NovelToon NovelToon
I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Unchi

Jealita seorang gadis berusia 20 tahun yang dijual ibu tirinya ke sebuah tempat Dolly.

Di saat Jealita ditugaskan untuk melayani lelaki yang berhidung belang. Jealita ditemukan pingsan di kamar mandi.

Madam Natalie akhirnya marah dan mengadakan lelang. Akhirnya diperlelangan itu, Jealita dibeli oleh seorang pengusaha yang sudah menduda. Umurnya juga masih muda 28 tahun tuan Andrew parker namanya.

Hubungan mereka sampai ke jenjang kepernikahan. Hingga perceraian tak terhindarkan.

Setelah perceraian itu, Jealita yang sudah bukan gadis polos lagi akhirnya mencintai Tuan barunya. Apakah cintanya akan terbalaskan??? Jika takdir berkata lain, bagaimana kisah selanjutnya???

saksikan kisahnya hanya di sini. Tentunya dibumbui dengan adegan sesuatu ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

.

.

.

Jea membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Andrew. Matanya mulai berkabut gairah, semua karena ulah si Andrew-nya ini.

"Bagaimana kalau dia menyentuh semuanya?" pancing Jea. Mungkin dengan begitu Andrew akan melepaskan jeratannya. Uh, bukan itu. Mungkin saja, Andrew akan membebaskan Jea dari permainan konyolnya.

Andrew menampakkan senyum devilnya, mengamati tubuh Jea inchi demi inchi. Jea gugup seketika, dia hanya pura-pura tenang andai Andrew tahu.

Alasan tersendiri bagi Jea. Mulai detik ini, dia ingin menjerat Andrew. Menjerat dengan seorang anak. Mengingat perbuatan Andrew yang menyuruhnya menemui Axel tadi, membuat emosinya kembali timbul. Apalagi tentang fakta yang mengejutkan itu. Andai melawan diijinkan, Jea akan melawannya sekarang juga. Menghabisi Andrew kalau perlu. Sangat disayangkan, jiwa lemahnya tak mungkin bisa melakukan itu. Belum saatnya mungkin, atau, bahkan tak akan pernah.

"Ck,,, dasar kau ini. Murahan," balas Andrew dingin dan langsung dengan paksa merobek dress Jea. Seperti orang kesetanan, malam itu Andrew melampiaskan kelaparannya berkali-kali hingga pagi menjelang.

***

Jea seraya tak punya tulang, tubuhnya lemas, kepalanya sedikit pusing. Si Andrew benar-benar sudah gila. Menggelutinya tanpa ampun, tiada henti. Padahalkan, Jea sudah memohon untuk berhenti. Tapi kenapa selalu tak digubrisnya? Sungguh malang memang nasibnya. Malang atau sial, entah, dia cinta juga bukan? Mungkin dia harus rela berkorban.

Menatap Andrew dengan kesal. Jujur saja, ia sangat ingin mencekiknya. Niat itu tak akan kesampaian tentunya. Sebab Jea bukanlah wanita se-ekstrim itu, jadi, dia tak akan melakukannya.

Apalagi, saat ia mengingat Andrew pernah menyelamatkannya. Setidaknya yang Jea layani adalah Andrew, suaminya yang sah. Bukan para lelaki hidung belang yang ada diluaran sana bukan? Bagaimana nasibnya kalau dia benar-benar menjadi wanita kelas bawah itu? Hinaan apa yang ia dapatkan? Haruskah Jea bersyukur atas hidupnya?

Tak lama kemudian Andrew pun terbangun. Segera ia meraih handuk kimono yang bersekaran di lantai. Tanpa berucap kata sepatahpun dia membuka laci dan seperti biasa, memberikan pil itu pada Jea.

Dengan senang hati Jea menyambutnya. Memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Bukan untuk ditelan, melainkan, disembunyikan di bawah lidahnya. Andrew memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Apakah Jea sudah menelannya ataukah belum? Dirasa Jea sudah pasti mebelan pil andalannya itu. Andrew segera menggendong Jea ke kamar mandi. Jea pasrah. Difikirannya hanya memikirkan cara, bagaimana ia memuntahkan pil itu? Menunggu Andrew lengahkah? Dia juga tak tahan menyembunyikan benda yang katanya pahit itu terlalu lama.

Andrew meletakkan Jea ke dalam bath up. Dengan wajah dinginnya, Andrew menyalakan kran untuk mengisi bak mandi itu. Membalikkan tubuhnya ingin mengambil sabun cair. Di situlah Jea memuntahkan obatnya. Meremas obat itu hingga tak berbentuk. Serta menghilang karena tersiram oleh air.

***

"Tuan, apa kau sudah puas??" tanya Jea pada Andrew. Keduanya berdiri berhadapan di dalam kamar.

"Tentu," jawab Andrew dengan senyum penuh kemenangan.

"Anda gila," balas Jea sedikit emosi.

"Ya, aku memang gila. Apa kau baru menyadarinya?"

"Aku benci denganmu Tuan."

"Bagus, aku lebih suka kau membenciku. Tapi bukankah kemarin kau bilang mencintaiku? Ck, ternyata semua wanita sama saja. Suka membual."

Setelah berkata seperti itu, dengan santainya dia berjalan keluar dari kamarnya. Meninggalkan Jea dalam mode keterkejutannya. Membual? Siapa yang membual?

***

2 bulan telah berlalu. Tak ada tanda-tanda kehamilan di sana. Semakin gelisah juga cemas. Padahal-kan, setiap Andrew memberinya pil itu, di waktu itu juga Jea selalu menyembunyikan di bawah lidahnya dan memuntahkannya. Tapi kenapa dia belum hamil? Apa ada yang salah dengannya? Sedikit heran. Namun segera mungkin Jea menepis pikiran negatif yang hinggap di kepalanya. Positif thinking saja.

Mengenai pertemuan dirinya dengan Axel. Jea berharap, cukup sekali saja ia dipertemukan. Jangan ada lagi pertemuan yang ke-2 ke-3 atau seterusnya.

Sedikit berpikir, mungkin pertemuan kemarin itu adalah pertemuan pertama dan terakhir dengan Axel. Sebabnya, sampai sekarang Andrew masih bersikap seperti biasanya. Mengurung dirinya.

Semenjak kembalinya Roy, saham-saham Andrew mulai normal. Ya walaupun masih naik-turun, namun semuanya masih dianggap ke kategori yang aman. Mungkin seperti itulah yang Bimo jelaskan pada Jea.

Kembali berfikir tentang Andrew yang tak akan memintanya menemui Axel, sepertinya itu sebuah penilaian yang salah. Buktinya, hari ini Andrew menyuruhnya bersiap. Akan membawanya ke sebuah apartemen, katanya.

Bimo yang tak jauh dari Jea, mulai mendekat. Memberikan fakta kebenaran tentang apartemen siapakah itu? Dan sebuah bisikan yang mengatakan apartemen milik Axel, membuat bulu kuduk Jea berdiri seketika.

"Hah! Apa lagi ini? Apa dia benar-benar mau menjualku heh?" teriak Jea emosi.

"Keluar kau Bimo!!!" usirnya pada bodyguard handalan utusan Andrew.

Segera Jea berlari ke kamarnya. Berpikir. "Kau harus berpikir Jea." Jea mondar-mandir. Dan hap, sebuah ide cemerlang melintas di otaknya. Kabur. Satu kata itu jawabannya. Eits. Kabur? Benarkah? Apakah Jea berani? Kembali berfikir sambil mengetukkan jari telunjuknya ke dagu. Sepertinya Jea akan nekat, hanya saja, Jea perlu memastikan keadaan yang aman.

Mengawasi keadaan sekitarnya. Dirasa aman, Jea segera keluar lewat pintu yang lain. Tak mungkin ia melewati pintu utama bukan? Apa dia mau cari mati? Enggak. Dia masih ingin menjerat Andrew.

Tak ada pilihan lagi, jalan satu-satunya adalah memanjat tembok. Celungukan, berharap tak seorangpun yang melihatnya. Aman. Semua penjaga tidak ada di tempatnya masing-masing, termasuk Bimo. Ya semua penjaga sedang berkumpul di ruangan Andrew. Ada hal darurat yang harus diselesaikan katanya.

Cukup melegakan situasi ini, dengan bantuan tangga, akhirnya Jea berhasil kabur. Dia tidak memperdulikan pakaian apa yang ia kenakan saat ini. Dress mahal yang di atas lutut sedikit.

Mungkin buat masyarakat sekitar, hal itu terlihat kurang sopan, siang bolong memakai dress yang terbuka. Mungkin kalau di negara-negara lain hal itu lazim-lazim saja. Perduli setan dengan perkataan orang.

Jea terus berlari menjauhi mansion kediaman Andrew. Tak ia perdulikan orang-orang dengan semua mata yang terus memandangnya dengan tatapan aneh, seperti orang yang sedang menghinanya. Apakah Jea dikira wanita rendahan yang jual diri? Hey, dia istri orang kaya. Hanya saja, dia tak nyaman dalam posisinya. Andai mereka tahu itu. Jangankan tahu, merespon saja tidak. Ck, dunia apa ini namanya. Ada orang kesusahan malah dicuekin.

Lihatlah itu, di saat yang seperti ini. Kenapa banyak lelaki yang menatapnya? Menatapnya dengan aneh. Dan dengan pede-nya, tanpa segan-segan laki-laki itu menawarkan diri untuk melayaninya dengan baik. Apa-apaan itu? Apakah memakai baju seperti itu dianggap wanita rendahan? Kurang ajar mereka. Mulutnya minta dibungkam kayaknya. Ah, males meladeni. Ucapan mereka tak ada yang dihiraukan oleh Jea. Tujuannya-kan hanya satu, kabur. Ya meskipun jelas tanpa uang juga sih, monek sajalah. Modal nekat.

Saat Jea hendak menyebrang jalan, tak disangkanya, ada beberapa tangan mencekal lengannya. Jea menatap orang-orang itu, ternyata bukan anak buah Andrew. Melainkan anak-anak alay, yang mungkin usianya ada di atasnya. Siapa lagi mereka? Sial.

"Mau kemana Neng?" tanya salah seorang lelaki di antara 3 lelaki yang mencekal Jea.

"Lepaskan, ku mohon," ucap Jea memohon sambil berusaha memberontak dari tangan-tangan yang menempel di tubuhnya.

"Layani kita dulu, setelah itu, kau akan kita lepaskan. Abang gak tahan lihat pakaianmu, tubuh molekmu. Bener-bener menggoda. " Suara itu bersumber dari orang yang kini berdiri di depan Jea. Mungkin dia kepala genk berandalan ini. Ah, nasib. Batin Jea meratapi nasib malangnya ini

"Jangan! Jangan! Ku mohon."

Jea terus meronta-meronta. Kedua orang yang mencekal tangan Jea tak kunjung juga melepaskannya. Justru dicekal lebih kuat. Lebih erat, membuat lengan Jea sedikit nyeri. 'Siapapun, tolong aku! ' jeritnya dalam hati.

Mungkin ini adalah sebuah keberuntungan. Seseorang pemuda dari dalam mobil tak sengaja melihat kejadian itu. Membuatnya berinisiatif menolong wanita yang sedang dalam bahaya.

"Pak tepikan mobilnya!" suruh sang majikan.

"Tapi Tuan, anda harus sampai ke tempat tepat waktu. 30 menit lagi acara pertunangannya di mulai," ucap sang sopir seraya mengingatkan.

Sepertinya, pemuda itu lebih tertarik dengan wanita yang berada dalam lingkup 3 pria brandalan. Tak diperdulikan ucapan sang sopir. Ia justru membuka pintu mobil, berjalan mendekati satu wanita yang dikeroyok oleh 3 orang pria itu.

"Lepaskan perempuan itu!!!" teriak pemuda itu yang tak lain adalah Kelvin.

Seketika itu juga, Jea mendongak. Menatap siapa pahlawannya. Sedikit terkejut. 'Tuan Kelvin.'

'Jea...'

Saling sapa, namun dalam hati. Ada apa dengan mereka berdua?

"Maaf Bung, kami yang melihatnya duluan. Kau akan menikmatinya setelah kita-kita, ya gak bro!!!" Dengan pede-nya, ketua genk itu minta persetujuan kawan-kawanya dan langsung di angguki setuju.

BUGG..

Bugg..

Bugh..

Tanpa berkata-kata lagi, Kelvin langsung menyerang. Ck, Kelvin menang telak. Ketiga lelaki tadi langsung lari tunggang langgang meninggalkan Jea dan Kelvin.

Jea langsung terduduk ketakutan, dilihatnya dari jauh ada Bimo dan anak buah Andrew yang lain.

Jea langsung berlari memeluk ke arah Kelvin.

Kelvin yang mendapat perlakuan itu hanya diam saja dan tentunya senang.

"Kamu gak apa-apa?"

"Tolong bantu saya Tuan, di sana ada Bimo dan yang lain. Tolong lindungi saya," bisik Jea, Kelvin pu mengerti. Pasti ada yang tidak beres. Batin Kelvin.

Kelvin melepas jas nya untuk menyelimuti badan Jea. Karena Jea lumayan tinggi, jadi Kelvin sedikit kesusahan membawa Jea berjalan mendekati mobilnya

"Nona Jea!!!!" teriak salah seorang anak buah Andrew. Dengan dorongan cepat Kelvin menyuruh Jea duduk di mobil penumpang, begitupun juga dengan dirinya.

"Jalan Pak! Putar balik bawa kami ke apartemen!" suruh Kelvin pada sang sopir.

"Tapi Tuan, acara anda akan segera dimulai. Sedari tadi ponsel anda berdering."

Kelvin menatap ponselnya sekilas. "Aku akan membatalkannya."

Sopir itupun mengangguk pasrah, mematuhi titah sang majikannya.

Kelvin menatap Jea yang masih menangis itu.

"Apa yang terjadi??? Kenapa kau melarikan diri kakak ipar?"

"Saya, tidak tahan lagi Tuan," balas Jea menunduk, dia dalam kondisi ketakutan saat ini.

"Tuan lagi? Ya ampuuun. Tapi ya sudahlah."

Kelvin pasrah juga dipanggil dengan sebutan 'Tuan' . Saat ini bukan waktunya bercanda bukan?

"Apa Andrew menyiksamu?" selidik Kelvin.

Tapi Jea hanya diam saja dan meremas jas Kelvin yang ia kenakan.

Kelvin menghela nafas berat. "Baiklah, aku tak akan memaksamu bercerita." Dengan lembut Kelvin mengusap pucuk rambut Jea. Ada sedikit getaran di sana.

1
Erina Munir
kesiaan deh lo dreuw...😂😂😂😂😂
Erina Munir
ya Tuhan...dasar andreuw gilaaa
Ratna Lita
ama andrew aja jealitha...q jd ilfil low kamu mau ditiduri laki2 sana sini,gimana gitu ya🤭
Ranyta Erni
kno jdi berbelit2 ceritanya si jea jdi gak jelas gitu
kesanya jdi kaya murahan
Yunaisye
jea kembali ma adrew thor
Yunaisye
saya mungkin suka yg rada2 kulit gelap ya jd maco dan dewasa exel itu orangnya
Fitrah Fitrah
duren sawit rupanya
sayangnya galak
Darmi Lulut
sijelly mudah jatuh kepelukan pria lain apa kabarnya siandrew thour
de hàllu
Dari pertama bc aq cm nyimak aj thor cerita mu tp makin ksini udh gk thn mau komen,greget bgt liat sifat ny jea,bs gk thor buat jea pntr dkit atau hilangkan rs cntany sm andrew. mnding sm kalvin aj y thor jea ny
🤩😘wiexelsvan😘🤩
akhirnya heppy end,,,boom 👍👍👍 coment juga vote tertinggal thorrr 😘😘😘
🤩😘wiexelsvan😘🤩
visualnya mantab dech thorrr,,,ganteng" juga chantik 😍😍😍
🤩😘wiexelsvan😘🤩
heyyyy thorrr mo absen dgn 👍👍👍 tertinggal pastinya 😊
Abdul malik Mohamed daud
Bagus cerita nya
Abdul malik Mohamed daud
Mudah mudahan happy ending
Sunnyta Mukherji
hadeeh Queen mbok ya punya sifat nya Andrew sedikit lah
Sunnyta Mukherji
duh... kenapa jelly baik sama patty sih
jellek jengkelinn
murahan bener lw jea
Chenli 🍂🦋🍁
Lanjut kk Unchi
Tri Sulistyowati
langsung tancap
Tri Sulistyowati
wah wah Wah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!