Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 CEO NAVARA GRUP
“Iya, seorang raja. Tapi untuk orang yang benar-benar punya uang. Dan kau lihatlah mereka. Hanya menggunakan...” ucap Sila sambil memindai pakaian yang dipakai Tuan X dan juga Violet yang baru saja masuk ke ruang ganti.
“Heh, biasa saja.” dengusnya.
Sedangkan Xavier, ia mengeluarkan sebuah ponsel lalu mengetikkan sesuatu. Tanpa bicara apa-apa, ia pun menunggu di kursi depan ruang ganti.
“Heh, tuan. Lebih baik Anda bersama pacarmu itu keluar dari butik ini. Kalian tidak cocok berada di sini,” lanjutnya.
Sedangkan pegawai wanita yang memegang pakaian bernama Aira, menegur temannya karena menurutnya itu sudah berlebihan.
“Sudah, Sila. Kau jangan seperti ini. Apa kau tidak lihat, semua orang menatap ke arah sini,” tegur Aira.
“Halah... biarkan saja semua orang lihat, kalau mereka itu tidak bisa membayar pakaian di butik ini,” lanjutnya yang masih terus memandang rendah.
Tiba-tiba datang Kelvin dan juga Manager butik.
“Ada apa ini?” tanya sang Manager.
“Bu Manager, ini loh, masa mereka berdua hanya coba-coba baju saja tanpa membeli,” adu Sila.
Manager yang melihat siapa yang ditunjuk oleh Sila pun terkejut.
“T-tuan...” ucap Manager dengan badan yang bergetar.
“Bu Manager, kenapa malah hormat sama dia? Memangnya dia siapa sampai harus hormat seperti itu,” dengus Sila.
“Apa kau tidak tahu, dia Tuan X. Asisten dari CEO Navara grup,” ucap sang Manager dengan tegas.
“Hanya asisten saja sudah belagu,” ucap Sila.
Sedangkan Xavier atau yang orang-orang sebut Tuan X menatap Kelvin dengan sorot mata yang tajam.
Seolah mengerti, Kelvin pun langsung angkat bicara.
“Siapa yang sudah berani meremehkan asisten dari CEO Navara Grup?!” tanya Kelvin tegas.
Semua orang yang mendengar itu langsung menunjuk ke arah Sila.
“Siapa namamu?” tanya Kelvin.
“Nama saya, Sila, tuan,” ucap dengan malu-malu.
Lalu tatapannya beralih pada Manager. “Bu Manager, mulai hari ini, pecat orang yang bernama Sila. Dan saya akan pastikan, bahwa dia tidak akan diterima di seluruh perusahaan, baik butik ataupun toko-toko yang bernaung dalam NAVARA Grup.”
“Baik, tuan. Saya akan segera pecat Sila,” ucapnya sambil menunduk.
Bu Manager pun menegakkan badannya. Dengan menatap Sila, Manager itu mengatakan, “Sila, mulai hari ini, kau dipecat dari Butik NVR. Setelah ini silakan ambil gaji dan bonusmu.”
Sila yang mendengar itu langsung syok, “Bu Manager, bagaimana bisa saya dipecat begitu saja. Saya hanya mengatakan bahwa mereka itu tidak cocok berada di butik ini.”
Bu Manager langsung menampar Sila dengan keras. “Apa kau tidak tahu dia siapa?”
“Dia asisten dari CEO NAVRA GRUP. Sedangkan yang tadi bicara untuk memecatmu, dia adalah tangan kanan dari CEO NAVARA GRUP.”
“Mana mungkin seorang asisten dan tangan kanan dari CEO itu bisa memecatku. Kecuali jika CEO itu sendiri yang bilang, maka aku akan percaya,” jawab Sila yang masih tidak percaya.
Kelvin pun dengan segera menjawab ucapan Sila, “Kau ingin, saya menelepon CEO NAVARA GRUP kan? Baik, saya akan menelepon Bos saya sekaligus CEO dari NAVARA GRUP.”
Kelvin langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon bos nya.
Tring... tring... tring....
Semua orang langsung mencari nada ponsel itu.
Xavier yang merasakan ponselnya berdering, langsung menjawabnya.
“Halo,”
Semua orang yang mendengar itu, seketika langsung tercekat.
Begitu juga dengan Sila, Bu Manager dan yang lainnya.
“Tuan, orang yang bernama Sila, orang yang sudah meremehkan Anda dan Nona Violet, tidak percaya pada ucapan saya. Dia mengatakan, jika dia hanya percaya pada apa yang diucapkan oleh Anda.”
Semua orang menatap Xavier, orang yang sudah Sila rendahkan, mendadak lemas.
Karena selama ini, orang-orang hanya tahu CEO mereka tidak pernah menampakkan diri.
Dan kini, demi Violet dan juga dirinya. Harga dirinya telah diinjak-injak oleh seorang pegawai butik yang bernaung di bawah perusahaannya, dengan tegas menghardik dirinya dan juga Violet.
Tuan X segera menjawab panggilan itu.
“Kelvin, buat loudspeaker ponselmu agar semua mendengarnya.”
“Baik, tuan.” Kelvin langsung meloudspeakerkan ponselnya.
“Dengarkan baik-baik, Sila. Mulai hari ini, kau dipecat dari NVR Boutique dan tidak akan pernah diterima di perusahaan manapun yang bernaung dalam NAVARA GRUP.”
Jedarrr...
Sila langsung terduduk lemas. Ia menatap orang sudah dirinya hina dan juga rendahkan, ternyata CEO dari NAVARA GRUP, tempat dirinya bekerja.
Dengan memohon-mohon, Sila mendekati Tuan X.
“Tuan.... tuan.... tolong jangan pecat saya... saya... tidak tahu jika Anda adalah CEO dari tempat saya bekerja,” ucapnya sambil menangis.
Violet yang baru keluar dari ruang ganti, menatap ke arah kerumunan itu.
Dengan rasa penasaran, ia menepuk pegawai yang tadi membantu membawakannya pakaian.
“Mba, ada apa ini? Kenapa dia menangis-nangis seperti itu?”
“Itu... nona... dia telah merendahkan CEO NAVARA GRUP dan juga pasangannya. Bahkan CEO itu sendiri yang mengatakan untuk memecat dia, karena Sila tidak percaya jika bukan dari CEO nya langsung,” jelas Aira, orang yang Violet tanyai.
“Memang, yang mana CEO nya?”
Dengan pandangan yang masih tidak percaya, Aira segera menunjuk orangnya.
“Itu, nona. Dia yang menggunakan topeng yang duduk di sana adalah CEO nya.”
Violet pun sambil berjinjit-jinjit untuk melihat siapa orangnya. Dan betapa terkejutnya ia, orang yang Aira tunjuk itu adalah suaminya, Xavier. Orang yang baru saja tadi bicarakan di dalam mobil.
Violet merasa kakinya langsung lemas. Xavier yang melihat Violet mulai terhuyung segera mendekati dirinya.
“Violet,”
“Ka-kamu...”
“Kita pergi dari sini sekarang,” ucapnya sambil mulai menggendong Violet dengan bridal style.
Semua orang menatap pemandangan itu. Mereka masih tidak percaya pada apa yang mereka lihat tadi.
Violet yang berada dalam gendongannya, segera tersadar.
“T-tuan... itu... sebelum pulang, ada yang ingin aku beli, penting sekali,” pinta Violet.
“Apa itu?”
“Aku.... ingin beli laptop, untuk memudahkanku mengerjakan tugas-tugas sekolahku.”
“Nanti di rumah, saya suruh Kelvin untuk mencarikannya dan nanti akan langsung dikirim ke rumah.”
“Tapi...”
“Tapi apa?” tanya Xavier sambil berjalan dengan Violet yang masih dalam gendongannya.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba perutnya berbunyi.
Krukkk...
Wajah Violet langsung memerah dan membenamkannya dalam dada Xavier.
Xavier tersenyum tipis melihatnya.
“Baiklah, kita makan dulu.”
“Bisakah, untuk menurunkanku? Aku malu karena dilihat banyak orang,” bisiknya.
Xavier seolah pura-pura tak mendengar. Ia terus berjalan hingga akhirnya memasuki sebuah restoran yang masih ada dalam mall itu.
Setelah mencari kursi yang kosong, akhirnya Violet pun langsung didudukkan di kursi. Xavier pun duduk di hadapan Violet.
Seorang pelayan langsung menghampiri meja mereka.
Sambil menyodorkan sebuah buku menu untuk mereka pilih.
Xavier pun menyerahkan terlebih dahulu pada Violet.
“Eh...”
“Kau dulu yang memesan,” ucap lembut Xavier.
“A... aku pesan Grilled Steak dan juga Mango Juice,”
Setelah memilih menunya, buku itu diserahkan kembali pada Xavier.
“Samakan dengan pesanan istri saya,” jawabnya dengan menyerahkan kembali buku menu.
“Baik, tolong ditunggu.”
Pelayan pun pergi dengan pesanan mereka.
Violet duduk dengan rasa canggungnya, sedangkan Xavier menatapnya dengan pandangan hangat.
...... To be continued ......