Aleta merasa hidupnya hancur setelah dikhianati oleh orang yang ia sayangi, malam dimana seharusnya dia yang bertunangan dengan kekasihnya. Namun, justru adiknya yang menggantikannya dan tepat pada malam itu juga Aleta tidak sengaja masuk kedalam kamar hotel yang akhirnya membuat hidupnya hancur sehancur-hancurnya, dia harus menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukannya dengan seseorang yang tidak ia kenal.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Aleta mampu bertahan?
Ig : @elaretaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melakukan Apa?
"Ini pakai," ucap Arka dan memberikan selimut tersebut ke Aleta.
"Mas Arka dapat darimana?" tanya Aleta.
"Saya tadi di pinjami cowok-cowok yang ada di sana, ini kamu pake biar gak kedinginan," ucap Arka.
Aleta pun mengambil selimut tersebut dan memakainya, "Makasih Mas," ucap Aleta.
Saya tengah menunggu Pak Edy tiba-tiba hujan turun dan membuat udara semakin dingin bahkan air hujan juga mulai mengenai Aleta karena memang posisi Aleta dekat dengan jendela.
"Kamu pindah ke sini, biar saya yang duduk di sana," ucap Arka dan berdiri.
"Gak usah, Mas. Aleta di sini aja nanti kasihan kalau Mas Arka pindah ke sini terus Mas Arka basah," ucap Aleta.
Arka tak habis pikir dengan Aleta, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu, "Saya tidak menerima penolakan, cepat pindah ke sini," ucap Arka.
Mau tidak mau Aleta pun pindah tempat duduk dan Arka mendekatkan dirinya pada Aleta lalu memeluk Aleta berusaha agar Aleta tidak kedinginan.
"Ck, lama sekali Pak Edy," gumam Arka, yang masih dapat di dengar Aleta.
"Mungkin Pak Edy lagi kejebak macet Mas," ucap Aleta.
"Tapi, tetap saja lama," ucap Arka.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan warung tersebut dan keluarlah Pak Edy lalu menghampiri Arka dan Aleta.
"Maaf Tuan, tadi di jalan ada kecelakaan yang membuat macet lalu lintas," ucap Pak Edy.
"Hem, untuk kali ini saya maafkan, sekarang kita pulang, istri saya sudah kedinginan sejak tadi," ucap Arka.
"Baik Tuan," ucap Pak Edy.
Sementara sepeda motor tersebut Arka titipkan ke warung dan akan ia ambil besok, untungnya pemilik warung memperbolehkan Arka menaruh sepeda motornya di warungnya.
Arka pun menuntun Aleta menuju mobil, setelah sampai di mobil Arka langsung mengambil selimut yang lebih tebal karena memang sebelumnya Arka sudah meminta Pak Edy untuk membawa selimut yang lebih tebal untuk Aleta.
"Mas Arka gak kedinginan kalau semuanya Aleta pakai?" tanya Aleta.
"Saya gak akan mati kok, jadi kamu gak usah pikirin itu yang terpenting saat ini adalah kamu dan baby-nya," ucap Arka.
Beberapa saat kemudian, Arka dan Aleta pun sampai di rumah, Arka dengan sigap mengambil payung dan membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Aleta untuk keluar.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan baru saja masuk tiba-tiba mereka dikejutkan dengan Mama Febby yang sudah berada di depan pintu rumah mewah tersebut.
"Aduh menantu Mama pasti kedinginan ya, Audy bawain selimut untuk Kakak ipar kamu!" teriak Mama Febby.
"Aleta gapapa kok Ma, ini Aleta juga udah pakai selimut," ucap Aleta.
"Kurang ini sayang, bentar ya Audy lagi ambilin selimut buat kamu," ucap Mama Febby.
"Kamu sih, harusnya gak usah keluar apalagi pulangnya sampai malam banget kayak gini. Kasihan tau menantu sama cucu Mama harus kedinginan," ucap Mama Febby.
"Namanya juga hujannya mendadak Ma, jadi Arka gak tau," ucap Arka.
"Terus mana mobil kamu? kenapa kamu malah pakai sepeda?" tanya Mama Febby.
"Biasa Ma," ucap Arka.
"Biasa biasa," ucap Mama Febby, dengan galak.
Mama Febby pun menuntun Aleta menuju ruang tamu dan mendudukkan Aleta di sofa, "Biar Bi Nia buatin jeruk hangat buat kamu ya sayang," ucap Mama Febby.
"Gak usah, Ma. Tadi Aleta sama Mas Arka berhenti di warung pinggir jalan dan beli jeruk hangat kok," ucap Aleta.
"Yaudah deh, kalau gitu kamu pakai selimutnya biar hangat," ucap Mama Febby.
"Mau kemana kamu, Ka?" tanya Mama Febby.
"Arka mau mandi, Ma. Tubuh Arka rasanya lengket," ucap Arka.
"Yaudah sama kamu mandi terus kamu ke sini Mama siapin teh hangat buat kamu," ucap Mama Febby dan diangguki Arka.
"Nanti setelah Mas Arka mandi, Aleta boleh mandi juga gak, Ma?" tanya Aleta.
"Jangan deh sayang, Mama takut kamu nanti malah kedinginan loh apalagi kan sekarang masih hujan," ucap Mama Febby.
"Tapi, tubuh Aleta lengket, Ma," ucap Aleta.
"Yaudah deh kamu boleh mandi habis ini, tapi kamu mandinya pakai air hangat ya," ucap Mama Febby.
"Iya, Ma," ucap Aleta.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Aleta masih terjaga di kasur begitupun dengan Arka yang juga masih terjaga di ruang kerjanya karena memang Arka masih ada beberapa berkas yang harus ia periksa.
"Apa aku jadi beban buat Mas Arka ya? kalau iya, kenapa Mas Arka gak bilang ke aku? Mas Arka kan mau nikah sama aku cuma karena aku lagi hamil kalau seandainya aku gak hamil pasti Mas Arka gak akan mau nikah sama aku walaupun malam itu kita berdua sudah melakukannya," tanya Aleta, pada dirinya sendiri dan tanpa terasa air matanya sudah mengalir begitu saja di pipinya.
"Melakukan apa?" tanya Arka, yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Mas Arka udah dari tadi di sini?" tanya Aleta.
"Saya baru masuk, maksud kamu tadi melakukan apa?" tanya Arka.
"Bukan apa-apa kok Mas, Aleta tadi hanya bicara gak jelas," ucap Aleta dan diangguki Arka.
Arka pun masuk ke dalam kamar mandi dan setelah itu keluar lalu naik ke kasur, saya berada di atas kasur Arka terus saja menatap ke arah Aleta yang sudah berbaring di atas kasur.
Aleta yang ditatap seperti itu pun bingung, 'Apa aku buat kesalahan ya?' tanya Aleta dalam hati.
"Aleta seakan sadar dengan kesalahan yang ia lakukan dan dengan cerita Aleta beranjak dari kasur, tapi sebelum itu Arka terlebih dahulu menahan tangannya hingga Aleta terduduk di atas kasur.
"Mau kemana?" tanya Arka.
"Mau pindah Mas," ucap Aleta.
"Pindah kemana?" tanya Arka.
"Ke sofa," ucap Aleta.
"Kenapa pindah ke sofa?" tanya Arka.
"Mas Arka gak bolehin Arka tidur di kasur kan," ucap Aleta, dengan pelan karena jujur saja saat ini Aleta merasa gugup dan takut secara bersamaan.
"Kata siapa saya gak bolehin kmu tidur di kasur?" tanya Arka.
"Soalnya tadi Mas Arka natap Aleta seolah-olah Aleta udah salah karena tidur di atas kasur," ucap Aleta.
Arka menghela napas panjang lalu menarik pelan Aleta dan merebahkan tubuh sang istri di atas kasur, tak lupa Arka juga menyelimuti Aleta lalu merebahkan tubuhnya di samping Aleta dan memeluk pinggang sang istri.
Hal itu tentunya membuat Aleta terkejut bahkan Aleta sampai menahan napas karena perlakuan Arka padanya.
"Kenapa dari tadi gak tidur?" tanya Arka.
"Hem, aku gak bisa tidur," ucap Aleta.
"Ini udah malam, lain kali usahakan tidur karena ibu hamil gak baik tidur malam-malam," ucap Arka.
"Iya, Mas," ucap Aleta.
Aleta kira Arka akan melepaskan pelukannya setelah mengatakan hal tersebut, tapi Arka justru mengeratkan pelukannya pada pinggang Aleta bahkan Aleta dapat merasakan hembusan napas dari Arka di lehernya.
"Tidur udah malam," ucap Arka.
"Iya, Mas," ucap Aleta dan berusaha untuk menutup matanya, tapi sangat sulit.
"Kenapa? gak bisa tidur?" tanya Arka.
"Iya Mas," ucap Aleta.
"Mau sesuatu?" tanya Arka.
"Gak kok, Mas. Tapi, emang gak bisa tidur aja," ucap Aleta.
"Sini lebih dekat," ucap Arka.
"Tapi...," ucapan Aleta terhenti lantaran Arka menyelanya.
"Gak ada tapi-tapian, cepat deketin sini," ucap Arka dan mau tidak mau Aleta pun mendekat dan memeluk Arka.
Sungguh ajaib memang karena saat ini Aleta merasakan kantuk berbeda dari sebelumnya.
.
.
.
Tbc.
eehhh.... ternyata udah lahiranpun masih lo-la
Tuhan.... tolong dong bebasin kami dan semua pembaca cerita ini dari keturunan yg lengkap seperti ALETA
tapi gak bisa dipungkiri sosok seperti ini banyak didunia nyata
betul yg dibilang Arka itu "pantes Leta ditinggal pacar krn bodoh dan lemah"
ya... semoga anak keturunan para pembaca g' ada yg seperti Aleta
lemah sih gakpapa tapi jgn suka bohong juga kan bisa
lemah gakpapa tapi jgn semua rasa cuma dibicarakan dlm hati juga kali, kangak semua orang cenayang yg ngerti isi hati org lain