Keserakahan Para pendekar semakin menjadi jadi, Rakyat biasa menjadi korban keserakahan para pendekar yang menginginkan menjadi yang tertinggi di dunia persilatan, Tangisan para rakyat terdengar di mana mana, bau anyir darah seolah menjadi wangi yg biasa tercium di berbagai tempat.
Seorang anak muda yg lahir di antara keluarga kecil, dan lahir dengan bakat yg luar biasa menjadi yatim piatu karena kedua orangnya mati karena pembantaian, sedangkan dirinya yang selamat dari insiden tersebut lari tunggang langgang dengan luka di sekujur tubuh, lalu jatuh di jurang tanpa dasar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rzii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan dan Kesedihan
" Naga Suragawi Tolong Hancurkan dia " Ucap Ranu pelan sambil menahan darah dari mulut nya yang semakin banyak keluar
Tidak ada Jawaban dari naga itu melainkan hanya Raungan yang semakin menggetarkan tanah, lalu melesat terbang menyerang Ki Buyut Maut
Sang Naga Surgawi bergerak cepat setelah mendengar perintah Ranu, Sang naga menghantam, mencakar dan menyerang Wujud Raksasa Ki Buyut Maut dengan membabi buta sedang Ki buyut maut hanya bisa melawan sebisanya tanpa bisa melukai naga suragawi sedikit pun, sampai pada akhirnya Naga Surgawi mengeluarkan serangan bola energi yang begitu besar tanpa bisa di tahan oleh Ki buyut maut, akibat dari serang bola energi naga suragawi hutan di dekat perguruan Pedang Rajawali menjadi Lulu lantah dengan tanah dan Ki buyut maut binasa menjadi abu akibat serangan dahsyat dari bola energi sang naga suragawi
Setelah melihat musuhnya telah tewas menjadi abu, Ranu yang sudah tidak kuat lagi menahan sakit di tubuhnya tiba tiba ambruk ke tanah dan naga suragawi pun langsung lenyap tanpa bekas
Melihat kejadian itu, karena merasa ada kesempatan para golongan hitam yang awalnya sudah menyerah langsung melesat menyerang Ranu Sadewa yang sudah tidak sadarkan diri
saat sudah hampir tiba di tempat Ranu Sadewa yang sedang tergeletak tak sadarkan diri, para penyerang di kaget kan dengan serangan tiba-tiba yang mengarah kepada mereka, akibat serangan itu debu debu menyebar menghalangi pandangan mereka
" Kurang Ajar, siapa lagi yang berani menghalangi kita untuk menghabisi pemuda itu " Ucap Seseorang dari golongan hitam yang tadi ingin menyerang Ranu yang sedang tidak sadarkan diri
Dari Balik debu yang bertebaran menghalangi pandangan mata, terlihat seorang wanita yang sedang memegang tombak di tangannya dengan tatapan penuh amarah di matanya, ya dialah Anjani yang baru datang setelah melihat Naga Surgawi menghilang dan Ranu tak sadarkan diri
" Kalian berani menyerang kakang Ranu yang sedang tidak sadarkan diri ?" Tanya Wanita itu masih dengan penuh amarah
" Minggir kau cantik, jangan halangi jalan kami, atau jika tidak...." Ucap seseorang dari golongan hitam itu kembali
" Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan " Tanya Dewi Anjani dingin
" Kalau tidak kami akan membunuhmu juga cantik " Jawab orang itu
" Lebih kau minggir cantik, biarkan kami menghabisi pemuda itu, lalu setelah itu kau bisa ikut dengan kami untuk bersenang senang cantik, Hahaha...." Ucap yang lainnya menggoda Dewi Anjani sambil tertawa terbahak bahak
" Lancang Kalian " Teriak Anjani yang begitu marah setelah mendengar perkataan orang orang golongan hitam
" Tombak trisula Rajawali api, Hancurkan mereka " Ucap Dewi Anjani dingin lalu melemparkan Tombak trisula Rajawali api kepada musuh yang ada di depannya
Tombak trisula Rajawali api berderak cepat menyerang para golongan hitam yang tadi ingin membunuh Ranu, tombak trisula Rajawali api bergerak dengan sendirinya dan menyerang titik vital orang orang golongan hitam seolah memiliki mata sendiri
Di saat tombak trisula Rajawali api masih menyerang para golongan hitam, Kuntala dan Seto datang menghampiri Dewi Anjani dengan muka khawatir, lalu di ikuti Ki Ageng Pasopati, Ki Gede Alang Alang dan para tetua perguruan Pedang Rajawali yang lainnya yang baru saja menyelesaikan pertarungan mereka di belakang perguruan Pedang Rajawali
" Nimas Anjani, dimana Ranu " Tanya Kuntala
" Kakang Ranu Sadewa ada sana kakang " Jawab Dewi Anjani cepat karena merasa senang bantuan telah datang
" Anjani, Seto dan kau Kuntala bawa Ranu ke dalam perguruan untuk secepatnya di periksa keadaannya " Ucap Ki Ageng Pasopati Memberikan perintah
" Baik Guru " Jawab Kuntala cepat lalu mengangkat tubuh Ranu yang penuh luka ke dalam perguruan Pedang Rajawali
" Ki Gede aku minta tolong padamu, untuk menahan para jahanam ini bersama tetua perguruan Pedang Rajawali " Ucap Ki Ageng Pasopati kepada Ki Gede Alang Alang sambil menunjuk para golongan hitam dengan penuh emosi
" Dengan senang hati sahabat ku, kau cepat lah susul murid mu dan segera lah obati lukanya " Jawab Ki Gede Alang Alang
" Terima Kasih Sahabat Ku " Ucap Ki Ageng Pasopati lalu melesat terbang menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menyusul Ranu Sadewa
***************
Sementara itu, Ronggo Geni dan para ketua perguruan aliran hitam yang sejak tadi menunggu kesempatan untuk melakukan penyerangan tahap kedua memilih untuk mundur setelah melihat pertarungan antara Ranu Sadewa melawan Ki Buyut Maut
" Ronggo Geni, Bagaimana ini ? Kita Lanjutkan rencana awal kita atau kita mundur saja sebelum mereka mengetahui keberadaan kita " Tanya Nyai Pandan Wungu
Ronggo Geni masih diam berfikir beberapa saat lalu memutuskan untuk mundur terlebih dahulu untuk kembali menyusun kekuatan
" Kita Mundur dulu, kita harus menyusun ulang rencana kita, aku tidak menyangka ada pendekar sekuat itu di Perguruan Pedang Rajawali " Jawab Ronggo Geni setelah selesai berfikir
" Tapi apa kita hanya akan diam saja melihat sahabat kita mati secara mengenaskan ? Aku harus menuntut Balas atas perbuatan mereka terhadap dua sahabat ku, Ki Jantur dan Ki Buyut Maut " Ucap Ki Kusumo Dengan penuh emosi
" Aku mengerti Ki Kusumo, Tapi Apa kau tidak lihat tadi kemampuan dua pemuda dari Perguruan Pedang Rajawali itu ? Bahkan mereka bisa mengalahkan Ajian Triwikarma yang melegenda itu " Jawab Ronggo Geni
" Ronggo benar Kusumo, Kita harus mundur dulu untuk menyusun Strategi dan kekuatan kita lagi, Dengan kematian Ki Jantur dan Ki Buyut Maut, kita harus lebih berhati-hati dalam bertindak, dan secepatnya meningkatkan kekuatan kita agar tidak lagi mereka pecundangi " Ucap Nyai Pandan Wungu menimpali perkataan Ronggo Geni
" Baik lah, aku setuju, tapi yang aku heran sejak kapan perguruan Pedang Rajawali memiliki pendekar sekuat itu selain Si Tua Bangka Ageng Pasopati ? " Tanya Ki Kusumo
" Jika melihat dari Jurus dan Ajian yang mereka keluarkan, mereka sepertinya bukan murid Perguruan Pedang Rajawali, karena setahuku Perguruan Pedang Rajawali tidak memiliki Jurus Semacam itu " Ucap Nyai Pandan Wungu
" Sepertinya aku tau siapa mereka " Ucap Ronggo Geni membuat kedua temannya Langsung menoleh ke arahnya
" Kau Masih ingat dengan kedua mantan kekasih mu nyai Pandan Wungu ? Tanya Ronggo Geni
" Siapa Maksudmu Ronggo " Tanya Ki Kusumo penasaran
Sementara Nyai Pandan Wungu membelalakkan matanya setelah mengingat kejadian masa lalunya
" Apa maksudmu mereka anak dari Surasena dan Sutajaya ?" Tanya Nyai Pandan Wungu
" Dari apa yang ku dengar Kedua Mantan kekasih mu itu tidak memiliki anak karena setelah kejadian beberapa tahun yang lalu mereka mengasingkan diri dari dunia persilatan, dan Sampai saat ini mereka belum menikah, entah karena mereka merasa bersalah atau karena mereka belum bisa melupakan mu Nyai " Ucap Ronggo lalu tersenyum
" Sudah Hentikan ejekan mu itu Ronggo, Aku melakukan semua itu demi kejayaan golongan hitam, Jika mereka berdua belum menikah pastilah kedua pendekar muda itu adalah murid dari Surasena dan Sutajaya " Ucap Nyai Pandan Wungu kesal
" Kau benar nyai, mereka mungkin adalah murid dari Pendekar Naga Kembar, tapi aku tidak menyangka kedua murid orang yang pernah berseteru hebat hingga menggegerkan dunia persilatan malah terlihat sangat dekat " Jawab Ronggo Geni
" Sudah sebaiknya kita kembali ke tempat mu Ronggo, Aku merasakan seseorang saat ini mendekat ke arah kita " Ucap Ki Kusumo lalu melesat terbang menjauh dari tempat pertempuran lalu di ikuti dua orang lainnya
*****
Sementara itu Ranu yang masih tidak sadarkan diri, tengah di obati oleh Ki Ageng Pasopati di perguruan Pedang Rajawali
" Bagaimana Kondisi Kakang Ranu Romo " Tanya Dewi Anjani cemas, terlihat kedua kelopak matanya telah membengkak karena terlalu lama menangis
Sementara Kuntala dan Seto masih mondar mandir tak menentu karena khawatir dengan kondisi Ranu
" Tenanglah Putriku, Romo Akan berusaha sekuat tenaga, Kondisi Ranu sekarang sudah mulai stabil, luka dalam yang di Deritanya bukan dari kekuatan Naga Surgawi melainkan dari pukulan Ki buyut maut " Jawab Ki Ageng Pasopati
" Kapan Kakang Ranu akan sadar Romo " Tanya Dewi Anjani
" Mungkin beberapa hari lagi dia akan sadar, Kau sebaiknya istirahat, kalian juga istirahat lah Seto, Kuntala..aku akan menyuruh beberapa murid untuk berjaga di sini " Perintah Ki Ageng Pasopati
" Baik Guru " Jawab Kuntala lalu melangkah ke suatu tempat untuk menenangkan pikirannya
Seto yang melihat itu merasa sangat kasihan, Seto yang sudah menyadari bahwa Kuntala juga memiliki Rasa kepada Anjani, harus bersaing dengan sahabat nya sendiri
Dan hari ini sudah menjadi saksi bahwa wanita yang ia Cintai lebih memilih sahabat nya dari pada dirinya
*******
Bantu vote dan hadiahnya Temen temen