( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Bima
Setelah jam pelajaran selesai, Taani meminta izin untuk menjenguk anak yang membuatnya penasaran itu.
Taani memasuki kamar yang ditunjukan ibu penjaga panti, suasana lenggang tempat
tidur besi bertingkat itu lengang, tidak ada siapapun di kamar ini.
Kemana anak itu?, katanya dia sakit!
Taani berjalan menyusuri kamar, mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Matanya tertuju pada buku gambar yang tergeletak di tempat tidur paling
pojok.
Berjalan mendekati ranjang besi, duduk pandangannya tetap pada buku
gambar, awalnya ragu, tapi demi rasa penasarannya taani mengambil benda
itu membukanya perlahan.
Mengamati satu persatu gambar yang di arsir rapih dengan pensil.
Halaman pertama menggambarkan bangunan yang wanita itu hafal,
Ini bangunan Panti kan?
Gambar kedua, seorang pria berkacamata tengah duduk di kursi sebuah
taman bersama seorang anak laki laki.
Tunggu.
Sepertinya Taani hafal tempat ini?
Dimana?
Siapa pria ini?
Taani hendak melanjutkan membuka lembaran berikutnya, namun jantungnya berdegub lebih kencang, saat buku di tangannya di rebut paksa.
Bima!!
Bocah laki laki berusia enam tahun itu menatapnya dengan tatapan
kesal.
“Bima....”
Taani mengerjap beberapa kali, di benar benar merasa seperti seorang pencuri hari ini.
“Ngapain Bu Guru di kamar aku?” Menjawab ketus
Taani mengulas senyum, tangannya sedikit gemetar.
“Kata Adit kamu sakit ya?” Mengelus rambut ikal bocah yang berdiri di hadapannya.
Aaa
Dia menepis tanganku!!!
Lagi.
“Mm, Bima sakit apa?” Mencoba kembali bertanya meskipun Taani tahu bocah
ini tidak akan menjawabnya.
“Bu Guru keluar aja deh, aku nggak suka Bu Guru” melipat tangan di depan
dada, bibirnya sudah sempurna mengkrucut
“Loh, kok Bima gitu? Bu Guru ada salah sama Bima?” Taani menggeser
duduknya, menepuk tempat kosong di sampingnya mempersilahkan bocah yang terlihat menggemaskan itu untuk duduk.
“Sini, Bima cerita dulu sama, Bu
Guru.”
Meraih tangan mungil itu, dia tidak menepisnya, manut duduk di samping
Taani
“Kenapa?”Mengusap pipi gembil yang terlihat menggemaskan
Ya Tuhan, mata beningnya!!.
“Kata Ibu..” Bibir mungil itu mulai terbuka,
“kata Ibu, Bu Guru sama Om Rizwan menikah.”
Taani menganggukkan kepala, memang iya kan dirinya dan Rizwan menikah.
“Aku nggak suka Bu Guru” menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal.
“Semenjak Om Rizwan kenal sama Bu Guru, Om Rizwan nggak pernah ke sini
lagi,” mata bulat itu sudah berkaca kaca
“Om Rizwan, nggak pernah beliin aku gulali di alun alun kota lagi."
Bima mengelap ingusnya kasar.
“Aku kangen sama Om Rizwan."
Oh, Taani mulai mengerti, jadi ini alasan
dari semua sikap dan tatapannya selama ini.
Bocah ini mengira kalau dirinya merebut perhatian pria itu.
“Bima sayang,” mengelap air mata yang membanjiri wajah menggemaskan bocah yang terlihat sangat tampan itu.
“Dengarkan Bu Guru, Om Rizwan sibuk Nak, kerjaannya banyak sekali, maaf
kalau selama ini bima menunggu Om Rizwan,” menggeser duduknya agar lebih mudah menjangkau tubuh mungil Bima.
Hening.
Taani tersenyum getir
Apa katanya tadi?
Rizwan bekerja!
Terserah apapun yang dikerjakan oleh pria itu, tapi hatinya berteriak tidak terima kalau dirinya harus menerima penghianatan lagi.
“Gimana kalau Bu Guru yang beliin bima gulali?”
Taani mengurai pelukannya, “ Mau?” Menatap bocah di hadapannya.
“Bima bisa ambil sepuluh, pasti Bu Guru beliin.' Taani mengangkat ke sepuluh
Ibu jarinya, tersenyum hangat.
“Beneran, Bu?” Bima bertanya antusias, menatap Taani dengan binar.
Taani menganggukkan kepalnya cepat, tersenyum lebar.
“Bu Guru juga bisa beli buku dongeng kesukaan Bima loh."
“Tapi, ada syaratnya,” alis Taani turun naik,
“Syaratnya apa Bu?” Bima kembali bertanya dengan antusias.
Taani tertawa hingga barisan gigi putihnya terlihat.
“Kamu ceritain gambar yang ada di buku ini." Menunjuk buku gambar di
samping Bima.
Bocah itu mengangguk semangat, mulai membuka lembar demi lembar
menceritakannya satu persatu.
Kini Taani tahu laki laki berkacamata itu Rizwan suaminya, laki-laki pendiam itu
amat di sayangi bocah menggemaskan ini.
Bima mencurahkan rindunya selama satu bulan ini melalui buku gambar
miliknya.
Pria yang selalu tersenyum hangat
padanya, selalu memeluknya, menggendongnya dan pria yang selalu membelikan banyak
buku dongeng kesukaannya.
Rizwan..!!
Bima sangat merindukan Rizwan.
**
Sore hari begitu cerah seperti memberi petunjuk bahwa yang di langit pun ikut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan anak laki-laki yatim itu.
Berjingkrak jingkrak dengan tangan yang terus menggenggam wanita yang selama satu bulan ini menjadi Ibu Gurunya, terus
berceloteh bahwa dia bahagia bisa jalan jalan sore lagi.
Tatapan tidak suka sudah lenyap semenjak keduanya berangkat dari panti menuju alun alun kota.
Suasana ramai, pedagang hilir mudik membawa dagangannya, wajah wajah cemas
berharap hari ini adalah Rizkinya,nagar bisa membeli sesuap nasi.
Balon gelembung sabun yang ditiupkan anak anak berterbangan, menambah suasana
ceria sore itu.
Sementara di sudut alun alun kota segerombolan remaja sedang duduk santai.
Asyik mengobrol bercerita tentang Guru di sekolahnya, atau uang jajannya yang
selalu kurang, atau bercerita tentang pacarnya yang cemburuan.
Karena setiap orang akan mempunyai masalahnya sendiri, pun dengan jalan keluarnya.
Ayunan besi sudah ramai di naiki anak anak, berebut siapa yang lebih dulu mendudukinya.
Jungkit jungkit sudah dipenuhi bocah bocah yang tidak ada gurat kesedihan sedikitpun di wajahnya Meringis bahkan menangis saat kepala terbentur besi, mengusapnya sebentar kemudian kembali naik.
Tidak menghiraukan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.
“Makasih Bu Guru.” Bima mengeratkan pegangannya, senyuman yang tak lepas dari
wajah lucu itu.
“Bima seneng?” berjongkok, menatap bola berbinar itu.
Hanya dijawab anggukan, memeluk Taani.
Erat.
Sesederhana itu untuk membuat anak yatim piatu tersenyum bahagia.
“Nanti kita main lagi kesini ya” Taani mengusap punggung bocah yang ada
di pelukannya.
Nyaman sekali rasanya.
“Boleh ajak Kak Adit sama yang lain?” Mengurai pelukan, menatap Taani
dengan tatapan memohon
“Tentu saja boleh.” Mencubit hidung bocah dihadapannya dengan gemas.
“Om Rizwan juga ikut kan Bu?”
Deg!!
Rizwan, masih sempatnya bocah ini ingat pada pria itu.
Taani mengedarkan pandangannya, tersenyum getir
“Mmm, kalau Om Rizwan udah nggak sibuk, pasti bisa ikut." Mengusap rambut
ikal yang bergoyang tertiup angin sore.
“Udah sore, kita pulang ya nanti di cariin Ibu” berdiri kembali menuntun
tangan mungil itu.
Ah, mudah sekali membujuk anak anak ya,
Mereka terlahir dengan hati yang lembut, mereka tidak tahu apa itu
benci, tidak pernah menyimpan dendam yang akan membuat penyakit dalam diri.
Kau pernah melihat dua bocah yang berebut mainan, saling membalas pukulan hingga menangis kemudian duduk berjauhan, apakah
akan bertahan lama? tentu saja tidak satu menit dua menit mereka akan kembali
akur, kembali berceloteh, cekikikan berlari saling mengejar seolah beberapa menit
yang lalu tidak terjadi apapun.
Atau anak yang terlihat begitu aktif berlarian, tidak perduli
dengan Ibu yang meneriakinya memberitahu agar dirinya berhati hati.
Ketika terjatuh, Sang Ibu meneriaki, memarahinya habis habisan.
Apakah di marah? Tentu saja tidak!
Dia hanya menangis ketakutan, menangis karena telah membuat malaikatnya
berteriak marah.
Tentu saja ada begitu banyak cara meluluhkan hati lembut itu tanpa harus
berteriak.
Jangan membuatnya takut, karena orang yang pertama kali anak anak cari ketika dirinya terluka adalah kita, Orangtuanya.
Orang yang pertama tempatnya mengadu ketika dirinya kesakitan.
Sayangi anak anak di sekitar kita, tidak ada anak yang nakal, yang ada
hanyalah kita yang belum paham cara menghadapinya.
Hati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulut kita.
Jika serangga saja kita takutkan masuk ke telinga anak, harusnya kita lebih takut lagi kata kata kasar yang masuk ke telinga anak, karena dampaknya akan jauh lebih buruk.
( Elly Risman Musa)
Semoga Ibu diluar sana bisa jauh lebih sabar lagi dalam membersamai Anak anaknya..🤗🤗
Bersambung...
sukses
semangat