NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Serangan Bandit

Udara malam semakin pekat, kabut tipis bergelayut di antara rumpun bambu yang menjulang tinggi. Bau amis darah bercampur dengan aroma tanah basah menyesakkan dada, seolah-olah hutan itu sendiri berubah menjadi medan kematian. Daun bambu yang basah oleh hujan senja tadi masih meneteskan air, tapi warna yang menodai tanah sudah bukan sekadar sisa hujan—melainkan merah pekat darah yang mengalir deras.

Lin Feng masih terdiam kaku. Hatinya berdegup begitu kencang ketika ia menyadari betapa dekatnya ia dengan kematian beberapa saat lalu. Ujung pedang bandit nyaris menembus dadanya, kalau bukan karena satu sosok yang muncul di hadapannya.

Yunhai.

Tubuh jangkungnya berdiri tegak di tengah gelapnya malam, jubah biru tua yang ia kenakan berkibar perlahan tertiup angin dingin. Pandangannya dingin, setajam kilatan baja. Dengan satu gerakan ringan, ia telah menghentikan pedang bandit yang seharusnya mengoyak tubuh Lin Feng.

“Pergilah ke belakang,” suara Yunhai datar, nyaris tanpa emosi.

Lin Feng hanya bisa mengangguk dengan wajah pucat, melangkah mundur ke samping Mei Xue dan Zhao Liang yang sama-sama tertegun melihat kedatangan guru mereka.

Bandit yang pedangnya terpental menelan ludah, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia tidak tahu bagaimana bisa pedangnya yang sudah hampir mengenai sasaran kini terpental begitu saja. Yunhai hanya menatapnya sebentar, lalu… crack!—suara tulang patah terdengar. Lengan bandit itu hancur seketika sebelum tubuhnya terlempar menghantam rumpun bambu, tak lagi bergerak.

Sunyi.

Beberapa bandit lain yang sebelumnya masih tertawa kasar kini terpaku, wajah mereka berubah pucat.

“G–Guru mereka datang…” salah satu bandit berbisik.

Tapi sebelum mereka sempat bergerak, Yunhai sudah melangkah maju. Gerakannya sederhana, namun setiap kali ia mengayunkan tangannya, jeritan terdengar. Leher terpenggal, dada ditembus, kepala pecah. Dalam sekejap, bandit-bandit yang semula begitu bernafsu membunuh para murid kini bergelimpangan tak bernyawa.

Murid-murid hanya bisa menatap dengan wajah pucat. Pedang mereka masih berlumur darah dari pertempuran sebelumnya, tapi apa yang dilakukan Yunhai terasa jauh berbeda. Tidak ada keraguan, tidak ada ragu dalam gerakan gurunya. Semua bandit yang mendekat langsung mati, seolah nyawa mereka hanyalah nyala lilin kecil yang dipadamkan begitu saja.

Mei Xue menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan mual. Zhao Liang yang biasanya berani kini gemetar, sementara tiga murid lain langsung terduduk dengan wajah ketakutan.

Lin Feng menatap lekat-lekat sosok gurunya. Ada kekaguman, ada kelegaan, tapi juga ketakutan. Apa yang baru saja ia saksikan bukanlah pertarungan, melainkan pembantaian.

Namun Yunhai tidak berhenti di situ. Setelah menebas bandit terakhir dari kelompok awal, ia berdiri tegak, tatapannya menelusuri hutan bambu.

“Keluar,” ucapnya dingin, suaranya menggema di antara kabut malam.

Sunyi beberapa saat, hingga terdengar suara langkah berat dari kejauhan. Dari balik kegelapan, muncul belasan sosok lain. Mereka bukan bandit biasa; tubuh mereka lebih kekar, wajah penuh luka, dan sorot mata lebih tajam. Senjata yang mereka bawa pun bukan sekadar pedang karatan, melainkan tombak, kapak besar, bahkan rantai berduri.

Di tengah mereka, seorang pria tinggi dengan bekas luka panjang di wajah melangkah maju. Tatapannya penuh kebencian.

“Kau yang membunuh anak buahku?” suaranya serak namun bertenaga.

Yunhai menatapnya tanpa gentar. “Jika mereka memilih jalan menjadi bandit, mereka sudah menyerahkan hidup mereka sejak awal.”

Pria itu tertawa keras, tapi tawanya penuh amarah. “Sombong sekali! Kau pikir hanya karena bisa membunuh beberapa sampah rendahan, kau bisa meremehkan kami?” Ia mengangkat kapak besarnya, lalu menunjuk Yunhai. “Serang! Bunuh mereka semua! Hanya sisakan bocah-bocah itu—akan kujadikan budak di sarang bandit kita!”

Teriakan itu menjadi aba-aba. Bandit-bandit yang lebih kuat segera menyerbu.

Yunhai tidak langsung bergerak. Ia menoleh ke arah murid-muridnya yang masih pucat ketakutan. “Ingat baik-baik. Dunia ini bukan tempat bagi mereka yang lemah. Kalian ingin bertahan? Maka hadapilah. Pedang di tanganmu bukan untuk hiasan, tapi untuk melindungi hidupmu sendiri.”

Lin Feng tertegun. Ucapan itu menusuk langsung ke dalam hatinya.

“Lin Feng, Zhao Liang, Mei Xue, dan kalian bertiga,” lanjut Yunhai dingin. “Aku akan membiarkan kalian merasakan apa artinya menghadapi lawan yang benar-benar ingin membunuhmu. Jika kalian mundur, jika kalian takut… maka lebih baik kalian mati di sini.”

Kata-kata itu membuat tubuh mereka bergetar. Namun Yunhai tidak memberi mereka waktu lebih lama. Ia melangkah maju menghadang pemimpin bandit, sementara para murid harus berhadapan dengan anak buahnya yang lain.

Pertarungan kembali pecah.

Lin Feng menggertakkan giginya, lalu menghunus pedangnya. Bandit tinggi besar dengan rantai berduri menerjang ke arahnya, rantai berdesing ganas di udara. Lin Feng menangkis dengan sekuat tenaga, percikan api muncul saat besi beradu. Tangannya terasa sakit, tapi ia tidak boleh menyerah.

Mei Xue, dengan mata penuh ketakutan, mengangkat pedangnya menghadapi bandit bertombak. Gerakannya kaku, namun ia berusaha mengingat teknik dasar yang diajarkan Yunhai. Han Qiang, meski gemetar, meneriakkan teriakannya sendiri untuk menutupi rasa takut.

Jeritan, dentingan senjata, dan darah kembali mewarnai malam itu.

Yunhai, di sisi lain, menghadapi pemimpin bandit dengan dingin. Kapak besar berputar, membelah udara, namun Yunhai hanya menggeser kakinya sedikit, menghindar dengan mudah. Dalam sekejap, telapak tangannya menghantam dada lawannya. Tubuh besar itu terlempar, menghantam rumpun bambu hingga batang-batangnya patah berderak.

Namun ia tidak langsung membunuh pria itu. Yunhai sengaja menahan diri, memberi kesempatan murid-muridnya merasakan pertarungan hidup-mati.

“Lihatlah,” suara Yunhai bergema di tengah hiruk-pikuk. “Inilah dunia nyata. Tidak ada belas kasihan, tidak ada ampunan. Yang lemah… hanya akan menjadi korban.”

Lin Feng hampir terjatuh ketika rantai bandit melilit lengannya. Rasa sakit membuatnya ingin berteriak. Namun pada saat itulah, sesuatu dalam dirinya bergetar. Wajah gurunya yang dingin, suara bandit yang kasar, bau darah yang menusuk hidung… semua menyatu.

Ia meraung, memutar pedangnya dengan tenaga terakhir. Rantai terlepas, dan dengan gerakan refleks, ia menebas leher bandit itu.

Darah muncrat membasahi wajahnya. Lin Feng terdiam. Tangannya gemetar, matanya melebar. Itu… itu adalah nyawa pertama yang ia habisi dengan tangannya sendiri.

Di sisi lain, Mei Xue berhasil melukai tangan lawannya, meski wajahnya penuh air mata. Han Qiang menjerit marah sambil menusuk lawannya dengan nekat.

Akhirnya, setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, hampir semua bandit tumbang. Pemimpin mereka, dengan dada berlumuran darah akibat hantaman Yunhai, mencoba bangkit sekali lagi.

Namun Yunhai hanya mengibaskan tangannya. Slash! Kepala pria itu terpisah dari tubuhnya, berguling di tanah, matanya masih melotot.

Sunyi kembali menyelimuti hutan bambu.

Tubuh-tubuh bandit bergelimpangan di mana-mana, darah mengalir seperti sungai kecil di tanah yang basah. Daun bambu bergetar pelan tertiup angin, seolah menangisi jiwa-jiwa yang melayang malam itu.

Murid-murid terdiam. Mei Xue jatuh terduduk, air matanya mengalir. Zhao Liang terengah-engah, pedangnya bergetar di tangan. Tiga murid lain langsung muntah di tanah, tak sanggup menahan mual.

Lin Feng berdiri terpaku. Pedangnya masih meneteskan darah, wajahnya pucat pasi. Hatinya bergejolak. Ia ingin bangga karena berhasil bertahan, tapi di balik itu ada rasa takut yang begitu dalam. Bayangan wajah bandit yang ia bunuh tadi terus muncul di benaknya.

Yunhai menatap mereka satu per satu. Tatapannya tidak menunjukkan belas kasihan, hanya ketegasan. “Ingatlah malam ini. Dunia kultivasi bukan tempat bermain. Jika kalian ingin bertahan hidup, kalian harus berani mengotori tangan dengan darah. Itulah harga dari jalan yang kalian pilih.”

Ia berbalik, melangkah perlahan meninggalkan tumpukan mayat. “Kumpulkan kembali tenaga kalian. Kita belum selesai.”

Murid-murid hanya bisa saling menatap dengan wajah pucat. Dalam hati masing-masing, ketakutan itu mulai berakar.

Dan di antara mereka, Lin Feng merasakan hatinya bergetar hebat. Bayangan darah, jeritan bandit, dan tatapan kosong dari mata yang kehilangan nyawa… semuanya menempel di benaknya.

Malam itu, di hutan bambu yang sunyi, Lin Feng untuk pertama kalinya benar-benar menyadari—ia takut.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!