Kisah Islami
Cerita Melankolis
Kali ini saya persembahkan untuk kalian semua para pembaca setia saya, semoga kalian semua terhibur.
Siapa yang mau memilih kesedihan,kalau kita di suguhkan bahagia dan sedih, pastilah semua orang akan memilih bahagia.
Arafa, seorang gadis yang tumbuh dewasa dengan penuh lika liku kehidupan dan kepedihan, namun karena semua itu, dia menjadi wanita yang tegar dalam menghadapi kenyataan hidup yang memang harus ia jalani.
Ikuti terus kisah Arafa, sampai dia menemukan kebahagiaan dan sang pujaan hati.
SUDAH MASUK MUSIM 2..
Kesabaran Ara dan David musim 2 ini akan di uji, keinginan mereka untuk memiliki anak harus tertunda cukup lama. Bagaimana cara mereka melaluinya? 😊
Baca juga karyaku yg lain, bisa dilihat lewat sentuhan lembut ke avaku😁😁.. Terima kasih😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Kenangan masa lalu tentang sang ayah berlarian di kepala Ara saat ia menatap lama rumah besar di depannya. Tidak lama Ara bersama ayahnya, namun semua itu melekat erat di pikiran Ara, dan di rumah itulah Ara memiliki banyak kenangan bersama sang ayah.
"Ayo kita masuk!"
Suara Dani menyadarkan lamunan Ara. Ara tersenyum ke arah Dani dan mengangguk menyetujui perkataan Dani.
Kaki Arafa terasa bergetar, berat dan kaku.Entah kenapa ia menjadi memiliki rasa takut di saat tujuannya sudah di depan mata.
Ara mengatur napasnya, mengucap Basmallah pelan dan berusaha memantapkan diri dan meyakini kalau semua akan baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum " ucapan salam dari Dani dan Ara bersamaan.
"Waalaikumsalam " jawab seorang laki-laki dari dalam rumah, namun belum menampakkan dirinya.Ara mengira kalau itu adalah Pamannya.
"Duduklah dulu Ara, aku akan mengganti pakaian sebentar!"
Ara mengangguk. Perasaannya sedikit tidak tenang sebenarnya kalau di tinggal Dani, namun dia harus tetap memantapkan dirinya, pasti akan baik-baik saja, batin Ara.
Suara pria yang menjawab salam tadi belum juga muncul, mungkin pria itu tahu kalau yang datang adalah Dani, jadi tidak perlu ia harus keluar menemui Dani.
Hingga akhirnya Dani kembali menemui Ara yang masih duduk di ruang tamu.
"Ara, aku akan menunjukkan kamarmu yang dulu pernah kau pakai, ayo!"
Ara menggeleng kepala cepat.
"Tidak.Aku ingin bertemu paman dulu. Bisa kau panggilkan paman?"
Dani yang tadi berdiri, kini mendudukkan dirinya di sofa dan menatap tajam Ara.
"Ini adalah rumahmu, rumah keluargamu juga. Hilangkan rasa takutmu itu Ara.Bapak masih berada di sawah sepertinya, jadi sekarang istirahatlah dahulu. Kita akan bicara nanti sore lagi saat kita berkumpul."
Ara masih berat hati menerima tawaran Dani untuk mengantarkan ke kamar.
"Dimana Bibi? aku ingin bertemu dengan Bibi dulu Dani. Apa di belakang, aku akan ke sana" Ara hendak berdiri, namun Dani menghentikannya dengan gerakan tangannya.
"Ibuku sudah tiada lima tahun lalu."
Seperti tersambar petir, Ara menahan napas di tenggorokannya.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un,,"
"Apa yang terjadi Dani? apa Bibi sakit?" imbuh Ara.
Danipun menceritakan kepada Ara, kalau ibunya terkena serangan jantung tiba-tiba dan meninggal sesaat setelah sampai di rumah sakit.
"Aku minta maaf Dani, aku tidak tahu kalau Bibi.... "
"Tidak apa-apa Ara. Sudah di takdirkan oleh Allah, kalau ibuku harus kembali kepada-Nya lebih cepat."
"Iya Dani" jawab Ara lirih, " lalu, siapa yang menjawab salam tadi kalau paman juga tidak ada di rumah?"
Dani tersenyum. " Adikku, namanya Dana, dia sudah berusia 17 tahun, baru saja lulus SMA."
Ara membulatkan mulutnya setelah mengetahui jawaban dari apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi.
"Ayo, istirahatlah dulu di kamar yang dulu pernah menjadi kamarmu" ucap Dani sambil berdiri, membuat Ara tidak bisa menolak perkataan Dani kembali. Tubuhnya memang sudah sangat lelah karena perjalanan tadi, di tambah kulitnya yang lengket karena keringat, membuat Ara ingin sekali mandi.
"Ini kamarmu, kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku!"
"Iya, terimakasih Dani, aku ingin mandi dulu, sudah lengket sekali" Ara tertawa renyah.
"Iya, kamar mandinya di sana, kau masih ingatkan?"
"Sedikit " Ara tertawa kecil kembali.
"Baiklah, lakukan saja apa yang kau mau di sini, ini juga rumahmu, aku ke kamar dulu!"
"Iya" jawab Ara lirih.
Setelah Dani meninggalkan Ara, Ara menutup pintu kamarnya pelan. Ia memutar tubuhnya, menatap penjuru kamar, dan mengingat saat dulu ia pernah tidur di dalam kamar yang saat ini ia berada.
Sudah banyak yang berubah, letak tempat tidur dan almari sudah tidak seperti dulu lagi.
Mata Ara menyorot sesuatu yang membuat ia tertarik. Ia melangkah mendekati apa yang saat ini ia tatap tajam.
Sebuah pigora berukuran sedang yang berdiri di atas meja. Ara menatap foto yang terpasang dalam pigora itu. Foto hitam putih yang sudah hampir tak terlihat karena berumur sudah begitu lama, namun Ara tahu kalau itu foto Ayahnya.
Ara terduduk lemas sambil memeluk erat pigora tersebut.
"Ayah " ucap Ara pelan sambil menangis.
Hatinya begitu merindukan ayahnya. Kenangan Ayahnya kembali berkeliaran di kepala Ara saat ini, hingga akhirnya ia merebahkan diri sambil memeluk foto ayahnya.
Tanpa terasa Ara sudah tertidur lelap tanpa melepaskan foto ayahnya dari pelukannya.
Hingga matahari tergelincir ke arah barat, meninggalkan hiasan langit berwarna oranye di ufuk barat, Ara terbangun sambil mengerjab pelan. Matanya menyesuaikan cahaya senja yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela kaca yang tirainya terbuka.
"Sudah sore, aku akan mandi dulu."
Ara bergegas bangun dan menaruh pigora itu kembali ke tempatnya. Ia membuka ransel dan mengeluarkan gamis dan hijabnya juga handuk kecil berwarna merah muda. Tak lupa perlengkapan mandinya yang berada di dalam kantung kresek berwarna hitam.
Ara bergegas menuju ke kamar mandi. Kebetulan rumah itu sepi, sehingga Ara tidak berpapasan dengan siapapun saat memasuki kamar mandi.
Tak lama kemudian, Ara keluar dari dalam kamar mandi, lalu mengambil air wudhu di kran yang berada di luar kamar mandi.
Satu persatu sunah wudhu sudah Ara lakukan, kini ia bergegas masuk ke dalam kamar kembali untuk menunaikan kewajibannya, yaitu sholat ashar.
Tok Tok Tok
Ara yang baru saja selesai sholat, segera beranjak berdiri setelah mendengar ketukan pintu dari luar. Ia segera membuka pintu dan terlihat Dani sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Aku sudah membeli makanan, ayo kita makan, kau pasti lapar!"
Mata Ara terlihat berkeliling keluar kamar mencari sesuatu.
"Apa Paman sudah kembali?" tanya Ara.
Dani mengangguk, "baru saja Bapak kembali dari sawah, dan sekarang sepertinya masih mandi."
Mulut Ara membulat. " Baiklah, aku akan menemui Paman terlebih dahulu, nanti setelah itu aku akan makan "
"Baiklah " Dani kembali meninggalkan Ara dan menuju ke ruang tamu. Beberapa bungkus makanan sudah Dani siapkan di ruang tamu untuk Ara dan juga bapak dan adik Dani. Membeli makanan adalah hal yang sering Dani dan keluarganya lakukan, mengingat tidak ada wanita yang tinggal di dalam rumah besar itu.
Ara menemui Dani yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Apa paman sudah tahu kalau aku ada di sini?" tanya Ara sambil duduk di sofa yang tidak jauh dari Dani.
"Belum, aku juga belum bertemu bapak. Bapak baru saja pulang dan langsung mandi."
"Aku sedikit gugup" kata Ara sambil tersenyum canggung ke arah Dani.
"Santai saja Ara, aku akan berada di sampingmu, Oh iya dimana Bibi Fatmawati? kau dari tadi tidak bercerita tentang Bibi?"
"Ah, itu... Ibu di rumah saja Dani, jadi aku ke sini sendirian" ucap Ara sedikit terbata-bata.
"Bibi sehat kan?" tanya Dani dan di susul anggukan cepat kepala Ara.
Ara tidak mau Dani sampai tahu kalau ibunya saat ini lumpuh karena sakit stroke.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki bertubuh besar menghampiri mereka berdua dari rumah belakang. Laki-laki itu menatap tajam Ara, seperti sedang berpikir, siapa gadis itu.
Ara segera berdiri dan menyalami laki-laki yang tak lain adalah Ahmad, Paman Ara.
"Paman " panggil Ara dengan tubuh yang mulai dingin dan sedikit bergetar.
"Kau siapa?" tanya Ahmad kepada Ara.
Ara sedikit bingung menjawabnya.
"A_aku... A_Arafa Paman."
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏
keren namanya
kenapa klo bahas afka selalu sedih😭
Lanjut Thor...
NEXT ... ❤️❤️
lanjut baca part selanjutnya 👍🏻👍🏻❤️❤️
jadi ingat Almarhumah Ibu ...😭😭😭
Alfatihah yg Insya Allah tak pernah putus untukmu , Ibuku 🙏🏻🙏🏻😭😭
sungguh... tanpa terasa menetes saat baca flashback 😭😭
NEXT...
ceritanya menyayat hti 😭
NEXT ...
jd penasaran...
nyicil dulu ini thor..
ijin promo thor 🙏
jgn lupa baca novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE" 🍭🍭🍭
kisah cinta beda agama,
jgn lupa tinggalkan jejak dg like and comment ya 🙏😁
*SENYUM ANYA
*MAHABBAH RINDU
nama yang bagus
Salam mengundang like ke karya aku
I Love You Mr Mafia
Sky Blue Love