NovelToon NovelToon
Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.

Semuanya berawal dari ...

Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.

Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.

Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : Cincin berlian.

Isyana membawa beberapa tas belanjaan ditangan nya. Saat memasuki ruang santai dirumahnya, dia tidak sengaja berpapasan dengan Ikbal.

“Sya, kamu kok baru pulang?”

Isyana pun merebahkan tubuhnya diatas sofa. Begitu lelahnya tubuh dan pikiran nya hari ini. Sampai-sampai untuk menjawab pertanyaan dari Ikbal saja dia tidak sanggup.

“Tumben banget kamu belanja baju sebanyak ini?” tanya Ikbal lagi, saat melihat Dira yang baru masuk. Membawa beberapa tas belanjaan juga ditangan nya.

Ikbal pun penasaran. Dia membuka salah satu tas belanja tersebut. Seketika matanya terbelalak. Melihat label butik Nabila di baju-baju tersebut.

Isyana yang saat itu sedang menutup matanya. Mulai tersenyum menyeringai, dia membuka mata melirik wajah Ikbal. Pria itu ketakutan seperti sedang melihat hantu saja.

“Bagaimana Mas? Apa aku sudah cukup gila menurutmu? Ingat saja janjiku, aku tidak akan berhenti sampai kalian berdua benar-benar hancur! ” batin Isyana.

Isyana beranjak dari sofa dan berdiri didekat Ikbal yang tengah memeriksa semua tas belanjaan itu.

“Oh ini, tadi ada rekomendasi butik dari temanku... kata dia di butik ini baju-baju nya bahan terbaik, jadi aku beli semua baju premium nya,” ucap Isyana.

“Sebanyak ini? Memangnya akan kamu pakai semuanya?” Ikbal menoleh menatap heran Isyana.

Isyana menggeleng, “tentu saja enggak, ini baju-baju untuk para pegawaiku... aku gak biasa pakai baju yang berasal dari butik lain.”

“Baju-baju semahal ini apa tidak sayang kalau kamu suruh pegawaimu yang pakai?”

“Kenapa harus rugi? Pegawai-pegawai ku juga pantas memakai barang-barang ini, karena jika tidak ada mereka yang membantuku, mungkin perusahaan ku tidak akan berjalan lancar seperti sekarang ini,” ucap Isyana dengan nada sedikit tinggi.

Dira pun tersenyum mendengar ucapan sang bos.

“Baiklah, terserah kamu saja!”

Isyana menatap Ikbal yang tiba-tiba menjadi kesal dan membelakangi dirinya.

“Oh iya, aku juga tadi bertemu pemilik butik itu,” ucap Isyana menyeringai.

Seketika itu Ikbal langsung menoleh menatapnya dengan sarkas.

“Apa? Kamu bertemu pemiliknya?” Wajah Ikbal sangat tegang.

“Ada apa Mas? Kenapa kamu sangat terkejut? Apa kamu mengenal pemilik butik ini?” Isyana pura-pura memasang wajah polosnya.

“Tidak, hmm maksudku, kamu juga bertemu pemilik butiknya?” jawab Ikbal dengan terbata-bata.

“Iya aku bertemu pemilik butik itu, ternyata dia seorang model...”

“Lalu? Apa kalian banyak berbincang?” tanya Ikbal lagi, tapi kini dengan wajah penasaran.

“Kamu kok penasaran banget tentang pemilik butik itu, Mas? Pokoknya yang jelas pemilik butik itu seorang model, yang menurutku sangat materialistik... orang seperti dia tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang dia miliki dan akan terus berusaha merampas milik orang lain yang dia inginkan,” tutur Isyana dengan wajah datar menatap kearah lain.

Ikbal mendengus kesal. Dia ingin menjawab perkataan Isyana. Akan tetapi dia memilih pergi begitu saja.

Isyana menatap kepergian Ikbal. Rasanya darah didalam tubuh nya mendidih. Isyana mencoba mengatur nafasnya untuk memenangkan dirinya.

“Dir, bawa semua barang belanjaan ini ke kantor besok pagi, dan bagikan ke pegawai yang lain,” ucap Isyana seraya menoleh ke arah Dira.

“Baik, Bu.” Dira mengangguk.

Isyana pun berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Disaat jam menunjukan pukul tengah malam. Tidak tahu mengapa, Isyana terbangun dari tidurnya. Namun, lagi-lagi dia tidak mendapati Ikbal di sampingnya.

Isyana pun bangun dan duduk diatas ranjang. Sambil meraih ponsel dia melirik kearah suara yang dia dengar dari arah balkon.

Isyana beranjak dan berjalan kearah gorden yang menutupi pintu ke balkon. Dengan bertelanjang kaki dia berjinjit agar suara langkahnya tidak terdengar.

Dari balik gorden, Isyana memperhatikan Ikbal yang ternyata sedang melakukan panggilan vidio dengan Nabila.

“Kamu yang sabar ya, sayang. Mungkin Isyana tidak sengaja datang ke butik kamu,” ucap Ikbal yang mencoba membuat Nabila tidak marah lagi.

“Istri kamu itu memang kurang ajar, aku yakin dia sengaja buat aku kesal tadi sore! Awas saja kalau dia seperti itu lagi padaku!” Nabila mengomel tidak jelas.

Isyana terkekeh pelan mendengarnya. “Ckck, memangnya dia mau apakan aku? Tunggu saja nanti, siap-siap saja aku akan mengganggumu lagi!” bisik Isyana.

“Sudah ya sayang, jangan marah-marah terus. Nanti cantiknya kamu hilang,” gombal Ikbal.

Isyana mual mendengarnya. Dia pun berlalu pergi dan kembali ke ranjang. Sudah cukup menurutnya mendengarkan perbincangan kotor pasangan yang tidak tahu malu itu. Dia memilih untuk tinggalkan tidur saja.

Keesokan harinya. Saat Isyana sedang sibuk dengan pekerjaan nya di kantor. Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari Dira.

“Benarkah itu? Apakah kamu sudah memeriksa kembali kebenarannya?” tanya Isyana yang terlihat kaget dengan laporan Dira.

“Benar, Bu. Saya dikirimi langsung oleh orang yang saya suruh mengikuti kegiatan Pak Ikbal hari ini... sekarang Pak Ikbal berada di sebuah toko perhiasan, dan sedang memilihkan wanita itu cincin berlian,” jelas Dira.

“Baiklah, makasih untuk laporan nya.” Isyana pun memutuskan panggilan.

Saat sore hari, Isyana sengaja menelpon Ikbal. Untuk menjemputnya pulang. Ikbal menurutinya dan segera menjemput Isyana di kantornya.

“Mas, temenin aku ke toko perhiasan hari ini ya,” ucap Isyana saat berada di dalam mobil bersama dengan Ikbal.

“Iya,” jawab Ikbal tanpa rasa curiga sambil mengemudi.

Mata Ikbal terbelalak saat melihat toko perhiasan yang ada didepan nya. Dia bertanya-tanya apakah secara kebetulan toko perhiasan nya sama dengan yang dia kunjungi tadi siang bersama dengan Nabila.

“Kenapa nggak ke toko yang lain saja?” Ikbal berusaha membujuk Isyana.

“Tapi, aku maunya disini, Mas.” Isyana tidak perduli, dia pun segera turun dan masuk kedalam toko tersebut.

Dengan langkah berat Ikbal pun ikut masuk ke dalam toko perhiasan. Pandangan nya bertemu dengan salah satu pegawai toko, yang ternyata pegawai tersebut juga melayaninya saat dia datang bersama Nabila tadi siang.

“Selamat datang, Bu... Pak.” Pegawai itu terdiam saat menatap Ikbal.

Ikbal melotot dan memberikan isyarat diam menggunakan tangan nya kepada pegawai tersebut. Pegawai itu pun mengangguk pelan dengan ketakutan.

Isyana sempat melihat tingkah Ikbal saat dia mengancam pegawai tersebut. Tapi dia pura-pura tidak melihatnya. Isyana pun tersenyum miring.

“Mas, belikan aku ini ya,” pinta Isyana sambil mendekat dan menarik Ikbal ketempat deretan cincin berlian.

“Ya ya pilih saja, yang mana kamu mau... pasti aku belikan, sayang.” Ikbal tersenyum paksa karena tidak mau Isyana curiga dengan sikapnya.

Pegawai itu hanya bisa diam dan berperilaku layaknya pegawai seperti biasanya. “Baik, Bu silahkan dipilih yang mana.”

“Saya mau yang paling mahal,” ucap Isyana.

Seketika membuat Ikbal dan pegawai tersebut menoleh ke arah Isyana.

“Ada apa Mas? Kamu nggak mau beliin aku ya?”

“Engga sayang, bu-bukan begitu... aku pasti belikan kamu kok, kamu mau yang itu kan,” Ikbal ter gugup-gugup saat menjawab.

“Mba, tolong bungkus yang itu ... istri saya menyukainya.” tunjuk Ikbal kepada cincin yang diminta oleh Isyana.

“Baik, Pak. Silahkan disini untuk pembayaran nya,” ucap pegawai itu.

Ikbal pun segera mendekat dan menyiapkan kartu nya untuk membayar cincin pilihan Isyana. Sedangkan Isyana membelakanginya dan tersenyum lebar.

“Dasar laki-laki brengsek!” maki Isyana di dalam hati.

To be continued....

1
Elok Pratiwi
cerita tidak menarik
Elok Pratiwi
sangat tidak menarik tokoh utama wanita nya lemah hanya bisa menangis .. cerita yg sangat buruk
Cis Siu
uhuy
Ruth Khoiriyah
sama mbuletnya thor kenapa ceritanya mbulet
Ruth Khoiriyah
mbulet coba langsung ambil perusahaan nya aja biar tau rasa
Endang Supriati
oneng si isyana, lola lemot
Endang Supriati
ya iyalah ibunya berzinah, anak yg jadi korvan. adq hadisnya.
Wiwit
bingung dgn cerita isyana nya bodoh atw gmn ya
A Yes
❤️❤️❤️🌺🌺🌺🌺
A Yes
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
A Yes
ikuuuut💃💃💃💃😂😂😂😂😂✌️😅
YuWie
bunga untuk evan yg bisa teges...
YuWie
el gak peka..tio aja paham
YuWie
heran aku..gampang bgt diprovokasi. wong ya sdh tau sama2 janda dan duda dan ada anak. Isyana malah perasa bgt klo sama nino..
YuWie
duluuu disia2 elvanonya..sekarang kelimpungan sendiri nabila.
YuWie
ngonooo wae..nino ya gitu, dah pernah diabaikan ibunya jadinya skrg cari perhatian.
YuWie
hah
YuWie
ini baru laki2 hentelmen...gak dibalas cintanya mundur bukannya bikin hal yg licik2
YuWie
nahhh gitu...komunikasi tanpa emosi.
YuWie
buruk banget sih komunikasi el dan is.. padahal sdh sama2 pernah gagal tapi gak belajar dr kegagalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!