Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Bayangan Dalam Sekolah
Hujan pagi mereda, menyisakan jalanan yang basah dan dingin. Suasana sekolah Emerald tampak lebih sunyi daripada biasanya. Para siswa berjalan masuk dengan wajah tegang, membicarakan kejadian aneh semalam yang beredar sebagai rumor ledakan di gedung atap, suara gemuruh di tengah hujan, dan helikopter yang terdengar lewat beberapa kali. Karena rumahnya kacau pasca ledakan, Kenji tetap dipaksa Kazuma beristirahat di rumah. Namun begitu Kazuma keluar untuk “urusan penting”, Kenji langsung mengambil hoodie gelap, menutupi luka di bahunya, dan memaksa dirinya pergi ke sekolah.
Napasnya berat setiap kali melangkah. Tubuhnya belum pulih, tapi pikirannya tidak membiarkan dia berdiam diri. Ryuga dan Whisperer mereka bertarung di kamarku. Apa Ayah benar-benar datang waktu itu? Atau sebuah suara itu hanya halusinasi karena gas? Setelah malam kacau itu, ia tidak menemukan Ryuga atau sosok bertopeng tersebut. Hanya bau asap, kaca pecah, dan kalung mamanya tersisa di lantai. Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan gerbang Emerald. Beberapa siswa yang melihat Kenji langsung berbisik ketakutan.
“Itu Kenji Kazuma?” Salah satu siswa berbisik kepada teman disampingnya.
“Dengar-dengar dia jatuh di tangga, tapi kok kayak habis berkelahi?” balas bisik kepada siswa tersebut.
“Seram banget tatapan matanya hari ini.” Kenji tak menggubris mereka.
Namun sorot matanya tetap tertuju ke arah gedung sekolah yang masih mengeluarkan sedikit asap dari lantai atas. Pasti ada yang disembunyikan, di dalam kelas, Yuto dan Akira langsung berdiri begitu melihat Kenji masuk.
“K-kenji! Kau dari mana?! Kenapa hilang?! Kami pikir kau—” Kenji hanya mengangkat tangannya lemah, meminta mereka untuk tidak ribut.
Mira bangkit dari kursinya, wajahnya pucat. “Kenji … kau baik-baik saja? Luka di bahumu—”
Kenji memalingkan wajah. Ia tidak ingin orang lain melihat kelemahannya. Melihat keadaan Kenji membuat Yuto, Akira dan Mira semakin khawatir dengan kondisinya, terlebih lagi melihat keadaan Kenji yang penuh luka.
“Bisakah kalian bertiga diam dulu?” katanya lirih dan tajam.
Yuto dan Akira langsung bungkam. Terlebih mendengar perkataan yang keluar dari mulut Kenji.
Mira menunduk. “Maaf … kami hanya—”
“Tadi pagi ada polisi di pintu sekolah.” Akira akhirnya bersuara. “Mereka bilang ada kecelakaan kecil semalam. Tetapi tidak ada yang merasa itu kecil.”
Yuto menambahkan, “Dan … kepala sekolah bilang gedung atap ditutup selama seminggu. Katanya karena perbaikan struktur.”
Kenji menahan napas. Kecelakaan? Perbaikan? Ledakan sebesar itu disebut kecelakaan? Ada yang jelas-jelas menutupi sesuatu. Belum sempat Kenji menjawab, pintu kelas terbuka.
Ren Hirano berdiri di sana. Kenji dan Ren sama-sama terpaku. Mereka belum berbicara sejak kejadian di atap. Ren tampak lebih pucat dari biasanya, matanya cekung seperti habis tidak tidur semalam.
Mira menelan ludah. “Ren-kun?”
Ren berjalan mendekati Kenji. “Kenji. Kita harus bicara.”
Kenji berdiri perlahan, tubuhnya sedikit gemetar menahan nyeri. “Kalau soal semalam, aku tidak—”
“Bukan itu,” potong Ren dengan suara lemah.
“Kau harus ikut aku. Sekarang,” ajak Ren.
Mira hendak menahan Kenji, “Tidak! Kenji belum pulih. Kau tidak bisa—”
Ren memandang Mira, sorotnya bukan ancaman, tetapi ketakutan. “Ini untuk keselamatan kalian juga.”
Mira terdiam. Yuto gelisah. “Kenji … apa kau yakin?”
Kenji menghela napas berat. “Kalau aku tidak ikut, aku tidak akan dapat jawabannya. Dan aku … sudah muak dibohongi.”
Kenji mengikuti Ren keluar kelas.Tetapi ia tidak sadar bahwa seseorang di luar kelas sedang memperhatikan mereka melalui kaca, ada seorang siswa laki-laki berbadan kecil, memakai kacamata tebal. Ketika Kenji melihat bayangannya, ia buru-buru menghilang di sudut lorong.
Kenji memperlambat langkahnya. “Ren … ada yang memata-matai kita.”
Ren tidak menoleh. “Aku tahu.”
“Siapa dia?” tanya Kenji.
Ren menjawab dengan suara rendah. “Anak itu bukan siswa biasa. Dia orang Takatori.”
Kenji hampir berhenti berjalan. “Apa?!”
Ren menatapnya sekilas. “Kau pikir hanya keluarga Kazuma dan Hirano yang memperhatikanmu? Kau sudah berada di tengah perang tiga keluarga sejak lahir, Kenji.”
Suasana lorong terasa lebih dingin. Ren membawa Kenji ke ruang klub lama di lantai dua. Ruangan itu sudah lama kosong, dipenuhi meja bekas dan lemari tua berdebu. Ren mengunci pintu.
Kenji mulai tidak nyaman. “Oke. Sekarang jelaskan.”
Ren memijat pelipisnya. “Ryuga … dia tidak bohong. Dia memang pewaris pertama Hirano.”
Kenji terdiam, dan Ren melanjutkan, “Dan dia benar soal Whisperer. Seseorang dengan nama itu pernah menghancurkan keluarga kami dari dalam. Dia … bukan legenda.”
Kenji menggertakkan gigi. “Lalu apa hubungannya dengan Mamaku? Kenapa namanya selalu dikaitkan dengan kematian Mamaku?”
Ren menarik napas panjang. “Karena … Whisperer adalah orang yang menyebarkan informasi palsu tentang pengkhianat. Dia membuat tiga keluarga saling membunuh.”
“Tapi alasan dia melakukan itu … cuma diketahui oleh satu orang.” Ren menatap Kenji dalam-dalam.
“Ryuga.” Sebelum Kenji sempat bertanya lagi
Terdengar sebuah suara dari luar pintu. Ren langsung mendekat dan menempelkan telinganya ke kayu.
“Ada orang di luar,” bisiknya.
Kenji mendekati dan memperhatikan celah kecil di bawah pintu. Sepasang kaki berdiri di sana. Kecil. Kurus. Bergoyang gugup.
“Siswa tadi …” gumam Kenji.
Ren membuka pintu dengan cepat. Anak itu tersentak dan menjatuhkan sesuatu bros kecil bergambar simbol huruf T berwarna merah, sama seperti yang dipakai sosok bertopeng semalam. Kenji langsung pucat.
Ren menahan anak itu agar tidak lari. “Kenapa kau mengikuti ?!”
Anak itu menangis kecil. “Ak-aku tidak aku hanya—”
Kenji mengambil bros itu dan menatapnya. “Simbol Takatori …”
Anak itu terdiam. Ketakutan makin terlihat jelas. Kenji dan Ren langsung menghampiri anak tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Kenji.
Anak itu menggigit bibir, tidak berani bicara. Ren mengangkat tangannya seolah hendak mengancam, tapi Kenji menahannya.
“Jangan pakai kekerasan. Dia cuma anak-anak.” Kenji menunduk, menatap anak itu lembut. “Kalau kau tidak mau bicara … setidaknya katakan ini kau memata-matai kami karena aku, atau karena Ren?”
Anak itu terdiam lama, lalu akhirnya ia bergumam lirih.”Kau—”
Kenji merasakan bulu kuduknya berdiri. Ren memucat. Mereka menjadi penasaran dengan apa yang dimaksud dengan anak tersebut
Kenji bertanya lagi. “Kenapa aku?”
Anak itu mengeluarkan sebuah kertas kecil dari sakunya, menjatuhkannya, lalu lari terbirit-birit sebelum Ren sempat menahan. Kenji mengambil kertas itu, tulisan di atasnya membuat jantungnya seolah berhenti.
“Jangan percaya Kazuma. Jangan percaya Hirano. Jangan percaya siapapun. Kebenaran ada di rumah yang terbakar.”
Ren membaca di belakang Kenji. “Rumah yang terbakar itu rumah Mamamu, kan?”
“Ya” jawab Kenji.
Namun ada hal yang lebih mengerikan.Tulisan itu, adalah tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tulisan yang identik dengan tulisan di buku harian mamanya. Kenji mematung, dan ia sulit bernafas.
“Bagaimana … tulisan Mama bisa muncul sekarang?” Ren menatap Kenji, wajahnya berubah pias.
“Kecuali … seseorang yang dekat dengan Mamamu masih hidup,” tambah Ren.
Saat mereka hendak keluar dari ruangan Brakk! Seseorang menendang pintu dari luar dengan keras. Pintu hampir copot dari engselnya. Kenji mundur dua langkah, napasnya memburu. Ren menyiapkan posisi bertahan, dan dari balik pintu itu, terdengar suara berat yang penuh amarah.
“Kenji! Keluar! ” teriak Orang tersebut
Itu suara Kazuma, dan dari nada bicaranya bukan seperti ayah yang ia kenal. Suara itu terdengar seperti seseorang yang kehilangan kendali, atau seperti seseorang yang terlalu takut rahasianya terbongkar. Kenji menatap Ren, ia hanya menggeleng, dengan wajahnya tegang.
“Jangan buka,” katanya lirih.
“Itu bukan suara Papamu yang biasa,” tambah Ren.
Pintu kembali ditendang keras, retakannya melebar. Tampak seseorang mirip Kazuma atau seseorang yang menirukan suaranya berteriak lebih keras.
“Kenji! Sekarang!” Kenji memegang bros Takatori dan catatan tulisan mamanya.
Di dalam dadanya tumbuh sebuah ketakutan yang jauh lebih besar. Jika itu benar Kazuma … kenapa ia begitu panik saat Kenji menemukan tulisan mama?