Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terikat
Dedi mendorong tubuh Sefia diatas Sofa, lalu melumat bibir Sefia dengan begitu kasarnya.
"Dedi." teriak Sefia ketika melepas pagutannya, membuat Dedi sadar apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan.
Dedipun menghentikan tingkahnya yang diluar batas, dan Sefia langsung mendorong tubuhnya menjauh.
PLAKK!!
"Kamu bajingann, Ded!" umpat Sefia sembari terisak, merasa direndahkan.
Dedi hanya menunduk, menerima atas semua perlakuannya yang sudah kurang aja. "Maaf, aku tidak sadar."
Sefia terisak, tapi ia sadar bahwa Dedi juga tak salah hingga hilang kendali. "Ded, kenapa kamu tidak bisa melepaskanku?"
"Karena aku mencintaimu, Fia." sahut Dedi lemah. "Aku ingin melupakanmu tapi aku terus mengingatmu, aku mencintaimu sampai sejauh itu."
"Tapi, kita tidak mungkin bersama lagi. Akan banyak orang yang akan menentang hubungan kita berdua."
"Aku tidak peduli, aku dahulu memang lemah karena aku masih muda tapi sekarang, aku tidak akan pernah lagi membiarkanmu pergi. Sekalipun kamu tidak mencitai atau menginginkanku, aku sendiri yang akan datang dan memaksamu agar terikat bersamaku."
"Dedi, bukankah kamu keterlaluan?"
"Aku akan keterlaluan dan menjadi gila jika itu menyangkut dirimu, pikirkanlah kembali kata-katamu tadi! Aku akan membuatmu bergantung padaku."
"Dedi."
kamu tidak tahu bagaimana kejamnya keluargamu, kamu tidak tahu itu.
****
Kini Dedi pergi ke kediaman orangtuanya untuk memenuhi panggilan dari orangtuanya yang mengatakan bahwa mereka harus membicarakan hal sangat penting.
"Dedi sayang, akhirnya kamu datang." sapa Imel menyambut anaknya.
"Aku mau langsung menemui nenek saja." ucap Dedi kemudian menaiki tangga.
Dedi kemudian mencium pipi mamanya dan langsung beranjak pergi melewati ayahnya yang tengah duduk membaca majalah diruang tengah.
"Kamu mau kemana? apa begini caramu menyapa orangtua mu?" ucap Bowo dengan nada tinggi pada Dedi yang menaiki tangga.
Dedi menghentikan langkahnya tanpa menoleh kepada Ayahnya yang tengah memarahinya.
"Kamu tahu tidak, karena sikapmu yang kurang ajar tiba tiba meninggalkan pesta makan malam bersama keluarga Baskoro. Membuat papa malu, mau ditaruh dimana wajah papamu ini, hah?"
Dedi hanya diam sambil memasukkan kedua telapak tangannya disaku, tidak menanggapi.
"Pokoknya kamu harus secepatnya menikahi Sherly, dia wanita yang cocok untukmu."
"Tidak, aku akan menikah dengan pilihanku sendiri."
"Apa kamu bilang? umurmu itu sudah cukup matang untuk menikah, Dedi!" Bentak Bowo. "Hanya karena cinta monyetmu itu, kamu sampai sekarang belum pernah sekalipun berhubungan dengan seorang wanita. Papa heran, apa sih yang kamu suka dari gadis rendahan seperti dia?"
"Dia tidak seperti yang papa kira." sahut Dedi enteng
"Hah, bahkan ketika dia sudah menikah dengan orang lain kamu masih berani membelanya. Dia berasal dari keluarga rendahan, tidak pantas untuk mendapatkan cintamu. Mungkin perempuan rendahan itu sudah menaruh sihir padamu."
"Papamu benar,Ded!" sahut Imel, "Wanita rendahan itu dulu hanya menginginkan harta makanya dia berani mendekatimu, untung saja mama sudah menyingkirkannya."
"Terserah apa kata papa dan mama, aku tetap tidak akan menikahi Sherly." sahut Dedi kemudian melangkah kembali.
tapi kemudian Ia menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik menatap orangtuanya, "Jangan sekali kali mencampuri kehidupan Sefia lagi! Kalau tidak, aku akan menghancurkan semuanya dan merusak nama besar keluarga kita!" ancam Dedi kemudian meneruskan langkahnya.
"Anak kurang ajar! Berani beraninya kamu mengancam papa hanya karena perempuan rendahan seperti dia." teriak Bowo ingin menyusul Dedi tapi Imel menghalanginya.
"Sudah pa, mungkin Dedi masih belum ngelupain perempuan itu. Sabar pa, jangan emosi!" ucap Imel sambil mengelus dada suaminya yang bergejolak.
****
"Nenek." sapa Dedi memeluk Neneknya serta menciumi kedua pipinya.
"Aduh, cucuku yang tampan dan bujang." sapa Marlin sambil mengelus rambut cucunya penuh sayang.
"hentikan Nek memanggilku bujang, aku sudah menjadi milik orang." sahut Dedi sambil cekikikan.
"Benar kah? cucuku ini sangat tampan, jadi mana mungkin wanita mampu menolaknya."
"Tapi sangat rumit, Nek!"
Dedi bersujud lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan neneknya yang tengah duduk di kursi tunggal.
"Sulit kenapa? cerita ke nenek!" tanya Marlin sambil mengelus lembut rambut cucunya.
"Dia istri orang, Nek!" sahutnya yang justru mendapat tepukan dikepala oleh neneknya.
"Kamu ini ya, berhenti bercanda! kamu sudah tua." teriak Merlin
"He he, aku beneran nek. Aku kayanya cinta mati."
Marlin berdecak, "Apa ini orang yang sama, yang pernah kamu ceritakan sebelumnya."
"Iya, nenek benar. Dedi belum lama ini ketemu dia lagi nek, dan dia sepertinya kurang bahagia dengan pernikahannya. Apa Dedi culik dia saja ya, Nek?"
Dedi lagi lagi mendapat tepukan dari Marlin hingga mengaduh kesakitan.
"Astaga, cucu nenek yang tampan ini memang tidak bisa dianggap enteng. bisa bisanya kamu naksir istri orang, meskipun kalian berdua saling mencintai tapi hubungan kalian berdua itu salah."
"Iya, nenek benar. sepertinya aku tidak ingin dia berlama lama dengan suaminya, besok aku akan menculiknya aja."
"Astaga Dedi!"
"He he bercanda doang Nek."
****
Disisi lain Sefia menyambut kedatangan suaminya pulang.
Angga datang sambil membawa sekotak makanan yang baru saja dibelinya, dijalan pulang.
"Dek, aku bawain kamu kue."
"makasih mas." ucap Sefia sembari mengambil kotak yang disodorkan Angga.
"Oh ya, hasil dari tes kemarin gimana?" tanya Angga perihal dia belum mengetahui hasil kesuburan mereka.
Sontak Sefia gugup, bagaimana ia harus menjawab.
"Itu... hm, hasilnya..."
"Ya sudah gak usah dijawab, mas udah tahu kok" sahut Angga menyeka
"Loh, jadi mas Angga sudah tahu?"
Angga kemudian mendekat dan mengelus rambut Sefia, "Tidak masalah kok Dek, kalau kamu gak bisa hamil. mas mengerti, lagian punya anak itu kan merepotkan."
"Ah begitu." Sefia tersenyum tawar, tak mampu mengatakan yang sebenarnya.
"Dek, leher kamu kenapa?" tanya Angga pada handsaplast yang menempel dilehernya.
Refleks Sefia menutup lehernya, "Ah, ini tadi gak sengaja luka waktu didapur." sahutnya gugup
"Oh, hati hati lain kali."
"Iya mas."
dan Kini Sefia susah diatas kasur merebahkan dirinya akan tertidur lelap sambil memiringkan badannya.
"Dek, kamu udah tidur?" tanya Angga memeluk istrinya serta mencium punggungnya.
Sefia gugup dan sedikit gemetar, pasalnya suaminya malam ini sepertinya akan meminta untuk dilayaninya.
Bukankah ini yang dia inginkan dari dulu?
Angga membalikkan tubuh Sefia dan memposisikan berada diatasnya, ketika Angga mendekatkan diri dan akan melayangkan bibirnya ke bibir basah milik Sefia, refleks Sefia menghindar sambil memejamkan matanya.
"Maaf mas, aku kebelet pipis."
****
Nah, kok namanya "Imel" sih? Author salah nulis nama, Eh, terlanjur pake nama diri sendiri.
Anjirrr Lol.
Yukk Update MANGATOONMU, lalu VOTE Novel Author pakai POIN GRATIS mu.
yang belum punya POIN, Ke pusat misi diberanda.
makasih :* semangat 45.
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..