Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Mereka semua menenteng tas dan koper milik halimah dan Mayra, mereka sudah siap dan menunggu jemputan didepan pagar rumah.
Aminah segera mengunci semua pintu rumah agar ayahnya Tidka bisa masuk kedalam.
Semuanya telah siap, Aminah telah menelpon taksi online untuk pergi dari rumah mereka , setelah semuanya siap mereka akhirnya berangkat tapi saat mobil itu akan jalan, ayahnya datang dan menghadang mereka.
Ayahnya yang baru saja tiba segera menurunkan motornya dan mengetuk pintu mobil itu dengan kasar.
"Turun kalian, mau kemana kalian ha!". Teriaknya dengan penuh emosi.
Jika sampai istrinya pergi dari rumah dan bisa sembuh semua yang dia incar pasti tidak akan dia dapatkan apalagi istrinya itu sudah tahu jika dia berselingkuh dan membawa selingkuhannya kerumah mereka.
Dia tidak mau kehilangan semua itu, dia sudah bekerja bertahun-tahun untuk menanti mereka makan jadi semua yang dimiliki istrinya adalah miliknya juga apalgi istrinya itu lumpuh total dan Tidka bisa apapaun
Aminah tidak gentar, dia harus membawa ibunya kerumah sakit dan kerumah tempatnya dikota sebelah.
"Kak itu ayah, bagaimana ini?, dia pasti akan sangat murka dan marah pada kita, dia akan memukuli kita kak". Mayra memandang sang kakak dengan ketakutan
Aminah yang mendengar itu hanya tersenyum tipis karena sudah memiliki rencananya sendiri.
"Jalan saja pak, tidak usah pedulikan lelaki itu, tabrak saja kalau perlu jika dia menghalangi jalan kita". Jawabnya dengan dingin tanpa menjawab perkataan sang adik
Supir mobil online itu menatap bingung kearahnya kemudian mengangguk dan menjalankan mobilnya kembali dan hampir menabrak ayah mereka.
Sedangkan Mayra menatap sang kakak dengan tatapan tidak percaya, bagaimana mungkin seorang yang selalu takut pada ayah mereka kini bahkan tidak peduli jika seandainya ayah mereka tertabrak mobil
"Berhenti". Teriaknya melihat mobil itu langsung pergi setelah hampir menabraknya beruntung dia cepat menyingkir dari sana jika tidak dia pasti akan tertabrak
"Berhenti kalian, ayah tidak akan tinggal diam". Dia berteriak kesetanan dan segera berlari menaiki motornya untuk mengejar mereka.
"belok kiri didepan pak, sekarang!!". perintah ya
Beruntung Aminah memesan dua mobil yang sama persis sehingga ayahnya salah mengikuti mobil, dia sengaja merencanakannya dengan mobil online itu walau dia harus membayar tanpa naik disana.
Halimah menatap anaknya dengan sendu, kepergian Aminah setahun lalu rupanya begitu membuat kepribadian anaknya sangat berbeda dari sebelumnya, lebih tegas dan cepat dalam hal mengambil keputusan.
Melihat tatapan keduanya, Aminah tersenyum lembut kemudian mengelus kepala sang adik.
" Aku tidak mau ayah melihat kita, sejujurnya aku ingin menjual rumah ibu dan juga seluruh miliknya dan membuat tabungan jangka panjang untuk ibu agar ayah tidak mendapatkan apapun yang bukan haknya".
Dia menarik nafasnya dalam-dalam mengingat cerita adiknya tadi amarahnya kembali tersulut, tingkah ayahnya sudah melewati batas keterlaluan selama ini.
"Itu aku lakukan jika ibu ingin tapi jika ibu tidak mau, ibu bisa mengontrakkan rumah itu sedangkan tanah milik ibu yang lainnya ibu sewakan lahan saja dengan perjanjian hukum gar penyewa tidak bertindak seenaknya".
Mata Mayra membesar, ide kakaknya sangat bagus, daripada semua itu dijual lebih baik disewakan dengan perlindungan hukum, uang tetap mengalir dan ibunya bisa menikmati sedangkan ayahnya tidak bisa mendapatkan apapun dari harta ibunya dengan selingkuhannya.
"Kak Aminah benar Bu, itu jalan keluar yang bagus dari masalah ibu, ibu bisa berobat Dnegan tenang tanpa gangguan dan pikiran tentang harta benda ibu, aku juga bisa sekolah".
Aminah tidak hanya membawa barang berharga milik ibunya tapi dia juga membawa identitas sang ibu seperti BPJS kesehatan, akta nikah, KTP dan juga kartu keluarga, dan semua ijazah serta penghargaan sang ibu karena dia yakin semua itu akan mereka butuhkan nanti .
"Itu terserah ibu Mayra, mau bagaimana dengan semua miliknya, aku hanya mengamankan semuanya dan setelah ibu sembuh, ibulah yang akan membuat keputusan dan masalah selingkuhannya ayah, aku sudah meminta temanku untuk menyelidikinya".
Mayra menghambur kepelukan sang kakak, kakaknya memang sejak dulu sangat cekatan dalam mengurus urusan darurat seperti ini, dia beruntung karena sang kakak akhirnya pulang diwaktu yang tepat seolah sudah ditakdirkan
Aminah tidak langsung pulang ke kota tempat tinggalnya yang baru tapi menuju puskesmas untuk mengambil rujukan kerumah sakit di kotanya.
"Ib..u..se..tu..ju". Ucapnya pelan berusaha menyelesaikan perkataannya.
Senyum keduanya mengambang, mereka langsung memeluk sang ibu dengan sayang.
Hermawan yang berhasil mengejar mobil online itu segera memotong jalan mereka dan mengetuk pintu itu dengan kasar agar mereka turun karena dia sangat marah
"Turun kalian semua!!". Ucapnya dengan murka.
Dia menggedor-gedor kaca mobil itu hingga nyaris pecah tanpa peduli jika pemilik mobil itu akan sangat marah padanya.
Sopir yang jengkel dengan tingkahnya langsung menurunkan kaca mobil dan langsung melabraknya dengan penuh emosi.
"He, kamu siapa ha!, seenaknya mengetuk kaca mobil saya seperti itu, kalau kacanya pecah kamu bisa ganti". Hardiknya dengan keras.
Walau dia sudah tahu siapa orang yang menggedor kaca mobil itu karena tadi dia sudah diberitahu oleh orang yang menyewa jasanya untuk berakting marah seperti ini.
Hermawan menatap jendela itu dengan tatapan tidak percaya karena dia salah mengikuti mobil, disana tidak ada keluarganya apalagi dia sempat melihat wajah anak sulungnya dan anak bungsunya itu.
"Maaf, saya salah mengikuti mobil, saya kira anak saya naik mobil ini, saya minta maaf". ucapnya ketakutan.
Dia berjalan dengan cepat menaiki motornya dan langsung tancap gas pergi dari sana sebelum pemilik mobil murka padanya.
Dia menjalankan motornya seperti orang kesetanan karena ingin menjauh dari sana agar Tidka dituntut ganti rugi
Dia segera menjalankan motornya menuju rumahnya untuk mencari berkas penting, mungkin anaknya itu sedang membawa ibunya berobat, dia tidak peduli.
Hermawan yang kini berada didepan rumahnya mengkerut kan keningnya melihat banyak koper yang berada didepan rumah dan itu adalah kopernya dan juga istri mudanya
Dia jengkel setengah mati karena mereka menipunya dan dia bodoh salah mengikuti mobil yang dia kira adalah mobil anak dan istrinya dan sekarang rumahnya tidak bisa dia buka.
Dia berusaha membuka pintu dan ternyata tidak bisa bahkan pagarnya tidak bisa dibuka dengan kunci miliknya.
"Sialan mereka mengusirku dan meletakkan semua barangku diluar sini dan mengganti semua kuncinya". Umpatnya dalam hati.
Dia mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih, dia tidak menyangka kedatangan anak sulungnya akan membuatnya kalang kabut seperti ini.
"Tidak akan kubiarkan kalian semua pergi dari sini, Halimah harus tetap bersamaku sampai aku bisa mengambil semua miliknya".