Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan secara tiba-tiba
Sya yang masih berduka lebih memilih tinggal di rumah Bundanya, sampai tujuh harian tak pernah sekalipun Hasan menunjukkan batang hidungnya. Hal itu membuat Umi Pipik menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak baik pada Putrinya.
" Hallo. "
Umi Pipik memberanikan diri menghubungi seseorang dan panggilannya langsung tersambung, Ia langsung menanyakan perihal apa yang memberatkan hatinya beberapa hari ini.
" Aneh, ada apa sebenarnya. Kalau mang dia ada di Jakarta, lalu kenapa dia tidak pernah datang kemari. " Gumam Umi Pipik.
Umi semakin merasa heran, di tengah kebingungannya Ia di kejutkan oleh suara Sya.
" Umi. " Panggil Sya berulang kali.
Umi terkejut namun berusaha tersenyum
" Ada apa sayang. " Tanya Umi Pipik.
Masih dengan wajah sedih, Sya berpamitan pada Ibunya.
" Ah tidak ada apa-apa Umi, Sya hanya pamit pada Umi. Mau kembali kerumah, sudah beberapa hari Sya tidak pulang. Umi tidak apa- apa kan kalau tinggal sama Bibi Faridah. "
Umi Pipik segera mengangguk, meskipun Ia saat ini sedang bersedih namun Ia tidak bisa menahan Putrinya yang sudah berkeluarga itu berlama-lama tinggal dengannya.
" Tidak apa- apa Nak, kembalilah kerumahmu. Oh ya, jangan lupa kabari Umi kalau sudah tiba nanti. Salam buat Hasan. "
Sya mengangguk dan memeluk Umi nya, Umi juga mengantarkan Sya sampai di parkiran.
Sya mengemudi dengan santai, Ia memarkirkan mobilnya ketika tiba di rumah.
" Loh, Mas Hasan nggak kerja. " Gumam Sya ketika melihat mobil suaminya masih terparkir di tempat biasanya.
Sya melangkah masuk kedalam rumah, karena Ia memiliki kunci duplikat jadi dengan mudah Ia bisa masuk ke rumah itu.
" Oh akhirnya kamu pulang juga. "
Sya menoleh ke asal suara, Ia melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
Ia langsung menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, di dalam kamar Ia meletakkan tas kecil miliknya dan mengambil handuk bersih. Sya memilih membersihkan diri, namun ekor matanya melihat tumpukan pakaian di sampingnya.
Tanpa banyak bicara, Sya langsung membawa cucian itu dan mencucinya. Hasan masuk kedalam kamar dan hanya memperhatikan gerak- gerik Istrinya.
Hari-hari mereka berlangsung seperti biasanya, hanya saja Hasan menjadi jarang pulang. Kalaupun pulang, pasti telat dari jam biasanya. Sya enggan menanggapinya ataupun sekedar bertanya.
Di tempat lain.
Lusi histeris ketika melihat beberapa benda di tangannya, Ia menjerit sambil menjambak rambutnya sendiri.
" Tidak...... ! Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. "
Lusi mengambil alat yang baru dan melakukan uji coba namun hasilnya tetap sama.
Tiba-tiba wajahnya berubah sumringah setelah mengingat sesuatu, Is bergegas mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya dan berlari keluar meninggalkan kediamannya.
Di sepanjang perjalanan Ia memikirkan apa yang akan Ia lakukan nanti, namun karena pikirannya sudah menemui jalan buntu akhirnya Ia mantap melakukannya.
" Assalamu'alaikum. "
" Waalaikum salam. " Terdengar dari dalam seseorang menjawab salamnya.
Ternyata itu adalah seorang asisten rumah tangga, Lusi di persilahkan untuk duduk dan di sajikan minuman beserta cemilan.
Ayah Husein dan juga Umi Fatimah keluar setelah di kabarkan kalau mereka kedatangan tamu.
Umi Fatimah heran melihat siapa tamu mereka, dengan wajah datar Ayah Husein menyuruh Istrinya mempersilahkan tamunya untuk duduk.
" Silahkan di minum. "
Lusi mengangguk dan langsung meneguk air dalam gelas yang sebelnya sudah Ia tuang.
" Ada hal apa kamu kemari. " Tanya Umi.
Lusi menunduk dan menangis sesegukan, hal itu membuat Ayah Husein dan Umi Fatimah saling pandang.
" Bicaralah, ada masalah apa. "
Lusi mengangguk pelan dan mulai bercerita tentang apa yang terjadi padanya.
" Bagaimana mungkin, kamu jangan asal bicara Lusi. Kamu tau kalau ini bukan sesuatu yang bisa di buat barang candaan. " Umi Fatimah mulai tidak tenang.
Lusi terus menangis hingga matanya memerah.
" Aku tidak bercanda Umi, Hasan sudah melakukannya padaku. Saat itu dia sedang mabuk, Dia datang padaku dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku, Dia juga memaksa aku melayaninya. Aku tidak berdaya Umi, karena Umi tau kami berdua saling mencintai. "
Umi Fatimah menghela nafas berat, Ia tidak tau harus berbuat apa.
" Lusi, kenapa kamu tidak menolaknya. Padahal kamu tau kalau Hasan sidah menikah. "
Umi benar-benar tidak habis pikir, ini adalah hal yang sangat memalukan untuk semua keluarga besar. Bagaimana bisa Putranya menghamili wanita lain ketika Ia masih sah menikah dengan wanita lain.
Berbeda dengan Umi Fatimah yang gundah gulana, Ayah Husein justru menanggapinya dengan santai.
" Apa yang kamu katakan ini benar Lusi, apa kamu yakin kalau anak yang kamu kandung itu adalah benar-benar cucu kami, anak dari Hasan. "
Lusi mengangguk cepat
" Benar Ayah, ini adalah anak Mas Husen. Buah cinta kami berdua. "
Umi Fatimah memalingkan wajahnya, Ia merasa malu karena masih ada wanita seperti Lusi saat ini, beliau juga merasa bersalah pada menantunya.
" Baiklah kalau begitu, lalu apa maksud kedatangan mu kemari. " Tanya Ayah Husein.
" Aku hanya ingin keadilan Ayah, aku tidak mau anakku terlahir tanpa status. Hanya itu saja Ayah. "
Semua yang ada di ruangan itu terdiam untuk beberapa saat.
" Baiklah kalau begitu, sekarang kamu pulanglah lebih dulu. Jaga Dia baik- baik, kita akan cari jalan keluar mengenai masalah ini. "
Lusi mengangguk dan berpamitan pada kedua orang tua Hasan, Ia tersenyum sumringah ketika sudah berada di dalam mobil miliknya.
" Satu masalah selesai. " Gumam Lusi.
Di kantor, Husen mendapat telpon dari sang Ayah yang meminta Ia datang kerumah bersama sang Istri. Sepulang kerja Hasan langsung mengutarakan maksudnya pada Sya.
" Sya, bolehkah kita bicara. "
Sya mengangguk dan duduk di sofa lebih dulu di susul oleh Hasan.
" Sya, malam ini kita kerumah Umi. Ayah mengundang kita kesana. "
Sehabis magrib, Sya dan Hasan pergi kerumah Ayah Husein dan Umi Fatimah. Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya mereka tiba disana. Umi Fatimah merasa heran atas kedatangan Putra dan juga menantunya secara tiba-tiba.
Biasanya Sya akan mengabarinya lebih dulu kalau akan berkunjung, namun Umi tetap merasa senang kedatangan menantu kesayangannya.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan