Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devin Menghibur Tasya
Tasya duduk di perpustakaan, bersama dengan teman-temannya.
"Eh aku mau kasih tahu kalian, kalau yang menculik Papa kabur dari penjara." Ujar Tasya.
"Kok bisa?" Tanya Okta.
"Aku juga tidak tahu, kata polisi ada orang luar yang membantu mereka lepas." Jawab Tasya.
"Bisa gawat ini." Ucap Tera.
"Iya, mereka bisa berbuat nekat lagi." Jawab Tasya.
"Tasya, kamu dan Devin sudah ehem iya?" Tanya Okta.
"Apa, aku dan dia tidak melakukan apapun. Saat itu, aku menikah karena menggantikan Clara kabur. Aku di sini hanya sebagai pengantin pengganti." Jawab Tasya.
"Hati-hati kalau dia meminta haknya. Karena sakit loh Sya saat melakukannya." Tera menakut-nakuti Tasya.
Tasya bergidik ngeri, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa takut, bila Devin akan memintanya.
'Tidak, aku akan alasan datang bulan. Aku juga akan mencari berjuta alasan lain.' Batin Tasya.
Semua siswa dan siswi, tiba-tiba keluar dari perpustakaan. Mereka semua mendadak berlarian, berebut untuk menuju suatu ruangan.
Tera menarik tangan, salah satu siswi yang berlari.
"Eh ada apa?" Tanya Tera.
"Ada sebuah pertunjukan yang menarik katanya. Semua siswa dan siswi harus berkumpul di lapangan." Jawabnya.
Tera, Okta, Tasya, dan Jelita beranjak dari duduknya. Mereka semua merasa heran, kenapa pertunjukan itu mendadak.
Mereka melangkahkan kaki masing-masing, hingga menuju lapangan. Tasya melihat layar tancap yang menempel pada gedung. Awalnya dia biasa saja, namun terkejut saat layar itu mulai menyala. Di sana terdapat Tera, Okta, dan Tasya yang sedang berbicara tadi.
"Jadi dia sudah menikah."
"Kenapa diam-diam si Tasya."
"Bukankah dia ketua dari kelas IPA."
"Dia jangan-jangan hamil, sampai kebelet nikah."
"Itu orangnya, tidak punya malu sekali."
Suara riuh terdengar sampai ke telinga Tasya. Dia berusaha untuk tidak menghiraukan, dia tahu hatinya masih berfungsi untuk merasa sakit.
'Please Tasya, jangan menangis meski dipermalukan. Jangan menangis karena menjadi pusat perhatian. Pasti Okta yang melakukan ini, dia sangat menyukai Devin.' Batin Tasya.
"Okta, kamu yang menyebarkan berita ini?" Tanya Tera.
"Kamu kok tega banget sama Tasya." Timpal Jelita.
Tasya tidak bisa berkata-kata, dia hanya melirik Okta dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tasya kecewa, karena merasa dirinya dikhianati.
"Sya, sungguh aku tidak melakukan ini." Ujar Okta, berusaha menjelaskan.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat pada pipi Okta.
"Aku tidak melarang kamu untuk suka dengan Devin, tapi bukan seperti ini Okta caranya. Kamu bilang mementingkan persahabatan, tapi yang kamu lakukan tidak sportif." Jawab Tasya, dia segera berlari.
Semua siswa dan siswi bersorak-sorai di lapangan. Mereka menghina Tasya, tak terkecuali Rubis dan Rumi yang tersenyum bahagia.
"Hore, si Tasya hancur. Pasti sebentar lagi tidak bangun-bangun." Ujar Rubis.
"Iya, ayo tambah sebar luaskan ini di sosial media." Jawab Rumi.
Rumi menyuruh seseorang, untuk menyebar berita realita itu. Rubis ingin Tasya dikeluarkan dari SMA Pelita Raya.
Tasya berlarian di sisi jalan. Dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti, Devin turun dari mobil.
"Tasya, ayo masuk ke dalam." Devin merangkul pundak Tasya.
"Aku tidak mau, aku mau sendirian." Jawab Tasya.
Devin menggendong tubuh Tasya, memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu harus ikut aku ke suatu tempat. Aku sudah tahu apa yang terjadi." Ucap Devin.
"Kamu tahu darimana?" Tanya Tasya.
"Aku lihat di sosial media, acara pertunjukan di sekolah SMA Pelita Raya." Jawab Devin.
Tak berselang lama mobil Devin, sudah sampai di puncak bukit. Tasya keluar dari mobil, lalu Devin menutup matanya dari belakang.
"Pejamkan lah matamu, bila kamu tidak sanggup melihat kenyataan yang sangat menyakitkan. Berilah gula pada kopi yang pahit itu." Devin dapat merasakan, bahwa mata Tasya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak kuat Devin, aku malu bila besok harus kembali ke sekolah." Jawab Tasya.
"Tarik nafas mu dalam-dalam, lalu hembuskan dengan perlahan. Terus lakukan berulang kali, hingga kamu lega." Devin berusaha menenangkan.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Jawab Tasya.
Tasya menghembuskan nafasnya perlahan, setelah menariknya dalam-dalam. Kini dia sudah merasa lega, Devin perlahan melepaskan telapak tangannya.
"Devin, kenapa kamu datang tepat saat aku merasa sedih." Ujar Tasya.
"Karena aku ingin menjagamu. Aku tidak ingin kejadian waktu di aula, terulang kembali. Aku tahu, kamu menangis karena aku." Jawab Devin, dengan jujur.
"Devin, bukankah kamu tidak peduli padaku. Biarkan saja hal buruk terjadi padaku, itu bukan urusanmu sama sekali." Ucap Tasya, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku peduli Tasya, setelah semua hal yang kita lalui. Aku merasa kita bukan sekedar rekan kerja, tapi juga kita teman." Jawab Devin.
'Maaf Sya, aku belum bisa mengungkapkan perasaan ku.' Batin Devin.
'Ternyata dia melakukan ini, karena aku hanya teman di matanya.' Batin Tasya.
Devin menggenggam tangan Tasya, kemudian mengambil batu lalu meletakkannya.
"Sekarang kamu lempar ke bawah sana. Aku yakin, setelah ini kamu akan merasa lebih lega." Devin menyarankan.
"Baiklah, aku akan melakukannya." Jawab Tasya.
Tasya melemparkan batu-batu berukuran sedang itu. Dia terus berteriak, menumpahkan semua rasa sesak di dalam dada.
"Ayo semangat!" Devin mengangkat tangannya, yang terkepal ke atas udara.
Tasya tersenyum, lalu melakukan kembali. Dia terus melemparkan batu-batuan kecil ke dasar jurang.
"Bagaimana, apa sudah lega?" Tanya Devin.
"Iya, lumayan lebih baik dari yang tadi." Jawab Tasya.
"Ayo kita pulang." Ajak Devin.
"Iya, aku juga sudah lapar." Jawab Tasya.
Mereka segera masuk ke dalam mobil, untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
"Kamu harus ke kantor, karena sudah lama tidak masuk kerja." Ujar Devin.
"Iya, aku berencana akan masuk kerja siang ini." Jawab Tasya.
Di kantor.
"Tasya, kamu siapkan file yang akan dibawa meeting nanti." Titah Devin.
"Laksanakan." Jawab Tasya.
Dia segera mencolokkan flashdisk, ke dalam laptop. Tasya memindahkan data file ke dalam flashdisk.
Tasya menghampiri Devin, dia meletakkan flashdisk di atas meja. Tasya memperhatikan Devin, yang sedang menyelesaikan pekerjaan. Jari-jari Devin sibuk mengetik pada papan tombol laptop.
"Jarimu lincah sekali." Puji Tasya.
"Kamu juga bisa melakukan hal mudah ini." Jawab Devin.
Tasya menundukkan kepalanya, tepat berada di samping kepala Devin.
"Tapi, otakmu juga lancar." Bisik Tasya.
Devin sengaja menoleh ke samping, lalu mencium pipi Tasya.
"Kamu juga bisa terasah bila rajin berlatih." Jawab Devin.
Pipi Tasya bersemu merah, seperti kepiting rebus. Dia mengusap pipinya, karena Devin baru saja menciumnya.
Devin tersenyum samar. "Aku tidak sengaja menyentuh pipimu." Ujarnya.
"Lain kali lebih konsentrasi." Jawab Tasya.