NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.

Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.

Seharusnya ia ikut kabur.

Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.

“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”

Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi itu datang tanpa membawa ketenangan. Elena duduk di meja makan, menatap sarapan mewah yang sudah mulai dingin di hadapannya ada kopi yang masih mengepul, roti panggang, telur, dan buah-buahan yang harganya mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa hari di kehidupannya yang dulu.

Namun hari ini, tak satu pun dari itu terasa menggugah selera. Pikirannya tertuju sepenuhnya pada satu hal yang terus berputar tanpa henti: kehilangan ingatan.

Ia tidak pernah merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Setidaknya, bukan dalam kehidupan yang ia jalani sekarang. Namun surat ayahnya menyatakan dengan jelas bahwa saat kecil, ia pernah menghilang selama beberapa jam, dan setelah ditemukan, ia tidak lagi mengingat banyak hal.

Yang membuatnya semakin gelisah adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang kejadian itu. Bahkan tentang kucing yang pernah ia cari sampai ke gudang itu, tak ada bayangannya.

"Kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja kehilangan warisan?"

Suara Sebastian memecah keheningan pagi itu. Elena mendongak. Pria itu baru saja turun dari tangga, kemeja putihnya rapi namun rambutnya masih sedikit berantakan — pemandangan yang jarang ia lihat.

"Aku sedang berpikir," jawabnya pelan.

"Berpikir tentang apa?"

"Warisan."

Sebastian mengangkat alis. "Aku kira kau bercanda."

"Aku tidak." Elena menunjuk dirinya sendiri. "Kalau ternyata aku punya ingatan yang hilang dan di dalamnya tersembunyi warisan besar, aku ingin tahu sekarang."

Sebastian tertawa kecil sambil duduk di hadapannya. "Kau masih memikirkan uang di saat seperti ini?"

"Uang itu penting." Elena menghela napas. "Cinta bisa datang dan pergi begitu saja. Uang juga bisa, tapi kalau jumlahnya cukup banyak, kepergiannya biasanya lebih lambat."

"Aku tidak tahu harus tertawa atau justru khawatir mendengarkan logikamu."

"Boleh dua-duanya."

Sebastian menatapnya lekat, lalu suaranya berubah lembut dan serius. "Kau masih memikirkan kejadian kemarin, ya?"

Elena mengangguk. "Aku ingin tahu semuanya, Sebastian. Dan aku ingin pergi ke rumah keluargaku — untuk mencari barang-barang masa kecilku. Mungkin di sana ada sesuatu yang bisa membantuku mengingat."

"Tidak." Jawaban Sebastian keluar begitu cepat, tanpa ragu sedikit pun.

"Kenapa?" Elena mengerutkan kening.

"Aku sudah bilang aku tidak mempercayai semua orang di sana."

"Kalau begitu kau yang mencarikannya untukku."

Sebastian terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap. "Baik. Aku akan menyuruh orang mencarinya."

Elena tersenyum tipis. "Suamiku, kau semakin cocok menjadi suamiku yang sebenarnya."

"Kenapa tiba-tiba begitu?"

"Karena kau menyelesaikan segalanya dengan tindakan, bukan dengan alasan."

Percakapan itu berlanjut ringan, namun di dalam hati, Elena menyadari di balik sikap dingin dan tegasnya, Sebastian selalu berusaha melindunginya. Dan perasaan hangat itu kembali muncul, membuatnya segera menegaskan pada diri sendiri.. 'Jangan jatuh cinta, Elena. Ingat tujuan awalmu.. menikah dengan pria kaya, bukan untuk patah hati.'

Beberapa jam kemudian, pintu kamar Elena diketuk. Seorang staf rumah membawa sebuah kotak kayu sederhana. "Tuan Sebastian menyuruhkan memberikan ini kepada Anda, Nona."

Elena segera membukanya. Di dalamnya terdapat foto-foto keluarga lama, boneka kecil, buku cerita bergambar, dan sebuah liontin berbentuk bulan sabit yang terbuat dari perak. Saat tangannya menyentuh benda itu, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.

"Aku pernah melihatnya..." gumamnya pelan. Ia membuka liontin itu. Di dalamnya terselip foto kecil, seorang gadis kecil yang tersenyum cerah, dan di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki yang wajahnya begitu ia kenal.

"Itu aku."

Elena menoleh. Sebastian berdiri di ambang pintu, tatapannya tertuju pada liontin itu.

"Kau mengenalinya?" tanya Elena.

"Ya." Sebastian mendekat, mengambil benda itu perlahan. "Foto ini diambil sehari sebelum kau menghilang."

Elena merasa kepalanya berdenyut hebat. Bayangan samar mulai muncul, taman bunga, tawa anak-anak, dan suara seorang anak laki-laki yang berkata, "Jangan berikan liontin itu kepada siapa pun. Ini milikmu, dan hanya milikmu."

"Aku ingat..." napas Elena tersengal. "Kita ada di taman itu. Lalu... ada seseorang datang."

"Siapa?" Sebastian memegang bahunya dengan cemas.

"Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Tapi dia bilang... dia bilang aku harus ikut dengannya." Elena menatap Sebastian lekat. "Kau tahu siapa dia, bukan?"

Sebastian terdiam. Keheningan itu menjawab lebih banyak daripada kata-kata. "Aku tidak yakin," jawabnya pelan, namun matanya menyembunyikan sesuatu yang besar.

Ia mengambil ponselnya, dan seketika wajahnya berubah pucat. Sebuah foto baru masuk seorang pria berdiri di depan sebuah bangunan tua. Di bawahnya tertulis nama Daniel Voss.

"Siapa dia?" tanya Elena.

"Dia orang yang ada di foto lama itu, di ujung barisan orang yang selama ini tidak bisa kami temukan. Dia menghilang sebelas tahun lalu." Sebastian menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan. "Dan sekarang... dia kembali."

Pesan kedua muncul: Kau terlambat, Sebastian. Gadis itu sudah mulai mengingat semuanya.

Elena menggenggam liontin itu erat. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang tulus di mata suaminya, bukan karena uang, bukan karena jabatan, melainkan karena takut kehilangan dirinya sendiri.

Dan di luar jendela kamar, di balik bayang-bayang dinding rumah, seseorang sedang menatapnya melalui lensa kamera. Suara berat terdengar berbisik di telepon.

"Dia sudah menemukan liontin itu. Haruskah kita mengambilnya sekarang?"

"Belum," jawab suara lain yang dingin dan penuh perhitungan. "Biarkan dia mengingat semuanya terlebih dahulu. Setelah itu... kita akan mengambil kembali apa yang sejak awal menjadi milik kita."

Sambungan terputus. Elena merasakan bulu kuduknya meremang, seolah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kegelapan.

1
MomRea
lanjut Thor... makin penasaran 😊
mauza
next😘😘😘😘😘
mauza
up
mauza
ditunggu upnya thor 😘😘
mauza
next
mauza
nah kan..
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘
mauza
pinisirin ttp lanjut
mauza
up
mauza
😘😘😘😍😍😍/Rose//Rose//Rose//Rose/
mauza
lanjut trussss💪💪
mauza
lanjut kk
mauza
hati" dan ttp semangat
mauza
next
mauza
up
mauza
/Determined//Determined//Determined//Determined/
mauza
next😘😘
mauza
lanjutkan thorrr👍😘😘
mauza
up
mauza
lanjuttt👍💪
mauza
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!