Almira merupakan abdi ndalem yang memiliki kepribadian ganda, kadang dirinya bersikap seperti preman karena dulunya di merupakan preman jalanan dan terkadang dia bersikap lemah lembut. Ia menikah dengan seorang Gus yang mana awalnya menjadi pembicaraan di keluarga suaminya karena Almira hidup sebatang kara. Dan Gus itu pun menerimanya hanya karena keterpaksaan dari orang tuanya. Bagaimana perjalanan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay Lissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepo
Mobil putih pergi meninggalkan ndalem dan tersisa seorang putri cantik yang sengaja di tinggal untuk ikut mengaji di pesantren milik Kyai Fatih, selain itu agar gadis itu bisa saling mengenal dengan Agam.
"Ayo nak masuk dulu!" Zahwa mengikuti wanita yang sudah seperti ibunya itu dengan raut wajah uang sedikit mendung karena dirinya tidak pernah pisan dari orang tuanya dalam kurun waktu yang lama.
"Umi! Zahwa langsung ke pesantren aja yaaa.." Dari pada di sini mending dirinya mencairkan suasana nya di pesantrwn apalagi dirinya sudah akrab dengan mbak-mbak ndalem.
"Haaaffuuuu...." Di balik ruangan yang penuh asap Almira meniup api yang padam, hanya tersisa arang merah.
" Kamu ngapain Al?" Zahwa telah berdiri di belakang Almira.
"Eh Neng Zahwa. Ini apinya mati."
"Coba kamu kasih kertas!" Almira menepuk keningnya, ia lupa jika ada kertas di belakangnya.
"Ada apa neng?" Zahwa ikut duduk di samping Almira, wajahnya terlihat suram.
" Al kamu nggak kangen orang tuamu?"
Bukan kangen lagi, bahkan aku rela menunggu mereka sampai akhir hayat ku di sini demi bertemu dengan mereka.
" Ya pasti tetep kangen lah Neng, tapi mau gimana lagi? ya nggak?" Almira menyembunyikan kesedihannya terhadap wanita di depannya.
" "Mbok Mi, minta air hangat! di dapur gasnya habis." Agam langsung berheti di pintu ketika melihat dua gadis cantik yang sedang memandangnya.
"Sini! aku ambilkan ." Zahwa mengambil wadah di tangan Agam.
Bukanlah Zahwa yang di pandang Agam, namun sosok gadis yang sedang duduk dengan wajah Cening hitam.
Almira hanya menggunakan isyarat untuk bertanya kepada suaminya apa yang di tertawa kan pria itu.
Jari tangan aAgam menunjuk pipinya sendiri seolah itu pipi Almira. Zahwa tak sengaja melihat tingkah mereka yang begitu dekat seakan memiliki ikatan.
"Ini." Usai mengisi wadah Agam dengan Air hangat, Zahwa mengembalikannya yang di sambut Agam dengan senyuman manis.
Huuwweeekk sok manis.
" Kamu kayaknya dekat sekali dengan Agam Al?" Almira menjawabnya dengan tertawa " Tidak Neng, malah kayaknya Gus Agam suka sama Neng Zahwa."
" Al, gue mau ke pasar. Lo titip apa?" Teriak Qila dari kantin.
" Nggak! Nih ajak Neng Zahwa agar bisa lihat-lihat, mau kan neng?" Zahwa mengangguk.
...........
Almira memasuki kamarnya yang berada di ndalem, entah mengapa dirinya merasa kangen dengan empuknya kasur Agam. Almira memang sering menginap di ndalem tapi tanpa sepengetahuan para santriwati.
" Kenikmatan dunia yang tiada tandingannya." Ucapnya setelah melemparkan tubuhnya di atas spring bed.
Baru saja ingin memejamkan matanya, Almira mendengar suara hentakan kaki menuju kamarnya.
Agam kah?
Cklek.
" Bukankah kamu seharusnya ada di pondok putra? "
" Bukankah seharusnya kamu latihan memasak di dapur?" Bukannya menjawab Agam malah bertanya balik pada istrinya itu.
" Udah selesai, boneka gue di mana ya?" Almira mencari boneka pertama nya uang ia dapatkan dari suaminya itu akibat kalah bermain catur.
"Di lemari." Jawab Agam sambil mencari berkas di meja belajarnya.
Almira mencarinya di lemari besar, dan benar kata suaminya itu bonekanya berada di paling atas dari tumpukan selimut.
" Eh.." Selembar foto jatuh dari lemari saat dirinya menutup kembali lemarinya.
Ini Agam tapi siapa gadis di sampingnya?
Almira mengetahui foto kecil Agam karena pernah di tunjukkan oleh ibu mertuanya. Gadis kecil itu terlihat begitu akrab dengan suaminya itu.
" Siapa dia Gam?" Tanyanya.
" Siapa?"
" Gadis yang ada di foto ini?" Almira menunjukkan selembar foto yang ada di tangan kanannya.
" Oh itu. Dia Zahwa. " Ucap Agam santai.
Kenapa ati gue rasanya nyesek ya?
Apakah dia cemburu? Agam sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi Almira setelah dirinya menyebutkan nama gadis itu.
" Oh. " Ucapnya lalu kembali menuju tempat tidurnya.
Tok!tok!tok!
Mendengar suara pintu kamar mereka di ketuk, sepasang suami istri itu langsung saling tatap muka. Almira memberi isyarat kepada Agam untuk bertanya.
"Siapa?"
"Ini aku Agam." Suara seorang wanita yang tidak begitu asing.
" Zahwa." Ucap Agam berbisik memberitahu Almira.
Bukannya dia ke pasar bersama Qila?
" Yaudah kamu keluar!"
Agam menuruti permintaan Almira. Ia keluar namun hanya kepalanya saja, dan pintunya ia tutup setengah.
" Ada apa?" Tanyanya pada wanita itu.
" Ini obat kamu dari umi, tadi ketemu di jalan dan umi gugup makanya minta tolong padaku." Ucapnya sambil memberi kantong obat.
" Makasih. Maaf aku lagi nggak pakai baju."
Tanpa sepengetahuan Agam, Almira sejak tadi menguping di belakang pintu yang di pegangnya dan Agam langsung membukanya. Seingatnya dia tidak pernah minta ibunya membelikan obat untuknya.
" Iya. Itu obat apa Agam?" Tanya Zahwa cemas.
" Obat diare."
"Pasti kamu makan pedas lagi? Apakah masih sakit perutmu ? " Zahwa tahu betul siapa pria di depannya itu.
" Aku nggak papa. Baikalah aku mau ganti pakai baju dulu."
Agam langsung menutup pintunya kembali setelah Zahwa pergi tanpa di sadari Almira. Ia masih tetap saja menguping.
" Ekhm."
" Aku takut Neng Zahwa masuk, makanya aku bersembunyi di balik pintu." Ucap Almira setenang mungkin.
" Tapi mengapa harus di balik pintu? Bisa saja kan di kamar mandi atau di balik korden."
****** Lo Al.
" Santai kali, aku paham kok kalo kamu penasaran." Lanjut Agam sambil tersenyum.
" Udah lah lupakan. Apakah kamu diare?"
"Apakah kamu khawatir?"
"Bisakah kamu langsung menjawabku tanpa harus bertanya terlebih dahulu?" Almira kesal dengan Agam.
" Aku akan menjawabnya jika kamu menjawab pertanyaanku."
" Terserah, aku tidak akan menjawabnya." Almira kembali menuju ranjangnya.
"Aaww..." Agam kesakitan memegangi perutnya.
" Apakah kamu nggak papa?" Dengan sigap Almira mendekati suaminya.
" Memang kenapa?" Almira langsung mencubit tangan Agam dengan keras karena di bohongi.
'"Aww.."
" Biar sakit beneran."
Sekarang Agam tahu jika Almira mengkhawatirkan dirinya. Hatinya begitu berbunga-bunga.
" Oh ya seberapa dekat kamu dengan Zahwa?"
"Sedekat dirimu denganku"
Berarti sedekat suami istri dong?
" Kenapa kamu tidak menikahinya saja jika sedekat itu?"
" Memang sedekat apa yang kamu pikirkan?" Tanya balik Agam.
"Sedekat suami istri. " Jawab Almira polos.
" Berarti apakah kamu sudah menganggap jika kita suami istri?"
"Kenapa kamu malah yang bertanya seharuskan aku yang bertanya?"
"Salah sendiri mau di tanya." Jawab Agam, kemudian pergi setelah mendapatkan apa yang ia cari.
Almira merasa malu sendiri mengenai dirinya yang menjadi kepo. Rasanya dirinya ingin mengetahui seluk beluk antara Agam dengan Zahwa. Ia penasaran apakah Agam juga mencintai Zahwa.
" Hishh.. mending gue tidur. Dah lama nggak meluk nih boneka."