NovelToon NovelToon
Bukan Salah Jodoh

Bukan Salah Jodoh

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:256.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Alzanabuq

( Tahap Revisi)

Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.

Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.

laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.

Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.


Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.

Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?



Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Bima

Setelah jam pelajaran selesai, Taani meminta izin untuk menjenguk anak yang membuatnya penasaran itu.

Taani memasuki kamar yang ditunjukan ibu penjaga panti, suasana lenggang tempat

tidur besi bertingkat itu lengang, tidak ada siapapun di kamar ini.

Kemana anak itu?, katanya dia sakit!

Taani berjalan menyusuri kamar, mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan.

Matanya tertuju pada buku gambar yang tergeletak di tempat tidur paling

pojok.

Berjalan mendekati ranjang besi, duduk pandangannya tetap pada buku

gambar, awalnya ragu, tapi demi rasa penasarannya taani mengambil benda

itu membukanya perlahan.

Mengamati satu persatu gambar yang di arsir rapih dengan pensil.

Halaman pertama menggambarkan bangunan yang wanita itu hafal,

Ini bangunan Panti kan?

Gambar kedua, seorang pria berkacamata tengah duduk di kursi sebuah

taman bersama seorang anak laki laki.

Tunggu.

Sepertinya Taani hafal tempat ini?

Dimana?

Siapa pria ini?

Taani hendak melanjutkan membuka lembaran berikutnya, namun jantungnya  berdegub lebih kencang, saat buku di tangannya di rebut paksa.

Bima!!

Bocah laki laki berusia enam tahun itu menatapnya dengan tatapan

kesal.

“Bima....”

Taani mengerjap beberapa kali, di benar benar merasa seperti seorang pencuri hari ini.

“Ngapain Bu Guru di kamar aku?” Menjawab ketus

Taani mengulas senyum, tangannya sedikit gemetar.

“Kata Adit kamu sakit ya?” Mengelus rambut ikal bocah yang berdiri di hadapannya.

Aaa

Dia menepis tanganku!!!

 Lagi.

“Mm, Bima sakit apa?” Mencoba kembali bertanya meskipun Taani tahu bocah

ini tidak akan menjawabnya.

“Bu Guru keluar aja deh, aku nggak suka Bu Guru” melipat tangan di depan

dada, bibirnya sudah sempurna mengkrucut

“Loh, kok Bima gitu? Bu Guru ada salah sama Bima?” Taani menggeser

duduknya, menepuk tempat kosong di sampingnya mempersilahkan bocah yang terlihat menggemaskan itu untuk duduk.

 “Sini, Bima cerita dulu sama, Bu

Guru.”

Meraih tangan mungil itu, dia tidak menepisnya, manut duduk di samping

Taani

“Kenapa?”Mengusap pipi gembil yang terlihat menggemaskan

Ya Tuhan, mata beningnya!!.

“Kata Ibu..” Bibir mungil itu mulai terbuka,

“kata Ibu, Bu Guru sama Om Rizwan menikah.”

Taani menganggukkan kepala, memang iya kan dirinya dan Rizwan menikah.

“Aku nggak suka Bu Guru” menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal.

“Semenjak Om Rizwan kenal sama Bu Guru, Om Rizwan nggak pernah ke sini

lagi,” mata bulat itu sudah berkaca kaca

“Om Rizwan, nggak pernah beliin aku gulali di alun alun kota lagi."

Bima mengelap ingusnya kasar.

“Aku kangen sama Om Rizwan."

Oh, Taani mulai mengerti,  jadi ini alasan

dari semua sikap dan tatapannya selama ini.

Bocah ini mengira kalau dirinya merebut perhatian pria itu.

“Bima sayang,” mengelap air mata yang membanjiri wajah menggemaskan bocah yang terlihat sangat tampan itu.

“Dengarkan Bu Guru, Om Rizwan sibuk Nak, kerjaannya banyak sekali, maaf

kalau selama ini bima menunggu Om Rizwan,” menggeser duduknya agar lebih mudah menjangkau tubuh mungil Bima.

Hening.

Taani tersenyum getir

Apa katanya tadi?

Rizwan bekerja!

Terserah apapun yang dikerjakan oleh pria itu, tapi hatinya berteriak tidak terima kalau dirinya harus menerima penghianatan lagi.

“Gimana kalau Bu Guru yang beliin bima gulali?”

Taani mengurai pelukannya, “ Mau?” Menatap bocah di hadapannya.

“Bima bisa ambil sepuluh, pasti Bu Guru beliin.' Taani mengangkat ke sepuluh

Ibu jarinya, tersenyum hangat.

“Beneran, Bu?” Bima bertanya antusias, menatap Taani dengan binar.

Taani menganggukkan kepalnya cepat, tersenyum lebar.

“Bu Guru juga bisa beli buku dongeng kesukaan Bima loh."

“Tapi, ada syaratnya,” alis Taani turun naik,

“Syaratnya apa Bu?” Bima kembali bertanya dengan antusias.

Taani tertawa hingga barisan gigi putihnya terlihat.

“Kamu ceritain gambar yang ada di buku ini." Menunjuk buku gambar di

samping Bima.

Bocah itu mengangguk semangat, mulai membuka lembar demi lembar

menceritakannya satu persatu.

Kini Taani tahu laki laki berkacamata itu Rizwan suaminya, laki-laki pendiam itu

amat di sayangi bocah menggemaskan ini.

Bima mencurahkan rindunya selama satu bulan ini melalui buku gambar

miliknya.

 Pria yang selalu tersenyum hangat

padanya, selalu memeluknya, menggendongnya dan pria yang selalu membelikan banyak

buku dongeng kesukaannya.

Rizwan..!!

Bima sangat merindukan Rizwan.

**

Sore hari begitu cerah seperti memberi petunjuk bahwa yang di langit pun ikut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan anak laki-laki yatim itu.

Berjingkrak jingkrak dengan tangan yang terus menggenggam wanita yang selama satu bulan ini menjadi Ibu Gurunya, terus

berceloteh bahwa dia bahagia bisa jalan jalan sore lagi.

Tatapan tidak suka sudah lenyap semenjak keduanya  berangkat dari panti menuju alun alun kota.

Suasana ramai, pedagang hilir mudik membawa dagangannya, wajah wajah cemas

berharap hari ini adalah Rizkinya,nagar bisa membeli sesuap nasi.

Balon gelembung sabun yang ditiupkan anak anak berterbangan, menambah suasana

ceria sore itu.

Sementara di sudut alun alun kota segerombolan remaja sedang duduk santai.

Asyik mengobrol bercerita tentang Guru di sekolahnya, atau uang jajannya yang

selalu kurang, atau bercerita tentang pacarnya yang cemburuan.

Karena setiap orang akan mempunyai masalahnya sendiri, pun dengan jalan keluarnya.

Ayunan besi sudah ramai di naiki anak anak, berebut siapa yang lebih dulu mendudukinya.

Jungkit jungkit sudah dipenuhi bocah bocah yang tidak ada gurat kesedihan sedikitpun di wajahnya Meringis bahkan menangis saat kepala terbentur besi, mengusapnya sebentar kemudian kembali naik.

Tidak menghiraukan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.

“Makasih Bu Guru.” Bima mengeratkan pegangannya, senyuman yang tak lepas dari

wajah lucu itu.

“Bima seneng?” berjongkok, menatap bola berbinar itu.

Hanya dijawab anggukan, memeluk Taani.

Erat.

Sesederhana itu untuk membuat anak yatim piatu tersenyum bahagia.

“Nanti kita main lagi kesini ya” Taani mengusap punggung bocah yang ada

di pelukannya.

Nyaman sekali rasanya.

“Boleh ajak Kak Adit sama yang lain?” Mengurai pelukan, menatap Taani

dengan tatapan memohon

“Tentu saja boleh.” Mencubit hidung bocah dihadapannya dengan gemas.

“Om Rizwan juga ikut kan Bu?”

Deg!!

Rizwan, masih sempatnya bocah ini ingat pada pria itu.

Taani mengedarkan pandangannya, tersenyum getir

“Mmm, kalau Om Rizwan udah nggak sibuk, pasti bisa ikut." Mengusap rambut

ikal yang bergoyang tertiup angin sore.

“Udah sore, kita pulang ya nanti di cariin Ibu” berdiri kembali menuntun

tangan mungil itu.

Ah, mudah sekali membujuk anak anak ya,

Mereka terlahir dengan hati yang lembut, mereka tidak tahu apa itu

benci, tidak pernah menyimpan dendam yang akan membuat penyakit dalam diri.

Kau pernah melihat dua bocah yang berebut mainan, saling membalas  pukulan hingga menangis kemudian duduk berjauhan, apakah

akan bertahan lama? tentu saja tidak satu menit dua menit mereka akan kembali

akur, kembali berceloteh, cekikikan berlari saling mengejar seolah beberapa menit

yang lalu tidak terjadi apapun.

Atau anak yang terlihat begitu aktif berlarian, tidak perduli

dengan  Ibu yang meneriakinya memberitahu agar dirinya berhati hati.

Ketika terjatuh, Sang Ibu meneriaki, memarahinya habis habisan.

Apakah di marah? Tentu saja tidak!

Dia hanya menangis ketakutan, menangis karena telah membuat malaikatnya

berteriak marah.

Tentu saja ada begitu banyak cara meluluhkan hati lembut itu tanpa harus

berteriak.

Jangan membuatnya takut, karena orang yang pertama kali anak anak cari ketika dirinya terluka adalah kita, Orangtuanya.

Orang yang pertama tempatnya mengadu ketika dirinya kesakitan.

Sayangi anak anak di sekitar kita, tidak ada anak yang nakal, yang ada

hanyalah kita yang belum paham cara menghadapinya.

Hati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulut kita.

Jika serangga saja kita takutkan masuk ke telinga anak, harusnya kita lebih takut lagi kata kata kasar yang masuk ke telinga anak, karena dampaknya akan jauh lebih buruk.

( Elly Risman Musa)

Semoga Ibu diluar sana bisa jauh lebih sabar lagi dalam membersamai Anak anaknya..🤗🤗

Bersambung...

1
agus ali
Kecewa
agus ali
Buruk
Tathya Aqila
seperti film sharukan ya gak si 😁
Rini Haryati
mksh
Rini Haryati
ceritanya bagus banget
sukses
semangat
Venny
menarik
vi
ceritanya bagus Thor, no hard conflict. aq suka
Lovely Shihab
Ngapain mempertahankan perempuan egois. Cantik saja tidak cukup nona, diluar sana bertimbun2 perempuan yg lebih cantik, lebih pintar, lebih baik, berkarier dan yang utama perempuan yg bisa menghormati suami. Perempuan kayak kamu, bagusnya dimasukin tong sampah. Kasihan Rizwan..cinta dengan perempuan yg tidak bisa apa2. cuma modal cantik doang
DEva Vis
kenapa ga terusin cerita Tania SMA rizdwan KA seruuu bgttttttt
Lilis Yuanita
lnjut k buru lupa
Daru Widyanto
mantap cerita'y seruuuuu
Daru Widyanto
dalam kehidupan itu masalah pasti datang silih berganti tinggal kita cari solusinya agar lebih dewasa dalam menyikapi'y
Daru Widyanto
hebat author cerita'y bikin penasaran aja
Daru Widyanto
alur cerita'y mirip dengan kisah hidupku,di jodohkan seiring berjalan'y waktu,dari acuh karena perhatian dan kesabaran istriku aq menerima dia dan endingnya bahagia sampai sekarang
Daru Widyanto
cerita yg inspiratif
ceava
yuhuu semngt di tunggu
Nadia Laili
sy termasuk ibu beruntung,bisa merasakan melahirkan Caesar dengan rasa sakit Krn Sdh bukaan 9 tapi si abangi gak mau turun,dan merasakan sakitnya full melahirkan normal buat si adek
Nadia Laili
senang bisa membaca karya yg nampak real di tengah karya yg selalu tokoh nya orang kaya se...se...nomer satu tapi nampak halu,, semangat thor
Nadia Laili
padahal bagus Lo cerita nya alurnya jelas gak bertele-tele,tata bahasa nya pun menunjukkan author nya gak alay, sayang like kok sedikit ya
Andi Sam Sam
Adakahhhhhhhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!