Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.
Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.
Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.
Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.
Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Ikuti kisahnya sampai akhir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Itu Tiba (1)
Dua hari lalu, Kak Andra mengatakan akan memberikanku kabar terkait pekerjaan yang dia janjikan. Dia bilang jika kami akan bertemu kembali, tapi dimana? Dan bagaimana? Aku tidak mempunyai nomor teleponnya yang baru.
Mungkinkah dia masih menggunakan nomor telepon yang lama?
Aha! Ya, aku pernah mencatatnya pada buku harianku dulu, semoga buku itu masih ada.
"Ma, apa mama masih menyimpan buku-buku masa sekolahku? Buku catatan berwarna hijau itu, apa mama masih menyimpannya?" Kutanya mama yang sedang menyuapi abah sarapan menu bubur.
"Mama simpan di dalam satu dus semua, cobalah dicari," jawab mama.
KETEMU!
Bukunya masih ada dan benar saja, nomor Kak Andra masih tercacat dengan rapi di halaman paling depan. Buku bersejarah yang berisi segmen kisah hidup masa remajaku yang nyaris sempurna, walau memang sebagian besar hanya tentang Kak Andra saja.
Kutarik kedua sudut bibirku ke atas saat melihat tulisan lama, sekitar 7 tahun yang lalu berjudul "Kak Andra, kelincimu mati!"
Kubaca tulisanku saat masih polos dan lugu dulu.
"Hahahaha, bisa-bisanya aku menulis seperti itu?"
"Daisya? Apa yang sedang kamu tertawakan?" Ternyata mama mendengarkanku, langsung kujawab dengan gelengan kepala.
Kutekan setiap digit nomor di buku itu pada layar ponselku dengan jari yang gemetar hebat. Ragu, takut, dan malu. Segala rasa bercampur menjadi satu. Besar harapan jika nomor itu sebaiknya sudah tidak aktif sehingga aku tidak perlu merasa takut dan gugup berkelanjutan seperti ini.
Namun, harapanku tidak terkabul ketika panggilan itu seketika terhubung dan detik berikutnya terdengar suara seorang pria dari seberang sana.
"Halo?"
"HAH!" Ujarku terkejut, sontak menutup mulutku rapat-rapat.
"Halo? Halo, dengan siapa?" Kembali kudengar suara Kak Andra yang benar-benar menyapa. Sayangnya, bibirku kelu–tidak bisa berkata-kata.
"Ha—" baru saja mulutku terbuka, tetapi sambungan telepon telah diputuskan olehnya.
Tut...tut...tut....
Sejenak kutarik napas dalam-dalam dan mengembuskan secara perlahan. Kuulang beberapa kali sampai kudapatkan ketenangan dan jantung ini tidak lagi berjoget ria di dalam sana.
"OK, sekali lagi."
Kuputuskan untuk menghubungi nomor yang sama sekali lagi dan berjanji akan berbicara dengan benar kali ini.
Tersambung, tetapi tidak ada jawaban.
"Baiklah, sekali lagi."
Aneh, harusnya aku tidak perlu gugup seperti ini. Ada apa dengan hatiku yang mudah tergonjang-ganjing dengan para pria tampan? Apakah perasaanku ini murahan?
Tenang, santailah.
Nyatanya, sambungan telepon yang kudial berkali-kali tidak mendapatkan balasan dari seberang.
"Kak, maaf mengganggu. Ini aku, Daisya." Begitu pesan yang kukirimkan. Kutahu, jika Kak Andra tidak menyediakan waktu untuk orang asing gabut yang menelepon tanpa bersuara sepertiku. Jadi, mengirim pesan singkat menjadi satu-satunya cara untuk mengonfirmasi bahwa ini adalah aku.
Beberapa menit berikutnya, ponselku berdering menampilkan nomor Kak Andra yang belum kuberi nama pada kontaknya.
"Halo?" Dia mendahului.
"Halo, Kak. Maaf, aku mengganggumu. Hanya ingin bertanya soal pekerjaan itu," ujarku tidak enak hati.
"Iya, sudah siap, kok. Tunggu ya, setengah jam lagi aku jemput kamu," ujarnya. Seperti kudengar ada nada tergesa-gesa di sana.
"Iya, terima kasih, Kak."
"OK, kututup dulu. Bye!" Sautnya ramah, lalu menutup panggilan.
Kini aku hanya butuh bersiap karena sebentar lagi Kak Andra datang untuk mengantarku ke tempat kerja. Namun, baru saja kaki berputar dan melangkah sekali, tiba-tiba suara seseorang mengejutkanku.
Tok tok tok. Suara pintu diketuk, sontak membuatku berbalik arah dan kembali menghadap pintu.
"Daisya," panggil seseorang yang akhir-akhir ini hampir kulupakan sosoknya.
Alisku mengerut, "Mas Rezky? Mau apa?" Tanyaku tanpa sadar berkata lirih, seadanya yang tercetus di dalam hati.
"Heum? Mau jemput kamu," jawab Mas Rezky yang terlihat sedikit kebingungan.
"Kenapa datang sekarang?" Sautku cepat. Sialnya, aku kelepasan memberikan respons seperti itu.
"Maksudku, apa Mas nggak pergi bekerja? Maksudku, kenapa tidak datang sore hari saja?" Kini aku mencoba menetralkan kegugupanku. Memikirkan bagaimana caranya supaya antara Mas Rezky dan Kak Andra tidak bertemu nanti.
"Kalau bisa datang sekarang kenapa, tidak?" Sautnya mudah. Ya, haknya mau datang kapan saja, sebisanya. Mengapa aku mengatur?
"Ya, baiklah. Duduklah, Mas," sambutku mempersilakan dia masuk daripada berdiri terus di depan pintu.
Tanpa perlu diberikan komando lebih, dia langsung duduk di posisi terdekat denganku. Bersebelahan denganku, entah mengapa aku menjadi tidak nyaman duduk berdesakan seperti itu di satu sofa yang sama.
Saat aku akan bangkit, benar saja, dia menahan lengangku secara cepat dan menuntunku untuk kembali duduk di atas pangkuannya. Harusnya aku tidak perlu gugup atau salah tingkah seperti ini karena hal ini sudah wajar apalagi kami sah sebagai suami istri.
"Mas, jangan seperti ini." Ujarku yang merasa tidak nyaman dan akan bangkit dari posisiku, tetap saja ditahan olehnya.
"Biar saja seperti ini, aku rindu," bisik Mas Rezky di telingaku.
"Nanti mama melihat," ucapku saat Mas Rezky menahan kuat supaya aku tidak bisa bergerak.
"Biar saja mama melihat, aku suamimu bukan pacarmu," balasnya.
"Mas, nanti tetangga melihat." Kutarik tubuhku supaya bangkit darinya.
"Daisya apa kamu—" mama datang dari dalam. Melihatku yang sempat sempoyongan setelah memaksa bangkit dari posisiku dan kini aku telah berdiri sempurna di depan suamiku.
"Rezky?" Mama menyapa. Langsung saja tangan mama diraih dan dicium olehnya.
"Mama, Daisya ingin bicara berdua dengan Mas Rezky," ucapku pada mama yang sebenarnya aku tidak ingin berlama-lama untuk membahas permasalahan ini dengan Mas Rezky karena sebentar lagi pasti Kak Andra datang untuk menjemputku atau mungkin dia sudah menungguku di jalan samping rumah. Entahlah.
Sejenak, kami saling diam. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
"Daisya, ini sudah tiba waktu 3 hari yang kamu minta. Sudah tenang, bukan? Sekarang, ayo kita pulang," ajaknya seraya meraih tanganku.
"Tidak, belum saatnya," tolakku.
"Hah? Apa maksudnya? Bukankah kamu bilang?"
"Iya, tapi waktu tiga hari yang kuminta bukan untuk pulang, Mas. Aku meminta waktu untuk memutuskan," ujarku dengan kepala yang tertunduk.
"Memutuskan? Memutuskan, apa?" Tanya Mas Rezky yang terdengar lirih sarat kebingungan.
"Memutuskan, apakah akan melanjutkan pernikahan ini atau harus aku sudahi."
"Apa kamu bilang? Sudahi? Maksudmu, kita bercerai?" Tanya Mas Rezky.
Aku mengangguk, iya, itulah maksudku.
"Gak bisa, kenapa tiba-tiba kamu ingin cerai? Kamu tahu, kita menikah baru—"
"Sebulan! Ya, aku tahu itu," sautku cepat memotong kalimatnya.
"Kalau mas khawatir dengan omongan dan apa kata tetangga, itu bukan masalah karena sejatinya kita yang menjalani pernikahan ini, bukan orang lain." Sambungku menjelaskan.
Kudengar Mas Rezky mendesah keras, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Daisya, kamu terlalu buru-buru untuk memutuskan. Baiklah, mungkin saat ini kamu masih perlu waktu. Iya, kan?" Tanya Mas Rezky.
Aku mengangguk, "iya, saat ini aku belum bisa memutuskan."
"Baiklah, jika kamu masih perlu waktu dan masih tinggal di sini tidak papa. Biar aku ikut tinggal di sini bersamamu juga," ucap Mas Rezky dengan sabar disertai dengan senyuman. Lalu, dia membelai pipiku dan membenarkan anak rambutku yang berantakan di kedua sisinya. Lantas kubiarkan dia mendekatkan wajahnya dan semakin bergerak maju seakan ingin menciumku.
Tot...tot...
Suara klakson di depan pintu mengejutkan kami dan menggagalkan kegiatan terakhir denganku yang langsung menarik mundur kepalaku dan menatap ke depan pintu rumah.
Taksi Kak Andra!
Sejak kapan taksi itu berada di sana? Apa Kak Andra sudah menunggu lama?
"Kamu memesan taksi?"
Bersambung....