Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 22
Robi mulai bisa bernafas dengan lega setelah keadaan Lala dan Rena sudah kembali normal. Mereka berdua sudah melewati masa kritisnya. Kini Lala dan Rena juga tidak perlu berada di ruang ICU lagi. Mereka sudah di pindahkan ke ruang VVIP yang ada di rumah sakit tersebut. Robi sengaja membuat Lala dan Rena ada di dalam satu ruangan yang sama. Ia merasa tidak tega untuk membuat dua sahabat itu di kamar yang berbeda.
Setelah matahari mulai tinggi, Robi memilih untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Pengawal Robi juga sudah tiba di rumah sakit Horison. Mereka bertugas untuk menjaga ruangan Lala dan Rena agar tetap aman. Tidak sembarang orang yang boleh masuk.
"Tuan, Tuan Rama sudah tiba di lantai bawah. Kami sudah memintanya untuk menunggu di taman yang ada di depan rumah sakit. Tetapi, Tuan Rama bersih keras untuk naik ke atas dan menemui anda langsung di sini," jelas pengawal itu apa adanya.
"Sekarang apa dia sudah tiba di atas?"
"Tuan Rama ada di depan ruangan ini, Tuan," jawab pengawal itu. "Maafkan saya Tuan. Saya ingin memberi tahu anda sejak tadi. Tapi, anda baru saja selesai mandi."
Robi melihat ke arah Rena dan Lala yang masih belum sadarkan diri. "Biar saya temui Tuan Rama di depan. Kalian tetap jaga Lala dan Rena di dalam sini. Jika ada tanda-tanda mereka akan sadar, segera hubungi dokter!"
"Baik, Tuan."
Robi memakai jam tangan di pergelangan tangan sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu memandang Lala sekali lagi sebelum menutup pintu ruangan tersebut.
"Tuan Robi, apa kabar?"
Robi sampai terperanjat kaget ketika Rama tiba-tiba saja berdiri di belakangnya. Pria itu mengukir senyum ramah melihat Rama berdiri sambil membawa parsel buah.
"Baik, Tuan. Apa ini untuk karyawan saya?"
Rama melirik parsel buah yang ia bawa. Pria itu mengangguk setuju sebelum memberikan parsel buah tersebut kepada Robi. "Ya. Tetapi, saya tidak bisa mengantarkannya masuk ke dalam. Saya hanya bisa bantu doa agar karyawan anda cepat sembuh."
Rama merasa tidak enak jika datang ke rumah sakit tanpa membawa buah tangan. Walau sebenarnya dia sendiri tidak tahu siapa yang sakit. Bahkan Rama berpikir kalau orang yang sakit tidak akan mungkin kenal dengannya. Andai saja detik itu dia tahu kalau pujaan hatinya yang terbaring lemah di dalam sana. Mungkin dia sudah menerobos masuk tanpa peduli akan keberadaan pengawal-pengawal di sana.
"Terima kasih, Tuan. Tetapi, mereka masih belum sadar. Nanti ketika mereka sadar, saya akan sampaikan pesan anda kepada mereka," jawab Robi. Pria itu memberikan parsel buah yang di bawa Rama kepada pengawal yang ada di dekatnya agar di antar ke dalam.
"Sepertinya karyawan anda orang yang spesial. Jarang-jarang ada atasan mau repot-repot seperti ini ketika karyawannya jatuh sakit," ujar Rama. Ia melirik ke dalam ketika pintu terbuka. Sayangnya posisi Lala dan Rena tidak bisa di lihat langsung dari luar ruangan.
Robi mendengar ucapan Rama. "Ayo Tuan. Di ujung sana ada roof top. Kita bisa bicara di sana sambil menikmati matahari pagi."
Rama mengangguk dan mengikuti langkah Robi. Pria itu berjalan dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam saku.
"Udaranya sangat sejuk. Saya tidak menyangka kalau di sini bisa menemukan lokasi yang indah seperti ini," ujar Robi. Dia lebih dulu duduk di salah satu sofa santai yang di sediakan. Sebelum di ikuti Rama.
Dua pria itu duduk berdampingan sambil memandang ke arah depan. Pada pagi hari, pemandangan kota terlihat sangat indah. Burung-burung berterbangan dan matahari bersinar terang menghiasi langit yang biru. Gumpalan awan juga tidak terlalu banyak hingga melengkapi keindahan langit.
Gedung-gedung pencakar langit yang ada di hadapan mereka terlihat sangat dekat padahal jaraknya lumayan jauh dari gedung rumah sakit tempat mereka berada.
"Tuan, sebenarnya saya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting." Rama memandang Robi. Pria itu terlihat takut-takut mengutarakan apa yang kini ia pikirkan.
"Ada apa, Tuan Rama? kenapa kelihatannya anda tegang sekali? Santai saja. Sejak pertemuan kita di restoran waktu itu. Saya sudah menganggap anda sebagai teman saya. Bicarakan masalah anda maka saya akan membantu anda," jawab Robi.
"Saya tidak bisa mengurus bisnis di antara kita. Karena saya akan mengundurkan diri dari perusahaan keluarga saya. Kemungkinan saya akan di coret dari ahli waris," jelas Rama dengan wajah sedih. Terlihat jelas kalau pria itu tidak rela melepas kenyamanan dan kemewahan yang selama ini dia miliki. Tetapi, dia lebih gak sanggup jika harus kehilangan Lala. Lala adalah hidupnya. Harta bisa di cari tetapi sosok wanita seperti Lala sulit untuk si temukan.
Robi diam sambil memikirkan perkataan Rama. Kabar ini memang sangat mendadak. Mengingat mereka baru saja menandatangani surat perjanjian yang isinya saling menguntungkan. Jika Rama sampai di gantikan orang lain, Robi tidak bisa percaya kalau bisnis itu bisa berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Sekarang saya beri anda penawaran, Tuan. Tarik kembali saham anda atau bertahan namun tidak ada tanggung jawab saya lagi."
Robi tersenyum setelah ia menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan ini. "Tidak masalah, Tuan. Saya akan tetap meletakkan saham saya di sana."
Rama mengeryitkan dahinya. Sungguh keputusan yang tidak di sangka- sangka. Karena beberapa investor yang sudah di temui Rama dan di hubungi Rama, mereka memilih untuk menarik saham mereka karena tidak mau ambil resiko.
"Justru saya akan membuat anda kembali ke perusahaan itu. Bukankah itu perusahaan orang tua anda sendiri? Sepertinya orang tua anda tidak akan membiarkan Anda pergi," jelas Robi penuh percaya diri.
"Masalah sangat fatal, Tuan. Mereka pasti marah dan akan mengusir saya."
"Maafkan saya, Tuan. Tetapi, kalau boleh saya tahu. Apa yang terjadi? Kenapa anda sampai memutuskan keluar dari perusahaan? Bagaimana dengan istri anda? Apa dia setuju?"
"Pernikahan kami tidak di dasari cinta. Saya menikah dengan Maya karena ingin menyelamatkan perusahaan saya yang hampir bangkrut. Ibaratnya utang budi. Saya sudah memiliki tambatan hati di sini." Rama menepuk dadanya sendiri. "Saya hanya mau menikah dengannya."
"Anda ingin meninggalkan semuanya demi wanita itu?"
Rama mengangguk setuju. "Benar, Tuan. Saya cinta mati dengannya."
Robi tertawa sambil geleng-geleng kepala. Pria itu tidak percaya kalau di dunia nyata masih ada pria seperti Rama. Rela meninggalkan semuanya demi seorang wanita.
"Kalau saya boleh tahu, siapa wanita itu?"
"Dia pernah bekerja di resto yang sekarang anda pimpin, Tuan."
"Benarkah?" Robi semakin penasaran. "Siapa namanya?"