Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pukul delapan pagi, lobi hotel sudah dipenuhi oleh karyawan perusahaan Andra yang tampak antusias. Hari ini adalah hari terakhir mengurus proyek sekaligus liburan singkat mereka sebelum kembali ke ibu kota. Gelak tawa terdengar di beberapa sudut, kontras dengan suasana hati Mila yang masih diselimuti kecemasan.
Mila berjalan pelan menuruni eskalator, berusaha menyembunyikan wajah lelahnya di balik riasan tipis.
"Mila! Sini!" seru Risa, rekan kerjanya, sambil melambaikan tangan heboh. "Kamu pucat banget deh. Semalam nggak bisa tidur ya gara-gara keributan orang mabuk itu?"
Mila memaksakan sebuah senyuman. "Iya, Ris. Agak kaget aja semalam."
"Untung pihak hotel langsung gercep ya. Oh iya, habis ini kita mau ke tempat oleh-oleh, terus langsung makan siang. Kamu harus ikut, awas ya kalau malah mojok di bus!"
"Iya, ikut kok," jawab Mila pelan.
Tepat saat itu, pintu lift lobi terbuka. Sosok Andra keluar dengan kemeja kasual berwarna biru gelap yang lengannya digulung hingga siku. Karismanya sebagai pemimpin langsung membuat beberapa staf menoleh dan menyapa dengan hormat.
Mata Andra langsung menyapu seluruh lobi, dan gerakannya berhenti tepat saat menemukan siluet Mila. Ia berjalan mendekat ke arah kerumunan stafnya.
"Semua sudah berkumpul?" suara bariton Andra menginterupsi obrolan.
"Sudah, Pak! Tinggal menunggu bus pariwisatanya siap di depan," jawab salah satu kepala divisi.
Andra mengangguk. Ia kemudian menggeser posisinya sedikit, berdiri cukup dekat di sebelah Mila tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain. "Sarapannya dihabiskan?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik, khusus untuk Mila.
Mila agak tersentak, lalu menunduk sedikit. "Sudah, Pak. Terima kasih banyak. Kertas pesannya juga..."
"Bagus," potong Andra, matanya tetap menatap lurus ke depan seolah mereka sedang tidak membicarakan hal personal. "Ingat pesan saya semalam. Jangan berpisah dari Risa atau rombongan lain. Mengerti?"
"Iya, Pak. Mengerti."
Mila bisa merasakan dadanya berdesir. Di tengah ketakutan yang mengancam nyawanya, kehadiran Andra entah bagaimana memberikan rasa aman yang amat besar. Namun, Mila tidak tahu bahwa di luar lobi hotel yang megah itu, bahaya sedang mengintai mereka.
Di seberang jalan, sebuah mobil Avanza hitam dengan kaca film yang sangat gelap terparkir di bawah pohon rindang. Di dalam kemudi, pria kurus anak buah Arjun menurunkan kaca mobilnya hanya beberapa milimeter, cukup untuk mengeluarkan moncong kamera berlensa panjang.
Cekrek. Cekrek.
Ia mengambil beberapa gambar saat Mila berjalan keluar hotel bersama Risa, disusul oleh Andra yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka dengan pengawalan ketat dari dua orang berbadan tegap.
"Sial, bosnya ketat banget jagainnya," umpat pria kurus itu.
Ia segera merogoh ponselnya dan menekan tombol panggil cepat ke nomor Arjun.
"Halo, Bang. Target baru aja keluar dari hotel. Tapi agak susah dideketin. Bos tempat dia kerja ada di dekatnya terus. Malah kayaknya ada dua orang berbadan gede yang jagain mereka dari belakang."
Di seberang telepon, terdengar suara tarikan napas Arjun yang berat dan kasar. Rupanya pria itu belum sepenuhnya sadar dari efek alkohol semalam.
"Gue nggak peduli!" bentak Arjun, suaranya parau namun penuh ancaman. "Ikuti terus bus mereka! Cari celah pas perempuan itu lengah. Kalau perlu, cegat pas dia lagi di toilet atau tempat sepi!"
"Tapi Bang, kalau bosnya tahu—"
"Gue bilang ikutin ya ikutin!" potong Arjun keras, disusul suara gebrakan meja di seberang sana. "Gue otw ke Bandung sekarang pake travel. Jangan sampai lu kehilangan jejak dia sebelum gue sampai, paham?!"
"P-paham, Bang. Paham."
Telepon ditutup sepihak. Pria kurus itu mengusap tengkuknya yang mendadak dingin. Ia segera menyalakan mesin mobil saat bus pariwisata yang membawa rombongan Mila mulai bergerak membelah jalanan kota Bandung.
Perjalanan menuju pusat oleh-oleh berlangsung sekitar tiga puluh menit. Sepanjang jalan, Mila hanya menatap keluar jendela bus. Ia menyadari ada sebuah mobil Avanza hitam yang tampaknya selalu berada dua atau tiga kendaraan di belakang bus mereka.
Perasaanku aja kali ya? batin Mila mencoba menenangkan diri. Ia meremas tali tasnya dengan erat, mencoba membuang prasangka buruk itu.
Begitu sampai di pusat perbelanjaan yang ramai, para staf langsung berhamburan masuk untuk berburu cinderamata. Risa dengan semangat menarik lengan Mila menuju rak bagian kue-kue kering.
"Mila, bagusan yang rasa keju atau cokelat ya buat dibawa ke kantor senin depan?" tanya Risa heboh.
"Eh? Uh... kayaknya yang keju lebih banyak yang suka, Ris," jawab Mila, agak kurang fokus. Matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk toko yang dipadati pengunjung.
Sementara itu, Andra tidak ikut masuk ke dalam kerumunan toko. Ia memilih berdiri di dekat area parkir bus bersama beberapa sopir, sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Sahabatnya yang ia telepon semalam akhirnya membalas.
"Ndra, gue udah dapat beberapa info awal soal Arjun," suara di seberang telepon terdengar serius, tanpa ada nada bercanda seperti semalam.
"Gimana?" tanya Andra ketat.
"Laki-laki itu beneran toxic. Dia terlilit utang judi online cukup besar di beberapa tempat. Pekerjaan tetapnya udah nggak ada karena dipecat beberapa bulan lalu akibat kasus penggelapan dana kecil. Yang bahaya... dari info lingkungan kontrakannya, dia punya jaringan temen-temen preman lokal yang biasa dimintain tolong buat kerjaan kotor."
Rahang Andra mengetat. "Catatan kriminal?"
"Secara hukum belum ada laporan resmi, mungkin karena istrinya nggak berani lapor polisi karena diancam. Tapi dari desas-desus, dia emang ringan tangan dan temperamental. Ndra, kalau lu beneran lagi ngelindungin perempuan itu, lu harus hati-hati. Orang yang udah nekat gara-gara utang dan stres biasanya bisa ngelakuin apa aja."
Andra terdiam, tatapannya menyapu ke arah pintu masuk pusat oleh-oleh di mana para stafnya sedang mengantre di kasir.
"Dia ada di Bandung sekarang," ujar Andra dingin.
"Apa?! Lu serius?!"
"Tim IT gue ngelacak sinyal nomor barunya semalam di kota ini. Dan feeling gue bilang, dia nggak sendirian."
"Ndra, kalau gitu lu harus—"
Belum sempat sahabatnya menyelesaikan kalimat, Andra menangkap sesuatu dari sudut matanya. Di area parkiran yang agak temaram di ujung kanan, seorang pria bertubuh kurus tampak memperhatikan bus perusahaan mereka dengan gelagat mencurigakan. Di leher pria itu menggantung sebuah kamera besar yang ditutupi jaket.
Begitu menyadari Andra sedang menatap ke arahnya, pria kurus itu langsung berbalik arah dengan terburu-buru dan berjalan cepat menghilang di balik deretan mobil lain.
Andra memicingkan mata. Insting bisnis dan proteksinya berbunyi nyaring.
"Nanti gue telepon lagi," ucap Andra cepat lalu mematikan sambungan.
Ia langsung melangkah lebar menuju dua petugas keamanan hotel yang sengaja ia sewa secara pribadi untuk ikut di dalam bus pariwisata hari ini. "Kalian berdua, ikut saya masuk ke dalam toko sekarang. Jaga ketat Mila."
Di dalam toko, Mila mendadak merasa perutnya mulas akibat ketegangan yang ia tahan sejak pagi.
"Ris, aku ke toilet sebentar ya," pamit Mila pada Risa yang masih sibuk memilih gantungan kunci.
"Oh, oke! Jangan lama-lama ya Mil, bentar lagi kita mau naik ke bus buat makan siang."
Mila mengangguk. Ia berjalan melewati koridor toko menuju lorong toilet yang posisinya agak berada di bagian belakang gedung, dekat dengan pintu keluar darurat. Suasana di lorong toilet ini jauh lebih sepi dibandingkan area belanja di depan.
Setelah menyelesaikan urusannya, Mila berdiri di depan wastafel untuk mencuci tangan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menarik napas dalam-dalam. "Ayo Mila, kamu aman. Di sini ramai orang."
Namun, saat ia berbalik hendak melangkah keluar dari toilet wanita, langkahnya mendadak terhenti.
Sebuah bayangan tinggi besar berdiri tepat di ambang pintu lorong toilet yang sepi. Tapi itu bukan Andra, bukan pula petugas keamanan.
Itu adalah seorang pria dengan jaket kulit kusam yang sangat Mila kenali postur tubuhnya. Pria yang baru saja turun dari mobil travel dengan napas memburu dan mata yang menyalang penuh amarah.
Arjun sudah berdiri di sana.
"Ketemu kamu, Mila," desis Arjun dengan senyuman yang membuat seluruh darah di tubuh Mila terasa membeku seketika.