Arga Aldiano siswa tampan berprestasi, multi talent, dan idola di SMA kencana. Dipuja kaum hawa adalah takdirnya. Dingin dan cuek itulah sifatnya. Peduli? bukanlah bagian dari hidupnya. cowo yang dijuluki sebagai Badboy ini adalah cowo yang paling di takuti seisi sekolah. Lalu apa jadinya jika cowo seberbahaya Arga justru di lindungi oleh seorang cewe culun? Apakah mungkin? bagaimana bisa?
Fika Pricilla, adalah gadis biasa yang memiliki ciri khas yaitu dua rambut berkepang dan kaca mata besar menutupi matanya yang sipit.
Berbagai pertentangan terus menggeluti keduanya. lalu bagaimana mungkin cewe berambut kepang itu mampu melindungi seorang Arga?
Simak ceritanya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasih Kurnasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan
Sebuah nama terukir di indahnya langit biru, saat itulah kau mengucapkan sumpah janji dimana aku merasa kembali hidup. Senyuman indah yang kau berikan akan selamanya ada di benakku. Namun ketiadaanmu telah menghilangkan beberapa serpihan rasa itu, tetapi dapat ku pastikan dirimu tidak akan tergantikan. Walaupun ada orang lain di dalam hatiku.
Alan..
Dimana kamu?
Aku takut..
Sendirian..
Tanpamu..
Alan..
Aku disini..
Merindukanmu..
♡♡♡♡♡
"Akhirnya lo bangun juga."
Kedua manik indah milik gadis yang kini tengah terbaring lemah diatas kasur menyerjapkan beberapa kali kedua kelopak matanya. Rasa pening di kepalanya begitu kuat seakan menghentaknya beberapa saat hingga ia mengambil posisi duduk sambil memegangi kepalanya dengan satu tangan.
"Ini dimana?" Ucap lembut gadis berkepang itu sambil menoleh pada orang yang kini berdiri di samping ranjangnya.
Cowo berdarah dingin yang kita kenal dengan sebutan Arga itu melipat kedua lengannya di dada menatap misterius Fika yang juga sama menatapnya.
"Apa benturan di kepala lo udah bikin lo pikun?"
Fika menyernyit tidak mengerti. Sedangkan Arga menghela nafasnya. Setelah kemudian kembali menatap Fika.
"Ini kamar gue."
Beberapa detik Fika tidak merespon hingga ia baru saja sadar apa yang di katakan Arga batusan membuatnya tercengang, dengan gerakan reflex ia pun melihat keseluruh ruangan disana. Setelah ia sendiri yakin, bahwa itu memang kamar Arga. Fika pun tidak ingin berlama-lama, ia segera turun dari ranjang tanpa memperdulikan Arga yang justru menyernyit melihatnya.
"Mau kemana lo?"
Fika terhentikan, ia mendongkak menatap Arga yang tepat berdiri di depannya.
"Ke..luar." Ucap rendah Fika takut jika Arga akan nge gas.
"Boleh aja. Asal ada syaratnya."
"Syarat? Sa-syarat apa?"
"Mudah," Arga memasukkan tangannya ke saku celana. "Lo cuman harus bikin makanan buat gue sekarang."
"Itu saja?" Tanya Fika tidak percaya.
"Lo nantangin? Atau mau gue kasih tugas lebih berat?"
"Eh jangan! Iya Fika masakin."
Fika menghela nafasnya, sebetulnya ia sudah berfikir yang aneh-aneh namun untungnya Arga tidak seliar pimikirannya. Setelah menyetujuinya Fika pun berniat untuk beranjak. "Kalo gitu.. Fika ke dapur dulu."
Tanpa menunggu jawaban Arga. Fika sudah beringsut turun dari ranjang dan akan melangkah pergi. Namun lagi-lagi Fika harus menahan langkahnya karena tangan Arga yang justru menahannya.
"Tunggu bentar,"
Fika kembali berbalik ragu. Namun tetap memberanikan diri menatap mata elang cowo itu. "Kenapa?" Tanya Fika gugup.
Arga masih diam, cowo itu seperti memikirkan sesuatu yang entah bagaimana sulit untuk ia sendiri katakan. Hingga akhirnya..
"Alan itu siapa?"
Deg!
Fika berusaha untuk tidak menunjukkan ekpresi bingungnya dengan itu ia pun menunduk, lalu menarik lengannya yang di pegang Arga. Seketika tubuhnya terasa kembali menegang setelah mendengar nama itu. Bahkan hatinya terasa kembali sakit.
"Jawab gue." Paksa Arga. Namun Fika hanya diam tak bergeming.
"Dia.."
"Pacar lo?" Tanya Arga asal menebak. Seharusnya tidak mungkin.
Fika sendiri menyernyit dan mentapnya. "Eng- nggak. Dia... bukan siapa-siapa."
Mendengar pernyataan Fika barusan membuat ekspresi Arga berubah seketika. Entah apa yang ada di pikiran cowo itu. Bahkan ekpresinya sama sekali tidak mampu ditebak. Namun meskipun begitu cowo itu tetap menunjukkan sisi tenangnya.
Di tengah kecanggungan di antara mereka, Arga justru semakin mendekatkan dirinya dengan Fika membuat Fika sendiri reflex melangkah mundur.
"Arga.." Fika menyernyit berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin kocar kacir tidak karuan. Untungnya Arga kini menghentikan aksinya. Hingga tangan dingin cowo itu menyentuh dagu mungil Fika, meraihnya dan mengangkat wajahnya memaksanya untuk menatap kedua manik tajam Arga.
"Apa yang lo liat di ruangan itu?"
Fika menegang. Sepertinya ia akan habis oleh Arga kali ini. Karena dia sendiri telah melanggar peraturan yang pernah Arga bilang. Bodoh! Ia terlalu penasaran. Bahkan penasarannya telah melampaui batasnya sendiri. Fika sadar ia salah, namun apa Arga akan luluh hanya dengan sebuah kata 'maaf?' That's so impossible.
Arga masih menunggu jawaban Fika. Namun sepertinya Fika enggan untuk mengatakannya. Apa yang liat di ruangan itu sebuah hal yang mustahil dan ia sadar apa yang ia lihat hanyalah halusinasinya saja. Bahkan ia merasa menyesal telah melihat ruangan itu. Entah mengapa kenangan pahit belasan tahun yang lalu tiba-tiba muncul kembali. Dan semakin lama semakin membekas bahkan akhir-akhir ini telah menghantuinya.
"Fika gak liat apapun." Ucap Fika akhirnya. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia katakan. Arga pun tidak akan tau dan tidak akan mungkin mau tau tentang siapa Alan yang Fika maksud. Alan adalah sosok kenangan terindah Fika, sekaligus sosok terpahit yang ada di dalam hidupnya. Alias orang pertama yang menyakiti Fika selain Arga. Namun masa lalu tetaplah masa lalu, dan kini sosok Alan hanyalah sebuah kenangan saja di dalam hidup Fika dan tidak akan lebih dari itu.
"Lo keluar dari sini." Perintah Arga tiba-tiba membuat Fika menatapnya bingung. Entah mengapa nada bicara Arga tiba-tiba saja berubah. Padahal tadi dia terlihat ramah walaupun sedikit. Namun sekarang? Dia telah kembali ke sosok dingin dan menyebalkan seperti biasanya.
"Iyah. Fika permisi dulu." Ucap Fika yang kemudian berjalan keluar dari kamar Arga. Dan sesaat Fika keluar kamar, pintu kamar Arga tertutup keras. Seperti ada seseorang yang membantingnya dari dalam. Mungkin kah Arga yang melakukannya? Tapi kenapa?
Sudahlah! Batin Fika.
Terlalu lelah rasanya memikirkan tinkah Arga yang selalu tidak bisa dimengerti. Lagi pula Fika sendiri tidak tau apa yang membuat cowo itu bisa seperti itu. Terkadang iba-tiba baik dan terkadang galak atau dingin serta cuek. Apa Arga memiliki kepribadian ganda?
Fika menarik kepangan duanya. Rasa pusing mulai melandanya jika terus memikirkan Arga yang tidak pernah ada ujungnya. Seolah berkas-berkas di otak Fika hanyalah cowo itu.
Tidak ingin berfikir terlalu keras, Fika pun memnutuskan untuk menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur berada. Di sana Fika langsung membuka kulkas namun di kulkas tidak terdapat banyak makanan. Hanya ada sayur-sayuran biasa ditambah beberapa butir telur. Sebelum Fika mengambil bahan makanan ia pun meraih gelas untuk minum. Sejak terbangun tadi Fika memang sangat kehausan terlebih dia telah berhadapan dengan Arga. Tentu saja membuat tenggorokannya semakin mengering.
Fika meneguk air putih dingin di tangannya hingga tandas. Kemudian berjalan menuju wastafel untuk mencuci sayuran terlebih dahulu. Setelah selesai ia mulai mengiris satu persatu bahan makanan disana.
Entah apa yang sedan cewe itu fikirkan saat ini, yang jelas Fika terlihat sedang melamun. Kejadian hari ini membuatnya begitu kebingungan. Sosok yang selama ini ingin ia hapus di dalam hidupnya tiba-tiba muncul kembali. Bahkan serasa menerornya setiap saat.
Kejadian beberapa belas tahun yang lalu membuatnya takut sekaligus sedih. Ingatannya kembali saat melihat wajah tampan Alan yang tergeletak lemah di pangkuannya. Ia merasa semua itu adalah kesalahannya. Ia tidak mampu mengulang waktu bahkan untuk menyesal pun adalah hal yang sia-sia. Jika saja waktu mampu terlulang, Fika akan membawa Alan berasamanya dan tidak akan melepaskannya untuk selamanya. Namun nyatanya semua itu hanyalah sebuah angan-angan belaka. Kenyataan yang pahit adalah Alan telah tiada.
"LO BEGO YAH!?"
Suara teriakkan baraton milik Arga berhasil membuat Fika terhentak kaget kembali dari lamunannya. Entah apa yang terjadi namun Arga tiba-tiba saja menarik tangannya. "Aw!"
Fika meringis saat menyadari jarinya terluka. Hal itu membuat Arga menyernyit.
"Selain bego ternyata lo juga ceroboh!"
Arga mengelap jari Fika dengan tysu. Melihat ekpresi Arga yang seperti itu membuat Fika tertegun. Apa Arga sedang menghawatirkannya?
"Ah!" Fika kembali meringis saat Arga mengoles luka di jari Fika dengan air untuk mencegah infeksi maka harus di bersihkan dengan air lebih dahulu.
"Lo ngiris tangan sendiri gak kerasa apa?" Pertanyaan Arga seperti spontanitas kepanikannya namun hal itu justru membuat Fika sedikit **** senyumannya.
"Enggak kerasa." Ucap Fika. Membuat Arga menatapnya.
"Lagi mikirin apaan sih lo? Atau lo udah bosen hidup?"
Fika mendengus. Perkataan Arga sungguh kejam.
"Fika cuman sedikit ngelamun. Jadi.. gak kerasa kalau jari Fika berdarah."
"Bego!"
Arga kembali menarik tangan Fika menuntunnya menuju ruang depan. "Arga mau ngapain?"
"Mau nyumpel lo di toilet!"
Fika merengut, namun ia juga tidak mampu melawan. Ia tetap pasrah dibawa Arga hingga akhirnya cowo itu menariknya duduk di kursi depan.
Arga mengambil P3K kemudian mulai membalut jari Fika yang terluka dengan betadin. Fika yang menyaksikan aksi cowo itu hanya bisa melongo tidak percaya. Kesambet setan apa Arga hari ini? Astaga! Sungguh kejdian langka.
"Em.. Arga-"
"Diem."
Fika langsung kembali diam. Entah mengapa setiap perintah Arga seperti perintah spontan untuk dirinya. Bahkan untuk melawanpun rasanya ia enggan.
"Arga.. makasih."
Mendengar perkataan Fika yang nyaris tidak terdengar itu membuat Arga menghentikan kegiatannya. Cowo itu terdiam sejenak sebelum kemudian menatap kedua mata cokelat Fika lekat.
Tatapan keduanya saling bertubrukan. Semakin dalam dan dalam. Seolah kedua mata mereka saling berbicara satu sama lain. Begitu indah dan.. nyaman.
Pletak!
"Aw!"
"Jangan ge'er. Gue ngelakuin ini karena nyokap."
Fika merengut sekaligus menyernyit. Ternyata Arga tidak ikhlas menolongnya? Jahat.
"Oh."
Suasana kembali hening. Arga masih berkelit di jari Fika yang terluka hingga telah selesai mengobati. Arga kembali beranjak dari tempatnya sambil membawa kotak P3K dan melenggang pergi tanda berkata apapun pada Fika.
Fika masih menatap lembut kepergian Arga hingga punggung besar dan berotot itu hilang menjauh dari pandangannya.
Senyuman yang nyaris hilang hari ini, berhasil dikembalikan dengan hal kecil dari Arga. Fika menatap jarinya yang sudah terbungkus handsaplash dengan senyuman mengembang disana.
Mengingat itu, Fika jadi teringat kembali dengan kegiatan yang sedang tadi ia lakukan. Yah, Fika harus memasak untuk Arga. Fika pun segera berlari kecil kembali ke dapur namun belum sampai ia ke sana. Langkahnya telah terhenti saat menangkap sosok Arga juga berada di sana.
"Arga kamu lagi ngapain?" Tanya Fika dengan berjalan menghampirinya.
"Lo pikir sendiri."
Fika terdiam dan memerhatikan apa yang sedang cowo itu lakukan.
"Arga masak?"
Alih-alih menjawab, Arga hanya melirik Fika sekilas dan kembali memusatkan matanya pada sayur-sayuran yang sedang ia iris.
"Emang Arga bisa masak?"
"Kok Fika gak tau Arga bisa masak?"
Tidak ada jawaban.
"Sejak kapan Arga bisa masak?"
"Diajarin tante Ratna yah? Oh atau Arga-"
"Ck! Bisa diem gak sih lo?" Sentakan mendadak dari Arga berhasil membuat Fika kembali bungkam. Anehnya Fika merasa sentakan kali ini begitu menyenangkan, entahlah ia merasa ada hal yang berbeda. Ia memang sudah sering dimarahi Arga namun saat ini Arga kemarahan Arga seolah-olah hanya untuk melindunginya.
"Fika boleh bantu gak?" Tanya Fika belum juga menyerah. Bahkan saat ini ia berjalan mendekati Arga disana.
"Berhenti di situ!" Arga menunjuk lantai bawah memberi jarak untuk Fika baginya. Refleks Fika pun menghentikan langkahnya dengan memasang raut wajah kecewa.
"Tapi Fika mau bantu Arga." Kata Fika.
"Gue gak butuh bantuan lo." Ucap Arga ketus seperti biasa.
"Tapi Fika mau.."
"Lo mundur."
"Hah?"
"Gue bilang mundur."
Arga mengibas-ngibaskan tangannya menuyuruh Fika untuk mundur. Dan polosnya Fika menurutinya.
"Disini?"
"Mundur terus."
"Sini?"
"Terus, sampai ke ruangan tengah. Lo duduk diem di sana sampai gue selesai masak."
Fika melongo.
"Ih Fika kan mau bantuin Arga. Malah di suruh ke ruang tengah." Gerutu Fika tidak terima.
"Gue gak butuh bantuan lo."
"Tapi-"
"Diem! Kalo lo masih ngoceh juga mending lo keluar sekarang."
Mendengar ancaman Arga, Fika pun mau tak mau menurutinya. Daripada timbul masalah lain. Mungkin lebih baik kali ini ia yang mengalah.
"Iyadeh." Ucap Fika lesu. Kemudian berjalan ke ruangan tengah.
Beberapa saat kemudian. Fika kembali duduk di meja makan besar milik keluarga Arga. Karena cowo itu sudah terlihat datang dengan membawa beberapa piring makanan yang sudah ia masak tadi.
Kedua mata cokelat indah Fika sejak tadi tidak juga teralihkan dari makanan yang kini tertata rapih di meja. Harum makanan lezat telah merasuki indera penciumannya. Dan tingkat nafsu makannya seolah bertambah dengan hanya melihat makanan lezat buatan Arga disana. Sungguh ia benar-benar tidak menyangka hanya dengan bahan sederhana dan seadanya tapi Arga mampu menyulap bahan makanan itu menjadi makanan yang lezat dan terlihat elegan.
Fika sudah tidak sabar ingin merasakan rasanya. Bahkan dengan refleksnya ia langsung mengambil salah satu masakan Arga dengan tidak sabar.
Plak!
"Aw!" Fika meringis saat jutru sendok yang ia pegang terjatuh karena pukulan Arga yang keras.
"Cuci tangan lo. Jorok!" Arga mengatakannya dengan wajar sesangar mungkin, sepertinya cowo itu memang sangat menjaga kebersihan.
Fika yang tengah mengusap-usap punggung tangannya itu hanya mampu diam sambil menunduk ketika kemudian Arga menyodorkan mangkuk yang berisikan air. Saat itu pula Fika menatap Arga bingung.
"Cuci tangan lo disini." Ujar Arga kemudian melenggang menuju kursi yang bersebrangan dengan Fika.
"Gue gak suka cewe jorok." Ucap Arga tiba-tiba. Membuat Fika mendongkak menatapnya.
Apa maksud dari perkataan Arga? Memangnya jika Fika tidak jorok apakah dia akan menyukainya? Astaga Arga.. jangan bikin anak orang mikir yang aneh deh. Entah bagaimana, namun setiap perkataan kecil dari Arga selalu membuat Fika meleleh. Dan entah bagaimana Fika selalu merasa perkataan Arga yang seperti itu terdengar manis. Padahal itu hanya perkataan biasa dari seorang Arga. Sebenenarnya mendeskripsikan perihal Arga itu sangatlah membingungkan.
"Jangan mikir yang aneh. Cewe yang gue maksud bukan termasuk lo."
JLEB!!
Oh Arga mengapa dirimu selalu mampu hati orang melayang namun dalam detik itu juga kau mampu menjatuhkannya? Astaga sakitnya sampe ke tulang.
Fika mengehela nafas pelan. Itu kesalahnnya, karena ia terlalu berfikir jauh. Arga memang berhasil membuat mood Fika berubah seketika, namun karena rasa masakan Arga yang enaknya luar biasa berhasil mengembalikan moodnya walaupun sedikit. Tidak bohong, masakan Arga seperti masakan Chef Professional. Lezat tiada duanya.
Ting! Suara pesan masuk ke ponsel Fika membuat Arga serta Fika saling menatap satu sama lain.
Fika mengmbil ponselnya dari saku lalu membuka pesan yang tertera disana.
"Siapa?"
Sejak kapan Arga jadi kepo?
"Iqbal." Jawab Fika tanpa rasa bersalah.
Mendengar nama itu Arga jadi terdiam namun tatapannya masih untuk Fika. Entah apa yang ada di benaknya saat ini. Dilihat dari ekpresi Arga, seolah ada kekesalan di wajahnya.
Namun detik berikutnya Arga kembali melanjutkan makan sambil bergumam.
"Mau apa dia?"
Walaupum hanya sebuah gumaman, namun Fika mampu mendengarnya.
"Ini... Iqbal ngajakin pergi ke festival besok." Ucap Fika polos. Belum juga peka.
Seketika itu juga Arga mengehentikan makannya.
"Lo mau kesana?"
Astaga? Seseorang di depan Fika beneran Arga kan? Kok kepo yah?
"Hem.. Fika gak tau. Tapi kalo besok gak ada kegiatan, mungkin Fika-"
"GAK BISA!"
Fika terkejut dengan sentakkan tiba-tiba Arga. Entah apa yang salah dari ucapannya barusan, namun sepertinya hal itu membuat Arga ngamuk. Why?
Dada Arga terlihat naik turun. Apakah cowo itu benar-benar emosi? Tapi kenapa? Fika sempat kebingungan. Hingga akhirnya Arga angkat bicara.
"Lo harus less private lagi sama gue, itupun kalau lo mau. Tapi jangan salahin gue kalo nanti nilai lo buruk. Dan gue gak akan tanggung jawab kalo nanti sekolah ngeluarin lo."
Arga mengancam Fika? Ya ampun.. apa yang ada di fikiran cowo itu? Cemburu mah ngomong aja kalie gak usah ngeles kaya bajai.
"Arga!" Fika beranjak bangkit dari duduknya saat Arga juga bangkit hendak pergi.
"Keputusan ada di tangan lo." Arga berbalik namun belum berjalan. "Dan lo tau, gue benci penolakkan."
"Arga tunggu!" Fika berlari kecil mengejar Arga yang hendak menaikki tangga. Dan cowo itu berhasil di hentikan.
"Fika mau belajar kok sama Arga. Fika akan nolak ajakan Iqbal."
Entah bagaimana mendeskripsikannya, tapi kemarahan Arga seolah-olah lenyap saat mendengar keputusan dari Fika. Jangan-jangan...
"Tapi.. "
Senyuman tipis Arga menghilang dan cowo itu berbalik badan untuk melihat Fika di sana. "Apa lagi?"
"Anu.."
"Ngomong aja."
Fika menudukkan kepalanya. Ia begitu takut jika Arga akan marah kembali.
"Lo gak ngomong gue pergi."
"Eh! Itu.. hem.. besok boleh gak Iqbal jembut Fika ke sekolah?"
Arga terdiam. Sungguh demi apapun tatapan Arga begitu mengerikan sekarang. Bahkan Fika saja tidak mampu menatapnya intens.
"Lo mau dianterin dia?" Tanya Arga terdengar dingin.
"Gak tau juga.. Fika bingung."
"Kalo gitu besok lo pergi bareng gue."
What? Apa Fika tidak salah dengar? Tadi Arga bilang apa? Pergi bareng dia? Astaga dia kerasukan setan apa?
"Beneran?" Tanya Fika memastikan. Sekalugus tidak percaya.
"Kalo lo gak mau gue gak maksa." Arga kembali berbalik dan berjalan menaikki tangga. Bukan itu yang ingin Fika dengar dari Arga. Astaga ada apa dengan cowo yang satu ini?
"Fi-Fika mau." Teriak Fika akhirnya. Namun tidak membuat Arga berhanti.
Seperti ada dorongan di kakinya Fika tanpa ragu berlari memaikki tangan dengan jantung berdebar cepat. Ia berusaha mengejar Arga hingga sampai terlihat jelas punggung tegap milik cowo itu.
"Arga!"
"Tunggu bentar Fika-"
Fika tidak menghentikan larinya hingga akhirnya Arga berhenti mendadak, alhasil Fika menubruk punggung Arga dengan keras.
Mendengar keluhan Fika di belakangnya Arga pun seketika berbalik dan menatap Fika di depannya dengan jarak yang tipis di anatara mereka.
"Lo mau ngapain si?" Sarkas Arga. Cowo itu menyernyit sedikit menunduk saat Fika sedang mengusap-usap hidungnya yang mengenai punggung keras cowo itu.
"Maaf.." Lungguh Fika. Ia benar-benar malu pada dirinya sendiri yang ceroboh. Bahkan untuk Arga.
"Lo mau ngomong apaan?" Tanya Arga kemudian. Ekpresi cowo itu seperti tertahan sesuatu, sekilas terlihat khawatir namun juga terlihat berusaha sedingin biasa.
"Fika mau berterima kasih sama Arga."
"Soal apa?"
"Soal.. kejadian waktu di tempat loker."
"Gak usah lo pikirin. Gue lakuin itu bukan karena lo."
"Tapi-"
"Gue ngelakuin itu karena tim gue."
Deg!
"Jangan berfikir terlalu jauh, gue hanya gak mau tim gue kena masalah hanya karena cewe kaya lo. Dan gue sebagai kapten gak akan ngebiarin hal itu terjadi."
Perkataan Arga benar-benar engenai hati Fika. Mengapa ia terus-terusan berharap sedangkan apa yang dia harapkan justru tidak pernah mengharapkannya.
"Gue saranin jangan pernah deketin Vino. Atau lo akan dapat masalah."
Fika terdiam ia sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Sungguh rasa sakit di hatinya masih membekas. Mengapa Arga mengatakan hal itu jika memang ia tidak peduli? Apa yang sebenarnya cowo itu inginkan?
"Dan satu hal terpenting."
Arga melangkah selangkah lebih dekat dan dekat dengan Fika. Membuat Fika menatapnya.
Arga menundukkan kepalanya hingga wajahnya kini sejajar dengan wajah polos Fika. Tatapan keduanya saling bertukar satu sama lain.
"Satu hal penting yang harus lo ingat."
Arga berbelok membisik di telinga Fika bahkan Fika bisa merasakan hembusan lembut nafas Arga yang hangat, membuatnya merinding sekujur tubuh.
"Jangan pernah deketin cowo bernama Iqbal lagi."
Fika mebualatkan matanya. "Ke-kenapa?"
Arga kembali menarik dirinya dari Fika dan memasukkan kedua lengannya di saku celana.
"Lo pikir sendiri."
Setelah mengatakan hal itu Arga melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Fika yang masih kebingungan di tempatnya.
Langsung scroll ke bawah sudah up!