NovelToon NovelToon
Pernikahan Terbuka

Pernikahan Terbuka

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Nilwa Sari

"Apa kamu tidak keberatan berbagi suami denganku?"

Anyelir menipiskan bibir. "Pertama, pelajari lagi tata bahasa. Pertanyaanmu bikin salah paham. Kedua, hanya saya Istri satu-satunya. Ketiga, saya tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya."

"Oh, My Darling love you too. Thanks untuk pujian manisnya," balas Axton dengan nada mencibir.

Axton dan Anyelir adalah korban perjodohan dari ketamakan orang tua masing-masing. Keduanya tidak saling mencintai, tidak saling menginginkan, tidak juga ingin terikat terlalu lama. Akan tetapi, suatu hari, baik Axton maupun Anyelir justru sepakat menjalani 'open marriage'.

Di mana, masing-masing dari mereka bebas menjalin hubungan dengan orang lain di luar pernikahan itu. Terkecuali di depan media dan keluarga, Axton dan Anyelir akan tetap menunjukan hubungan yang manis, berlagak sebagai pasangan ideal dan serasi.

Benar, seharusnya mereka hanya perlu berpura-pura tanpa harus saling menyakiti akan perasaan terlarang itu.

Cover by Canva

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilwa Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Luar Kendali Axton

"Baby siapa?"

Axton tersentak dan sontak menjauhkan ponselnya—saking gugupnya malah menekan speaker di mana teleponnya masih tersambung, dan apa yang tidak ingin diketahui Anyelir dulu pun terjadi. Suara anak kecil dari seberang sana, merengek manja memanggil nama Axton.

"Uncle Axton! Kapan sini?! Aku dah kangen, buluan sini!"

"Chaterine?"

"Iya." Axton menyengir, menyudahi teleponnya setelah berpamitan lebih dulu pada keponakannya. Sesudahnya mendekati Anyelir yang berjarak agak jauhan. Merangkul pinggangnya mesra dan mengecup singkat pelipis Anyelir begitu sudah mendekat. "Tadi tuh Kak Amber bilang katanya Chaterine rewel setelah Papanya pergi main kapal-kapalan. Mana habis jatuh lagi, makin-makin deh. Minta aku ke sana buat main. Udah lama juga aku nggak mampir."

"Beneran itu tadi Chaterine? Bukan selingkuhanmu yang begitu diam-diam kamu lihat dan tamati aku dari jauh, kamu alihkan panggilan ke Chaterine?"

"Nggaklah. Selingkuh apaan," tegas Axton membantah mentah-mentah. Agak kesal sedikit main dituding-tuding tanpa bukti.

"Jangan selingkuh dulu selama aku hamil." Anyelir melepaskan diri dari rangkulan Axton, berjalan lamban ke arah dapur. "Aku nggak mau kebiasaan burukmu ini nurun sama mereka. Cukup kamu sendiri aja yang sesat, mereka jangan dibawa-bawa."

"Bahasamu makin hari makin kasar, ya. Ingat, aku masih suamimu. Dan sekarang yang ada di dalam perut kamu itu, ada anak-anakku."

Mendapati Anyelir yang tak acuh dengan tegurannya, Axton pun mengikuti ke manapun langkah istrinya itu mengayun. Sampai masuk dapur dan Anyelir mengambil minum di dispenser untuk setelahnya dibawa duduk di meja makan, Axton setia mengikuti. Menarik kursi di sebelah Anyelir, menatap lekat-lekat istirnya yang sekarang sedang menenggak segelas air putih dengan tenang.

"Aku pernah punya kesalahan fatal apa sih sama kamu? Apa soal skandal tiga tahun lalu? Wake up, Darling. Itu semua cuman gosip belaka, aku sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama aktris itu. Kebetulan aja waktu itu aku—"

"Aku udah hapal isi beritanya—klarifikasi kamu di luar kepala. Nggak perlu kamu jelaskan lagi. Aku masih ingat, sangat ingat."

"Lalu?"

Lama-lama Axton geram juga dengan segala tindak-tanduk Anyelir yang selalu ingin menangnya sendiri. Apalagi ketika sudah main menyimpulkan perkataannya yang selesai pun belum, Axton begitu kesal.

Semakin dibuat jengkel dengan penghindaran masalah yang Anyelir lakukan. Yang sudah ingin beranjak berdiri saja dari kursi setelah mengabiskan segelas airnya. Lagi-lagi pergi menghindari Axton yang entah mau dilakukannya sampai kapan.

"Kamu kenapa sih? Beneran nggak percaya sama aku? Mau begini terus? Berantem tanpa pernah ada kata penyelesaian? Sampai kapan? Bilang sini sama aku. Sekarang juga biar akunya nggak kebingungan sendiri kayak orang bodoh gini."

Sudah cukup Axton mengalah, sudah kelewat lelah. Biarkan sudah jika memang Anyelir ingin terus memusuhinya. Selama itu membuat istirnya happy begitu pun dengan bayi-bayinya, lebih baik Axton saja yang menjauh. Segera berangkat kerja dan pulang dini hari sekalian biar tidak usah kecapekan harus bertegur sapa yang bisa saja menjadi bibit pertengkarannya lagi dengan Anyelir.

"Aku berangkat kerja dulu."

Axton memajukan wajahnya mendekati wajah Anyelir. Mendapati Anyelir malah melengos seperti enggan melihat wajahnya, Axton urungkan niatnya yang masih ingin mencoba menyudahi pertengkaran mereka. Alhasil, yang tadinya ingin mengecup bibir Anyelir, berganti mengecup kilas salah satu pipinya. Rencana pamitan pada bayi-bayinya pun juga Axton urungkan, jadi malas sekali.

Setelahnya Axton berlalu pergi tanpa perlu peduli dengan perasaan Anyelir. Biarkan sesekali istrinya itu berkaca, siapakah tokoh antagonis yang sesungguhnya dalam pernikahan mereka.

***

"Cek dan perbaiki lagi. Itu masih banyak yang keliru. Typo-nya juga, bikin sakit mata. Sebenarnya kamu bisa kerja nggak?"

Axton mengembuskan napas kasar, melempar map laporannya ke salah satu karyawannya yang sedang melapor tugas.

"Ini contohnya sudah kita bahas di meeting Minggu lalu, masa belum mengerti juga? Kalau belum paham, kenapa nggak tanya? Niat kerja nggak? Kalau masih niat, segera perbaiki. Saya kasih waktu dua jam. Selesai nggak selesai, lapor lagi ke saya."

Pegawainya hanya menanggapi dengan mengangguk-anggukkan kepala. Iya-iya saja mengingat kalau sampai salah bicara, apalagi protes, pemecatan pun tak dapat dipungkiri.

Axton mendesah gusar dan merebahkan punggungnya ke sandaran kursi setelah setengah hari dibuat kelelahan sekaligus emosi oleh kerja karyawannya yang ternyata banyak yang tidak becus, banyak yang saat melamar pekerjaan hanya mengandalkan orang dalam. Alhasil apa yang ingin dicapai perusahaan, lagi-lagi harus tertunda. Axton semakin kelabakan sendiri. Masih belum terbiasa bekerja sendiri tanpa Anyelir di sisinya.

"CK. Kenapa harus marahan terus. Maunya apa?" gerutu Axton kesal tidak bisa menghubungi Anyelir seleluasa sewaktu masih adem ayem. Mau menghubungi duluan, kok gengsi sekali. Kan, Anyelir yang memulai pertengkaran duluan, harusnya istirnya itu juga yang menyudahi pertengkaran tidak jelas ini.

Merasa bisa kebakaran ruang kerjanya jika hanya dibuat meluapkan emosi, Axton memilih segera hengkang keluar. Mumpung sudah masuk jam istirahat, tidak salahnya Axton makan di luar kantor. Sekalian mencari angin, atau mungkin mengalah saja dengan menghubungi Anyelir duluan yang tidak munafik, sedang Axton butuhkan kehadirannya. Kangen juga pada bayi-bayinya yang sudah berapa lama tidak Axton sapa.

"Ini lagi orang satu kenapa? Buruan minggir kalau nggak mau aku jorokin dari atap gedung," tekan Axton memperingati keras. Berusaha menarik lepas tangannya yang sudah digelayuti manja oleh Lily yang entah punya maksud apa dengan kembali mendekati Axton.

"Lilyana lepasin!"

Axton tak segan menghentakkan kuat lengannya yang masih dililit terlampaui erat oleh Lily. Setelah itu karena masih tak mampu membebaskan diri, Axton juga tak segan bertambah kasar dengan memegang satu pundak Lily untuk setelahnya didorong kuat ke tembok. Bunyi pertemuan antara punggung Lily dengan tembok, menguarkan bunyi keras sangking penuh tenaganya dorongan yang Axton lakukan.

"Udah aku peringatkan, jangan pernah berani usik hidupku dengan Anyelir. Apalagi sekarang udah ada anak-anak kami, sekali kamu berani sentuh Anyelir, aku nggak segan menyewa pembunuh bayaran buat habisin kamu."

"Enakan lagi habiskan waktu bersama aku nggak sih?"

Tidak memberi Axton kesempatan menjawab atau setidaknya menjauh dulu sebelum membuat orang yang melihat salah paham dengan posisi Axton yang seperti sedang memojokkan Lily—mau berbuat yang tidak-tidak, perempuan keong racun malah mengambil start duluan dengan kelewat lancang mengecup sebelah pipi Axton. Belum selesai dengan keterkejutannya akan ulah sialan Lily, Axton lebih dibuat terkejut setengah mati ketika mendengar suara barang berbahan stainless steel membentur keras lantai.

PRANG!

Refleks menoleh ke sumber suara, Axton tak mampu berkata-kata ketika mendapati sosok siapa yang barusan membuat kekacauan. Yang sekarang kedapatan menatapnya tanpa kedip. Seperkian detik kemudian, memutar tumit cepat dan bergerak menjauh dengan cara berlari keberatan.

1
falea sezi
burukkkkk bkin. novel. gantung amat
falea sezi
novel pret
falea sezi
wanita goblok🤣
falea sezi
bukannya yg. di. wc. ciuman. ma cwek😒
Iim fendiwasa
Luar biasa
Iim fendiwasa
Lumayan
Murniyati
baru mulai bc
YuWie
semakin bingung..
YuWie
maksude aldric apa kie... biasanya cucu yg diharapkan kok malah mau ditumbalkan.
YuWie
manis kan interaksinya...kenapa juga pake perjanjian gak jelas
YuWie
entahlahhh axton sebwnarnya pribadi menyenangkan tapiiii jodohnya anye gak ya
YuWie
org kaya yg menyamar jadi OB..nemu dimn si Anye. Nah kapokmu kspan Axton, dpt saingan sepadan kamu y
YuWie
awal yg bagus..tapi opening bikin il fiil aja krn kesepakatan pernikahaan..hmmm
November
lanjut
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
pasti ulah bapaknya Ax ini 🙄
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
real banget gak sih pasangan gini.. karna aku juga sama suamu klo lg dtg gak benernya cara menunjukkan romantis kami suka aneh², ya noyor kepala lah, nabok lah, gigit lah, teriak² lah.. serasa liat diri sendiri di anyelir 😁
Nanaty
org tua mcm apa tuhh
Soraya
mampir dulu ya kak
keyna
lanjut Thor
Forta Wahyuni
ish, tega banget thor buat mreka pisah n org tua anton gk beres. lbh mentingin hrta dr pada kbahagiaan anaknya, axton jg gk tegas n baninya cuma bentak2 istri. banci loe, ma Bpk loe keder n ama istri loe bentak2. kluarga gk beres..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!