Yuk follow dulu ig nya Othor
'@lady.nuree
__
RUBY ALDERIA SMITH, tak ada kebahagian dalam hidupnya
Di fitnah oleh saudara angkat memang tak akan pernah di hiraukannya, tapi sakit, sakit hati jika orang tuanya tak mempercayainya.
Hidup rumit seorang gadis membuatnya tegar menghadapinya, walau berat tapi tetap harus semangat demi kelanjutan hidup nya.
MARAH, tentu pasti marah ! ruby anak yang mandiri walaupun selalu manja kepada orangtua dan kaka nya, tapi Ruby tidak pernah menyusahkan keluarganya.
dengan mengingat masalalunya membuat Ruby ingin membalas perbuatan Agatha, tapi tidak untuk keluarganya karena Ruby terlalu menyanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lady nuree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 21
Di dalam kamar yang begitu megahnya terbaring seorang pria tampan yang penuh dengan perban, selang infus tertancap pada lengannya dan alat bantu pernafasan yang setia menempel di bagian hidungnya.
Ruby memutuskan membawa David dan merawatnya di Markas mafianya agar tetap aman, dokter dan perawat yang menanganinya pun berasal dari anggota Mafianya.
" Selamat siang Lady ". Ucap serempak mafioso yang sedang bertugas di sana, anggukan Ruby sebagai jawabannya.
Ruby terus bejalan dengan gaya pemimpinnya yang begitu elegan, setiap orang yang di lewati Ruby terus memberi salam kepadanya tanda hormat.
Sampai Ruby di dalam kamar yang sudah di sediakan khusus untuk merawat David.
Ceklllekkk
Semua orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah pintu.
" Siang Lady ". Sapa dokter yang bertugas menangani David dengan kepala yang setengah menunduk dan di angguki oleh Ruby.
" Bagaimana keadaannya ?". Tanya Ruby mendekati ranjang.
" Keadaaan Nya sangat parah, luka dalamnya terlalu banyak dan bagian di kepalanya sangat memprihatinkan, harus segera melakukan operasi ". Jelas dokter merangkai kata sedemikian rupa agar tidak terjadi kesalahan dalam bicaranya.
" Lakukan yang terbaik, aku tidak ingin melihat bekas luka di manapun terutama wajah nya ". Ucap Ruby dengan wajah yang menahan amarah melihat keadaannya yang begitu parah.
" Saya akan mencoba yang terbaik Lady ". Tutur dokter itu seperti menahan nafas nya yang begitu ingin segera di hembuskan.
Selesai Melihat keadaan David, Ruby berjalan ke halaman belakang, di mana di sana terletak tempat pelatihan para anggotanya. Ruby terus melihat penuh dengan selidik ke arah mereka yang sedang melakukan latihan.
Senyum tersungging tipis di ujung bibir Ruby menatap puas dengan kemampuan para anggotanya, terlihat kemajuan yang sangat pesat sekali. Ketika Ruby Berjalan menghampiri mereka terdengar suara yang memanggil namanya.
" LADY ". Teriak Lucky berlari dari arah samping dan Ruby pun menoleh.
" Selamat siang Lady nya kaka ". Lucky memeluk Ruby sebentar dan langsung melepaskannya.
" Bagaimana keadaanmu hmm ?". Tanya Lucky meraih kedua bahu Ruby.
" Baik !". Seru Ruby acuh
" Ayo kita masuk, Kenzi sudah masak makanan kesukaanmu ! pasti lapar kaan ?". Ajak Lucki merangkul pundak Ruby.
" Kenzi, look at !". Semangat Lucki terlalu berlebihan menurut Ruby.
" Ehh ada si cantik nya kaka disini ". Ucap Kenzi mengecup kening Ruby. Ya, itulah kebiasaan mereka dan Ruby pun tidak keberatan.
" Ayo kemari dan makanlah ". Lucky menarik kursi untuk Ruby duduki.
Ruby akhirnya duduk dengan nyamannya, di atas meja sudah tersedia berbagai makanan kesukaan Ruby.
" Kenapa begitu banyak lauk pauk disini ka, nanti mubadzir bagaimana ?". Ucap ruby melihat dari ujung ke ujung meja penuh dengan masakan Kenzi.
" Tenang Lady, masih ada kita !". Seru Kenzi menaik turunkan alis nya berulang kali.
" ya ya ya terserah ". pasrah Ruby dengan kelakuan mereka.
Selesai makan, mereka berkumpul di dalam ruang pribadi milik Ruby
" Bagaimana ?". Wajah serius Ruby sangat terlihat jelas oleh mereka berdua
" BLOODY KNIFE ". ucap Kenzi menatap nyalang ke luar jendela.
" Apakah kau tau by saat aku menemukan David bagaimana keadaannya ? terlihat begitu mengerikan, begitu sadisnya mereka menyiksa nya". Ucap Kenzi
" Tidak hanya itu by, mereka menyiksa David dalam keadaan tangan yang di Rante di kedua sisi yang menggantung begitu kuatnya, darah yang telah mengering mengeluarkan bau amis yang sangat menyengat dan tubuhnya begitu kering. Aku tidak tau apa saja yang telah mereka lakukan sampai keadaannya mengenaskan seperti itu, mungkin jika kita tidak datang dengan segera, nyawanya pasti sudah tidak bisa tertolong". Sambungnya.
" Menurut info, mereka di bayar melakukan itu oleh saudara Lucifer sendiri ! Mungkin saudara yang lain iri melihat kejayaan perusahaan milik Lucifer". Lucky menimpali.
" Kaka dari Lucifer, Eugene. Ya itu nama dari kakaknya, dia memiliki perusahaan HS COMPANY yang bidang nya sama dengan Lucifer ! Untuk sekarang perusahaan itu sedang di atas daun setelah kehancuran Lucifer". Jelas Lucky dengan kaki bertumpu dan tangan di rentangkan di atas bahu sofa.
" Begitukah ?!". Seru Ruby nyeringai kejam.
" Bereskan semuanya, tapi sisakan pemimpinnya untuku". Titah Ruby tidak terbantahkan, semua yang keluar dari mulutnya merupakan hal yang mutlak menurut anggotanya.
" Siap !". Ucap serempak dari kedua laki-laki di ruangannya.
" Setelah dia sadar lakukan lah apa yang aku katakan ".
" Laksanakan kapten ". Mereka berdiri sejajar dan mengangkat kedua tangannya.
" Tch gila !". Decihan Ruby berlalu pergi.
" Mau pulang ?". Tanya Kenzi
" bye bye, jangan lupa sisakan untuk ku". Ruby melambaikan tangannya tanpa berbalik badan.
***
" Apa ada berkas yang harus aku periksa atau yang lainnya ?". Tanya Ruby malas di bangkunya
" Sangat banyak !". Tawa Raizen meletakan seluruh berkas yang begitu banyak di hadapannya.
" Shhhhhhh kenapa banyak sekali, apa Brayn tidak masuk kerja ? kenapa numpuk sekali ?". Keluh Ruby mendapat malas berkas yang ada di depan nya.
" Aku juga masuk tiap hari by, tapi tetep saja itu berkas numpuk, ia kan Vir ?!". Brayn masuk tiba-tiba dengan savira yang mengikutinya.
" Iya sayang, setiap hari pasti banyak berkas yang harus di periksa dan di tanda tangani, jangan ngeluh cepet kerjakan !". Tutur Savira sok bijak.
" Lelah nya kita akan tergantikan suatu saat nanti, lihat lah buktinya, perusahaan kita meroket sangat cepat cuman dalam waktu singkat ia kan Rai ?"
Sambungnya.
" Sudah-sudah nikmati saja, panggil saja kaka jika butuh apapun". Mereka bertiga keluar bersamaan, mereka tau pasti jika ada mereka di sana akan menjadi pelampiasan Ruby.
" Dasaaaar Gilaa". Ruby melemparkan buku ke arah mereka berjalan keluar. Dan
hahahahahahahah
Suara tawa menggelegar di luar pintu, jika sudah mereka bertemu pasti salah satu dari nya ada yang menjadi korban, dan hari ini Ruby lah sasarannya. Mereka tidak ada takut-takutnya kepada Ruby, wajah Ruby ketika marah sangat di nantikan oleh mereka.
" *M*enyebalkan " . Ucap Ruby dalam hatinya tapi sembari mengerjakan tugasnya.
Lain halnya dengan mereka bertiga yang saat ini sedang becanda ria di kantin perusahaan sembari menyeruput kopinya.
Malam pun tiba dan Ruby bersiap-siap pulang kerumahnya tapi di urungkan, terlihat senyum jail di bibirnya.
Ruby membuka laptopnya dan mengutak-atik keyboard nya dengan lincah setelah puas dengan kegiatannya Ruby berlalu pergi dari ruangannya. Di depan pintu, yang lain nya sudah menunggu kedatangan Ruby sedari tadi, niat mereka ingin menghampiri ruby ke dalam tapi di urungkan nya karena saat ruby bekerja pasti tidak ingin sama sekali di ganggu.
" Sudah selesai by ? ayo kita pulang biar aku antar ". Tanya Brayn sembari menawarkan dirinya mengantar Ruby pulang.
" Tidak usah aku bisa sendiri, aku bukan anak kecil kalian tau itu". Seru ruby dengan wajah lelahnya cemberut tidak terima.
" Lihatlah wajahmu by kusut seperti kain pel begitu, biar Brayn yang nyetir". perhatian Savira bukannya di sambut baik oleh Ruby tapi malah dapet pukulan darinya.
Pltaakkkk
" Aw ". Ringis savira kepalnya di jitak lumayan keras oleh Ruby.
" Lihatlah cantik begini di bilang kain pel, dasar buta !". Seru Ruby memuji diri sendiri.
" Sudah-sudah, jadinya mau di antar apa tidak ini ?". Tanya Brayn sekali lagi.
" Tidak usah ". Tolak Ruby dan langsung melewati mereka bertiga.
" Mobilnya sudah terparkir di depan by ". Teriak Raizen menatap punggung Ruby yang mulai menghilang.
" Ah sudahlah kita pulang juga, buat apa disini". Ucap Savira berlalu pergi diikuti oleh mereka berdua.
" Hati-hati ". Ucap Brayn yang baru sampai di parkiran.
" Oke, sampai ketemu besok dan jangan lupa kau Brayn besok ada temu klien di Restaurant X". ucap Savira sebelum pergi
" Ok !" jawab Brayn
" Kau juga hati-hati Rai jangan terlalu kebut-kebutan".
" Siap bos ".
Mereka pun pergi ke rumah nya masing-masing dengan mobil yang berbeda.
|
Semangatt terus...