Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Jebakan Dan Mimpi
"Kenapa kau memanggilku kesini, tuan Lusputh?"
Kata-kata itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan dada. Lusputh tidak langsung menjawab. Ia hanya melambaikan tangan dengan gerakan minimalis, sebuah isyarat bisu yang hanya dimengerti oleh Guinevere.
"Baik.." jawab Guinevere pendek.
Gadis itu melangkah menuju sebuah pintu kecil di samping rak-rak buku raksasa perpustakaan milik Lusputh. Ruangan di baliknya gelap gulita, sebuah kehampaan yang seolah menelan sosok Guinevere hingga menghilang sepenuhnya dari pandangan.
"Apa maksudnya ini?" Franscov bertanya, alisnya bertaut karena keheranan yang mulai berubah menjadi kecemasan.
Pertanyaan itu terputus seketika oleh suara berat Lusputh yang masih duduk membelakangi mereka.
"Franscov... apa kau mencoba membunuhku?"
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat tenang, namun efeknya seperti petir di siang bolong. Franscov tertegun sejenak, pupil matanya bergetar sebelum ia berhasil menguasai diri.
"Apa maksud anda tuan? Bagaimana mungkin aku mencoba membunuhmu?" ucap Franscov dengan nada penuh keyakinan yang dipaksakan.
Namun, atmosfer yang sudah tegang itu kian meruncing saat suara langkah kaki menggema dari arah kegelapan yang baru saja dimasuki Guinevere.
Tap.. Tap.. Tap..
Gema langkah sepatu Guinevere terdengar mendekat dari kejauhan, diiringi oleh suara rintihan pria yang terdengar mengerikan.
"Tolong... Lepaskan aku..!" teriak pria itu dari dalam kegelapan.
"Ahaha... Menangislah, tikus kotor... Kau pikir, kau bisa keluar dari sini hidup-hidup?" Suara Guinevere menyahut dari balik bayang-bayang, nadanya dingin dan penuh intimidasi.
"Aku... aku punya keluarga.. tolong.." Teriakan pria itu dibungkam oleh suara pukulan tumpul yang keras dari arah ruangan nan gelap.
"Menangislah sesukamu, tidak ada yang akan menolongmu..." Kata-kata itu menggantung saat gema suara pengguna rapier itu mulai terlihat.
Sosok Guinevere perlahan muncul dari kegelapan total. Ia menyeret seorang pria—seorang pembunuh—di atas lantai kayu perpustakaan yang mengilap. Ia melangkah mantap ke arah Duke Franscov dan Leon yang berdiri berdampingan.
"Disini.." Guinevere melempar tubuh yang terikat erat itu ke hadapan sang Duke dengan posisi tertelungkup.
BUK..!!
Duke Franscov terpaku seketika saat melihat wajah pembunuh bayaran yang sudah berlumuran darah itu. Di sampingnya, Leon langsung memasang kuda-kuda waspada.
Hening...
Duke Franscov menghela napas panjang.
"Hmmm... haaah..." Ia kemudian mendongak, menatap punggung Lusputh yang masih diam mematung di kursinya.
"Tolong jelaskan maksud dari semua ini... Tuan Lusputh?" Duke bertanya dengan tenang.
"Duke.. ini.." Suara Leon sedikit tercekat. Tangannya sudah berada di dekat gagang pedang, siap melakukan gerakan perlindungan jika situasi memburuk.
"Bukankah pembunuh itu utusanmu?" tanya Lusputh dengan nada penuh kewibawaan yang menekan.
Pembunuh yang tergeletak itu mendongak dengan sisa tenaga, menatap Duke Franscov dengan tatapan penuh permohonan.
"Duke... tolong aku..!!" rintihnya dengan tubuh gemetar hebat di bawah kaki sang Duke.
Franscov hanya melirik pria itu sekilas dengan tatapan dingin, lalu kembali menatap Lusputh.
"Hmmp.. aku tidak mengenalnya sama sekali, Tuan Lusputh. Atas dasar apa anda menuduh saya mengirimkan orang ini?" Franscov melangkah maju, mencoba menantang dominasi Lusputh.
Leon hanya bisa menutup matanya sejenak, sementara sang pembunuh terbelalak melihat Franscov yang membuangnya begitu saja.
"Duke... kau... apa yang kau katakan?" tanya pria pembunuh itu tak percaya. Dunianya runtuh seketika. Di sudut lain, Guinevere menatap Franscov dengan tatapan hina yang terang-terangan.
Hening... sebuah keheningan yang benar-benar menyesakkan.
[Super Magic: Negative Pressure]
DUUNNG!!!
Sebuah dengungan mistis tiba-tiba memenuhi ruang perpustakaan tersebut. Udara mendadak menjadi padat, dan gravitasi di sekitar Lusputh terasa berlipat ganda. Ini bukan sihir biasa, ini adalah manifestasi mana tingkat ke-7.
"AAKH...!" Franscov mengerang. Ia mencoba tetap berdiri, meski tulang-tulangnya terasa hendak remuk di bawah beban sepuluh kali lipat berat tubuhnya.
"UHH..." Leon langsung jatuh bersujud. Zirah besinya yang berat kini menjadi penjara yang menekannya ke lantai.
Sementara itu, Guinevere telah berlutut sambil memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya merona merah, napasnya tersengal oleh euforia yang aneh.
"Aaah.... Haah... Hah... Mengagumkan... Inilah alasanku mengikuti anda... hah... tuan Lusputh..!" Wanita itu tersenyum lebar, menikmati tekanan mana yang menghimpitnya ke tanah.
"Lus.. puth... ukh..." Perlahan namun pasti, kening Franscov akhirnya menyentuh lantai. Ia tidak mampu lagi mengangkat kepalanya.
Seluruh orang yang berada di ruangan kini berlutut di atas lantai perpustakaan, diiringi oleh suara dengungan mana yang merembes keluar dari tubuh Lusputh.
Pria tua itu berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia berbalik, menatap Franscov yang bersujud hina di depannya.
"Duke, haruskah aku mengumumkan status 'sesat' dari garis keturunanmu sekarang juga, kepada seluruh penduduk?" tanya Lusputh dengan mata tajam yang seolah menembus jiwa.
Tubuh Duke Franscov gemetar hebat. Antara ketakutan dan tekanan sihir, ia nyaris kehilangan akal sehatnya.
Dengan suara tercekat, Franscov membuka suara.
"Aku mengakui.... aku mengaku salah tuan!! Hentikan ini sekarang juga..!!! Akh..." Franscov mencoba mendongak, menatap kaki Lusputh yang berdiri tepat di depannya.
ZIIING.... WISH... WISH.. WISH...!!!
Perlahan, dengungan itu memudar. Berat yang menekan udara menghilang seketika. Leon berkeringat dingin, sementara Franscov masih mencoba mengatur napasnya yang berantakan dalam posisi bersujud.
Lusputh tidak langsung menjawab. Ia menatap Franscov dengan mata tuanya yang menyimpan ribuan rahasia.
"Guin.." panggil Lusputh pada Guinevere yang masih terengah-engah.
"Y... ya, tuan Lusputh.. hah.." Guinevere bangkit dengan sisa-sisa napas yang memburu. Ia mengambil sebuah pedang tajam dari atas meja dan mengulurkannya kepada Duke Franscov.
Franscov yang masih bersujud perlahan mendongak menatap mata pedang yang berkilauan itu.
"Apa... yang ingin kau lakukan?" tanya Franscov dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Bunuh pembunuh bayaran itu dengan tanganmu sendiri!" perintah Lusputh tanpa emosi, membuat pembunuh yang masih terikat berteriak ketakutan.
"Tuan.. jangan.. jangan.. KUMOHON!!" Sang pembunuh berteriak dengan keputusasaan yang memilukan.
Franscov menatap pembunuh itu, lalu beralih ke pedang di tangan Guinevere. Tangannya gemetar saat menyentuh gagangnya.
"Apa kau akan memaafkan ku setelah ini?" tanya Franscov yang masih berusaha menenangkan dirinya.
"Tergantung kesetiaanmu," jawab Lusputh singkat.
"Tuan.." Panggil leon, kesatria itu masih meringis kesakitan, menatap Duke dengan khawatir. Sementara Duke terlihat berpikir keras.
Hening sejenak, sebelum akhirnya Duke Franscov menjawab.
"Baiklah," Ia mengambil pedang tajam dari tangan Guinevere.
Lalu Ia berdiri perlahan, menatap dingin pria yang meringkuk ketakutan di bawah kakinya.
"Duke... Duke kumohon..." teriak pria itu putus asa. Tetapi Duke hanya menatapnya dengan pandangan dingin.
Franscov mengangkat pedang itu tinggi-tinggi. Cahaya lampu perpustakaan memantul di bilah bajanya.
Leon mengalihkan pandangan, wajahnya pucat pasi.
"Duke.. Kumohooon.. Jangan...!!"
Franscov menghujam punggung pria itu seketika menggunakan pedangnya.
WUUUSH...!!!
"FRANSCOOOOV..!!!!"
SRAAAAK!!!..
Teriakan pria itu terhenti seketika. Mata sang pembunuh terbelalak lebar, air mata mengalir di sudut matanya saat ia menatap ujung sepatu Franscov untuk terakhir kalinya.
"Uuh.. hah..."
BRUUUK...!!
Kepala pemuda itu terkulai tak bernyawa dengan mata terbuka di atas lantai perpustakaan.
Franscov memejamkan mata.
"Maafkan aku.." bisiknya, tangannya masih memegang gagang pedang yang menghujam daging.
Prak.. Prak.. Prak..
Guinevere bertepuk tangan dengan seringai mengerikan, menatap lekat sosok Franscov.
"Hebat sekali!! Ahaha.. Ahahaha... Ugh... Pasti pria tadi sangat menikmati kematian di tangan tuannya sendiri.. Uuh..." Guinevere kembali memeluk tubuhnya, gemetar karena kenikmatan janggal yang ia rasakan.
Sementara, Franscov melepaskan pegangannya dari pedang yang masih tertancap di tubuh pria pembunuh tadi, dengan tangan yang gemetar.
Leon hanya bisa terpaku, menatap ubin kayu di bawahnya, tatapannya kosong dan hampa.
Perlahan, Franscov menoleh ke arah Lusputh. Gerakannya sangat hati-hati, seolah-olah lehernya terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja. Ia tidak ingin memicu amarah sang pendeta tua lebih jauh lagi.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta.. Tuan Lusputh... apa kau sudah memaafkanku?" ucap Franscov nadanya sedikit bergetar.
"Aku akan memaafkanmu jika kau mampu memenuhi ekspektasiku." jawab Lusputh tenang, jemarinya mengelus jenggot putihnya yang lebat.
Leon segera kembali ke posisi siaga, berdiri sebagai tameng bagi Franscov. Di sisi lain, Guinevere kembali ke samping Lusputh. Seringai menakutkan masih terpatri di wajahnya, kontras dengan rona merah yang masih tersisa di pipinya akibat euforia tekanan Mana tadi.
"Apa yang harus ku lakukan? Tuan Lusputh." tanya Franscov. Suaranya kini lebih stabil, ia mulai berhasil memungut kembali kepingan harga dirinya yang sempat hancur.
"Berikan aku intelijen yang kau dapat di perbatasan. Apa yang kau lihat disana? Jika kau berbohong, maka orang yang berada di posisi mayat ini selanjutnya adalah anakmu."
Perintah itu keluar dengan nada tegas dan penuh wibawa, membawa ancaman yang tidak main-main. Tubuh Franscov menegang seketika. Ia melirik mayat yang bersimbah darah di bawah kakinya, lalu beralih menatap Lusputh.
"Aku menemukan seorang gadis yang bisa menyembuhkan seluruh warga Desa dalam waktu beberapa menit." jawab Franscov.
Keheningan melanda sesaat. Gerakan Lusputh terhenti.
"Beberapa... menit?"
Untuk pertama kalinya, nada bicara Lusputh terdengar goyah oleh keheranan. Pria tua itu memicingkan mata, menatap Franscov dengan tajam seolah ingin membedah kejujuran di balik matanya.
"Apa kau berbohong? Duke?" Lusputh mencoba memastikan.
Leon yang berada di samping Franscov segera mengambil alih suara.
"Tidak, Yang Mulia... Saya sendiri yang menyaksikan mukjizat itu dengan mata kepala saya sendiri. Penduduk Desa Tura yang selamat menyembah gadis itu sebagai seorang Dewi." jawab Leon meyakinkan.
"Aku tidak berbohong sama sekali, Tuan Lusputh." tambah Franscov mempertegas.
Lusputh tenggelam dalam pikirannya. Ia memutar tubuhnya, berjalan pelan menuju kursi kayu di meja penelitiannya. Ia kembali duduk membelakangi mereka, menatap sebuah alkitab tua yang terbuka.
"Begitu rupanya.. " gumam Lusputh pelan.
Guinevere tetap berdiri di antara Franscov dan Lusputh, mempertahankan keanggunannya yang mematikan.
"Franscov," panggil Lusputh tanpa menoleh.
"Ya tuan?" Pria paruh baya itu menatap Lusputh dengan serius.
"Aku akan memaafkanmu jika kau bisa menggali informasi tentang 'Dewi' itu lebih dalam lagi. Pergilah ke Desa Tura!" Lusputh mulai membolak-balik halaman buku di depannya.
"Jika kau gagal..."
Ia menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasi buruk menghantui semua orang di ruangan itu.
"Maka keturunanmu tidak akan melihat matahari lagi." ucap Lusputh pelan dan berwibawa.
Franscov dan Leon saling melempar pandang. Sang Duke mengangguk kecil sebelum kembali menatap punggung Lusputh dengan serius.
"Baik tuan, saya akan melaksanakannya! Kalau begitu, saya mohon pamit." Franscov membungkuk dalam, lalu melangkah pergi.
Leon memberi hormat serupa sebelum mengikuti langkah tuannya menuju pintu.
Kriieek... Tap... Pintu perpustakaan itu tertutup rapat.
Lusputh kembali membaca kitabnya dengan tenang, seolah drama berdarah tadi hanyalah gangguan kecil. Guinevere, yang masih setia di posisinya, bertanya dengan suara penuh penghormatan.
"Apa tidak apa-apa membiarkan pengkhianat itu melakukan tugas penting ini, Tuan Lusputh?"
"Biarkan saja... tidak ada satupun penduduk Eltra yang bisa benar-benar lepas dari pengaruh Gereja," balas Lusputh dingin.
Guinevere hanya melirik punggung tuannya sejenak, lalu mulai bergerak untuk membersihkan tubuh tak bernyawa yang mengotori lantai perpustakaan.
Scene berubah ke sisi Francov dan Leon.
Franscov berjalan menyusuri lorong dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tatapannya sedingin es, meski peluh masih membasahi keningnya. Ia dan kesatrianya Leon, menuju kediamannya.
Alih-alih melewati jalan protokol, mereka memilih memutar melalui gang sepi di distrik pemukiman warga.
Tiba-tiba suara Leon menghentikan langkah Kaki Franscov.
"Duke.." panggil Leon yang berjalan di belakangnya.
"Apa anda baik-baik saja?" Leon terlihat khawatir.
Franscov tidak menyahut. Ia berhenti melangkah, menatap kehampaan di depannya dengan tatapan mematikan.
"Duke?" tanya Leon sekali lagi.
"Leon, tenanglah... " jawab Franscov pelan. Suaranya begitu datar hingga membuat Leon keheranan.
Kejadian di perpustakaan tadi seharusnya menghancurkan mental siapa pun, tapi Duke di depannya ini justru terlihat sangat tenang.
"Apa yang akan kita lakukan.. tuan Duke?"
Perlahan, sudut bibir Franscov terangkat. Sebuah seringai licik muncul, senyum yang sangat kontras dengan kehinaan yang baru saja ia alami.
"Heh.. heh.. heh.." Ia tertawa getir. Tawa yang tidak mencapai matanya.
"Leon!"
"Ya tuan?"
"Kita akan mengunjungi Dewi ini, dan jika mungkin.. Kita akan membuatnya berpihak pada kita." Franscov mengeraskan rahangnya, mengingat betapa hinanya ia dipaksa bersujud tadi.
"Apa maksud anda, tuan Duke?" Leon kembali bertanya karena kebingungan.
Franscov menenangkan amarah yang mendidih di dalam dadanya.
"Kita akan mengikuti perintah pak tua bangka keparat itu." jawab Franscov dingin.
"Kita biarkan dia berpikir, bahwa kita berada di bawah telapak kakinya..." lalu ia menyeringai lebih lebar.
"Padahal kita sedang membangun jebakan di bawah kakinya sendiri. "
Leon menatap tuannya dengan kekaguman yang meluap. Ia membungkuk hormat.
"Saya akan melakukan yang terbaik demi mencapai tujuan kita, tuan Duke!"
Semburat jingga di langit mulai memudar, mengundang malam untuk segera menyelimuti tanah Vlagria yang haus akan konflik.
Sementara itu, Jauh di ujung perbatasan Eltra Celestia yang bersinggungan dengan wilayah Kerajaan Varkass, sebuah pintu penginapan terbuka dengan suara derit pelan yang memecah keheningan malam.
Krieeek...!!!
Seorang wanita berbalut jubah putih bersih melangkah masuk dengan keanggunan yang memikat, seolah setiap langkahnya memancarkan aura wibawa yang tak terbantahkan.
Di belakangnya, dua sosok setia mengikuti: satu mengenakan pakaian kulit praktis berwarna cokelat-hitam, dan satunya lagi mengenakan jubah penyihir sambil mendekap dua botol anggur seolah itu adalah harta karun.
Gadis berjubah putih itu berhenti di tepi ranjang. Cahaya bulan yang merembes masuk dari jendela membingkai sosoknya, memberinya pesona mistis layaknya seorang Dewi yang turun ke bumi.
Perlahan ia menghela nafas panjang.
"Haaah..."
"WAKTUNYA ISTIRAHAT!!!" teriak Alice seketika, memecahkan seluruh citra keanggunannya dalam sekejap.
Tanpa membuang waktu, ia melemparkan jubah kebesaran yang terasa berat itu ke lantai. Dengan gerakan bebas, ia melompat ke arah kasur empuk yang sudah memanggil-manggil namanya sejak tadi. Pluk!
Tubuhnya tenggelam dalam kelembutan kasur.
"Ahahahaha.. Lelah juga ya nona kelinci, ternyata menjadi pengawal Dewi itu melelahkan! Aku harus bersalaman dengan banyak warga sebelum bisa pamit tadi." gumam Violet riang sambil ikut merebahkan diri di samping Alice.
"Kau saja kelelahan.. Apalagi aku?" sahut Alice tulus. Ia menutup mata, menyunggingkan senyum tipis yang lega.
Sementara itu, Xena meletakkan dua botol anggurnya di atas meja kayu yang kasar. Tangannya segera meraih beberapa kantung uang yang terikat rapi di pinggangnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, mulai mengeluarkan koin-koin emas dan menghitungnya dengan mata berbinar-binar.
"Alice, lihat...!!! Kita kaya!!! Kalau begini terus seluruh kerajaan bisa jadi milik kita semua!" seru Xena dengan nada kegirangan yang tak tertahankan.
Alice membuka satu matanya, menatap Xena dengan pandangan sayu karena kantuk yang mulai menyerang.
"Xena, jangan menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu."
"Kita buat panti asuhan saja bagaimana?" saran Violet dengan senyum ceria yang tulus.
"Jangan! Ini uangku!! Eh!?" Xena secara refleks memeluk tumpukan koin itu dengan protektif. Namun, gerakannya terhenti saat menyadari Alice kini menatapnya dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Uangmu? Itu uang warga! Kita harus gunakan itu untuk kepentingan warga!" Seru Alice mantap.
"Tapi kan.. Tapi kan... Ini.." Xena menatap kumpulan koin emasnya yang tampak akan segera lenyap dari pelukannya.
"Ambil beberapa saja Xena, anggap sebagai upah pekerjaanmu. Sisanya bisa kita gunakan untuk keperluan warga Desa." tambah Alice lagi, matanya kembali tertutup karena beratnya kantuk.
"Xena sayang, kalau kau tidak mau melakukan apa yang Dewi kelinci katakan, mungkin uang itu, akan hilang malam ini di ambil seseorang." Violet menyeringai nakal ke arah Xena.
"Hi... Jangan!! Baik, baik! Aku akan mengambil sedikit saja kalau begitu!! jangan curi uangku!!!" Xena segera menjauhkan tumpukan koin tersebut dari jangkauan Violet.
Kelakuan Xena memicu gelak tawa dari Alice dan Violet secara bersamaan.
"Ahahaha... "
"Huuh.. Xena.., Xena.. Kau ini, memang susah di atur." ucap Alice sambil menyeka air mata kecil di sudut matanya akibat tertawa.
"Kau baru tahu ya nona kelinci?" Violet ikut tertawa sambil mulai membenahi posisi tidurnya.
"Hummp.. Pokoknya jangan curi uangku Violet. Kalau ada yang hilang, berarti kau pencurinya!" balas Xena dengan nada merajuk.
"Iya tenang saja.. Aku tidak akan mencuri uang dari seorang 'pencuri'," goda Violet yang mulai menutup matanya karena kelelahan yang luar biasa.
"Baiklah.. Aku.. Hooamm.. Kok ngantuk ya?" Xena menguap lebar, pertahanannya terhadap kantuk akhirnya runtuh.
"Banyak yang terjadi hari ini Xena, wajar kalau kita... mengan... tuk..." Alice yang pertama hanyut menuju alam mimpi.
Violet yang berada di sampingnya tersenyum kecil, lalu ikut memejamkan mata.
Pluk! Tubuh Xena akhirnya terhempas ke kasur yang empuk. Ia tertidur sambil tetap memeluk kantung koin emas, menyusul teman-temannya ke dunia mimpi.
Mereka bertiga kini terlelap dalam damai di dalam kamar yang tenang itu. Sementara, di luar sana, sayup-sayup suara tawa masih terdengar.
Arthur, Albertio, dan Fredrick tengah berpesta pora bersama warga Desa Tura dan Vhalha, merayakan terbentuknya agama baru di bawah cahaya api unggun.
mereka semua tidak menyadari satu hal pahit... bahwa ketenangan yang menyelimuti mereka malam ini, hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai besar kembali datang untuk mengoyak kedamaian mereka.
cape😅