NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Konser Mini Kebahagiaan dan Doa untuk Masa Depan

Hari Minggu siang itu, Studio Musik Harmony tidak memantulkan distorsi gitar elektrik atau ketukan drum yang menghentak seperti biasanya. Ruangan kedap suara yang luas itu telah disulap sepenuhnya menjadi arena berkumpul paling nyaman bagi "keluarga besar" mereka.

Aroma harum dari sate lilit, ayam bakar madu, dan aneka kue basah memenuhi udara, mengalahkan wangi kopi yang biasanya mendominasi ruangan.

Karpet tebal bermotif bohemian digelar memanjang di tengah ruangan. Di atasnya, anak-anak menjadi pusat semesta kebahagiaan.

Nabila yang sudah makin pintar bicara tampak asyik menyusun balok lego bersama Rayyan, diselingi tawa renyah keduanya setiap kali menara balok itu rubuh.

Sementara itu, bayi Arkan tertidur sangat pulas dengan napas teratur di dalam keranjang bayi beralas kain flanel yang lembut, sama sekali tidak terganggu oleh keriuhan di sekitarnya.

Di sekeliling karpet tersebut, duduk melingkar orang-orang yang telah terikat bukan hanya oleh darah, tapi oleh takdir dan persahabatan yang solid:

Di sudut kiri, Arga dan Menik duduk berdampingan; tangan Arga tak henti-hentinya mengusap lembut punggung istrinya.

Di sebelahnya, Dimas dan Kiara duduk bersandar dengan nyaman, menikmati segelas es teh manis sambil sesekali tertawa melihat tingkah Rayyan.

Daffa dan Aini asyik menyuapkan potongan buah bergantian, sementara para jomblo band yang mulai meresahkan—Bagas, Dave, Galang, dan Bintang—berebut posisi paling dekat dengan meja prasmanan.

Dan tentu saja, ada dua pasangan "calon" yang kehadirannya makin menambah warna: Widya yang duduk anggun di dekat Fahri, serta Tamara yang tak berhenti curi-curi pandang ke arah Rendra.

Di tengah riuhnya obrolan, Bagas tiba-tiba berdiri. Ia melangkah tegap menuju panggung kecil di sudut studio, menyambar mikrofon di atas stand, dan berdehem dengan gaya sok puitis yang langsung membuat seisi ruangan menoleh.

"Tes, tes, satu dua... Perhatian, perhatian kepada seluruh hadirin dan hadirat yang berbahagia!" seru Bagas dengan suara bass-nya yang menggema, menepuk dada dengan bangga.

"Sebelum kita mulai ronde pertama pembantaian meja prasmanan, sebagai Humas resmi Harmony EO yang paling tampan, gue mau menyampaikan laporan perkembangan yang sangat membanggakan hari ini!"

Daffa yang sedang mengunyah keripik kentang langsung menepuk jidatnya.

"Ealah, gaya lu, Gas! Pakai ngaku Humas segala, padahal ngurus kabel mic aja masih sering kebalik! Panggil Bos Arga aja langsung ke depan!"

Gelak tawa langsung pecah. Arga terkekeh hangat, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Bagas. Ia menepuk bahu sang bassist dengan penuh persahabatan, lalu mengambil alih posisi di tengah panggung. Sorot mata Arga memancarkan kebanggaan dan rasa syukur yang luar biasa.

"Biar gue yang lanjutin sebelum Bagas mulai ngelantur," buka Arga sambil tersenyum hangat, menatap satu per satu wajah di ruangan itu.

"Jadi begini, teman-teman... Perjalanan kita membangun Harmony EO dari titik nol, melewati masa-masa krisis, sampai bisa bertahan sejauh ini bukanlah hal yang mudah. Tapi berkat suksesnya Festival Kota kemarin..."

Arga menjeda kalimatnya, menoleh khusus ke arah sudut tempat Kiara dan Fahri duduk.

"...dan tentu saja, ini semua berkat back-up luar biasa dari kalian. Berkat draf kontrak dan perlindungan hukum yang disusun super ketat oleh Kiara, serta sistem audit keuangan berlapis dari Fahri, Harmony EO resmi dipercaya memegang kendali penuh."

Arga menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Harmony EO resmi mendapatkan kontrak kerjasama jangka panjang selama dua tahun penuh dari pihak sponsor untuk mengelola seluruh event kebudayaan daerah! Dan karena itu... studio kita juga resmi akan diperluas dan direnovasi bulan depan!"

PROK! PROK! PROK! WOOOO!

Suara tepuk tangan, siulan, dan sorak riuh seketika membahana, menggetarkan dinding peredam studio.

Daffa dan Dave langsung melompat dari karpet dan memeluk Arga erat-erat.

Bagas, dengan segala aksi dramatisnya, pura-pura menangis terisak sambil menyandarkan kepalanya di bahu tegap Rendra, yang hanya bisa merespons dengan gelengan kepala dan tawa tertahan.

"Selamat ya, Arga, Menik!" seru Kiara tulus di tengah gemuruh tepuk tangan.

"Ini hasil dari kerja keras, air mata, dan keringat kalian semua yang nggak pernah menyerah."

Menik menundukkan wajahnya yang mulai merona karena haru, mengusap setitik air mata di sudut matanya.

"Makasih banyak ya, Mbak Kiara, Mas Dimas... Mbak Widya, Mbak Tamara, Mbak Aini... semuanya. Tanpa dukungan keluarga besar ini, Mas Arga dan anak-anak band nggak akan bisa berdiri setegak sekarang," ujar Menik dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan paling murni.

Begitu pengumuman selesai, suasana berubah menjadi pesta makan yang hangat. Di sudut ruangan dekat meja panjang tempat aneka hidangan disajikan, dinamika asmara baru tengah diuji.

Tamara, dengan dress kasualnya yang chic, sedang sibuk menyendokkan nasi goreng ke atas piring.

Namun anehnya, porsi itu tidak terlihat seperti porsi dietnya. Ia melangkah perlahan mendekati Rendra yang sedang bersandar di dekat tumpukan speaker.

"Nih, Rendra..." panggil Tamara dengan nada suara yang entah sejak kapan berubah menjadi oktaf paling manis dan lembut sedunia.

"Nasi gorengnya aku kasih ekstra ayam suwir sama telur dadar. Biar energi kamu cukup buat bikin desain panggung outdoor minggu depan. Jangan sampai kecapekan."

Dari jarak tiga meter, Bagas yang sedang makan sate ayam sengaja pura-pura batuk heboh.

"UHUK! UHUK! Aduh, keselek nyamuk cinta nih gue!"

Tamara langsung melemparkan tatapan mematikan khasnya ke arah Bagas, namun kembali melembut saat menatap Rendra.

Rendra menerima piring itu dengan kedua tangannya. Pria beralis tebal dan berwajah kaku itu perlahan menyunggingkan senyum tipis—senyum yang langka, namun daya hancurnya terhadap pertahanan Tamara sangat luar biasa.

"Makasih ya, Tamara," balas Rendra dengan suara bass-nya yang berat dan tenang. Ia menatap lurus ke dalam mata Tamara, membuat wanita modis itu mendadak salah tingkah.

"Tapi... kamu nggak perlu khawatir. Desainer panggungnya nggak bakal ngerasa lelah kok, kalau yang nyemangatin dan perhatian tiap hari itu kamu."

DEG!

Pipi Tamara seketika berubah merah padam, menyamai warna kepiting rebus!

Wanita yang biasanya paling ceriwis, dominan, dan pandai berdebat itu mendadak kaku, kehabisan kata-kata, dan hanya bisa membuang muka sambil meminum es tehnya dengan sangat cepat untuk menutupi detak jantungnya yang berdebar gila-gilaan.

Di sudut lain yang lebih elegan, Widya sedang asyik berbincang dengan Fahri. Mereka berdua memang memiliki frekuensi yang sama: logis, rapi, dan terstruktur. Widya tengah membahas rencana pembukaan cabang baru usaha kuliner milik keluarganya di pusat kota.

"Jadi menurut hitung-hitungan Mas Fahri, kalkulasi rasio risikonya aman ya kalau kita ambil lokasi di Jalan Pemuda?" tanya Widya anggun, menopang dagunya sambil menatap sang konsultan keuangan.

Fahri membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk, sebuah kebiasaan yang mulai dihafal Widya. Fahri menatap Widya dengan tatapan yang sangat dalam, jauh melebihi batas profesionalitas.

"Secara data finansial dan proyeksi Return on Investment, sangat aman, Mbak Widya," jawab Fahri lugas.

Namun detik berikutnya, nada suaranya merendah dan melembut.

"Tapi... kalau Mbak Widya merasa butuh pendampingan langsung untuk survei atau negosiasi lokasi, saya siap nemenin kapan aja. Weekend ini pun saya kosong." Fahri tersenyum tulus.

"Saya menawarkannya bukan cuma sebagai konsultan bisnis Anda... tapi sebagai orang yang peduli sama kamu, Widya."

Widya tertegun sejenak. Hatinya menghangat. Ia menyadari kejujuran tulus dari pria kaku di hadapannya ini. Dengan anggun, Widya tersenyum sangat manis dan mengangguk pelan.

"Makasih ya, Mas Fahri. Aku pegang loh janjinya. Jangan protes kalau weekend ini aku culik buat keliling kota."

Di seberang ruangan, Aini yang sedang mengunyah kerupuk memperhatikan kedua pasangan itu dengan mata berbinar. Ia berbisik ke telinga Kiara yang duduk di sebelahnya.

"Kia..., lihat deh... sahabat kita yang tadinya pada alergi komitmen, kayaknya bakal nyusul ke pelaminan dalam waktu dekat nih! Gak nyangka Mas Fahri yang kaku bisa smooth gitu."

Kiara terkekeh pelan, melingkarkan lengannya merangkul bahu Aini dengan sayang.

 "Alhamdulillah, Ni. Tuhan itu memang sutradara terbaik. Semuanya dibiarkan berproses, sampai akhirnya masing-masing menemukan muara kebahagiaannya di waktu yang paling tepat."

Malam perlahan makin larut. Langit Kelurahan Damai bersih dari awan, membiarkan cahaya bulan purnama bersinar terang menyirami bumi.

Suasana yang tadinya di dalam studio kini berpindah ke halaman luar yang luas. Lampu-lampu gantung fairy lights berwarna kekuningan memancarkan cahaya syahdu yang menerangi wajah-wajah bahagia mereka.

Daffa mengambil gitar akustik kesayangannya, lalu duduk santai di atas kursi kayu di panggung outdoor kecil. Bintang mengambil posisi di sebelahnya, siap dengan cajon (perkusi kotak) diapit kedua kakinya.

Udara malam yang sejuk membawa hembusan angin yang menenangkan.

"Lagu ini..." ucap Daffa lembut mendekati mikrofon,

"Khusus buat kita semua. Keluarga besar Harmony. Buat semua cinta yang berhasil bertahan melewati ujian."

Daffa mulai memetik senar gitarnya. Alunan nada dari lagu Cinta Luar Biasa dengan versi akustik yang sangat lembut, mengalir begitu jernih dan syahdu.

Suara vokal Daffa yang merdu dan penuh penghayatan membelah kesunyian malam, diiringi ketukan cajon Bintang yang ritmis dan menggetarkan hati.

Di kursi panjang kayu di sudut taman, Dimas merangkul bahu Kiara rapat-rapat, melindunginya dari embusan angin malam.

Kiara menyandarkan kepalanya dengan damai di dada bidang Dimas, mendengarkan detak jantung suaminya yang selalu menjadi rumah baginya. Di pangkuan Dimas, Rayyan tertidur pulas dengan wajah damai.

Kiara memejamkan mata, meresapi setiap detik ketenangan ini. Mengingat kembali peristiwa seminggu yang lalu—saat nama baik Dimas difitnah dan dokumennya dipalsukan oleh Rendy—membuat Kiara menyadari betapa kuatnya ikatan mereka.

Badai birokrasi dan fitnah itu tidak menghancurkan mereka, justru membuktikan bahwa selama mereka berdua saling percaya, hukum dan kebenaran akan selalu menang.

Di sebelah mereka, Arga duduk menyilang, menggenggam erat kedua tangan Menik dalam genggamannya.

Arga menatap wajah istrinya dari samping—wajah teduh yang tak pernah lelah memaafkannya, tak pernah lelah menunggu perubahannya, dan senantiasa menjadi jangkar saat Arga terombang-ambing.

Arga melihat Nabila yang tertidur menyandar pada lutut Menik, dan keranjang Arkan di dekat kaki mereka.

Di dalam hati Arga, telah lenyap sudah seluruh penyesalan masa lalunya. Tidak ada lagi bayang-bayang masa kelam. Tidak ada lagi rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya.

Yang tersisa hari ini hanyalah rasa cinta yang bermekaran, tumbuh menjadi pohon raksasa yang akar-akarnya tak akan bisa dicabut oleh siapa pun.

Di sudut lain, Widya dan Fahri duduk berdampingan, sesekali bertukar senyum sambil menikmati musik.

Sementara Tamara tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke bahu Rendra, dan Rendra membiarkannya dengan nyaman, mengabaikan godaan isyarat dari Dave dan Bagas yang duduk di depan mereka.

Saat petikan senar terakhir Daffa perlahan memudar, suasana berubah menjadi sangat hening dan magis. Seluruh ruangan tidak bersorak, melainkan hanya bertepuk tangan dengan sangat pelan agar tidak membangunkan anak-anak yang tengah bermimpi indah.

Arga perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Menik. Pria itu berdiri tegap di tengah-tengah taman, lalu mengangkat cangkir keramik berisi teh hangatnya tinggi-tinggi ke udara.

Melihat hal itu, seluruh sahabatnya tersenyum, mengerti bahwa malam ini butuh sebuah perayaan hati. Mereka semua ikut berdiri, memegang cangkir masing-masing, membentuk satu lingkaran besar yang tak terputus.

"Buat semua rasa yang pernah ada," buka Arga dengan vokal baritonnya yang dalam, memecah keheningan malam dengan kehangatan yang merasuk ke tulang.

"Buat rasa sakit masa lalu yang mendewasakan kita. Buat rasa takut saat kita gagal dan hampir menyerah. Dan... buat rasa syukur yang luar biasa karena kita masih bisa berdiri bersama di sini hari ini. Terima kasih... terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup gue dan Menik."

Dimas yang berdiri di samping Arga, menepuk bahu sahabatnya itu, lalu ikut mengangkat cangkirnya. Senyum mantap menghiasi wajah bapak beranak satu itu.

"Buat persahabatan yang tak pernah lapuk oleh keadaan," tambah Dimas dengan suara lantangnya yang menenangkan,

"Buat kejujuran yang selalu menyelamatkan dari fitnah sehebat apa pun, dan buat keluarga yang selalu ada untuk saling menopang."

"CHEERS!" seru mereka semua bersamaan dengan suara tertahan namun penuh semangat.

TRING! KLIK!

Cangkir-cangkir teh dan kopi itu saling berbenturan di udara, memantulkan pendar sinar bulan dan kilauan fairy lights di atas kepala mereka.

Malam itu, di bawah langit Kelurahan Damai, mereka menyadari satu pelajaran berharga. Hidup memang tidak akan pernah menjanjikan jalan yang selalu lurus dan mulus. Akan selalu ada riak yang mengganggu ketenangan, kesalahpahaman yang menguji kesabaran, hingga badai ujian yang datang tanpa diundang.

Namun, seperti yang dipelajari dan dihayati oleh Arga, Menik, Kiara, Dimas, dan seluruh kepingan sahabat mereka:

Selama kejujuran terus dijadikan pegangan kala gelap...

Selama keikhlasan dijadikan pondasi untuk memaafkan...

Dan selama cinta sejati dijadikan muara untuk kembali pulang...

Maka, setiap luka sedalam apa pun pasti akan menemukan obatnya untuk sembuh. Dan setiap rasa yang tersisa di dasar hati, pada akhirnya akan bermekaran menjadi kebahagiaan abadi yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!