Anna kira hidupnya akan hancur saat di bawa pergi oleh lelaki itu, awal pertemuan yang bisa di bilang tidak biasa, dan penuh drama.
Dia keras kepala, tidak suka dibantah, benci diabaikan dan setumpul hal buruk lainnya.
akankah hidup Anna baik-baik saja? atau malah sebaliknya. ikuti terus kisahnya dengan judul ~~ Mine
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park Zia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Ehm ehem lanjut lagi kita. Dan jangan lupakan like and comen. Makasih.
"Sudah cukup bermainnya. Mari kita serius!"
Dingin datar dan tanpa ekspresi membuat Alfariel menjadi terlihat seratus kali lebih menyeramkan. Lengannya yang patah bahkan sama sekali tidak mengangunya. Emm, sepertinya tidak seratus persen patah. Karena Alfariel terlihat masih bisa mengerakkannya.
Arga menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bola mata Alfariel yang terlihat mengkilat marah. Emosi yang dari tadi ditahan sepertinya sudah mulai dia abaikan. Tatapan dingin, datar dan menusuk itu benar-benar membuat orang mengigil takut.
Lelaki berjas hitam atau lebih dikenal dengan Darco itu juga menelan ludahnya takut. Emm, sebenarnya dia tidak bisa dibilang takut. Dia hanya sedikit merinding melihat seringai Alfariel. Seolah-olah lelaki itu bisa menghabisinya hanya dengan lewat tatapan mata.
"Sepertinya aku terlalu santai tadi. Sehingga anda bersikap seolah-olah sangat kuat." ucapan dingin Alfariel membuat suasana disana semakin mencengkram. Hawa dingin seolah-olah langsung menerobos masuk kepori-piri kulit. Membuat badan jadi mengigil kedinginan.
Anna bahkan sangat kaget saat melihat perubahan dari Alfariel. Dia seolah-olah tidak mengenali lelaki itu. Dia berbeda dengan Alfariel yang sering dengannya. Lelaki itu lebih dingin, datar, dan sepertinya sangat kejam. Seringai disudut bibirnya sama sekali tidak hilang.
"Kenapa dia sangat menyeramkan." batin Anna takut.
"Tulang dilenganku sepertinya agak tergeser." ucap Alfariel sambil menyentuh lengannya. "Aaaa, kurasa tulang ekor mu bisa dijadikan penebusan."
Kaki Alfariel mendekat kearah Darco, berjalan pelan tapi pasti. Mengabaikan darah yang menetes diwajahnya. Tepat setelah dia sudah berdiri didepan Darco, Alfariel langsung menendang kaki Darco kuat. Membuat Lelaki itu jatuh berlutut kesakitan.
Darco sama sekali tidak bisa mengelak atau sekedar menghindar dari tendengan Alfariel. Dia terlalu kaget dengan perubahan yang dilakukan Alfariel. Sehingga tendangan itu sama sekali tidak dapat dielakkan.
Bunyi dark tulang yang patah membuat sebagian orang yang disana bergidik nyilu. Ditambah lagi dengan pukulan-pukulan yang dilontarkan Alfariel pada tubuh Darco. Seolah-olah yang dipukulnya itu hanyalah kayu, bukan mahluk bernyawa.
Keadaan Darco sudah semakin menyedihkan. Dengan tulang rusuk, tulang kaki, lengan, dan tulang pungung patah. Darah juga terus keluar dari kepala Darco. Sepertinya tadi sebelum Alfariel pergi dia sempat menghempaskan badan Darco kelantai. Dan sepertinya kepala lelaki itu tidak sengaja terantuk pingiran meja yang tajam.
"Akhhh, pukulanmu beruntal sekali. Badanku bahkan hampir mati rasa." ucap Darco dengan batuk darah. Mengabaikan keadaannya, dia terus saja mengucapkan kata-kata sampah.
"Emmm, sayang sekali. Padahal ini baru permulaan." kata Alfariel datar. "Padahal aku ingin mengambil otak tidak bergunamu itu. Sepertinya buayaku akan menyukainya." lanjut Alfariel santai.
Uhuk uhuk
"Ehhhh, badanku sakit semua. Pukulanmu benar-benar jauh lebih hebat dari yang dulu. Aku takjub," desis Darco pelan sambil menahan sakit.
Dia mati-matian menahan sakit untuk berbicara. Bayangkan saja, dengan luka sebanyak itu dia dipaksa untuk membuka mulut. Tentu daja dia sangat kesakitan. Beruntunglah dia yang masih bisa hidup dengan luka sebanyak ini. Jangankan merasakannya, baru melihat luka itu saja sudah membuatmu merinding ketakutan.
"Kau benar-benar lemah. Hanya luka segitu saja sudah hampir mati." Ucap Alfariel dengan senyum sinis. Mengabaikan pandangan terkejut yang diperlihatkan Darco. Luka kecil? Sungguh manusia tidak berprikesakitan. Luka sebanyak dan separah itu dibilang luka kecil, lalu bagaimana jika luka besar? Mengerikan.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Darco berusaha untuk berdiri, walau sakit dan rasanya hampir mati, dia masih mampu untuk berdiri. Mengerikan, apakah luka yang didapatkannya itu memang tidak sakit?
"Kau curang sekali, aku hanya memukul lenganmu. Tapi kau membalas sebanyak ini!" seru Darco tidak terima. "Tapi kurasa, gadis itu juga bisa dijadikan penganti." senyum miring terbit disudut bibir Darco. Apalagi saat mata Alfariel kembali mengkilat marah. "Aaaa sepertinya kalau mati disini tidak papa. Asal bersama gadis itu." lanjut Darco santai.
Dengan mengeluarkan kekuatan yang tersisa, Darco menyeret kakinya kearah Anna. Dengan dibantu oleh anak buahnya, dia berhasil sampai disamping gadis itu.
Wajah Darco sudah benar-benar menyeramkan. Darah sudah keluar dengan derasnya disebagian wajahnya. Sepertinya tulang hidung Darco juga patah, Alfariel sunguh sadis.
"Bagaimana jika aku minta satu ginjal gadismu. Sepertinya masih bagus." Ucap Darco sambil memainkan pisau ditangannya dengan lincah.
Alfariel menaikkan sudut bibirnya, lalu berjalan kearah soffa dan duduk disana. Menyilangkan kaki lalu menatap Darco dengan serius.
"Aku baru tau kalau musuhku ternyata seorang yang pengecut," kata Alfariel santai. "Kau tidak pantas disebut sebagai bos. Kau hanya pengencut yang menyedihkan."
Mata Darco mengelap marah. Dia tidak terima saat musuhnya menatap dirinya dengan sorot mata meremehkan begitu. Itu sungguh menyebalkan, ditambah lagi dengan kata yang diucapkan Alfariel barusan. Dia pengecut? Hy, itu adalah penghinaan untuk lelaki sepertinya.
"Apa maksutmu?" ucap Darco marah.
"Tentu saja kau itu pengecut. Hanya lelaki pengecut yang berjanji tapi tidak ditepati. Dan kaulah orangnya." ujar Alfariel santai. "Kau bilang perjanjian adalah siapa yang menang maka gadis itu miliknyakan. Dan sekarang, aku yang menang. Dan kau ingin menolaknya? Pengecut."
"Aku bukan pengecut." teriak Darco marah dan langsung menarik tangan Anna kuat. Lalu mendorongnya hingga jatuh dilantai, membuat lutut gadis itu luka terkena serpihan kaca.
"Issss," ringgis Anna kesakitan.
Alfariel memberi perintah lewat sudut matanya, agar Arga membantu dan membawa Anna pergi. Dia sendiri yang akan menghabisi Darco. Dia tidak akan leluasa jika Anna masih ada disana, maka akan lebih mudah kalau Anna pergi terlebih dahulu.
Arga yang paham dengan Perintah Alfariel, langsung bergegas berlari kearah Anna. Membantu gadis itu berdiri dan berjalan keluar dari rumah itu. Dia juga sempat membawa Nisa yang terluka parah. Alfariel pasti akan menyusul nanti, jadi dia tidak terlalu khawatir.
Setelah Anna dan Arga hilang dari pandangan. Alfariel melihat kearah Darco dan semua anak buahnya dengan sorot mata membunuh. Dia pastikan orang yang menyakiti gadisnya akan merasakan hal yang lebih kejam lagi, lihat saja.
"Sudah cukup berbuat hal bodoh. Ayo selesaikan." desis Alfariel dan mengambil pistol disaku celananya. Mengarahkan pisol itu pada orang dibelakang Darco. Sebelum orang itu sempat pergi, Alfariel lebih dulu menarik pelatuk hingga orang itu jatuh mati tersungkur.
Satu persatu mati tertembak. Mereka bahkan tidak sempat walau hanya untuk berlindung. Tembakkan didada, kepala, kaki, leher dan yang lainnya sungguh sangat mengerikan.
Alfariel hanya memperlihatkan wajah datar dan dinginnya. Seolah-olah yang dia lakukan hanyalah bermain tembak-tembakkan. Dia tidak berfikir apa-apa saat membunuh para musuhnya. Dia sekarang sudah berhati dingin, yang ingin dia lakukan hanya melenyapkan semua orang yang menyakiti gadisnya. Dia sama sekali tidak membiarkan orang itu hidup, dia membunuh semuanya.
Dia juga mengabaikan darah yang terus keluar didahinya, seolah-olah itu tidak sakit. Dia terus menarik pelatuk dan membunuh semua musuhnya. Dan sekarang, hanya tinggal Darco sendiri. Yang lain sudah mati terkapar diatas lantai.
Darco bahkan sudah tidak punya kekuatan untuk sekedar berlari. Badannya sudah mati rasa, tidak dapat digerakkan lagi. Dengan langkah perlahan Alfariel menarik badan Darco dan melemparnya kedinding. Jam yang tergantung diatasnya jatuh menimpa kepala Darco. Tidak sampai disitu, Alfariel juga melempar Darco kelantai. Menginjak badannya dengan kuat, setelah dirasanya cukup dia berhenti sejenak. Membiarkan Darco yang berusaha kabur dengan sisa-sisa kemampuannya.
Dengan mengeluarkan seluluh tenaganya, Darco sampai ditangga yang ketiga. Satu tangga lagi maka dia akan bisa meraih ponsel untuk menghubungi yang lain. Tapi sebelum tangan itu sempat meraih ponsel tersebut. Alfariel lebih dulu menyeret kaki Darco dan melemparnya kedinding.
Lalu, Alfariel mengambil pistol dilantai. Dan mengarahkannya tetap dikepala Darco. Dengan senyum sinis Alfariel menarik pelatuk itu.
"Pergila keneraka."
Dor
Next to part 22