Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Nenek Tua Penyebab Masalah
Merasa dirinya di pandang sebelah mata oleh Emma Taylor, membuat Hermione tak terima dan bertambah kesal lantaran Emma berani menyinggung nya.
"Kurang ajar sekali kau. Kau pikir kau siapa, meski kau seorang putri dan kekasih gelap Noah Jones sekalipun itu, kau tidak bisa mengatai-ngatai ku seenak kepalamu sendiri karena aku putri dari keluarga besar pemilik saham terbesar di negara ini." kata Hermione congkak.
"Dan aku mengangumi tindakan tak terhormat mu itu pada seorang nenek tua. Yang benar saja, aku pasti tidak waras karena nya." kata Emma berani bicara.
"Kau... Kau... Kurang ajar sekali ucapanmu itu... " tegur Hermione melotot marah.
Anita dan Jade saling berpandangan, mereka mendengar kan perkataan antara Hermione dan Emma dengan sikap bingung.
"Rupanya perempuan itu kekasih Noah Jones sekarang ini, bukannya Hermione dijodohkan dengan Noah sebelumnya. Apa telinga ku ini tidak salah dengar?" kata Anita masih kebingungan.
"Aku sependapat denganmu, Anita. Mungkin ini semua hanya kekeliruan saja. Yang mereka katakan itu tidak benar." sahut Jade melongo.
"Apa pihak Noah Jones memutuskan hubungan perjodohan itu atau memang belum resmi hubungan pertunangan Hermione dan pria itu???" tanya Anita semakin bingung.
"Aku sendiri menyangsikan kabar itu, tapi kalau memang benar maka kita dalam masalah besar sekarang ini, Anita. " sahut Jade.
"Tapi... aku tidak percaya kalau Hermione bisa dikalahkan oleh perempuan sesederhana itu... Sungguh prihatin..." kata Anita terheran-heran.
"Percaya atau tidak. Tapi Hermione telah mengatakannya bahwa perempuan sederhana itu adalah kekasih Noah Jones. Dan artinya kita dalam masalah besar sekarang ini." kata Jade mulai cemas.
"Masalah besar apa memangnya, Jade?" tanya Anita lemot.
"Kau ini, Anita. Orang yang kita hadapi adalah pemilik perusahaan Lucent Gem yang terkenal itu. Dan kita tahu kalau mereka adalah penguasa di negara ini. Noah Jones bukan orang sembarangan, aku tidak mau bermasalah dengannya." sahut Jade.
Jade bergidik ngeri, sorot matanya redup, ia menggeleng cepat serta menunduk takut.
"Ih... Aku tidak mau lagi melanjutkan pertengkaran ini, sebaiknya kita menyingkir saja dari sini lalu pergi." kata Jade kemudian.
"Tapi... Kita tidak bisa tinggalkan Hermione sendirian disini. Kita ajak dia pergi bersama kita." saran Anita lalu berpaling ke arah Hermione dan Emma Taylor yang sama-sama berdiri tegak.
"Mana dia mau, egonya mengalahkan segalanya. Aku yakin Hermione pasti menolak pergi sebelum keinginannya terpenuhi." kata Jade.
"Apa dia mau cari masalah, sudah cukup dia dipermalukan oleh Noah Jones, kenapa masih cari gara-gara dengan wanita asing?" kata Anita.
Hermione yang berada tak jauh dari dua temannya itu, mendengar bisikan mereka.
"Bisa diam tidak kalian ini!!!" bentuknya marah.
Anita dan Jade tersentak kaget, mereka langsung terdiam dengan pandangan tertuju lurus ke depan.
"Bukannya bantu malah sibuk ngegosip, ambil kalung mutiara itu dari nenek bau itu lalu kita laporkan masalah ini ke pegawai disini." perintah Hermione.
Anita dan Jade saling mencolek, sama-sama melempar tanggung jawab. Rupanya mereka tidak ingin mendapatkan masalah dari persoalan ini.
"Kau saja, Anita..." ucap Jade sambil mendorong lengan Anita.
"Kenapa aku, kau saja yang ambil kalung mutiara itu! " sahut Anita menolak.
"Tidak, ah, aku takut kenapa-napa, aku tidak mau kena masalah besar nantinya. Aku tidak berani." kata Jade.
"Lalu siapa yang akan ambil kalungnya?" tanya Anita sambil melirik ke arah Hermione yang berdiri mengawasi mereka berdua.
Anita langsung berubah segan, ia berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah lainnya, sedangkan Jade menundukkan kepalanya.
"Ya, sudah. Kalau kalian tidak mau ambil, tapi jangan salahkan aku jika aku yang untung nanti." kata Hermione kesal.
"Ta-tapi kami takut..., Hermione..." sahut Anita gelagapan.
"Takut apa? Hah? Kan nenek bau itu yang curi kalung mutiara disini. Bukan kita, kita cuma melaporkannya saja ke pihak butik. Lantas apa yang kalian takutkan?" bentak Hermione mulai kehilangan kesabarannya.
"Eh... Oh, iya..." sahut Anita gugup.
Anita dan Jade saling melempar lirikan satu sama lainnya, terdiam membeku, tak mampu menjawab.
"Kalau begitu aku saja yang ambil kalungnya." kata Hermione.
Hermione maju ke depan, ia hendak mengambil kalung mutiara dari tas bulukan milik wanita tua.
Ketika ia mau ambil kalungnya, gerakan tangan Hermione ditahan oleh Emma.
"Tinggalkan kalung itu. Itu bukan punyamu, Hermione!" ucap Emma dingin, sorot matanya tajam.
"Kau..." sahut Hermione terkejut kaget saat Emma berani menahan laju tangannya.
"Jangan ganggu lagi nenek ini lagi." kata Emma masih menatap dingin Hermione.
"Tidak akan pernah..." sahut Hermione lalu tersenyum tipis seraya mendorong tubuh Emma.
Hermione mengambil kalung mutiara milik wanita tua renta lalu tertawa mengejek pada Emma.
"Bermimpilah, karena aku tidak akan pernah menyerahkan kalung mutiara ini." kata Hermione.
"Jangan paksa aku, Hermione." sahut Emma mulai muak.
"Memaksa mu seperti apa maksud mu, aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan mu itu, Wilhelmina." kata Hermione.
"Kembalikan kalung mutiara itu pada nenek! Kau mengambil kalung itu darinya, Hermione!" teriak Emma lantang.
Wanita tua menyentuh pundak Emma agar dia berhenti bicara pada Hermione.
"Biarkan saja mereka, nak." ucapnya lembut.
Emma menoleh ke arah wanita tua renta di sampingnya sembari berkata.
"Tapi kalung mutiara itu milikmu, nek. Mereka tidak pantas mengambil barang yang bukan kepunyaan mu." sahutnya.
"Aku tidak mempersoalkannya lagi, biar saja mereka ambil kalung itu. Nanti aku beritahukan pada cucuku, biar dia yang urus masalah ini." kata wanita tua lalu tersenyum lembut.
"Ini bukan soal kalung mutiara tapi tindakan yang tak pantas dibenarkan, dan mereka telah membuat masalah denganmu yang tak seharusnya mereka lakukan." sahut Emma.
"Aku mengerti itu, tapi kita tidak bisa menahan keinginan mereka. Biarkan mereka puas dengan apa yang mereka mau, nak." kata wanita tua renta berkata bijak.
"Tapi, nek..." kata Emma masih tak terima. Namun wanita tua renta hanya menggelengkan kepala pelan, tanda dia menerima yang Hermione lakukan padanya meski raut wajahnya murung.
Emma hanya bisa menarik nafas, ia beringsut pelan kemudian beranjak berdiri, sambil membantu wanita tua renta berdiri bersamanya.
"Aku akan menelpon Noah Jones agar dia membantumu, nek." kata Emma lalu mengeluarkan Vertu miliknya dari tasnya.
"Noah Jones..., namanya mirip sekali dengan cucu laki-laki ku, apa mungkin dia orang yang sama." kata wanita tua renta.
"Cucu anda, nek. Kalau begitu kita sama-sama mengenalnya." kata Emma antusias.
"Yah, mungkin, orang yang kita kenal adalah orang yang sama atau punya kemiripan nama saja." kata wanita tua renta.
Emma tertawa renyah, lalu menjawab.
"Memangnya nama Noah Jones cuma dia saja, kan ada juga orang bernama sama tanpa disengaja." lalu Emma tersenyum simpul.
"Apa kau akan menelpon kekasih mu itu sekarang?" tanya wanita tua renta seraya menepuk lembut punggung tangan Emma.
"Yah, aku mau menelpon nya, dia bilang kalau akan menjemputmu seusai rapat klien." sahut Emma.
Hermione masih di butik Dior, memperhatikan ke arah Emma dan wanita tua renta yang berbicara. Dan sepertinya dia tak terima melihat keakraban antara Emma dan wanita itu.
"Wow... Wow... Akrab sekali, sedang membicarakan Noah Jones, memangnya dia siapa kalian." kata Hermione cemburu.
"Jangan hiraukan dia, nek." kata Emma mencoba tak memperdulikan Hermione.
"Lebih baik kita pindah tempat saja, nak." kata wanita tua renta sembari menggandeng tangan Emma.
"Hai, tunggu!" bentak Hermione. "Enak saja, asal pergi tanpa bertanggung jawab. Mau kabur, ya, kalian tanpa mau mengaku kalau mencuri disini."
Emma hanya terdiam saja, dia berjalan mengikuti wanita tua renta tanpa menoleh lagi. Justru sikap itulah yang semakin menyulut emosi Hermione karena merasa dicuekin.
"Tunggu ku bilang!!!" hardik Hermione dengan kedua tangan mengepal erat. Tanpa berpikir panjang, Hermione menarik paksa tangan wanita tua renta.
"Aduh..." hampir saja wanita tua terjatuh oleh tarikan keras dari Hermione. Untungnya Emma segera menangkap tubuh wanita itu.
"Hermione, hentikan tindakanmu itu!" bentak Emma mulai kesal dengan sikap Hermione yang semena-mena.