iya juga ya. Padahal tinggal pencet tombol di keyboard doang seperti di game, gk perlu pelajari lagi. Baru sadar aku. 😆🤣😆 wkwkwkwk
total 1 replies
Mrvallet
tidak sabar melihat azab Indosiar nya😇
BaDiPra: Sepertinya azab yang dinanti hanya menumbuhkan tawa, bukan ketaqwaan. 🤣
total 1 replies
Mrvallet
waduh.. apakah akan ada azab Indosiar?
BaDiPra: Tentu tidak, ini hanya pengalihan isu. 🤭
total 1 replies
Calvien Arby
pro player
BaDiPra: Pro Peayah 🤣
total 1 replies
Machan
ngopi dulu lah, bang. gua lagi capek baca😁☕
BaDiPra: Siap Mak. 👍
total 1 replies
Machan
si nenek bilang payah mesti sambil mlengos ya🤣🤣
BaDiPra: Oh jowo to? Kalau di jawa, itu disebut mplegos. 😂
total 3 replies
NA_SaRi
RASAKAN!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!