Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman sang Mantan
Sial
Amanda mengumpat di dalam hati saat ia melihat penampilan Brian. Pria itu kini tengah duduk bersandar di sofa, terlihat rambutnya tampak acak-acakan, dua kancing atas kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, bahkan dalam penampilannya yang berantakan Brian masih terlihat sangat tampan, pesonanya tak terelakkan.
"Hai." Amanda menyapa dengan kikuk.
Brian tidak merespon sapaan Amanda, ia justru menggerakkan tangannya, mengisyaratkan pada Amanda untuk mendekat, tatapannya tajam, tapi sulit untuk diartikan. Setelahnya Brian menepuk pahanya, meminta pada sang istri untuk duduk di atas pangkuannya.
Amanda mengangguk patuh seperti anak yang penurut. Ia mulai melangkah dengan ragu, dibarengi dengan detak jagungnya yang tak menentu. Meskipun sebenarnya Amanda merasa sungkan, tetapi ia memilih untuk patuh dari pada dirinya berada dalam masalah nanti.
Dengan hati-hati, Amanda mulai mendudukan tubuhnya ke atas pangkuan Brian.
Gugup? Itu jelas.
Kegugupan Amanda semakin memuncak saat Brian melingkar kedua tangannya di sepanjang tubuhnya.
"Anak nakal, sudah aku bilang untuk istirahat, kenapa malah kabur, mm?" ucap Brian dengan lembut.
Namun, kelembutan itu justru membuat Amanda semakin merasa ngeri.
"Itu ...?" Amanda memutar isi kepalanya, mencari alasan di balik tindakannya itu.
"Penasaran sama laki-laki lain, mm?" tebak Brian.
DEG
Perasaan Amanda mulai tidak karuan, ia benar-benar dalam masalah besar.
"Kalau tahu itu kamu, aku juga tidak akan datang," gerutu Amanda.
"Berani mikirin pria lain saat suamimu ada di depan mata?" ucap Brian semakin membuat perasaan Amanda tidak karuan.
"Nggak," sahut Amanda.
"Kamu harus dapatkan hukumanmu."
"A-pa -- ah!" Amanda mendesah saat Brian tiba-tiba menekankan inti tubuhnya.
Amanda semakin dibuat tidak berdaya saat Brian kembali menekan inti tubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan desahannya agar tidak keluar.
"I-i-ya aku janji nggak akan kabur lagi apalagi sampai memikirkan pria lain," ucap Amanda.
Brian menyeringai puas, lantas ia menarik tangannya dari balik rok yang Amanda kenakan. "Good."
Amanda menghela napas saat Brian melepaskannya. Sesaat napasnya masih tersengal-sengal, membuat Amanda harus berulang kali menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan perasaan gugupnya.
"Dia benar-benar berbahaya," ucap Amanda dalam hati.
Brian lantas menarik tubuh Amanda masuk ke dalam dekapannya, kembali mengunci pergerakan tubuh Amanda dengan melingkarkan kedua tangannya di tubuh wanita itu.
Amanda sendiri memilih untuk bersandar pada dada Brian, rasanya begitu nyaman. Kini keduanya berada sangat dekat, nyaris tidak ada jarak.
"Mual lagi?" tanya Brian dengan penuh perhatian.
Amanda pun mengangguk, "tapi udah mendingan kok."
"Mau diusap-usap?" tawar Brian.
"Mau, tapi jangan ngusap yang lain ya," peringat Amanda membuat Brian terkekeh-kekeh.
"Lepas blazernya!" perintah Brian.
"Tuh kan. Baru aku peringatin tadi," protes Amanda.
"Biar gampang usap perutnya," kata Brian.
Amanda terkekeh, ia berpikir Brian akan macam-macam. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Amanda melepas blazernya, menaruhnya di atas meja dan kembali bersandar di dada Brian, membiarkan tangan pria itu masuk ke dalam balik pakaiannya dan memberikan usapan lembut di perutnya.
Hening mengambil alih suasana, tidak ada yang bicara, keduanya tenggelam dalam situasi itu, bahkan Amanda sampai memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut Brian di perutnya. Rasanya sangat nyaman, hingga Amanda tidak rela jika kenyamanan itu cepat berakhir.
Beberapa saat berlalu, Amanda membuka matanya saat ia teringat akan sesuatu.
"Brian," panggil Amanda.
"Hmmm." Brian bergumam untuk merespon panggilan dari Amanda.
"Jadi kamu itu benar-benar orang kaya, bukan gigolo?" tanya Amanda dengan sedikit menggoda Brian.
"Ck, berhenti bicara omong kosong," decak Brian membuat Amanda terkekeh.
"Kenapa kamu mau menikahiku? Status kita berbeda jauh," tanya Amanda.
"Ada anakku di dalam sini," jawab Brian seraya mengusap-usap perut Amanda.
"Hanya karena itu?" tanya Amanda, seakan menginginkan jawaban yang lebih.
"Maunya kamu apa?" tanya balik Brian.
Amanda menarik tubuhnya, memberikan jarak dengan Brian dan menatap pria itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Apa nanti setelah anak ini lahir kamu akan mengambilnya terus menceraikan aku?"
Ekspresi wajah Brian berubah sesaat, tetapi tertutupi oleh aura dinginnya. "Jangan berpikir terlalu jauh."
"Aku ini bukan wanita dari kalangan atas. Aku anak yang tidak diinginkan, aku dibuang waktu aku masih bayi dan dibesarkan di panti asuhan," aku Amanda.
"I know," kata Brian, sikapnya seakan tidak peduli dengan hal itu.
"Lalu?"
"Lalu apa lagi, Amanda?"
Amanda tidak tahu jawaban yang pasti akan pertanyaan Brian, tetapi sekian detik kemudian Amanda bicara sesuatu yang membuat Brian tidak habis pikir.
"Jika kamu berniat mengambil anak ini setelah dia lahir, aku tidak akan membiarkannya," kata Amanda.
"Siapa yang ingin melakukan itu?" kats Brian sedikit kesal.
"Kamu."
"Ngaco!"
"Lalu apa, coba kamu berikan alasan yang pasti kenapa kamu mau menikah denganku saat tahu aku ini bukan siapa-siapa?" tanya Amanda, nada bicaranya seakan menuntut jawaban.
"Malam itu kamu membuat aku tidak perjaka lagi, jadi kamu harus bertangung jawab," aku Brian.
Eh?
Kening Amanda mengerut, seolah tidak percaya atas pengakuan Brian. "Malam itu juga pertama untukmu?"
"Hmm."
"Yakin?"
"Cerewet." Brian membungkam mulut Amanda dengan bibirnya. "Dengar, Amanda. Aku tahu semua tentang kamu mengerti!Aku juga nggak peduli dengan status sosial kamu, aku tidak mempermasalahkannya."
"Sebelumnya ada yang mempermasalahkannya," gumam Amanda.
"Siapa?" tanya Brian.
"Mantanku," jawab Amanda. "Tunggu! Kamu bagian dari keluarga Bramasta, 'kan? Itu artinya kamu memiliki hubungan dengan Reno?"
Brian mengangguk pelan, "Dia keponakanku."
Amanda menyipitkan mata, seolah tidak percaya dengan perkataan Brian. "Yang benar saja. Kamu dan dia kelihatannya seumuran."
"Memang itu kenyataannya," ucap Brian.
"Aku tidak percaya. Coba mana, aku lihat kartu Identitasmu," kata Amanda.
Brian menghela napas tidak habis pikir dengan kelakuan Amanda, tetapi tetap saja ia melakukan apa yang Amanda minta. Brian lantas mengambil dompetnya dan memberikan kartu identitasnya kepada Amanda.
Mata Amanda membulat saat ia melihat tahun lahir Brian di dalam kartu Identitas mikirnya. "Kamu lebih tua tiga tahun dengan Reno?"
Brian menganggukkan, "Ibuku hamil dua tahun sebelum kakak pertamaku menikah."
"Oh." Amanda manggut-manggut, mengerti seolah mengerti penjelasan dari Brian.
"Aku nggak bisa membayangkan reaksi Reno saat dia tahu aku menikah dengan pamanya," ucap Amanda.
"Why?"
Amanda terdiam tidak langsung memberikan jawaban, ia memandang Brian sesaat sebelum menghela napas. "Sebernarnya aku dan dia pernah pacaran, tapi dia mengkhianatiku. Aku pernah memergoki dirinya, melihat dengan mata kepalaku sendiri dia sedang ber cinta dengan sahabatku sendiri."
"Karena itu aku berniat balas dendam dengan menyewa laki-laki untuk aku ajak menghabiskan malam bersama, tapi nggak tahunya malah salah kamar," kata Amanda dibarengi kekehan, merasa peristiwa itu sebuah hal yang sangat lucu.
Ucapan Amanda juga berhasil membuat Brian terkekeh.
"Sekarang istirahat!" kata Brian.
Tanpa menunggu persetujuan Amanda, Brian mengangkat tubuh Amanda, membawanya ke tempat tidur dan merebahkannya di sana.
Brian lantas mengungkungi tubuh Amanda. Dengan segera wanita itu langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mau ngapain?" tanya Amanda sambil menatap tajam Brian.
"Ciuman," jawab Brian tanpa ragu.
"Jangan berharap! Bilang cuma ciuman ujung-ujungnya nanti minta lebih," kata Amanda dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Kali ini cuma ciuman," balas Brian.
Amanda tidak langsung menjawab, ia diam sembari mempertimbangkan sesuatu. "Ciuman sepuluh detik bayar satu juta."
"Aku bayar seratus juta sekarang, asal kamu naked depan aku," tantang Brian membuat Amanda mengerucut sebal.
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣