INGRID: Crisantemo Blu💙
Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Denaro
"Seseorang meletakkan ini di dalam tasku saat di toilet." Ingrid memberikan kertas tadi pada Frenzzio.
"Siapa?" kata Frenzzio saat membaca tulisan di kertas itu.
"Ya, aku pergi ke sana untuk mencari tahu siapa pelakunya melalui kamera pengawas. Tapi, kamera itu rusak."
Frenzzio mengembalikan kertas itu pada Ingrid. "Untuk saat ini, abaikan saja. Jika ini terjadi lagi, baru kita akan mencari tahu."
Dengan berat hati Ingrid mengangguk, lagi pula dia tak punya petunjuk lain.
"Frenzzio?"
"Hm."
"Apa kau sibuk setelah sekolah?."
"Tidak, kenapa?"
"Aku butuh bantuanmu." Ingrid tersenyum manis.
...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...
"Kau yakin?"
"Ya, kau bisa membeli semua yang kau mau. Aku yang akan membayar."
"Wow, ada apa ini? Kemarin saat kita berbelanja, kau yang paling tidak berminat. Sekarang kau justru seperti sangat ingin menghambur-hamburkan uang."
"Ya, aku anggap saja begitu. Bagaimana? Kau ingin ikut denganku?" rayu Ingrid.
"Baiklah, jika kau memaksa. Berjanjilah dahulu jika kau tidak akan menyesal karena telah membawaku." Kedua gadis itu tertawa.
"Baiklah, aku berjanji. Sebentar." Ingrid mengangkat telponnya yang berdering.
"Aku sudah di mobil, kemarilah." Suara Frenzzio terdengar dari seberang telpon.
"Aku datang, tunggu sebentar." Ingrid menyudahi panggilannya. "Ayo!" Elsa mengangguk, keduanya pun pergi menuju Frenzzio.
Setelah sampai di halaman sekolah, kedua alis Ingrid berkerut melihat ada Hen yang tengah berbicara dengan Frenzzio. Sedang ada Hen di sini? Ingrid dan Elsa mendekat.
"Hai, Hen," sapa Ingrid.
Hen mengangguk sekali, "Nona."
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada, Nona." Ingrid mengangguk antara percaya dan tak percaya.
"Ayo, berangkat. Elsa akan pergi bersama kita."
"Dia pergi bersama Hen," Ujar Frenzzio.
"Apa? Tidak, dia akan satu mobil dengan kita. Dia temanku."
"Tidak."
"Tapi apa masalahnya?"
"Aku tidak suka orang asing di mobilku."
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan ikut bersama Hen juga."
"Kau bersamaku."
"Tidak."
"Denganku atau tidak sama sekali," tekan Frenzzio.
"Elsa atau tidak sama sekali," balas Ingrid dengan sengit.
"Ingrid, tidak masalah, aku akan pergi dengannya."
"Tidak bisa seperti itu. Aku akan pergi bersamamu."
"Ini bukan masalah sama sekali, kau tidak perlu bertengkar hanya karenaku."
"Kau yakin?"
"Ya, pergilah."
Ingrid melirik Frenzzio yang bertampang datar dengan sengit. Kemudian masuk ke mobil sambil memberi sumpah serapah pada Frenzzio di dalam hati.
Frenzzio masuk ke mobil, begitu pula Elsa dan Hen.
"Kau merusak suasana hatiku," ungkap Ingrid sambil melirik Frenzzio yang fokus menyetir.
"Aku tahu."
"Kau tahu, tapi tetap bersikeras." Ingrid melihat pantulan kaca spion. Ada beberapa mobil lagi yang mengikuti mereka, selain mobil yang dikendarai Hen. "Apa kau yang membawa mereka?"
Frenzzio ikut melirik ke spion. "Hm."
"Ada apa denganmu Frenzzio? Sepertinya suasana hatimu jauh lebih buruk dariku. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada."
"Kau berbohong." Frenzzio tidak menjawab.
"Kau makan malam dengan Giorgio kemarin. Apa yang kalian bicarakan?" alih Frenzzio.
"Tidak ada yang penting, makan malam itu juga berakhir buruk. Mari lupakan untuk membuatku berpura-pura bersikap manis dengannya. Aku tidak bisa."
"Hm."
Reaksi singkat Frenzzio membuat Ingrid semakin curiga jika telah terjadi sesuatu. "Frenzzio, ceritakan padaku apa yang menganggumu."
"Tidak ada." Dia kembali menjawab singkat.
"Aku tahu kau berbohong. Katakan padaku."
"SUDAH KUKATAKAN, TIDAK ADA!" bentak Frenzzio sambil memukul keras setir yang ia pegang.
Ingrid terkejut, tidak mengira akan mendapat reaksi seperti itu. Dia memilih tak lagi bicara.
Frenzzio menyadari perbuatannya. Dia menghembuskan nafas lelah. Menatap Ingrid yang duduk sampingnya dengan teduh. "Maaf."
Ingrid membalas tatapan laki-laki di sebelahnya disertai senyuman tipis. "Tidak apa-apa."
"Kau bisa pergi setelah mengantarku, jika kau mau."
Frenzzio menggeleng. "Aku tetap bersamamu."
Mereka tiba di pusat perbelanjaan. Ingrid dan Elsa, memasuki gedung besar itu dengan bersemangat. Di belakang mereka Frenzzio, Hen, bersama para pengawal, mengikuti mereka di belakang.
Ingrid dan Elsa menjelajahi satu-persatu toko, membeli semua yang mereka sukai. Baju, Sepatu, mereka membeli segalanya.
Frenzzio dan para bawahannya direpotkan oleh kedua gadis itu, dengan harus membawa semua hasil belanja mereka.
"Kau senang?"
"Senang? Ini luar biasa! Aku sangat iri padamu," Jawab Elsa saat tengah mengoles lipstik di bibirnya.
"Iri? Itu kata yang berbahaya." Keduanya tertawa.
"Kau tahu, ini pertama kalinya aku memiliki teman wanita yang dekat seperti ini."
"Benarkah? Jadi selama ini dengan siapa kau bergaul?"
"Aku memiliki satu teman baik, tapi dia laki-laki."
"Ow, teman atau cinta?" Elsa memainkan alisnya.
Ingrid tersipu. "Hanya teman. Ya, benar, Aku menyukainya. Tapi, aku tidak tahu perasaannya padaku.
"Jika nanti kau bertemu dengannya, kau harus segera mengungkapkan perasaanmu. Jikapun ia menolak, setidaknya kau tahu apakah kau harus mempertahankan perasaanmu atau menghapusnya. Beban di hatimu juga akan berkurang."
"Mungkin kau benar." Ingrid setuju pada pada Elsa.
Elsa mendekatkan dirinya pada Ingrid, lalu berbisik, "lalu bagaimana dengannya?" memberi kode untuk melihat ke Frenzzio. "Kau masih berhutang penjelasan padaku, kau lupa?"
"Dia? Dia saudaraku."
"APA?!" Elsa Hampir berteriak.
"Dia dan Marcello, mereka adalah saudara kembarku."
"Bagaimana bisa? Bukankah awalnya kau tidak mengenal mereka? Bagaimana bisa jadi seperti ini?
"Cerita yang sangat panjang, orang tua kami berpisah saat kami masih anak-anak. Aku baru bertemu mereka, sekarang." Alasan klasik palsu demi menghindari sesuatu yang tidak perlu diceritakan menurut Ingrid.
"Astaga, ini benar-benar mengguncangku. Pantas saja kau sanggup membayar semua ini. Kau Constanzo." ujar gadis berambut coklat itu dramatis.
Ingrid tertawa kecil, "Sudah, ayo nikmati waktu berbelanja kita."
...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...
"Letakkan semuanya di kamarku," titah Ingrid kepada para pelayan dan pengawal yang membawa barang-barangnya.
Vesa dan Vilia datang mendekat, karena penasaran dengan keributan yang ditimbulkan gadis satu-satunya di kediaman Constanzo itu.
"Apa semua ini?" tanya Vesa seraya memperhatikan berbagai tas-tas dan kotak belanja yang henti di bawa.
"Seperti yang kau perintahkan, Bibi. Aku menggunakan kartu-kartu yang ayahku berikan. Aku menggunakannya dengan baik, bukan?"
Vesa Ingin berkata sesuatu, tapi dia urungkan. Pada akhirnya di hanya bilang, "Bagus." dengan Enggan. Kemudian pergi dari sana, dengan masih tak habis pikir dengan yang di lakukan putri bungsu keluarga Constanzo tersebut.
"Kau menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna seperti ini. Apa yang salah denganmu!" hardik Vilia.
"Ibuku tersayang, hal terbaik tentang Constanzo adalah uang, aku tengah menikmatinya. Aku berhak melakukan ini. Di mana ayahku itu? Aku ingin mobil baru."
Vilia mencengkeram pergelangan tangan Ingrid. "Cukup!"
Ingrid menyentak tangan Vilia. "Aku bukan lagi gadis kecil yang diam saja saat kau memperlakukanku dengan buruk, Ibu. Menjauhlah dariku jika kau masih ingin mendapat sedikit rasa hormat sebagai ibu."