Jika langit punya pelangi untuk di banggakan, aku punya kamu untuk di perjuangkan.
Itulah kata terakhir yang di ucapkan Rain pada Rindu yang ternyata sudah memiliki jodoh di kampung halaman. Hatinya hancur berkeping tapi tekadnya tak luluh begitu saja.
Rain mundur bukan untuk menyerah, tapi ia membiarkan gadis kesayangannya itu menentukan pilihan.
Akankah Rain yang di pilih??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kita mau kemana?" tanya Rindu saat ia sudah masuk kedalam mobil mewah Rain.
"Rumah utama."
"Rumah kamu?"
"Rumah keluargaku, apa kamu mau kerumahku?" tawar Rain, kedua alis Rindu pun langsung saling bertaut mendengarnya.
"Rumahmu? kamu punya rumah?"
Rain malah tertawa, ia gemas melihat raut wajah Rindu yang seolah tak percaya dengan ucapannya barusan.
"Tentu, aku punya tiga rumah, empat apartemen, dua kamar hotel pribadi, Lima Villa dan--"
"Stop!!"
"Kenapa?" tanya Rain saat ucapannya di potong tiba-tiba oleh Rindu.
"Jangan buat jiwa emak emak dunia nyata meronta, Rain" cetus Rindu.
"Iya, iya. Kalau sirik mereka suruh dateng aja ke dunia halu, dijamin bahagia lahir bathin" balas Rain di sela gelak tawanya.
Dua insan muda itu tak banyak bicara lagi selama perjalanan ke ibu kota karna Rindu fokus pada Madu di atas pangkuannya. Sedangkan Rain hanya bisa sesekali melirik kearah gadis itu sambil mengulum senyum
.
.
Sampai di rumah utama Rain langsung mencari kedua orang tuanya yang pagi tadi berkata tak akan kemana-mana. Ia pun bergegas naik ke lantai dua dengan menggenggam tangan Rindu. Gadis itu tak menolak justru seolah harus terbiasa dengan perlakuan manis Rain padanya.
"Mhiu---"
"Bum, loh apa ini?" tanya Biru kaget saat melihat Rindu berdiri di sisi putranya.
"Bum bawa emaknya Madu"
"Siang tante" sapa Rindu malu, ia berharap wanita itu tak sampai pingsan lagi kali ini.
"Siang juga, Rindu. Sini-sini duduk deket Mhiu"
Rain menarik tangan Rindu agar lebih dekat dengan Biru di sofa ruang tengah.
"Mau kemana?" tanya Rain saat Rindu berusaha melepas tangannya.
"Duduk dekat ibumu"'
"Disini aja, jangan jauh jauh" pinta Rain yang mendudukkan gadis itu di sampingnya.
#MulaiBucinOey.
Rain menceritakan semua yang terjadi terhadap Rindu termasuk perkelahiannya dengan Bani barusan di rumah Rindu jadi tak salah jika Biru terlihat sangat sedih dan khawatir.
"Yakin gak ada yang sakit?" tanya Biru sambil mengusap lembut wajah putranya. Bagaimana bisa anak manja itu berkelahi sedang di gigit nyamuk saja rasanya ia tak pernah.
"Iya, Bum gak apa-apa. Boleh Bum minta sesuatu?"
"Kamu mau apa, Sayang?"
"Rindu boleh ya tinggal disini, atau tinggal di salah satu apartemen ku" izin Rain.
"Untuk sementara waktu silahkan, tapi semua keputusan ada di papAy. Nanti kita bicara lagi ya" jawab Biru yang tak bisa mengambil keputusan karna ada suami dan mertuanya yang jauh lebih berhak di rumah utama.
"Maaf merepotkan" lirih Rindu.
"Gak apa-apa, tangung kalo ngerepotin hati aku aja kalau gak sekalian hidup aku juga" sahut Rain.
Plaaak
Satu pukulan mendarat di paha Rain, ini baru pertama kalinya bagi Biru mendegar sendiri bagaimana putra bungsunya itu merayu seorang gadis.
"Mhiu, sakiiiiiit" rengek Rain.
"Rindu, kuatkan hati kamu mulai dari sekarang ya." pesan Biru pada gadis cantik berambut panjang itu.
"Loh, kenapa?"
"Anak Mhiu udah mulai ketularan para suhunya. Ini kalau papAy denger bisa bisa makin di asah mulut manisnya buat ngerayu"
Rain malah tertawa saat melihat ekspresi berbeda dari dua wanita di dekatnya itu.
"Aku kan cuma denger dari Phiu loh"
"Dahlah, kalian itu sama semua! antar Rindu ke kamar tamu ya, Bum"
"Siap, Mhiu" jawab Rain.
Rain langsung mengajak Rindu ke kamar tamu lantai bawah tempat ia dulu berganti pakaian. Tak lupa ia pun memastikan lebih dulu keadaan Rindu yang sempat mendapat pukulan dari Bani. Tapi bersyukurnya keadaan gadis itu baik-baik saja tanpa harus khawatir berlebihan.
"Kamu istirahat ya, nanti ada Mbak yang bawain baju buat kamu" ucap Rain yang duduk di kursi meja rias sedangkan Rindu di tepi ranjang dengan Madu.
"Terimakasih banyak sudah menolongku, Rain"
"Tak apa, aku hanya ingin menjagamu"
"Menjagaku? untuk apa, masih banyak gadis yang jauh lebih dariku" balas Rindu.
.
.
.
.
Entahlah.. Bumi segini besarnya tapi aku maunya cuma sama kamu aja.
Andai ireng masih idup, dia pasti ketawa dengerin lo ngegembel Bum, 🤣🤣🤣
Yuk ah bucinin dulu.
Hilal Halalnya belom keliatan 🙄