Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.
"Manusia seperti mu lebih baik mati daripada hidup menyakiti orang lain!" ia segera mencekik Kenan.
"Siapa kau!" seru Kenan meronta
Pra itu berusaha mengambil apapun yang ada di sampingnya dan memukulkannya kearah Garra.
*Buuugghh!!!
Ken berusaha bangun dan melepaskan pukulannya kearah Garra, namun lelaki itu tetap tak bergeming dan semakin keras mencekiknya.
"Sampah seperti mu harus mati!" ia melemparkan tubuh Kenan hingga menghantam langit-langit kamar.
"Siapa kau kenapa kau ingin membunuhku!" Kenan beringsut mundur menjauh dari Garra.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas hari ini kau harus mati di tanganku!" ujar Garra.
"Kau bukan Manusia!" Kenan memekik ketakutan ketika melihat mata merah Garra dan kuku-kukunya yang meruncing dan berjalan kearahnya.
Ia segera berlari menuju pintu keluar, namun Garra lebih sigap dan menarik pemuda itu.
"Kau tidak akan pernah lepas dariku!" Garra mengarahkan kuku tajamnya ke leher Kenan.
*Buuggghhh!!
Sebuah tendangan melesat menghantam tubuh Garra.
"Kenapa lagi-lagi kau ikut campur dalam urusan ku!" seru geram
"Tentu saja aku harus ikut campur jika kau berusaha membunuh Saudaraku," sahut Lingga
Ia segera mengulurkan tangannya dan membantu Kenan berdiri.
"Manusia jahat seperti dia sudah sepantasnya mati, jadi kau tidak perlu menolongnya jika kau masih sayang dengan nyawamu," ujar Garra
"Sejahat apapun manusia, tetap saja kau tidak berhak menghukumnya apalagi membunuhnya, karena hanya Allah yang berhak memberikan hukuman atau mencabut nyawa seseorang," sahut Lingga
"Ciih, dukun seperti dirimu jangan berlagak menjadi seorang ustadz!" sahut Garra
"Kali aja suatu saat karier dukun ku mulai meredup, bisalah gue ganti profesi jadi ustadz," jawab Lingga sambil terkekeh
"Terserah Lo aja!" Garra segera melepaskan serangannya kearah Lingga.
Lingga berusaha menghindari serangannya.
"Sial, nih anak Iblis benar-benar sakti," Lingga kewalahan dan hampir saja terkena serangan bola api Garra jika Rangga tidak datang menolongnya.
"Kau memanggil temanmu rupanya!" seru Garra mengusap darah yang mengalir di bibirnya.
"Lama tak bertemu Garra, kau masih sama dan tidak pernah berubah," sapa Rangga
"Apa kau mengenalku?" tanya Garra
"Tentu saja, kita bahkan sudah pernah beradu kekuatan dua kali," jawab Rangga
"Jadi kau lelaki yang berhasil membuat ku terluka dua puluh tahun silam?" tanya Garra
"That's right baby,"
"Tidak ku sangka, bisa bertemu dengan mu lagi Aki...tapi aku tidak tega untuk bertarung denganmu. Kau sudah terlalu tua untuk melawanku," sahut Garra
"Fisikku memang sudah tua, tapi kau tidak perlu sungkan, anggap saja aku ini masih muda," jawab Rangga
"Cih, kau masih saja seperti dulu Aku, baiklah kalau itu mau mu," Garra segera melesat menyerang Rangga
Lelaki itu dengan sigap segera menghindar dari serangannya dan menyerang balik kearahnya.
"Tidak ku sangka dua puluh tahun tidak bertemu kekuatanmu semakin meningkat Aki," Garra mencabut keris pusakanya dan menebaskannya kearah Rangga
Rangga terus meliuk-liukkan tubuhnya menghindari serangan bertubi-tubi Garra.
Rangga berhasil menumbangkan Garra dengan tendangan kerasnya.
"Aku harap kau tidak akan menyakiti cucuku lagi, sebagai kakeknya aku meminta maaf padamu atas apa yang sudah ia lakukan dan aku berjanji dia tidak akan mengulanginya," ucap Rangga mengulurkan tangannya
"Apa kau bisa menjamin dia tidak akan melakukan hal yang sama lagi?"
"Tentu saja, jika ia melakukan kesalahan yang sama maka aku sendiri yang akan menghukumnya," jawab Rangga
"Baiklah aku percaya padamu," sahut Garra meraih uluran tangan Rangga.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Aku Darno terkejut dengan kedatangan Garra.
Lelaki itu kemudian memeriksa Garra yang terus memegangi dadanya.
"Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanyanya lagi
"Ah, tidak apa Aki, hanya luka kecil sebentar lagi juga akan sembuh," jawab Garra
"Ini bukan luka kecil, ini adalah pukulan tenaga dalam yang sangat kuat, tunggu...." Ki Darno mencoba memeriksa bekas luka di dadanya.
"Hanya satu orang yang memiliki pukulan ini, jangan bilang kalau kau bertarung lagi dengan Ki Rangga!" telisik Ki Darno
"Sudahlah Aki, lebih baik aku pulang saja agar bisa beristirahat dan menyembuhkan lukaku," sahut Garra
"Bawa obat ini dan minumlah dengan teratur!" tukas Aki Darno
"Terima kasih Aki," Garra kemudian kembali ke rumahnya.
Setibanya di rumah ia langsung memastikan keberadaan gadis itu kepada Bi Darsih.
"Apa Tiwi sudah pulang Bi?" tanyanya
"Sudah Tuan, dia bahkan langsung istirahat di kamarnya," jawab Bi Darsih
"Syukurlah," Garra kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
Ia meminum obat pemberian Ki Darno dan segera beristirahat.
"Rupanya anak Iblis itu sedang terluka parah, ini adalah saat yang tepat untuk membalas dendam kepadanya,"
Pagi harinya Ki Darno sengaja mengunjungi Garra ke rumahnya.
Lelaki itu terkejut melihat seorang gadis muda membukakan pintu untuknya.
"Siapa kamu, kenapa kau ada di sini?" tanya Ki Darno
"Halo Kakek, perkenalkan aku Tiwi, aku kebetulan tinggal di sini. untuk sementara waktu karena tidak punya tempat tinggal," jawab gadis itu sumringah
Tiwi kemudian mencium punggung tangan lelaki itu.
Bagaimana bisa Garra begitu peduli dengan orang lain bahkan mengijinkannya tinggal di rumahnya, ini tidak bisa di biarkan, pasti ada yang tidak beres.
"Oh begitu rupanya, apa kau tidak memiliki keluarga?" tanya Ki Darno
"Saya ini yatim piatu dari lahir kakek," jawab gadis itu
"Kasian sekali, ya sudah kakek mau ketemu sama Garra dulu, dimana dia?" tanya Ki Darno
"Om Garra ada di kamarnya, apa perlu aku panggilkan kakek?"
"Jika tidak merepotkan," sahut Ki Darno
Tiwi segera menuju ke kamar Garra dan mengetuk pintunya.
*Tok, tok, tok!
"Om ada tamu!" seru Tiwi
"Siapa,"
"Seorang Kakek tua, aku gak tahu siapa namanya!" sahut gadis itu
Garra segera melompat dari ranjangnya dan keluar melihat siapa yang datang.
"Aki!" pekiknya begitu terkejut melihat kedatangan lelaki itu di rumahnya
"Siapa gadis itu?" tanya Ki Darno
"Kenapa Aki repot-repot datang ke rumahku, jika ada pekerjaan yang harus ku lakukan kau tinggal memanggilku saja, tidak perlu sampai jauh-jauh datang kemari," sahut Garra
"Siapa gadis itu?" tanya Ki Darno lagi
"Dia Tiwi, aku memang mengizinkannya untuk tinggal di rumah ini karena ia tidak punya tempat tinggal," jawab Garra
"Sejak kapan kau peduli dengan orang lain?"
"Aku tidak tega melihatnya, jadi aku ajak dia kesini,"
"Jangan bilang kau menyukai gadis itu Garra, ingat kau tidak boleh mencintai anak manusia yang lahir saat bulan purnama karena dia akan membunuhmu," terang Ki Darno
"Tapi bagaimana aku bisa tahu jika Tiwi lahir saat bulan purnama?" tanya Garra
"Biasanya wanita yang lahir saat purnama pasti memiliki tanda lahir di punggungnya. Bagi orang awam tanda lahir itu terlihat bulat seperti bulan purnama tapi bagi seseorang yang memiliki kekuatan supranatural atau mahluk gaib maka mereka akan melihat tanda lahir berbentuk naga di punggung wanita itu." jelas Ki Darno
Garra mengingat saat ia menemukan gadis itu di depan Bramantyo Tower.
"Saat aku menggendongnya hujan seketika reda dan langit yang gelap menjadi terang karena purnama bersinar terang menyingkirkan awan hitam. Kunang-kunang berterbangan menghinggapi bayi itu. Aku tidak menyangka setelah dua puluh tahun meninggalkannya di panti asuhan aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku bahkan bingung ketika tahu aku bisa merasakan kesedihannya, bahkan yang membuat ku heran lagi adalah ketika tahu jika ia adalah satu-satunya orang yang bisa memanggilku," tutur Garra
Aki Darno seketika menjadi lemas mendengarkan penjelasan Garra, lelaki itu segera meneguk segelas air putih untuk menenangkan dirinya.
"Lupakan dia sekarang dan menjauhlah darinya. Sekuat apapun cintamu padanya kalian tidak akan pernah bersatu. Jadi sebelum perasaan mu semakin dalam padanya lebih baik kau menjauhi gadis itu. Aku tidak mau kehilangan mu Garra, aku tidak mau kau mati di tangan gadis itu," ujar Aki Darno
"Aku tidak bisa mengusirnya dari sini Aki. Aku tidak tega melakukannya. Aku rasa selama aku bisa memendam perasaan ku dan tidak pernah mengungkapkannya aku yakin Tiwi tidak akan membunuhku, karena ia tidak tahu jika aku adalah Iblis yang sudah memberikan tanda lahir di punggungnya," jawab Garra
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaan mu padanya?" tanya Ki Darno
"Seumur hidupku Aku, aku rela melakukannya asal aku bisa tetap bersamanya itu sudah cukup membuatku bahagia Aki. Karena aku sudah berjanji padanya untuk menjaga dan melindunginya dari orang-orang jahat," sahut Garra