Afsensa Faiha Azahra, perempuan cantik dengan paras ayu, biasa dipanggil Sensa. Dia gadis sederhana yang hanya hidup sebatang kara, orang tuanya meninggal 1 tahun yg lalu karena kecelakaan.
Arsel Dirga milard, CEO muda diperusahaan Milard Company. Kekayaan Arsel tidak akan habis tujuh turunan, apalagi dengan wajahnya yang nyaris sempurna selalu membuat wanita jatuh hati pada pandangan pertama 😊😊
Arsel pria dingin, sedikit kasar mudah terbakar emosi. Apalagi setelah ditinggal kekasihnya sikap Arsel semakin dingin tak tersentuh.
Kedua orang tua Arsel menjodohkan dengan Sensa, akankah keduanya bisa bahagia atau justru saling menyakiti?
Ayo ikuti kisahnya...
selamat mmbaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 22
Seminggu sudah Arsel masih menunggu Sensa dirumah sakit, dia ingin Sensa segera sadar dan saat istrinya itu bangun dia ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya. Selama seminggu itu masih tidak ada yang perubahan, Sensa masih senang dengan tidur panjangnya.
Hari ini, Papa Abiyasa menyuruh Arsel untuk kembali masuk kekantor.
Sebenernya Arsel tidak mau, dia masih ingin menunggu sampai Sensa sadar.
Tapi apa boleh buat, Arsel sendiri tidak bisa terlalu lama meninggalkan urusan kantor.
Dikantor Arsel terlihat tidak bersemangat sama sekali. Difikirannya hanya ada Sensa, semoga perempuan itu segera sadar, Arsel sudah mulai rindu dengan senyuman yang selalu Sensa tunjukan untuk dirinya.
Tanpa mengetuk pintu, Bella masuk begitu saja dan langsung menghampiri Arsel.
"Sayang, kamu kemana saja? aku selalu mencarimu kekantor tapi kamu tidak ada. Nomor ponsel kamu juga tidak aktif. Aku tidak bisa menghubungimu." Bella berbicara dengan manja.
"Maaf Ella, aku sibuk!!" jawab Arsel tampak cuek.
"Nggak biasanya kan, kamu sibuk kayak gini?sesibuk apapun, biasanya kamu tetap selalu menghubungiku kan!" Bella mencoba merajuk .
"Maaf Ella, aku lagi sibuk dan aku juga lagi pusing, tolong beri aku waktu!! aku ingin menenangkan fikiran!!" kata Arsel sedikit kesal.
"Ya udah, kita jalan-jalan ke Mall aja yuk, aku pengen beli tas keluaran terbaru." ajak Bella antusias.
"Enggak Ella, lain kali saja. Aku lagi pengen sendiri dan nggak mau pergi kemana-mana." Arsel menolak ajakan Bella.
Arsel memijat pelipisnya, entah dia merasa malas untuk meladeni Bella.
Melihat Arsel yang acuh tak acuh, Bella langsung membuka mulut Arsel dengan ciuman, jurus itu biasa ia gunakan untuk merayu Arsel.
Tetapi Arsel melepas ciuman itu dan memberi jarak.
Arsel berdiri, merapikan jas dan ingin beranjak pergi.
"Arsel, kamu mau kemana!!" kesal Bella, karna Arsel menolak ciumannya.
"Aku ada pertemuan penting!" jawab Arsel singkat, tanpa basa basi lagi Arsel pergi begitu saja, meninggalkan Bella yang berdiri mematung.
"Kurang ajar!! baru kali ini kamu menolak ciumanku, awas saja kamu, Sel. Aku tidak akan menyerah, aku tidak akan pernah melepaskanmu!!" Bella berbicara sendiri.
Sedang Arsel sudah mengendarai mobilnya menuju kerumah sakit. dia ingin melihat Sensa sebentar.
Didepan pintu ruangan Sensa dirawat ada empat orang bodyguard yang menjaga.
Arsel masuk keruangan, setelah para bodyguard didepan pintu itu menyapannya.
Arsel duduk disamping Sensa, semua alat masih terpasang rapi dia menggenggam tangan Sensa.
Tak lama jari tangan Sensa bergerak Pelan.
Arsel kaget merasakan pergerakan tangan Sensa.
Tak lama, mata Sensa mengerjap pelan.
"Haaus, minum" kata Sensa lirih hampir tidak terdengar.
Arsel kaget melihat Sensa sudah sadar.
Arsel dengan cepat langsung menekan tombol Dokter diatas tempat tidur Sensa.
Sensa melirik kearah Arsel.
"Tuuan," panggilnya lirih.
"Iiiya, Sensa. Kamu sudah sadar?" Arsel menjawab dengan senyum mengembang bahagia, dia masih terus menggenggam tangan Sensa.
Beberapa lama Dokter dan perawat masuk.
"Aku haus," Sensa masih meminta minum karna tenggorokannya terasa kering.
Seorang perawat memberi segelas air putih untuk Sensa.
"Sekarang istri anda sudah melewati masa kritis dan hanya tinggal masa pemulihan saja, Pak. Kami akan memindahkan istri anda keruang rawat biasa." jelas Dokter yang sudah lebih dulu memeriksa keadaan Sensa.
"Baik, Dok. Terima kasih." jawab Arsel.
Perawat mulai melepas alat yang menempel ditubuh Sensa.
Sensa sudah dipindah keruang perawatan biasa karna hanya menunggu masa pemulihan.
"Tuan," panggil Sensa.
"Ya, apa kamu mau sesuatu? kamu ingin makan, minum atau apa?" tanya Arsel.
"Tidak, kenapa anda disini?" Sensa masih berbicara lirih, karna dileher masih terdapat alat penyangga leher.
"Sensa, maaf." kata maaf itu lolos dari bibir Arsel.
Sensa hanya memandang Arsel, benarkah ini Arsel? suaminya mau menyebut namanya?
Sensa mulai tersenyum, senyuman itu. Senyuman yang arsel rindu. Akhirnya dia bisa melihat senyum itu lagi, dan Arsel pun ikut tersenyum. 'Manis, manis sekali' batin Sensa saat melihat Arsel tersenyum kepadanya.
"Tidurlah, aku akan menunggu disini." kata Arsel.
Sensa mengangguk lemah dan memejamkan matanya lagi.
*************
Seminggu sudah berlalu, saat ini Sensa sudah kembali kerumah Arsel. Sebenarnya Dokter belum memberi izin pulang, namun Sensa terus memaksa, dia sudah tidak betah terlalu lama berbaring dirumah sakit. Dan dengan bantuan Papa Abiyasa, Dokter itu mau memberi izin, dengan catatan harus kontrol kerumah sakit tiga hari sekali. Dan keluarga Arsel menyetujuinya.
Sensa pulang bersama Arsel dan kedua mertuanya, dengan Arsel yang mendorong kursi roda Sensa, dikepala Sensa masih ada perban dan alat penyangga leher juga belum dilepas.
Arsel membawa Sensa kekamarnya, saat ini tidak mungkin Arsel akan membawa Sensa masuk kekamar pembantu, karna kedua orang tuanya masih berada dirumahnya.
Arsel mengangkat tubuh Sensa menaiki satu persatu anak tangga, dengan Mama Eisha yang dibelakangnya.
Sampai dikamar Arsel menurunkan Sensa dikeranjang tidurnya. Selama satu tahun lebih pernikahannya baru kali ini sensa merasakan kasur yang sama dengan suaminya.
"Sayang, kamu istirahat ya, Nak." kata Mama Eisha.
"Iya, Ma."
"Mama tinggal dulu," pamit Mama Eisha.
Setelah Mama Eisha keluar, Sensa mencoba turun dari kasur, tapi kakinya masih terasa lemas. Arsel yang melihat langsung menghampiri dan memapahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Arsel.
"Aku mau kekamar mandi," jawab Sensa malu.
"Biar aku bantu." kata Arsel.
Arsel menunggu Sensa didepan kamar mandi.
Dalam fikirannya, dia masih belum yakin dengan perasaannya saat ini. Arsel hanya merasa bersalah dan kasihan dengan Sensa, walau sudah ada rasa sayang namun Arsel masih belum menyadarinya.
Lamunannya menghilang saat mendengar bunyi ponsel disaku celana.
"Hallo," Arsel menjawab telfon itu.
"Sayang, kamu lagi apa?" itu suara Bella yang menelfon.
"Lagi santai aja." Arsel berjalan kearah balkon, dia lupa kalo Sensa masih berada dikamar mandi.
Sensa membuka pintu kamar mandi, tapi Arsel sudah tidak ada. Pelan dia berjalan keluar, samar dia mendengar seseorang berbicara, Sensa mendekat kesumber suara itu.
"Sayang, aku merasa akhir-akhir ini kamu berubah. Kamu sudah tidak sayang lagi ya sama aku," tanya Bella merajuk.
"Aku tidak berubah, Ella. Aku masih sayang sama kamu. Akhir-akhir ini aku masih sibuk saja." jawab Arsel santai.
Sensa yang mendengar percakapan itu hanya diam mematung.
'Hah, aku kira mas Arsel sudah berubah dan mulai bisa menerimaku, tapi aku salah!! ternyata tetap Bella yang selalu ada dihatinya'
sensa meneteskan air mata, dia sudah salah mengira dengan perhatian yang Arsel berikan.
Pelan Sensa berjalan keluar kamar, Dia ingin pindah kekamarnya sendiri, dengan tertatih-tatih, berpegangan dengan tangga Sensa menuruni tangga. Rasa sakit memberi kekuatan tersendiri baginya, akhirnya dia bisa sampai dikamarnya sendiri.
Arsel sudah mengakhiri percakapan dengan Bella. Saat sadar Arsel langsung menuju kekamar mandi, namun kamar mandi itu sudah kosong.
"Kemana dia?" kata Arsel, dengan kebingungan Arsel mencari Sensa. Arsel turun untuk mencari Sensa, tempat pertama yang dituju yaitu kamar Sensa.
Dan benar, Sensa sudah berbaring di ranjangnya yang sempit bahkan tidak ada bantal, dia menggulung handuk untuk dijadikan bantal agar lehernya tidak sakit.
"Kenapa kamu pindah kekamar ini?" tanya Arsel.
"Saya lebih nyaman dikamar saya sendiri, Tuan." jawab Sensa.
"Tapi kamu masih sakit, tidak ada yang membantu kamu, kalau kamu dikamar ini."
"Saaya tidak membutuhkan bantuan siapapun, Tuan. Saya bisa sendiri." jawab Sensa cuek.
"Tidak,, kamu harus tidur di kamarku dulu, nanti kalau kamu sudah sembuh kamu boleh pindah kekamar ini lagi. Kamu boleh tidur dikasur ku, nanti biar aku yang tidur disofa." kata Arsel.
Hooo, Sensa bengong, ternyata meski Arsel membawa kekamarnya namun tetap saja dia tidak mau tidur satu ranjang? mungkin Arsel masih merasa jijik padanya!.
"Tuan, saya mohon perlakukan saya seperti biasanya saja, jangan terlalu baik pada saya. Saya takut salah mengartikan perhatian anda!" Sensa berbicara sambil membuang pandangannya.
Dan berganti Arsel yang diam, dia tau maksut Sensa berbicara seperti itu.
"Baiklah aku pergi dulu, kalau ada apa-apa panggil saja aku." jawab Arsel.
Selepas Arsel pergi Sensa kembali menangis.
Merasakan seluruh badan yang sakit, ditambah hatinya juga ikut sakit.
Arsel kembali lagi kekamar Sensa, dia membawa bantal empuk dan selimut yang tebal. Arsel mendekati Sensa, dia mengangkat kepala Sensa dan mengganti gulungan handuk dengan bantal. Arsel menyelimuti tubuh Sensa hingga kepundak.
"Tuan, sudah saya katakan! jangan perlakukan saya dengan baik." Sensa berbicara tanpa melihat Arsel.
Arsel menghembuskan nafas.
'Dasar wanita aneh, dibaikin nggak mau, malah minta dikasarin.' batin Arsel.
"Ya sudah, istirahatlah."
Arsel benar-benar pergi dari kamar Sensa.
yang gubug itu
ini terlalu mengada " ceritanya
🤔🤔🤔🤔