Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Perseteruan Kakak Beradik (bagian kedua)
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mengenai wajah Haotian. Tamparan keras yang penuh dengan amarah.
"Plak"
"Kau sudah keterlaluan, Haotian" ucap ayahnya
Seketika ruangan itu menjadi mati. Sunyi yang mencekam daripada liang kubur. Para pejabat menunduk dalam-dalam. Jangankan melerai, menatap mata sang raja pun mereka tidak punya nyali. Di ruangan ini, napas sang raja adalah hukum, dan amarahnya adalah maut.
Haotian tidak tersungkur. Ia hanya memalingkan wajahnya sedikit ke samping. Ujung bibirnya pecah, mengeluarkan setitik darah yang merahnya menyamai arak di meja.
Ia tidak meringis. Ia justru tersenyum.
"Tamparan yang bagus," bisik Haotian sambil mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. "Tenaga ayah masih kuat. Tapi sayang, tenaga ini di gunakan untuk menutupi kebenaran, bukan untuk menegakkannya."
Bie Tieshan gemetar. Bukan karena takut, tapi karena menahan ledakan emosi yang nyaris tak terkendali. "Sebaiknya kau segera pergi. Jangan biarkan aku melihat wajahmu malam ini"
"Aku akan pergi," Haotian berdiri tegak. Matanya melirik ke arah Yixuan yang sejak tadi hanya diam membeku dengan pikiran kosong. "Tapi ingatlah satu hal, ayah. Kau bisa menamparku, tapi kau tidak bisa menampar hantu yang menghantuimu setiap malam."
Haotian berbalik. Jubahnya yang gelap menyapu lantai marmer yang dingin. Ia berjalan melewati deretan pejabat yang mematung tanpa menoleh sedikitpun.
"Ibu..."
Tiba-tiba sebuah bisikan lirih keluar dari mulut Yixuan. Suara itu kecil, namun di tengah kesunyian aula, ia terdengar seperti guntur yang membela langit.
"A-aku...telah..."
Suaranya tertahan di tenggorokan. Ia melangkah dengan pandangan kosong. Bukan langkah seorang calon penguasa yang gagah, melainkan langkah orang yang jiwanya baru saja di curi. Ia melangkah tertatih, menyeret kakinya keluar dari ruangan itu, seolah-olah ia sedang mengejar bayangan yang tak terlihat.
Yixuan tidak melihat kemana ia pergi. Kakinya membawanya ke luar ruangan itu. Di luar, hujan mulai turun, hujan yang deras seolah ingin membasuh dosa yang terlanjur meresap ke dalam tanah.
Lalu, sebuah teriakan pecah. bukan teriakan manusia, melainkan raungan jiwa yang terluka.
"Huaaaa....!"
Bersamaan dengan teriakan itu, ledakan energi ilahi meluap dari tubuhnya. Udara di sekelilingnya mendadak menjadi berat. Benda-benda di sekitarnya bergetar hebat, seolah ketakutan. Percikan tenaga dalamnya menyambar ke segala arah, menghancurkan pilar-pilar batu dan lantai marmer hingga menjadi debu.
"Hentikan dia!"
Bei Tieshan berlari. Wajah penguasa yang biasanya sekeras karang, kini retak oleh kekhawatiran. Ia tahu, Yixuan bukan sedang menyerang musuh, melainkan sedang menghancurkan dirinya sendiri.
Namun, di dalam ruangan itu tidak ada satupun orang yang menguasai ilmu tenaga dalam yang mampu membendung kekuatan Yixuan. Mendekati Yixuan yang di kelilingi energi yang meledak-ledak, sama saja dengan mengantarkan nyawa dengan sia-sia.
"Yixuan! Sadarlah!" teriak Bei Tieshan.
Suaranya hilang di telan deru angin yang tercipta dari energi itu. Ia mencoba menggunakan kekuatannya untuk membendung energi yang dahsyat itu. Namun, sekeras apapun usahanya, ia tidak bisa menyentuh tubuh anaknya.
Energi yang di lepaskan Yixuan semakin lama semakin liar. Tubuhnya di kelilingi oleh luapan api yang siap membakar siapapun yang datang mendekat.
Di tengah keputusasaan Bei Tieshan, ada sepasang mata yang mengamati dari kejauhan.
Haotian.
Ia berdiri diam di kegelapan. Bibirnya mengukir senyum puas. Sebuah senyum yang tidak tersentuh oleh rasa iba. Karena baginya, pemandangan kehancuran ini jauh lebih indah daripada pesta ulang tahun manapun. Semuanya berjalan sesuai rencana.
Haotian memainkan jemarinya di udara, seolah sedang memetik senar kecapi yang tak terlihat.
"Api yang indah...sangat mewah..." bisiknya pada angin.
Di tengah kepanikan yang melanda, sebuah bayangan melintas.
Cepat. Terlalu cepat untuk di sebut manusia. Sosok itu bergerak seperti hantu yang membela tirai hujan, langsung menuju pusat amukan energi Yixuan. Tak ada satu pun mata di sana yang sanggup menangkap wajahnya.
Hanya dalam satu gerakan, mungkin satu totokan, atau mungkin hanya satu tarikan napas, energi yang tadinya meledak-ledak itu mendadak bungkam. Seperti api yang di siram air sedingin es.
Lalu, secepat ia datang, sosok itu menghilang ke dalam kegelapan malam, membawa Yixuan bersamanya.
Penginapan itu kembali sunyi, hanya menyisakan puing-puing dan tanda tanya yang tak terjawab. Siapapun dia, orang itu memiliki keahlian yang setara, atau mungkin melampaui Yixuan sendiri.
...****************...