Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan Tengah Malam (akhir)
Alice berpamitan pulang, dia ikut menaiki kereta kuda yang membawa Bibi Anna dan Hans.
"Alice.. biarkan aku mengantarmu.. aku mohon.." Gara memohon dengan sungguh-sungguh.
"Gara, lihatlah.. aku sudah baik-baik saja, dan aku pulang bersama Bibi dan Kakakku, tentu saja yang penting adalah sekarang sore hari, bukan malam yang gelap dan dingin dan malam purnama tentu saja." Alice meyakinkan Gara bahwa dia tidak apa-apa.
Gara ingin sekali Alice berada disampingnya, dia tidak ingin Alice pulang kerumah, bahkan bersama Bibi dan Hans sekalipun. Seandainya saja bisa, dia ingin mengurung Alice untuk dirinya sendiri.
"Terakhir kali kau bilang begitu, dan kau menghilang tepat didepan istanaku!!" Gara melipat tangan didadanya.
"Itu saat aku sendiri dan malam bulan purnama, kau tau.." Alice cemberut.
Gara tidak bisa menolak jika Alice sudah mengeluarkan jurus jitu, dia hanya bisa pasrah dan menerima.
"Baiklah, aku mengijinkanmu, namun saat terjadi sesuatu, panggilah namuku! Kau harus janji!! " Ujar Gara.
"Oke, deal.. aku akan pulang sekarang." Alice pergi dari istana dengan Bibi dan Hans. Dia tidak sabar ingin cepat sampai rumah.
Gara melihat punggung Alice sampai dia menghilang.
"Tuan muda... Apakah tidak apa-apa membiarkan Nona Alice sendiri seperti itu?" tanya Dean.
"Aku khawatir, namun aku sudah memberinya sebuah mantra, dia akan memanggilku. Oh apa yang kau berikan tadi pada Alice?" Balas Gara.
"Oh.. tadi Nona Alice meminta sebuah kue tart, sepertinya Hans berulang tahun besok." Jawab Dean.
Gara puas dengan jawaban Dean, dia pergi ke istana dan masuk ke ruangannya.
Suasana istana tampak sepi malam itu. Hujan turun sangat deras disertai angin dan petir yang bersahutan.
"Dean! Panggil William dan Eric."
"Baik Tuan Muda.." Dean bergegas meninggalkan ruangan.
Tidak lama kemudian William dan Eric datang keruangan Gara.
"Eric.. dimana Luca.." Tanya Gara.
"Aku tidak melihatnya sejak kemarin Kak.." jawab Eric
"Betul, Luca memang tidak ada sejak kemarin Kak.." tambah William.
Gara memutari ruangan, kepalanya menengadah ke atas. Dia berpikir keras.
"Aku seperti melewatkan sesuatu yang kecil, apa itu.."
"Aku punya firasat buruk..." Gumam Gara.
"Dean, tetaplah disamping Ayahku..!" Perintah Gara.
Dengan sigap Dean pergi dan menghilang.
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Deng
Dentingan suara jam menandakan tengah malam. Suasana istana semakin sunyi. Hujan diluar semakin deras.
Brugh
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbanting..
"Will! Eric! Temui ayah!!" Gara memberi perintah. William dan Eric menghilang dengan cepat.
Gara berlari keluar mencari sumber suara.
Pintu gerbang istana sudah terbakar ditengah guyuran hujan. Tak terlihat satupun penjaga dan Semua prajurit menghilang.
Gara mengeluarkan seluruh kelelawar miliknya.
"Carilah Alice..." Kelelawar itu seketika menghilang ditelan gelapnya malam.
Suara gemuruh terdengar diaula kerajaan.
Gara berlari dengan cepat.
Pilar-pilar runtuh.
William dan Eric melindungi Raja.
Raja terlihat baik-baik saja.
"Ayah, aku akan membereskannya.. Dean, jagalah ayah!"
Gara, William dan Eric membalas serangan vampir-vampir yang muncul dari segala arah. Kelelawar membangunkan penjaga yang telah diberi obat. Penjaga mulai berdatangan.
Gara mengamankan Aula.
William mengamankan sayap Kiri.
Dan Eric mengamankan sayap Kanan.
Gara masih menunggu kabar Alice dari kelelawar nya, namun tak kunjung datang.
Setelah Aula cukup aman, Gara menyerahkannya kepada penjaga. Dada sebelah kiri Gara terkena serangan, namun Gara masih mampu bertahan.
Dengan cepat Gara pergi kerumah Alice.
Dia tidak menemukannya dimanapun.
Tubuh Gara bergetar, Bibi Anna dan Hans sudah berada dilantai bawah, mereka sudah menyadari Alice hilang setalah mendengar suara jendela yang terbanting satu jam yang lalu.
Mata Bibi Anna bengkak, dia tidak berhenti menangis, Hans tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menundukan kepalanya. Tidak ada yang bisa mereka perbuat, mereka hanyalah manusia biasa.
Gara mencoba memfokuskan pikirannya. Dia mencoba mencium sisa-sisa aroma tubuh Alice yang tersisa, namun percuma, Hujan dan angin telah menghapusnya. Gara masuk ke kamar Alice dan menemukan Kent sedang berdiri disana.
Gara mendorong Kent Kedinding dan mengangkat lehernya dengan kuat.
"Dimana ALICE!!" Gara melampiaskan emosinya.
"Tenanglah, aku bisa mencium tubuh Alice sejauh apapun itu. Kau ikutilah aku dengan cepat kalau bisa." Setelah itu Kent menghilang ditelan kegelapan.
Dengan cepat Gara menyusulnya.
Mereka menembus hujan dan angin, melewati hutan melewati istana dan jauh, semakin jauh. Namun.. sekarang aroma tubuh Alice dapat tercium dengan jelas oleh Gara. Gara mencium aroma dari darah Alice yang sangat kuat. Gara berlari sekencang-kencangnya.
Dia menemukan sebuah rumah tua, dengan sebuah lampu yang menyala ditengah-tengah.
Gara mendengar samar-samar suara Alice.
"Gaa..raaa.."
Lalu suara itu menghilang.
Tercium aroma darah Alice begitu kuat.
Gara memecahkan jendela dan melihat sekumpulan vampire telah mengerubungi Alice bagai sekumpulan lalat, mata Alice tertutup. Dengan seluruh amarahnya Gara membakar seluruh vampire itu.
Seluruh tubuh Alice dingin dan membiru, matanya tertutup dan tak mengucapkan sepatah katapun..
Alice..
Aliice
Aku mohon
Alice
Aaaaaaaaargh
Aaaaargh
Aliice
Aliiiice
Aku mohooon Aliice
"Kent..!!! Kent! Bantulah aku Kent!!" Gara memohon.
Kent terdiam, dia menundukan kepalanya.
Kemudian berdiri..
Kent melolong
Auuuu
Auuuuuuuuuung
Lolongannya terdengar sangat sedih.
Kent menangis. Air mata pertamanya telah terjatuh. Untuk Alice.
Aliice kumohon Alice
Kumohooon Alice jangan tinggalkan aku
Aku mohooon Aliice
Arrrgh
Aaaaaaarh
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...