NovelToon NovelToon
Transmigration : Modern Life Of A Taoist Gril

Transmigration : Modern Life Of A Taoist Gril

Status: tamat
Genre:Gadis nakal / Transmigrasi / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:139.7k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.


---

CATATAN PENULIS

Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu masalah mulai terselesaikan

Begitu mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit, Luoli bahkan tak menunggu mesin benar-benar mati. Pintu mobil terbuka kasar, dan tubuhnya langsung melesat keluar.

Dengan langkah tergesa—nyaris berlari—ia menerobos udara malam yang dingin, sepatunya beradu cepat dengan lantai marmer rumah sakit. Gaunnya sedikit terangkat tertiup angin, nafasnya terengah, namun ia tak menoleh sedikit pun ke belakang.

Pikirannya hanya satu.

Ayahnya.

“Jiejie!”

Mingyu sempat memanggil, namun suara itu tenggelam oleh langkah kaki dan suara pintu otomatis yang terbuka.

Tanpa menunggu Fengyun, Qinglan, ataupun Xinyao turun dari mobil, Luoli sudah menghilang di balik pintu kaca rumah sakit.

“Ayo,” ujar Mingyu cepat.

Nada suaranya berusaha terdengar tenang, namun jemarinya gemetar saat menutup pintu mobil. Ia menelan ludah, menahan kepanikan yang perlahan merayap di dadanya, lalu berbalik menuntun Fengyun dan yang lainnya masuk ke dalam gedung.

Begitu kaki mereka menginjak lantai rumah sakit, aroma obat dan cairan antiseptik langsung menyergap hidung. Bau khas yang dingin dan menusuk itu bercampur dengan suara langkah kaki dokter, dentingan troli medis, serta panggilan perawat yang silih berganti.

Rumah sakit itu tampak sibuk—terlalu sibuk.

Lampu putih terang menyinari lorong panjang, memantulkan bayangan orang-orang yang berlalu-lalang dengan wajah tegang. Beberapa keluarga tampak duduk terdiam di bangku tunggu, sebagian lainnya mondar-mandir dengan wajah cemas.

“Ayah ada di ruang VIP,” ujar Mingyu.

Langkahnya cepat dan tegas, namun bahunya sedikit menegang. Sesekali ia mengepalkan tangan, lalu mengendurkannya lagi, berusaha menjaga ketenangan di hadapan orang lain—meski jelas kekhawatiran itu menggerogoti hatinya.

Xinyao berjalan di belakang mereka. Tatapannya menyapu lorong rumah sakit, alisnya sedikit berkerut. Aura di tempat itu membuat dadanya terasa berat, namun ia tetap diam.

Begitu mereka sampai di depan sebuah pintu bertuliskan VIP ROOM, Mingyu berhenti mendadak.

Tangannya terangkat, ragu sesaat sebelum menyentuh gagang pintu.

CEKLAK.

Pintu terbuka perlahan, engselnya berdecit lirih memecah keheningan. Udara dingin bercampur bau obat langsung menyergap indra.

Di atas ranjang rumah sakit, Tuan Lin terbaring tak sadarkan diri. Tubuh tuanya terlihat ringkih di balik selimut putih, dada naik turun sangat pelan—nyaris tak terlihat. Wajahnya pucat keabu-abuan, kerutan di wajahnya tampak semakin dalam, seolah kehidupan perlahan ditarik keluar dari raga itu.

Di sisi ranjang, Luoli terduduk lemah. Bahunya bergetar, air mata jatuh tanpa henti membasahi punggung tangannya yang menggenggam erat jemari sang ayah.

Di beberapa sudut ruangan, beberapa pengawal berdiri tegak. Wajah mereka kaku, tangan terlipat di depan tubuh, namun sorot mata mereka tak mampu menyembunyikan kegelisahan.

“Ayah…”

Tangisan Mingyu pecah begitu ia melangkah masuk. Suaranya parau, langkahnya terhuyung. Ia berlari ke sisi ranjang, berlutut di lantai dingin tanpa peduli gaunnya menyentuh lantai.

Tangannya meraih tangan sang ayah, menggenggam erat seolah takut jika dilepaskan, orang itu akan benar-benar pergi.

Sementara itu, Xinyao berhenti di ambang pintu.

Matanya menyipit.

Tanpa sepatah kata, ia mengangkat kedua tangannya. Bibirnya bergerak pelan merapal mantra kuno. Dari dalam lengan bajunya, ia mengeluarkan beberapa jimat kuning dan melemparkannya ke udara satu per satu.

Jimat-jimat itu berputar pelan, lalu menempel di dinding, pintu, dan sudut ruangan.

Wuuusss—

Udara di ruangan itu bergetar. Aura hitam yang sebelumnya menyelimuti ruangan perlahan bergetar, menggeliat seperti makhluk hidup yang terusik, lalu mulai menipis… menguap… dan menghilang sedikit demi sedikit.

Xinyao melangkah maju dengan langkah ringan namun pasti.

Ia berdiri di samping ranjang, menunduk menatap wajah Tuan Lin. Wajah tua itu tampak semakin pucat. Bibirnya kebiruan, dan di bawah kulit yang mengendur, denyut kehidupan terasa sangat lemah—seperti nyala lilin yang hampir padam.

Xinyao menarik napas pelan.

“Gu pemakan hati…” gumamnya.

Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun cukup jelas terdengar oleh Luoli.

Luoli tertegun. Tangisnya tertahan, kepalanya terangkat perlahan.

“Gu pemakan hati?” tanyanya lirih. Alisnya berkerut, kebingungan dan ketakutan bercampur di wajahnya.

Mingyu terkesiap.

Ia bangkit berdiri, napasnya memburu.

“Aku… aku sedikit tahu tentang gu,” ujarnya tegang. “Tapi guru spiritual ayah… dia tidak pernah mengatakan ayah terkena gu.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Hening.

Tatapan Xinyao mengeras. Bibirnya melengkung tipis—bukan senyum, melainkan garis datar penuh makna.

“Kalau begitu,” ucapnya ringan, nyaris terlalu tenang,

“guru spiritual itu justru orang pertama yang perlu dicurigai.”

Luoli dan Mingyu saling pandang. Jantung mereka berdetak semakin cepat.

Xinyao mengeluarkan sebuah kantong kain kecil dari balik bajunya. Tangannya bergerak terampil, membuka simpulnya sedikit demi sedikit.

Dari dalam kantong itu, terdengar suara sesuatu yang bergerak…

berdenyut…

dan menggeram pelan.

Xinyao menatap Tuan Lin sekali lagi.

“Gu ini,” ujarnya pelan, “tidak hanya ingin nyawanya.”

Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap dua kakak beradik itu satu per satu.

“Dia juga ingin mengikat keluarga Lin selamanya.”

Tangannya terhenti di udara.

Di dalam kantong kain itu, sesuatu menggeliat semakin keras.

Dan tepat saat Xinyao hendak membuka simpul terakhir—

Lampu ruangan tiba-tiba berkedip.

Gelap.

Seketika.

Lampu ruangan kembali menyala, namun cahayanya terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Udara di ruang VIP itu tiba-tiba menjadi berat, seolah ada sesuatu yang menekan dada setiap orang yang berada di dalamnya.

Xinyao berdiri tegak di sisi ranjang.

Matanya menggelap—bukan karena marah, melainkan karena fokus absolut.

“Mulai sekarang,” ucapnya pelan namun tegas, “tidak boleh ada yang menyentuh Tuan Lin. Apa pun yang terjadi… jangan panik.”

Luoli refleks menggenggam ujung baju Mingyu. Kuku jarinya menekan kuat, sampai jemarinya memutih.

Xinyao membuka simpul terakhir kantong kain itu.

Ssskkrrtt—

Suara gesekan terdengar, diikuti denyut aneh seperti jantung kecil yang berdetak dari dalam kantong.

Ia mengeluarkan sebuah wadah giok kecil. Permukaannya bening, namun di dalamnya tampak cairan hitam berputar perlahan, seperti asap yang hidup.

“Gu pemakan hati,” gumam Xinyao. “Licik, rakus… dan sangat takut pada cahaya jiwa.”

Ia menempelkan wadah giok itu di atas dada Tuan Lin—tepat di atas jantung.

DUUK.

Tubuh Tuan Lin mendadak menegang.

Punggungnya melengkung, jari-jarinya mencengkeram seprai dengan kekuatan yang tak seharusnya dimiliki orang tak sadar.

“AYAH—!” teriak Mingyu, nyaris menerobos maju.

“Jangan bergerak!” bentak Xinyao tajam tanpa menoleh.

Seketika Mingyu membeku di tempat.

Dari bawah kulit dada Tuan Lin, muncul bayangan hitam yang bergerak—merayap… menggeliat… seperti sesuatu yang mencoba melarikan diri dari dalam tubuhnya.

Tuan Lin tersentak keras.

Mulutnya terbuka lebar, namun tak ada suara yang keluar. Hanya napas kasar dan tercekik.

Xinyao mengangkat tangannya, jari-jarinya membentuk segel rumit.

“Keluar,” ucapnya dingin.

“Ini bukan tubuhmu.”

WUUUSSS—

Jimat-jimat di dinding menyala bersamaan. Cahaya kuning keemasan membentuk lingkaran tipis di sekitar ranjang.

Bayangan hitam itu memberontak.

Tiba-tiba, dari mulut Tuan Lin merembes cairan hitam pekat, jatuh menetes ke seprai putih—kontras, mengerikan.

Luoli menutup mulutnya, tubuhnya gemetar hebat.

“Ya Tuhan…” bisiknya.

Bayangan itu bergerak naik.

Leher Tuan Lin menegang, urat-uratnya menonjol seperti akan pecah. Dari balik kulitnya, tampak sesuatu bergerak menuju tenggorokan.

Gu itu berusaha keluar.

Namun belum sepenuhnya.

Xinyao menggigit ujung jarinya sendiri hingga darah segar keluar. Dengan cepat ia menggambar simbol darah di udara.

“Dengan darah roh, aku perintahkan—”

“Keluar sekarang!”

Ia menepukkan tangannya ke dada Tuan Lin.

BUUK!

Tubuh Tuan Lin terangkat sedikit dari ranjang—lalu jatuh kembali.

Dari mulutnya, sesuatu meluncur keluar.

Hitam. Panjang. Licin.

Makhluk itu menggeliat di udara sebelum jatuh ke dalam wadah giok, menghantam dindingnya dengan suara duk—duk—duk seperti makhluk terkurung yang mengamuk.

Gu itu menjerit.

Bukan suara biasa—melainkan jeritan yang langsung menusuk ke dalam kepala, membuat siapa pun yang mendengarnya pusing dan mual.

Mingyu jatuh terduduk.

Pengawal-pengawal di sudut ruangan spontan mundur setapak.

Xinyao segera menutup wadah giok itu dengan segel jimat, menekannya kuat-kuat hingga cahaya menyala terang.

Hening.

Napas Tuan Lin mulai kembali teratur.

Warna pucat di wajahnya perlahan memudar, digantikan rona kehidupan yang samar.

Namun Xinyao tidak tersenyum.

Justru wajahnya semakin serius.

Ia menatap wadah giok di tangannya.

“Ini belum selesai…” gumamnya pelan.

Luoli mengangkat kepala dengan panik.

“Apa maksudmu?”

Xinyao menoleh perlahan, sorot matanya tajam dan dingin.

“Gu ini,” katanya lirih,

“bukan ditanam untuk membunuh cepat.”

Ia mengencangkan genggaman.

“Dia ditanam untuk menyiksa perlahan… dan orang yang menanamnya—”

Gu di dalam wadah mengguncang keras, seolah merespons.

Xinyao melanjutkan dengan suara rendah namun menggetarkan.

“—masih sangat dekat dengan keluarga Lin.”

Bersambung 🥂

1
yrputri
oooh ke sini rupanya ya/Hey/
yrputri
Xinyao mau kemana ya... hmmm
yrputri
semangat🤭
>AY<
ming xuelin, lin yuyu, li yiyu ini siapa? ko aku lupa
Xlyzy: Yao yao asli adalah seorang reinkarnator dia akan terus bereinkarnasi jika kehidupan nya berakhir buruk dan ming xuelin, Lin Yuyu, Li yiyu adalah Yao Yao asli yang terus bereinkarnasi hingga akhirnya berakhir menjadi cangli

( Yao Yao terus terlahir kembali dengan metode kembali menjadi bayi baru kali ini Yao Yao reinkarnasi ke tubuh orang lain dengan ingatan masa lalu yang utuh)

siklus ini akan terus berlanjut hingga Yao Yao bisa hidup bahagia hingga tua tanpa penderitaan
total 1 replies
>AY<
apaan tuh
>AY<
🤣🤣🤣
>AY<
ya ampun, ngakak sekali akutuh🤣
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Sri rahayu
selama masih ada Yao Yao kejahatan apapun dapat di berantas sampe tuntas walaupun itu penjahat keluarga sendiri .tunggu kehancuranmu keluarga zang ,zangkrik
Sri rahayu
yao yao udah di anggap menantu cuy jadi jangan coba" mempengaruhi mertuanya ga mempan 😁😁😁
Miu.Nuha
berhasil sembuh sang nenek,
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
Miu.Nuha
apa nenek kena guna2 🤔
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
Miu.Nuha
kalo udah dikasih tahu begini kan akhirnya tahu dn jdi termotivasi. terima kasih dewa langit ❤
Miu.Nuha
yaa semoga xinyao berhasil supaya penderitaan changli berakhir dn bisa hidup damai. gkpapa kan ya kalo xinyao kembali ke negeri dewa 😌🤭
Miu.Nuha
padahal udah berapa kali reinkarnasi ya? kasihaann kalo harus malang terus nasibny 🤧
Miu.Nuha
aamiinn 😌😌
Miu.Nuha
waduh diramal nih...
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
Miu.Nuha
sama2 punya adik yg deket sama xinyao ya, tpi tetep menang fengyun lah 😅
Miu.Nuha
dikutuk lu kek malin kundang 😅
selamany aja deh kek gitu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!