S 2
"Aku Punya Papa." Tiga kata yang selalu diucapkan Farzan bocah berusia 6 tahun itu, ketika teman-teman seusianya mengolok dirinya tidak punya papa.
Ibu mana yang tidak sakit hati melihat putranya yang selalu diolok, namun Zana hanya bisa diam karena dia tidak bisa menunjukkan siapa ayah dari anaknya.
Hingga ketika Farzan dinyatakan mengidap Pneumonia, penyakit yang bisa mengancam nyawanya, membuat dunia Zana seakan runtuh. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk pengobatan putranya, namun hasilnya selalu nihil bahkan semua yang ia punya telah habis terjual. Dan pada akhirnya, dengan terpaksa Zana kembali ke kota kelahirannya untuk mencari sosok ayah biologis putranya, yaitu laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya 7 tahun lalu, dengan harapan laki-laki itu bisa menolong putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. AKU HARUS SEHAT UNTUK PAPA DAN MAMA
"Farzan," panggil Zana dari jarak berkisar 5 meter dari tempat dimana putranya duduk nampak asyik mengobrol dengan laki-laki yang katanya adalah kakaknya Jane.
Mendengar namanya dipanggil Farzan lekas menoleh, senyum yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya mendadak agak surut melihat keberadaan mamanya, khawatir mamanya itu tadi mendengar percakapannya dengan Juna.
"Jadi itu Mamamu?" Tanya Juna sedikit berbisik.
"Iya Om, itu Mamaku." Jawab Farzan juga setengah berbisik, namun tak melepas tatapan dari mamanya.
"Baiklah kalau begitu, sekarang Om pulang dulu. Untuk rencana kita nanti akan Om kabari kapan akan dimulai. Dan satu lagi, jangan beritahu pada Mamamu, kalau Om adalah adik ipar Papamu." Ujar Juna lalu beranjak dari tempat duduknya. Pun dengan Farzan, bocah tampan itu hanya mengangguk lalu dengan cepat menghampiri mamanya.
"Farzan, kau sedang apa disini Sayang?'' tanya Zana setelah putranya itu berdiri didepannya sambil tersenyum, tatapannya sekilas menatap laki-laki yang terlihat melangkah kearah mereka.
"Aku sedang mengobrol dengan Om Juna, Ma. Om Juna itu kakaknya Tante Jane." Jawab Farzan.
Zana hanya mengangguk, tadi Arkan sudah memberitahu soal itu. Hingga ketika laki-laki yang bernama Juna itu telah berdiri didepannya ia langsung sedikit menundukkan kepalanya.
"Hai Zana, senang bertemu denganmu. Namaku Juna, aku kakaknya Jane." Ujar Juna seraya mengulurkan tangannya.
"Ya aku sudah tahu, tadi Arkan dan Farzan sudah memberitahuku." Ujar Zana tanpa menyambut uluran tangan Juna.
Juna pun menarik kembali tangannya sembari tersenyum kecut karena diabaikan.
'Kalau dilihat penampilannya sangat sederhana, aku jadi khawatir dengan Farhan sekarang. Apa iya dia benar-benar mau menikahi wanita yang tidak selevel dengannya, atau dia hanya terpaksa karena ada Farzan? Farhan kan terlalu membatasi pergaulannya. Ah pikirkan itu nanti saja, Zana kelihatannya cantik walau sederhana. Aruna dan Jane pasti bisa membuatnya terlihat lebih cantik dan aku yakin Farhan tak akan berkedip nanti menatapnya. Lagipula Farhan juga akan menjadikan Zana sebagai ratunya bila sudah menikah nanti. Oke jadi aku rasa selevel atau tidak itu tidak masalah.' ujar Juna bermonolog dalam hatinya sambil membuang nafas lega.
"Maaf, aku harus membawa Farzan kedalam karena sudah waktunya dia minum obat." Ujar Zana yang membuyarkan lamunan Juna.
Juna pun terkesiap, "Ah iya, aku juga sudah mau pulang." Ujarnya kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu.
"Farzan, kau tadi mengobrol apa dengannya?" Tanya Zana sambil menatap langkah Juna yang mulai menjauh.
"Kita hanya berkenalan saja, Ma." Jawab Farzan sambil tersenyum tipis.
Namun, rasanya Zana tak percaya, ia memicingkan matanya. "Dia tidak akan memberitahu pada Papamu kan kalau kita ada disini?" Tanyanya memastikan.
"Enggak dong, Ma. Pokoknya Mama tenang aja, Mama aman disini dari jangkauan Papa." Ujar Farzan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Hal itu membuat Zana berdecak kesal, ia langsung saja menarik tangan putranya itu masuk kedalam rumah. Tak memperdulikan celotehan Farzan yang terus menggodanya.
Hingga sampai didalam kamar, Zana langsung mengunci pintu kemudian merendahkan tubuhnya sejajar dengan putranya.
"Dengan ya Farzan, jangan pernah sebut-sebut lagi tentang Papamu, Mama tidak suka mendengarnya!" Tegas Zana memperingati.
Farzan hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Sekarang sebaiknya kamu minum obat terus istirahat agar kondisi kamu benar-benar pulih." Titahnya kemudian.
"Siap, Ma. Aku harus sehat untuk Mama dan Papa."
"Farzan...
"Iya Ma iya, aku minum obat." Ujar Farzan kemudian berlari menuju nakas mengambil obatnya.
Zana menggeleng pelan sambil menghela nafasnya melihat tingkah Farzan. Sejauh ini ia merasa lega melihat putranya itu tidak pernah lagi mengeluhkan sesak dan semacamnya yang akan membuatnya benar-benar merasa cemas. Dan jika nanti Farzan sudah benar-benar pulih ia berpikir untuk membawa putranya kembali ke luar kota. Kembali menjauh dari kehidupan Farhan mungkin sebaiknya ia lakukan demi keselamatan putranya sendiri. Dan baginya sudah cukup pertanggungjawaban Farhan atas semua biaya pengobatan yang sudah ia keluarkan untuk Farzan.
.
.
.
Setelah meninggalkan rumah adiknya, Juna langsung pulang ke rumah untuk memberitahu pada mertuanya tentang cucu mereka. Padahal ia sudah berjanji pada Farhan akan menyusul untuk ikut mencari Farzan Zana, tapi menurutnya biarlah laki-laki arogan itu saat ini menguras tenaga dibawah teriknya matahari. Hitung-hitung olahraga disiang bolong, kapan lagi ia bisa mengerjai kakak iparnya itu yang selalu menyusahkan dan merepotkan dirinya dalam hal apapun. Juna tak hentinya terkekeh sepanjang jalan membayangkan bagaimana frustasinya Farhan saat ini tak dapat menemukan yang dicarinya.
Sesampainya di rumah, Juna langsung menuju gazebo. Ia tahu anak, istri dan kedua mertuanya pasti sedang berkumpul di sana mengingat ini adalah hari Minggu.
"Papa..." Seru Nana ketika melihat papanya datang.
Juna mempercepat langkahnya, ketika telah sampai di gazebo ia langsung mendudukkan tubuhnya disamping putrinya itu.
"Juna, kau bilang akan membantu Farhan mencari mereka tapi kenapa kau pulang?" Tanya papa.
"Aku dari rumah Jane, Pa. Dan coba tebak siapa yang aku temui di sana?" Juna menatap kedua mertuanya, serta anak dan istrinya bergantian.
Semuanya serentak menggeleng.
"Ternyata sebelum Farhan memberitahu kita, Adam sudah lebih dulu mengetahui tentang Farzan dan juga Zana dan sekarang mereka ada di rumah Adam." Ujar Juna sambil tersenyum.
"Apa, jadi cucu Papa ada rumah Adam? Juna, sekarang ayo antarkan Papa kesana!" Titah sang papa mertua dengan antusias.
"Pa, sebaiknya kita tidak menemui mereka dulu sekarang. Tadi Jane memberitahu aku kalau Zana tidak mau bertemu Farhan lagi. Aku khawatir dia akan membawa Farzan pergi. Tapi papa tidak perlu khawatir, aku dan Farzan sudah merencanakan sesuatu untuk mempersatukan Mama dan Papanya."
Mendengar itu papa pun kembali duduk ditempatnya yang semulanya telah berdiri hendak pergi.
"Kalau begitu, telepon Farhan sekarang dan suruh dia pulang. Dia pasti sudah kelimpungan mencari mereka." Ujar Papa.
"Biarkan saja dulu, Pa. Kapan lagi Farhan mengukur jalanan kota ini." Kata Juna sambil terkekeh.
"Dasar kau itu, sepertinya kau dendam sekali pada kakak iparmu itu." Papa pun terkekeh.
.
.
.
TBC.......✨✨✨
tuh bocil ganteng mu kangen berat sm kalian , sabar napa
apa zana anak om wili yang ktnya hilang?