JANGAN DIBACA!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Seva masih berdiri di samping Ria, menyindir halus gadis terlihat marah disampingnya. Terlihat beberapa orang bergantian memberikan ucapan selamat kepada dua mempelai, dengan senyum dan raut wajah bahagia Dion juga Aulia berjabat tangan dengan mereka, tapi segera menyatukan tangan ketika lawan jenis ingin berjabatan.
"Lo lihat kan mereka bahagia banget, jadi Lo mending minggir jauh jauh deh dari hidup mereka" ucap Seva memperhatikan kedua sahabatnya, menoleh cepat Ria kearahnya.
"Bukan urusan Lo!" sinis Ria.
Berbalik dan menabrak sengaja pundak Seva, Ria pergi meninggalkan acara resepsi. Hatinya terlalu sakit untuk melihat senyum bahagia dari lelaki masih indah menghiasi lubuk hatinya. Ria tidak akan pernah terima sampai kapanpun dengan bersatunya Aulia juga Dion dalam sebuah ikatan pernikahan.
***
Beberapa jam berlalu melangsungkan acara resepsi, Aulia dan Dion turun bersama menghampiri keluarga yang masih berkumpul dan duduk bersama. Dengan bantuan Dion menuntunnya, Aulia menghampiri perempuan telah lama ia nantikan. Langsung saja Aulia memeluk Luna dan mengucapkan beberapa kata kerinduan dari bibirnya.
"Kangen ya sama Bunda?" mengusap lembut punggung putrinya, Rena tersenyum.
"Iya mami, aku kangen banget. Habisnya Bunda engga pernah mau datang, dikunjungi juga engga pernah mau" jawab Aulia telah melepas pelukan.
"Bunda kan kerja, banyak cicilan yang harus dibayar jadi engga bisa libur" tersenyum mencubit gemas pipi Aulia.
"Kamu punya hutang?!" terkejut Tyo beranjak dari duduk.
"Biarin aja dek, dia yang pilih sendiri hidupnya jadi biar di tanggung tuh hutang sama dosanya" sinis Dimas melipat tangan dengan bersandar pada kursi.
"Dimas..." seru Natalie melotot pada putranya.
"Lagian kamu juga sih, kenapa engga nurut aja buat tinggal disini?! emang berapa sih gaji kamu buat nulis itu?! yang ada malah banyak hutang kaya gitu!" tambah Natalie bergantian melotot ke arah putri angkatnya.
"Kirain mau belain, ternyata mau marahin juga?" gumam lirih Luna memelas, ditertawakan Aulia juga Rena yang mendengar.
"Udah dong kasihan kan baru pertama datang udah di marahin?" ucap Teddi membela.
"Iya tuh, bukannya di sayang sayang terus dikasih uang malah dimarahin" memajukan bibir Luna memelas, dilirik kesal oleh Dimas tetap melipat tangan di depan dada.
"Bunda tinggal di tempat aku ya malam ini" pinta Aulia manja.
"Engga bisa sayang, habis ini bunda langsung ke hotel terus besoknya balik" jelas Luna, langsung Dimas bangkit dari duduk semakin kesal.
"Benar kan?! emang dia nih engga pernah bisa di atur tau gak?! ngapain kamu kesini kalau cuma sebentar terus balik lagi?!" marah Dimas dalam kekecewaan.
"Kan tadi udah bilang mau numpang makan mas, abis numpang makan ya pulang" jawab Luna tersenyum.
"Aku engga tau ya jalan pikiran kamu itu kaya gimana dek, tapi yang jelas kamu udah buat kita semua kecewa! berapa kali kita hubungi kami tapi engga pernah di angkat?! berapa kali juga kita usaha datang ke tempat kamu tapi kamu engga ada?! dan sekarang kamu enak banget datang numpang makan habis itu pergi?! hati sama otak kamu terbuat dari apa sih?!" kesal Dimas memarahi adik angkatnya.
"Mas udah dong, jangan marah marah disini engga enak kan" coba Rena menenangkan dengan mengusap lembut dada bidang suaminya.
Ketika Dimas marah, semua hanya diam mendengarkan. Tidak ada satupun yang berani untuk membuka suara kecuali Rena yang mencoba menenangkan. Rasa kecewa tidak bisa disembunyikan dari wajah Dimas akan pilihan hidup adik angkatnya. Mengembalikan semua pemberian dari keluarga angkatnya, Luna memilih hidup dan berdiri dengan kakinya sendiri.
Semua pilihan hidupnya, tak pernah di setujui keluarga yang sangat menyayangi dirinya. Berulang kali Dimas juga Tyo menghampiri ketempat Luna tinggal, namun tak pernah sekalipun menjumpai perempuan sangat ingin mereka berdua seret untuk tinggal bersama. Luna sengaja menghindar dari kedua kakaknya karena masih ingin melanjutkan untuk menulis, walau harus ia lakukan secara diam diam selama ini.
Rena mengisyaratkan mata pada Luna agar menghampiri kakaknya yang tengah marah. Menggelengkan kepala berulang, Luna tak berani mendekat. Begitu juga Dion sedari tadi sudah gemetar mendengar amarah dari papi mertuanya. Membuang napas kasar, Luna berjalan menghampiri Dimas di dampingi oleh Rena. Perempuan dengan rasa takut itu berjongkok di depan kakaknya, meraih kedua tangannya dan menggenggam menjelaskan.
"Eh, gak boleh pegang tangan aku lupa" mengangkat tangan dari tangan kakaknya, melebarkan senyum semua keluarga.
"Mas, maafin aku. Aku engga mau bandel dan engga nurut, tapi aku cuma mau bisa berdiri di kaki aku sendiri. Aku engga mau duduk dan nikmati apa yang bukan dari kerja kerasku, kalau bisa mas dukung aku bukan marah marahi aku terus" tulus Luna mengatakan, mengintip ke arah wajah kakaknya yang berpaling.
"Ah udahlah pokoknya gitu deh mas, aku engga mau ngomong lagi nangis aku entar yang ada. Entar kalau aku nangis mau bersandar ke siapa coba? masa iya mau bersandar ke bahu jalan?" tambah kembali Luna, ditertawakan keluarganya juga Dimas yang menahan tawa mengatupkan rapat bibirnya.
"Di sini Bunda, ada bahu Brian bisa di pakai bersandar" tersenyum Brian menepuk bahunya sendiri.
"Auli juga ada buat Bunda" memeluk Luna yang sudah bangkit dari posisi jongkok.
"Sempat banget bercanda kamu ya" ucap Natalie memeluk putri angkat juga cucunya bersamaan.
Seva yang juga berada di sana mulai memahami keadaan, perempuan yang sempat membuatnya terkejut tak lain adalah saudara angkat dari Papi sahabatnya. Seva mengangguk berulang dan tersenyum, mengetahui jika itu bukanlah pacar Brian ataupun lebih dari itu. Mungkin tanpa di sadari, Seva sudah memiliki rasa kagum pada Brian dari awal ia mendampingi Aulia menonton Brian dalam suatu pertunjukan.
Sedangkan Dimas yang sudah mereda amarahnya karena celotehan adik angkatnya, beranjak dari duduk dan memegang pundak mamanya. Meskipun selalu membuat kesal karena watak kerasnya, Luna selalu bisa mengembalikan keadaan dengan ucapan receh yang ia lontarkan. Hal itulah yang selalu dirindukan Dimas walau hanya bisa terhubung melalui sambungan telpon.
"Hari ini pulang ke rumah sama mama ya" pinta tulus Natalie memegang kedua pundak putrinya.
"Engga ada baju ma, masa aku engga ganti sih?" santai Luna menjawab.
"Pulang ke rumah mas, di sana ada baju Auli sama mba bisa kamu pakai" jawab Dimas.
"Auli aja nih yang terbuang sekarang" memelas Aulia memajukan bibir.
"Kalau terbuangnya ke pelukan orang ganteng kaya suami kamu sih, Bunda juga mau" menggoda mencubit pipi keponakannya.
"Bunda bisa aja" malu malu Dion menjawab.
"Udah panggil Bunda aja, emang kita udah kenalan?" jawab Luna menatap wajah malu malu Dion yang cepat berubah ekspresi tegang.
"Ma, maaf" terbata Dion gugup, ditertawakan semua orang yang masih santai bersama.
"Engga jauh beda dari papi ini sih" batin Dion menundukkan wajah dengan jantung berdetak cepat.
semoga kakak dan keluarga selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT di manapun berada. lanjut terus untuk berkarya Miss you dear