Clarissa adalah seorang mahasiswi kedokteran di Prancis. Tidak sengaja ia bertemu dengan lelaki bernama Jio, yang berprofesi sebagai Bodyguard profesional, yang juga hidup di Kota Paris, Prancis.
Jio lelaki dingin yang pernah patah hati, membuat Clarissa menjadi penasaran. Dengan segala cara, Clarissa mencoba mencari perhatian Jio.
bagaimana kisah Clarissa dan Jio?
Novel ini adalah sekuel dari novel sebelumnya yang berjudul Oh My Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22# Kau, senyum mu manis sekali
Jika aku bisa memilih, aku tidak akan ingin lahir ke dunia ini dan menjadi yatim piatu saat usiaku masih delapan tahun. Sehingga aku di campakkan ke sebuah panti asuhan dan melewati hariku di sana tanpa orangtua ku.
Dan... bila aku bisa memilih, aku tidak akan ingin bertemu denganmu Gladys. Kau membuat hatiku terpenjara karena cinta yang sepihak ini. Aku hanya lelaki lemah yang sangat menyedihkan. Aku adalah pecundang yang takut dengan kehidupan yang gagal. Aku hanya seorang lelaki yang tak ada harganya.
Dan kini, hati ku terasa hampa. Aku sudah mencoba untuk menerima apa yang sudah terjadi. Tetapi, rasa itu terlalu sakit wahai sang pencipta....
Jio.
Joo merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang sendu. Tanpa ia sadari, air mata meleleh di sudut matanya yang indah. Jio tidak tahu, ia menangis karena apa. Ia begitu merasa kehidupan begitu menyiksa dirinya.
Jio melirik jam di atas meja kamarnya. Jarum jam menunjukan pukul sepuluh malam. Ia pun beranjak duduk di ranjangnya. Jio mengusap air matanya dan berjalan menuju jendela kamarnya.
Jio menatap kelap kelip lampu malam itu di Kota Paris. Negara yang romantis itu terasa begitu menyakitkan bagi dirinya yang hanya sebatang kara.
Tiba-tiba saja bayangan Clarissa terlintas dipelupuk matanya. Ia masih mengingat bagaimana Felix memeluk tubuh gadis itu dengan nyaman. Adegan demi adegan makan malam romantis ala Felix dan Clarissa terus menari-nari di matanya. Hingga ia merasa kesal dan beranjak dari kamarnya menuju rak wine yang berada di mini Bar yang terletak di samping ruang tamunya.
Jio mengambil sebuah botol wine yang berusia dua puluh tahun dan menuangkannya kedalam gelas wine yang ia raih dari dalam lemari kecil yang terletak di samping rak wine.
Jio meneguk wine itu sambil memicingkan matanya, menahan pahitnya minuman itu yang masuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Jio menaruh gelas kosong itu di atas meja Bar dan ia pun kembali termenung.
Ting...! Tong..!
"Clarissa..!" Gumamnya. Ia tampak bersemangat dan berjalan menuju pintu depan apartemennya. Lantas, ia pun membuka pintu itu dengan segera.
Jio harus merasa kecewa, saat orang yang berdiri di balik pintu itu bukan lah Clarissa, melainkan seorang lelaki yang memberitahukan bahwa mobilnya telah menyenggol mobil Jio yang terparkir di basemen apartemen itu. Jio pun terlihat sedikit kesal. Ia dan lelaki itu pun beranjak menuju basemen untuk melihat keadaan mobil Jio.
Setelah urusan nya selesai dengan lelaki yang menyenggol mobilnya, Jio pun bergegas kembali ke unit apartemennya. Saat Jio menuju lift, ia melihat Clarissa yang bergegas masuk kedalam lift. Saat itu juga Jio berlari dan menahan pintu lift yang nyaris tertutup.
Clarissa terperangah saat melihat Jio masuk kedalam lift dan berdiri di samping dirinya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Jio dan Clarissa tampak tak saling menyapa. Mereka hanya berdiam dan memandang lurus ke depan.
Ting...!
Lift itu pun berhenti di lantai sepuluh, dimana apartemen Jio dan Clarissa berada. Clarissa dan Jio sama-sama hendak melangkah keluar, hingga tubuh mereka hampir saja bertabrakan. Jantung Jio berdegup kencang, lalu ia mundur dan membiarkan Clarissa keluar terlebih dahulu. Clarissa keluar dari lift itu, di susul oleh Jio yang berjalan pelan di belakang gadis itu.
Clarissa benar-benar acuh kepada Jio, hingga membuat Jio merasa kesal dan penasaran.
"Apa kau masih marah denganku?" Tanya Jio.
Clarissa menghentikan langkah kakinya dan menoleh kepada Jio.
"Yang marah bukan nya kamu?" Tanya Clarissa.
Jio terdiam, ia teringat saat itu ia lah yang berteriak kepada Clarissa.
Clarissa kembali berjalan menuju apartemennya. Jio pun mengimbangi langkah kaki Clarissa agar bisa jalan berdampingan dengan gadis itu.
"Aku minta maaf," Ucap Jio dengan bersungguh-sungguh.
Clarissa menghentikan langkah kakinya di depan pintu apartemennya dan menatap Jio dengan datar.
"Untuk apa?" Tanya Clarissa.
"Aku telah berteriak kepadamu," Ucap Jio sambil menatap kedua mata Clarissa dengan sendu.
Clarissa tersenyum kecil dan membuang pandangannya.
"Sudah ku maafkan," Ucap Clarissa sambil membuka pintu apartemennya.
Saat Clarissa hendak masuk kedalam apartemennya, Jio pun buru-buru meraih tangan Clarissa yang membuat gadis itu tertahan di ambang pintu apartemennya.
"Ada apa?" Tanya Clarissa.
"Maukah kamu menemani ku minum di apartemen ku. Aku butuh teman bicara," Ucap Jio.
Clarissa terdiam dan menatap lelaki tampan yang berdiri di depannya itu.
"Aku takut kau usir lagi dari apartemen mu," Ucap Clarissa.
Perlahan, Jio melepaskan tangan nya dari lengan Clarissa. Ia baru menyadari, sudah berkali-kali ia mengusir Clarissa dari apartemennya, seakan gadis itu adalah pengganggu di dalam hidupnya.
Clarissa terus menatap kedua mata Jio yang tampak merasa bersalah.
"Tetapi, bila kamu memaksa, apa boleh buat. Berjanjilah jangan bersikap seperti itu lagi kepadaku. Aku seorang wanita, hati ku sensitif sekali," Ucap Clarissa sambil tersenyum bersahabat.
Jio terpana menatap senyum gadis cantik di depannya itu. Ia mulai kagum dengan kemurahan hati Clarissa yang begitu selalu ada untuk dirinya.
"Terima kasih, kau baik sekali," Ucap Jio dengan suara yang tercekat.
"Tetapi, izinkan aku untuk membilas tubuhku dulu. Aku baru saja pulang kerja. Nanti aku akan datang ke apartemen mu. Aku berjanji," Ucap Clarissa sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
Jio menatap jari kelingking Clarissa yang mungil. Dengan ragu, ia pun menyambut jari mungil itu dengan jari kelingkingnya. Lalu, jari kelingking merekapun saling terkait.
"Baiklah," Ucap Jio sambil tersenyum ragu.
Clarissa melepaskan jari kelingkingnya dan mulai menutup pintu apartemennya.
Entah mengapa, Jio merasa senang karena Clarissa tidak menolak dirinya. Ia pun beranjak dari depan apartemen Clarissa menuju ke apartemennya.
Jio membuka pintu dan masuk kedalam apartemennya. Jio pun menyenderkan tubuhnya ke daun pintu apartemennya. Ia menghela napasnya dan tersenyum kecil. Lalu, melangkahkan kakinya menuju mini Bar dan kembali menuangkan wine ke dalam gelas nya tadi.
Ia duduk dengan gelisah menunggu Clarissa yang berjanji akan datang ke apartemennya. Berulang kali ia melirik jam di dinding dapur. Ia terus menghitung detik demi detik dan menit demi menit.
"Apakah aku sudah mulai menyukai gadis itu? Hmmm, tetapi tidak mungkin. Aku hanya kesepian dan ingin ia menjadi teman bicaraku." Gumamnya.
Ia kembali terdiam dan meneguk wine nya hingga gelas itu kosong.
"Tetapi, mengapa jantungku selalu berdegup kencang saat melihat dirinya. Hal ini seperti pertama kali aku merasakan jatuh cinta dengan Gladys." Gumamnya lagi.
Ting Tong..!
Jio terkejut saat mendengar bell berbunyi, hingga ia pun menyenggol gelas wine nya, hingga terjatuh dan pecah berserakan di atas lantai.
"Astaga...!" Gumamnya. Lalu, ia beranjak dari kursinya dan menatap pecahan gelas yang berada di atas lantai itu.
Ting.. Tong..!
Bell kembali berbunyi, jantung Jio berdegup kencang. Ia pun berjalan dengan perlahan ke depan pintu apartemennya. Semakin ia mendekat ke arah pintu, detak jantungnya semakin tak beraturan.
Ia menghela napasnya dan membukakan pintu untuk Clarissa. Ia menatap gadis itu yang tersenyum kepadanya.
"Kau, senyum mu manis sekali," Ucap nya pelan sambil terpana menatap Clarissa.
"Apa?" Tanya Clarissa yang nyaris tak mendengar ucapan Jio.
"Ah, tidak, silahkan masuk," Ucap Jio yang tampak grogi, namun sangat bersemangat dengan hadirnya Clarissa di apartemennya.