NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:29.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Tumpah Ruah

Kegagalan Sarah untuk membuat Bagas terkapar tidak berdaya malah berbalik kepadanya. 'Senjata Makan Tuan' begitulah yang saat ini Sarah dapatkan.

Bukan Bagas Aryanaka yang yang berakhir tidak sadarkan diri sesuai rencananya dengan Rania. Akan tetapi, dirinya sendiri lah yang kini habis-habisan dibuat remuk redam oleh pria beringas diatasnya.

Setelah aksi suntik-menyuntik yang telah tertangkap basah, kini giliran Bagas yang membalas dengan menyemburkan seluruh benihnya ke dalam tubuh Sarah hingga terasa tumpah ruah.

Hentakan demi hentakan, sesap demi sesap, lumayan demi lumatan, membuat Sarah seakan menjadi lupa keadaan.

"Ahh, emmh, stophh.. Berhentihh tuaanhh," pinta Sarah disela dorongan yang terus diberikan dibawah sana.

Sayangnya, Bagas yang sudah dikuasai kabut gairah, menolak untuk mengacuhkannya. Pria itu memilih untuk terus mengejar kenikmatan yang hanya bisa ia dapatkan dari tubuh molek dibawahnya.

Seragam pelayan milik Sarah telah tercerai berai. Terlihat pula disana pakaian dalam yang sudah tidak berbentuk akibat sobekan keras dari Bagas yang sudah merasa tidak mampu menahan kesabaran.

Derit ranjang membersamai rintihan Sarah dan geram kepuasan Bagas Aryanaka.

"Aghhh, terima semua benih saya bitch!. Terimalah! aghh."

Sarah sungguh menyesali kebodohan yang ia lakukan malam ini. Benar saja apa yang dia selalu cemaskan. Ia yang memegang kendali berakhir menjadi yang dikendalikan.

Kata 'bodoh' kini merebak kacau dan berulang kali Sarah rapalkan dalam hati. Berbanding terbalik dengan mulutnya yang lebih memilih mengeluarkan teriakan manja dan rintihan pasrah.

Malam panas itu kian berlanjut hingga pukul tiga pagi. Pada setiap sudutnya menjadi saksi bisu dari kegilaan tuan dan pelayannya. Dosa penuh nikmat itu telah berhasil menenggelamkan keduanya.

"Sudah tuanhh, saya ahh mohon, sayahh lelah."

Sedari tadi Sarah mencoba terus meminta belas kasih dari sang tuan. Mulai dari saat dirinya dihantam keras di atas ranjang besar. Lalu, saat tubuhnya digulingkan ke lantai dan rambutnya dijambak erat oleh Bagas, hingga sampai pada posisi dirinya yang saat ini di gempur dari belakang, dan hanya bisa bertopang pada dinding kamar yang terasa dingin.

"Belum, saya belum puas. Benih saya masih banyak. Kamu yang meminta, maka harus kamu telan semuanya," ucap Bagas terkekeh puas.

Sarah hanya bisa mengambil napas sebanyak mungkin, kepalanya telah berkunang-kunang. Tubuhnya lemas, bahkan kedua kakinya pun terasa seperti jeli—tidak kuat menapak, dan hanya bisa bertumpu pada tangan kekar yang terus memeganginya erat sambil memainkan segala hal yang tubuhnya tawarkan.

"Ouggh yahh, telan semuahh, nikmati ini jalang! Akhh."

...****************...

Keesokan paginya, terlihat Raska sang asisten pribadi Bagas Aryanaka datang dengan tergesa memasuki kediaman tuannya. Takut-takut seperti kemarin, dimana Bagas akan berangkat lebih cepat, lebih pagi, dan lebih merepotkan dirinya lagi.

Tetapi, sepertinya kali ini ia dapat menghembuskan napas lega. Karena yang ia lihat, suasana rumah masih terlihat santai. Para pelayan masih sibuk bersih-bersih dan menyiapkan bahan masakan untuk sarapan sang tuan.

"Kayaknya belum bangun deh ya pak Bos? Masih selow gini padahal udah jam tujuh," gumam Raska sembari mengecek waktu pada jam tangannya.

Merasa bahwa atasannya itu masih belum turun, maka Raska hendak menuju ke atas untuk melihat keadaannya. Siapa tahu si bos butuh bantuan. Sebagai asisten yang pengertian, maka Raska harus lebih meningkatkan inisiatif-nya.

"Siapa tahu gaji gue besok naik 'kan ya, haha," batin Raska senang membayangkan dompetnya yang mungkin akan bertambah tebal.

Baru saja hendak meneruskan langkah pada anak tangga pertama, tiba-tiba ada yang mencekal tangannya dan langsung menariknya menuju halaman belakang rumah.

Kejadiannya terlalu cepat, Raska hanya mampu mengerjap bingung, sebelum pada akhirnya diterpa kesadaran setelah melihat sosok didepannya saat ini.

"Mas Raska, gawat mas!"

Eh, eh tunggu. Ada apa ini?

Ia baru datang, kenapa sudah disodorkan dengan 'gawat, gawat begini?'

Wajah gadis itu tampak panik, resah, dan berselimut akan gundah. Raska sampai mengernyit heran dibuatnya.

Ia sentuh pelan pundak si pelayan, kemudian ia lontarkan tanya untuk menanggapi kata 'gawat' yang sebelumnya ia dengar. "Sutt, tenang dulu dong. Tarik napas ayo, tarik napas. Relaks okeey."

Raska mencoba menenangkan gadis itu terlebih dahulu. Setelah dirasa paniknya cukup mereda—Raska kembali melanjutkan, "Oke sudah tenang 'kan? Ada apa sebenarnya? Gawat apanya emang?"

Beruntun pertanyaan itu Raska lemparkan, seketika gadis yang tadinya sudah merasa agak lega itu akhirnya menjadi panik kembali.

Namun kali ini ada raut ketakutan yang terhias di wajah kecilnya itu. Raska menangkapnya, dan dengan sabar ia pun bersedia menunggu.

Hingga beberapa detik selanjutnya, sang gadis memberanikan diri. Sayangnya, segala hal yang diucapkan oleh sosok tersebut selanjutnya malah menjadi bom yang seakan dilempar keras ke arah Raska.

"Maaf mas Raska, aku bingung, aku kayaknya salah tangkap perintahnya mas Raska kemarin,—" Mengambil napas sejenak, Gadis itu semakin menunduk sambil saling meremas kedua tangannya, tidak berani menatap Raska yang berdiri menjulang dihadapannya, "Aku....Aku salah sabotase obatnya mas."

"Hah? Salah sabotase gimana?" tanya Raska mulai tampak gusar.

"Emm, itu mas... Aku kayaknya masukin cairan ke tempat yang salah. Emm, duh gimana ya?" jelasnya ragu dan bingung.

Mengusap wajahnya kasar, Raska yang telah diselimuti kepanikan kemudian berusaha memastikan, "Maksudnya, cairan dari aku yang harusnya kamu masukkan ke botol, malah masuknya ke jarum suntik begitu?"

Kepala yang tertunduk itu kini benar-benar hampir terjatuh. Gadis itu kian gugup. Meremas jari-jarinya lebih kuat lagi, ia gigit bibirnya yang gemetar.

Pada akhirnya hanya anggukan kecil yang dapat ia berikan. Sontak membuat Raska langsung kalang kabut. Emosinya tampak tak terbantahkan sehingga membuat pelayan menjadi semakin takut.

"Hiks, maaf mas. Aku gak sengaja. Aku beneran lupa. Tad-tadi baru sadar waktu nemuin jarum suntik itu di keranjang bajunya tuan, ter-terus waktu aku liat cairannya sama kayak yang mas kasih. Jadi baru inget kalo aku salah masukin cairannya, hikss maaf."

Kepalanya sudah mengebul dan berasap. Raska sepertinya harus siap mendapat amukan dari nyonya Aryanaka karena tidak berhasil menjalankan tugas yang telah diberikan.

Tapi tunggu dulu, biar ia bertanya satu hal lagi, "Kamu nemuin di keranjang baju pak Bagas? Kamu ambil sendiri di kamarnya?"

Pelayan itu menggeleng, "Nggak mas, itu pak Bagas sendiri yang tumben turun dan kasih langsung ke bik Umi. Terus karena mbak Sarah-nya gak tau kemana, jadi aku yang disuruh cuci."

Setelah mendengar penjelasan dari pelayan yang telah ia aja bekerja sama itu, jantung Raska seketika meluruh.

"Fuck lah, the real udah gagal ini. Habis gue, habis! Mereka pasti udah beneran skidipapap sampe tumpeh-tumpeh," batin Raska menangis pasrah.

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di lantai teratas kediaman Aryanaka, terlihat lelaki tampan tanpa busana berdiri pada tepi ranjang dengan memegang sebatang rokok ditangannya.

Ia sesap perlahan sembari matanya terus memandang wanita yang terkapar tidak berdaya diatas ranjang hitam kekuasaannya. Sungguh membuat paginya terasa berbeda.

Pria itu tersenyum miring, "Kena kamu."

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!