Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PELARIAN YANG GAGAL
Gedung pencakar langit Taylor Group berdiri megah di pusat bisnis distrik metropolis, memancarkan kuasa dan dominasi keluarga Taylor di dunia korporasi. Namun, di dalam ruang kerja CEO yang berada di lantai teratas, sang pemilik ruangan justru sedang kehilangan kendali atas fokusnya sendiri.
Ethan Noah Taylor duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi oleh tumpukan berkas laporan keuangan kuartal pertama dan dokumen kerja sama internasional yang membutuhkan tanda tangannya. Jas formalnya sudah tersampir di sandaran kursi, dan dua kancing kemejanya kembali ia buka karena merasa ruangan ber-AC itu mendadak terlampau gerah.
Pria itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Sejak tiba di kantor dua jam lalu, ia sama sekali tidak bisa membaca satu baris kalimat pun dengan fokus. Setiap kali matanya menatap lembaran kertas putih, yang terbayang di benaknya justru adalah bayangan Talia yang turun ke dapur dengan piyama sutra putih tulang yang melonggar di bagian bahu.
Sialan, batin Ethan mengumpat, meraup wajahnya kasar dengan kedua tangan.
Ingatan tentang bagaimana bibir ranum Talia membalas lumatan intensnya di anak tangga tadi pagi terus berputar tanpa henti layaknya kaset rusak di kepalanya. Aroma tubuh Talia yang memabukkan seolah masih tertinggal dan menginvasi indra penciumannya, membuat tubuh kekarnya kembali menegang dan bergejolak hebat meski ia berada bermil-mil jauhnya dari rumah mereka.
...***...
"Selamat siang, Tuan Taylor. Perwakilan dari dinasti bisnis Eropa sudah menunggu di ruang rapat utama sejak sepuluh menit yang lalu," suara sekretaris pribadinya melalui intercom membuyarkan lamunan Ethan.
Ethan menegakkan punggungnya, mengunci ekspresi wajahnya kembali menjadi topeng es yang angkuh dan profesional. "Saya segera ke sana."
Di dalam ruang rapat yang dihadiri oleh belasan jajaran direksi dan investor asing, Ethan duduk di kepala meja. Presentasi grafik miliaran dolar sedang dipaparkan di layar besar, namun separuh jiwa Ethan seolah tertinggal di mansion barunya.
"Bagaimana menurut Anda mengenai persentase pembagian keuntungan ini, Tuan Taylor?" tanya salah satu direktur asing, menantikan keputusan mutlak dari sang CEO muda.
Ethan terdiam sesaat, matanya menatap tajam ke arah grafik, namun pikirannya justru melayang pada kalimat terakhir Talia sebelum ia pergi tadi pagi:
'Kau juga bagian dari hak yang harus kujaga di depan umum.'
Dan peringatan berani dari kakak iparnya, Reymond:
'Jika kau menyentuhnya hanya untuk memuaskan egomu lalu mencampakkannya... kau akan berhadapan langsung denganku.'
"Tuan Taylor?" panggil sekretarisnya berbisik, menyadari sang bos sempat bergeming selama beberapa detik.
Ethan berdeham rendah, menetralkan suaranya agar tetap terdengar berwibawa.
"Ubah persentase di poin ketiga menjadi empat puluh persen untuk pihak kita. Jika mereka tidak setuju, batalkan kerja sama ini. Rapat selesai."
Ethan berdiri secara sepihak, meninggalkan ruang rapat dengan langkah lebar yang tergesa-gesa. Para direksi saling berpandangan, bingung dengan sikap CEO mereka yang hari ini tampak jauh lebih tidak sabaran dan memancarkan aura frustrasi yang pekat.
...***...
Kembali ke ruang kerjanya, Ethan melangkah mendekati dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan seluruh kota. Ia merogoh saku celananya, berniat mengambil sebatang rokok untuk menenangkan saraf-sarafnya yang menegang.
Namun, tepat saat pemantik apinya menyala, ia teringat momen di rooftop hotel saat Talia menghampirinya dan memintanya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan formal.
Ethan menatap bara api di pemantiknya, lalu mematikan benda itu tanpa menyulut rokoknya. Ia melempar silinder putih itu ke atas meja kerja dengan gusar.
Ia menyadari satu hal yang menakutkan bagi egonya: pelariannya ke kantor hari ini telah gagal total. Alih-alih berhasil menjauhkan diri dari pengaruh Natalia Oliver Smith, ruang kerja yang biasanya menjadi tempat paling tenang baginya kini justru terasa seperti sangkar yang dipenuhi oleh bayang-bayang istrinya sendiri.
Di bawah laci meja kerjanya, terdapat dokumen perjanjian damai warisan buyut mereka yang telah ditandatangani. Ethan menatap laci tersebut dengan rahang mengetat.
Sejarah mungkin telah memaksanya untuk menikahi Talia, namun gejolak hebat di dalam dadanya saat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perintah para leluhur. Itu adalah murni ego dan gairah seorang Ethan Taylor yang mulai bertekuk lutut pada pesona sang istri, dan ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan hal itu.