Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.
Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Hari H pernikahan.
Pagi itu Karina bangun saat adzan subuh berkumandang, setelah sore dia diizinkan pulang karena besok hari pernikahannya. Dokter menyarankan untuk istirahat cukup. Tak lupa Karina sholat malam untuk diberikan petunjuk dengan pernikahannya yang tak mendapatkan kabar apapun dari calon suaminya. Seolah kesibukan suaminya melupakan semua tentang dirinya.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, pagi itu Karina bergegas mandi dan bersiap. Berdasarkan informasi dari pihak MUA yang disewa dengan calon suaminya beberapa waktu lalu, mereka akan datang ke rumah panti untuk meriasnya tepat pukul enam pagi sebelum akad nikah dilaksanakan di masjid dekat panti.
"Nak Karin!" Panggil Bu Meri sambil mengetuk pintu kamar Karina.
"Iya Bu." Jawab Karina setelah selesai mengenakan hijab instannya.
Cklek
"Ada apa Bu?"
"Kamu sudah lebih baik?" Tanya Bu Meri sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Karina.
"Alhamdulillah, Karin sudah lebih baik Bu." Jawab Karina lembut.
"Syukurlah, diluar sudah ada mbak MUA, lebih baik kamu sarapan dulu sebelum dirias." Saran Bu Meri.
"Iya Bu." Jawab Karina tersenyum sopan.
Karina ikut keluar dari kamarnya bersama Bu Meri. Suara berisik di dapur tempat semua hal disiapkan membuat ramai seketika. Banyak warga sekitar yang sedang rewang di panti untuk membantu melancarkan acara ijab qobul yang dilaksanakan di masjid panti. Sedang resepsi pernikahan akan dilaksanakan di gedung hotel milik keluarga calon suaminya.
Karina menyapa semua ibu-ibu yang sedang membantu memasak di dapur. Suasana ramai yang ramai membuat warga sekitar rukun semua. Sedang anak-anak panti lainnya bersiap menyambut pesta yang tentu saja makan-makanan enak yang diimpikan semua penghuni panti yang bisa dikatakan jarang makan enak dan lezat.
"Mbak Karin mau menikah ya?" Tanya salah seorang adik panti berumur sepuluh tahunan.
"Iya dek." Jawab Karina tersenyum, kini dia sedang sarapan bersama adik-adik pantinya.
"Wah, pasti makanannya enak-enak semua." Sahut adik panti satunya.
"Iya betul."
"Kita beruntung bisa makan enak lagi."
"Iya."
"Jarang-jarang kan kita makan enak ayam dan daging."
Senyum Karina perlahan memudar menatap adik-adik panti yang bercerita begitu bahagianya hanya karena makanan enak. Apalagi sebelum dirinya mengenal Ken. Dan setelah mengenal Ken, kebutuhan anak-anak panti dan renovasi rumah panti menjadi terjamin dan layak untuk dihuni.
"Kalau begitu kalian harus banyak-banyak bersyukur. Karena kehidupan kita menjadi lebih baik." Ucap Karina memaksakan senyumnya dan mengalihkan pandangannya kala air mata menetes.
"Iya mbak."
Karina melirik ponselnya, belum juga ada kabar dari Ken calon suaminya. Dia terlihat gelisah dan makanannya terasa hambar di mulutnya. Sedetik kemudian pesan yang masuk kedalam ponselnya membuat Karina tersenyum cerah. Kabar dari calon adik iparnya membuatnya kembali bersemangat.
'Mas Ken sedang bersiap mbak. Selamat atas pernikahan kalian ya.' Pesan dari Johan yang dijanjikannya saat dia pulang dari rumah sakit sudah dikirimkan pagi itu. Diikuti emoticon senyum yang berderet meski dada Johan terasa sesak.
***
Semalam
"Mas Ken belum pulang Bu?" Tanya Johan saat dia terlihat lelah baru pulang dari rumah sakit sore itu. Besok adalah hari pernikahan kakaknya namun tak ada kabar apapun dari kakaknya itu ada dimana. Banyak pesan yang sudah dikirim sejak kemarin namun belum juga dibalas bahkan dibalas.
"Belum." Jawab Ambar cuek. Johan menatap ibunya dalam, entah kenapa ibunya terlihat tidak antusias dengan pernikahan kakaknya.
"Bu."
"Hmm." Jawab Ambar yang terlihat cuek masih sambil memasak dengan dibantu asisten rumah tangga.
"Ibu merestui pernikahan mas Ken dengan mbak Karin kan?" Tanya Johan menatap ibunya lekat.
"Apa maksudmu?" Tanya Ambar masa bodoh.
"Jawab pertanyaanku Bu!" Pinta Johan masih berusaha sabar.
"Besok sudah hari pernikahan, memangnya bisa dibatalkan? Mau bikin malu nama keluarga kita?" Jawab Ambar ketus merasa tersinggung dengan pertanyaan putra bungsunya.
"Tapi ibu kelihatan kok cuek dengan persiapan pernikahan mereka?" Tanya Johan masih dengan nada rendah tak mau membuat ibunya tersinggung.
"Lho, semua kan sudah diurus pihak WO kenapa ibu harus ikut repot-repot mengurusnya. Ken juga tak mau ibu bekerja berat-berat untuk ikut memikirkannya." Jawab Ambar sedikit ketus.
"Huff... ya sudah, aku mau ke kamar dulu. Capek." Johan pun berlalu dari ruang makan meninggalkan ibunya yang masih memberengut marah.
Pesan dikirim kembali oleh Johan ke ponsel kakaknya. Panggilan pun dilakukan namun tidak juga diangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun belum ada tanda-tanda kalau kakaknya akan pulang. Johan duduk di sofa kamarnya menatap ke luar jendela kamarnya. Meski berusaha menikmati indahnya malam itu namun benaknya tidak bisa menikmati.
Masih berharap cemas kalau kakaknya sampai melarikan diri dari pernikahannya besok. Johan terkantuk-kantuk di sofa tersebut, Hin suara deru mobil masuk ke garasi rumahnya yang lumayan mewah. Johan sontak terbangun keluar dari kamarnya menghampiri kakaknya.
"Mas Ken pulang?" Seru Johan tanpa sadar memeluk kakaknya yang terlihat tak bersemangat dan sangat lelah.
"Kau ini apa-apaan Johan. Jangan seperti anak kecil!" Ucap Ken melepas pelukan adiknya.
"Mas kemana saja selama ini? Aku hubungi tidak diangkat, pesan juga tidak dibaca dan dibalas. Mas gak lupa kan kalau besok hari pernikahan mas." Ucap Johan mengikuti langkah kakaknya ke kamarnya.
"Ponselku ketinggalan di kantor pusat. Aku sudah berada di luar kota tempat proyek baruku. Aku ingin menyelesaikannya sebelum bulan madu kami nanti." Jelas Ken masuk ke dalam kamarnya masih diikuti Johan.
"Seharusnya kakak menghubungi kami, setidaknya biar kamu tidak cemas. Untung semua persiapan berjalan lancar." Ken langsung masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya tanpa menjawab pertanyaan Johan yang membuatnya lelah.
Johan pun memilih untuk meninggalkan kamar kakaknya dan dia bisa tidur nyenyak malam ini.
Ken mendesah kecewa saat mengingat kalau besok hari pernikahannya dengan gadis yang dicintainya. Ingatannya menerawang entah jauh kemana.
"Maaf Karin."
"Maaf. Apapun yang terjadi kumohon jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu, hanya kamu Karin." Bisik Ken disela-sela guyuran shower air hangat di tubuhnya.
Ken terlihat lemah hari itu. Seandainya saja dia tidak bisa pulang malam itu. Dia pasti akan menyesalinya seumur hidupnya. Persetan dengan semuanya. Dia hanya butuh Karina, hanya dialah gadis yang membuatnya nyaman selama ini meski berbagai banyak cobaan yang mendatanginya tanpa mampu mengatakan yang sebenarnya pada calon istrinya itu yang besok sudah resmi menjadi istrinya.
.
.
TBC