NovelToon NovelToon
Rahim Pengganti

Rahim Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Poligami / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Hany Honey

Novel ini masih dalam tahap revisi ya, Kak? Jadi maaf kalau tulisan masih berantakan. 🙏 Udah Revisi bab 1-23 ya, Kak. Yuk Cek.....

Andini terpaksa menikah dengan Rico karena di desak oleh Dinda. Itu semua karena Dinda belum bisa memberikan keturuan pada Rico. Pernikahan Rico dan Dinda selama sepuluh tahun belum juga dikaruniai keturunan. Dengan terpaksa dan tanpa cinta Rico mau menerima permintaan Dinda untuk menikah dengan Andini.

Akankah Rico bisa menerima Andini dan mencintai Andini, setelah Andini memberikan buah hati untuknya? Atau sampai kapan pun Rico tidak bisa menerima kehadiran Andinni sebagai istri keduanya, sekaligus sebagai pengganti Dinda, setelah Dinda pergi menghadap Sang Khalik karena sakit yang tidak bisa disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Setiap pagi, Rico selalu mengunjungi makan Dinda. Selepas Salat Subuh dia langsung mengambil mobilnya, dan mengunjungi makam Dinda. Meski sudah dua bulan Dinda pergi, Rico tidak pernah absen untuk mengunjungi makam Dinda, dan selama dua bulan itu pun Rico masih belum mau bicara dengan Andini. Bagaimana mau bicara dengan Andini? Melihat Andini saja dengan tatapan penuh dengan kebencian?

Andini hanya bisa menangis, saat melihat Rico yang selalu bersikap dingin dan acuh padanya. Tidak hanya acuh dan dingin pada Andini. Selama dua bulan lamanya Rico pun tidak mau menyentuh masakan Andini. Tapi, Andini tidak mau menyerah, dia tetap memasak untuk Rico, mau dimakan atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, Andini masih menjalankan tugasnya sebagai istri, meski tidak pernah dianggap Rico.

Andini melangkahkan kakinye menuju dapur, setelah melihat Rico yang langsung pergi dari rumah untuk ke makam Dinda. Andini kembali memasak kesukaan Rico. Kali ini, Andini memiliki ide, supaya Rico mau makan masakan dirinya. Iya, Bi Ana. Dia akan meminta bantuan Bi Ana, supaya Rico mau makan masakannya. Andini menyiapkan bahan masakannya, dan mulai memasak makanan kesukaan Rico.

“Tidak masalah kamu tidak pernah mau makan masakanku, Mas. Tapi, suatu hari nanti, kamu pasti mau kembali seperti dulu, kamu mau makan  masakanku, dan mungkin kamu akan mencintaiku juga, meski suatu hari harapanku menguap begitu saja, aku tidak peduli itu. Yang penting aku sudah mencoba menjadi yang terbaik untuk Arsyad dan kamu. Bukankah sebuah batu yang sangat keras pun akan terkikis oleh tetesan air, meski memerlukan waktu bertahun-tahun lamanya? Aku yakin hatimu akan melunak dan menghangat lagi, Mas. Karena, aku tahu, kamu orang baik, Cuma keadaan yang belum bisa menyetabilkan hatimu,” gumam Andini dengan menata masakannya di piring saji.

Andini memanggil Bi Ana yang sedang di belakang, sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya, karena Andini selama ini menghandle pekerjaan dapur untuk memasak.

“Bi, bisa minta tolong?”

“Bisa, bagaimana, Bu?”

Andini membisikkan sesuatu pada Bi Ana. Bi Ana mengangguk dengan semangat, setelah mengerti apa yang Andini mau.

“Oke, kalau bibi sudah tahu, aku tinggal lihat Arsyad dulu di kamar ya, Bi? Nanti kalau Papanya Arsyad sudah pulang dari makam Mbak Dinda, bibi siapkan saja. Ya, bibi akting gitu, biar percaya kalau semua itu masakan bibi,” ucap Andini.

“Siap, Bu! Serahkan semuanya pada Bibi!” jawabnya dengan semangat.

Andini tersenyum, lalu meninggalkan Bi Ana ke dalam kamarnya. Melihat Arsyad yang masih belum bangun. Andini duduk di tepi ranjang dengan melihat Arsyad yang masih tertidur pulas. Andini menyentuh pipi Arsyad, dia setengah mencubit pipi Arsyad yang chubby, dan memang sengaja, biar Arsyad terbiasa bangun pagi.

Andini berharap, setelah dia meminta tolong pada Bi Ana untuk menyiapkan masakannya di meja makan, Rico mau makan masakannya. Andini berinisiatif, dia yang memasak, tapi Bi Ana yang menyajikan di meja makan.

“Anggap saja aku kokinya, dan Bi Ana pramusajinya. Beres, kan? Semoga Mas Rico mau makan,” gumam Andini.

^^^

Andini mengintip dari balik dinding yang menyekat antara ruang makan dan ruang tengah di rumahnya, saat Bi Ana sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Rico sudah berada di ruang makan, karena tadi Bi Ana yang memanggilnya dan  menyuruh Rico untuk sarapan.

“Sarapannya sudah siap, Pak. Silakan,” ucap Bi Ana.

“Baik, gini dong, Bi ... siapin sarapan lagi untuk saya,” ucap Rico dengan tersenyum.

“Iya, Pak. Mulai sekarang bibi yang akan memasak dan menyiapkan makanan untuk bapak. Lihat, bibi masakin makanan kesukaan bapak,” ucap Bi Ana dengan bahagia, melihat majikannya kembali duduk di ruang makan dan menikmati makanan yang ia siapkan.

Bi Ana juga melihat Andini yang mengendap-endap sedang mengintip, lalu menunjukkan jempolnya, tanda berhasil menyuruh Rico sarapan. Andini pun balik menunjukkan jempolnya seraya tersenyum bahagia pada Bi Ana, melihat Rico yang mau makan masakannya.

“Silakan, Pak?” Bi Ana mempersilakan Rico menikmati sarapannya.

“Oke, Bibi enggak sekalian makan?”

“Wah, bibi sudah duluan tadi di belakang, Pak,” jawab Bi Ana.

“Ya sudah, aku coba cicipi masakan bibi, ya?”

“Iya, silakan, Pak,” jawab Bi Ana.

Rico menyendok makanannya, lalu mulai makan. Raut wajahnya sedikit berubah, saat dia merasakan masakan yang Bi Ana siapkan, karena berbeda seratus delapan puluh derajat rasa masakan Bi Ana yang sedang ia makan sekarang.

“Bi? Ini benar masakan bibi, kan?” tanya Rico.

“Iya, ini bibi yang masak, mau siapa lagi kalau bukan bibi yang masak?” jawab Bi Ana.

“Bukan Andini yang memasaknya?” tanya Rico.

“Bukan, Bu Andin sepertinya masih di kamar. Dari tadi belum lihat Bu Andin keluar kamar, Pak,” jawab Bi Ana.

“Oh, gitu? Bisa minta tolong ambilkan nasi lagi, Bi?” pinta Rico.

“Baik, Pak,” jawab Bi Ana. “Enak kan masakan bibi?” tanya Bi Ana.

“Iya, enak, Bi. Tapi, rada beda rasanya, Bi. Mungkin saya sudah lama enggak makan masakan bibi kali, ya? Jadi rasanya beda, tapi ini enak sekali, Bi,” ucap Rico.

“Ya, mungkin bapak dari kemarin kan jarang makan di rumah, jadi ya lupa rasa masakan bibi. Gini dong, Pak, jangan menyiksa diri bapak terus. Kasihan Bu Dinda, kalau bapak malah semakin terpuruk. Bu Dinda di sana kan sudah gak sakit lagi, Pak,” ujar Bi Ana.

“Iya, Bi,” ucapnya.

Rico masih menikmati makanannya. Dia tahu, ini semua Andini yang memasak. Lidahnya sudah tidak bisa berbohong. Masakan ini benar masakan Andini. Rico sudah hafal rasa masakannnya dia.

“Aku yakin ini masakan Andini. Yakin sekali. Maafkan aku, Ndin, aku memang masih sedikit sesak jika melihatmu. Terima kasih, untuk semuanya, untuk semua kesabaranmu selama ini,” gumam Rico.

Andini bergegas kembali ke kamarnya. Dia langsung berbaring di sebelah Arsyad yang masih tidur pulas. Padahal dari tadi Andini sudah menggelitiki Arsyad supaya Arsyad bangun, tapi masih saja belum mau bangun. Andini mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Dia paham, kalau yang membuka pintu kamarnya adalah Rico. Mungkin dia memastikan Andini, masih di kamar atau tidak, dan ternyata Andini memang masih di kamar.

Setelah Rico kembali menutup pintu kamar Andini, di saat itu juga Arsyad membuka matanya. Dia tampak bahagia setelah bangun tidur, tidak seperti biasanya yang ada drama nangis meski sebentar. Dia mungkin tahu hati ibunya yang juga sedang bahagia, jadi dia pun merasakannya.

“Anak ibu sudah bangun, ih ... bahagia sekali kelihatannya? Yuk keluar, atau mandi dulu? Hari ini, Arsyad di rumah sama Bi Ana, ya? Ibu ada kerjaan banyak sekali di Cafe. Arsyad jangan rewel ya di rumah sama Bi Ana?” ucap Andini pada Arsyad.

Selesai memandikan Arsyad, Andini langsung membawa Arsyad keluar untuk diberikan pada Bi Ana, agar disuapi Bi Ana, karena dia akan siap-siap ke cafe. Ada pekerjaan yang cukup banyak hari ini, jadi dia tidak bisa membawa Arsyad ke cafe seperti biasanya.

“Bi, titip Arsyad, ya? Aku ada kerjaan di cafe. Sepertinya aku pulang agak sore, banyak sekali pekerjaan yang belum aku kerjakan, terus kalau nanti aku belum pulang, tolong masakin buat Mas Rico, ya?” ucap Andini.

“Baik, Bu. Oh iya, saya bawa Arsyad ke depan, ya? Mumpung Pak Rico di depan, dari kemarin Pak Rico cuek sekali dengan Arsyad,” ucap Bi Ana.

“Boleh, Bi. Nanti sekalian suapi Arsyad, ya? Terus susunya Arsyad, aku taruh di tempat biasa.”

“Baik, Bu,” jawab Bi Ana.

Andini kembali masuk ke kamarnya, dia langsung siap-siap  untuk berangkat ke cafe. Selesai itu, Andini langusng keluar, dan pamit dengan Arsyad yang sedang bercanda dengan papanya.

“Anak ibu, jangan rewel, ya? Ibu kerja dulu,” ucap Andini.

“Bi, titip Arsyad, ya?” Andini tidak menyapa Rico, karena dia tidak ingin mengganggu mood Rico yang sedang baik, dan mau bercanda dengan Arsyad.

“Iya, Bu, hati-hati,” jawab Bi Ana.

“Ya sudah, ibu berangkat, ya?” Andini mencium Arsyad yang sedang berada di pangkuan Rico.

Andini benar-benar tidak pamit dengan Rico. Karena, dia tidak mau dicueki Rico lagi yang akhirnya malah akan membuatnya sakit hati.

1
Nafeeza_🎈🎈
Haloooo AQ dtng dr masa depaaaan 2025.. hahaha
Shifa Burhan
paling muak dan jijik liat novel yang membuat konflik rumah tangga dan kalian hadirkan lelaki lain, dan kalian puja2 lelaki lain itu, novel kayak gini sangat2 menjijikan
falea sezi
emang tolol kan qm Andini di sakitin kek g punya harga diri tp di semua novel mu sih Thor peran wanita kek goblok semua
Hany Honey: wkwkwk iya, Kak. biarin aja lah begitu.
total 1 replies
falea sezi
uda deh g usa sok peduli ma suami yg gk sayang qm jd bodoh bgt ne perempuan
falea sezi
uda lah dinda ngapain sih g mau cerai
falea sezi
qm aja gatel suami g cinta lepas lah gatel bgt sih qm
falea sezi
Andini biarin aja lah riko meratapi bini nya yg uda mati qm minta cerai aja
falea sezi
riko sok bgt siapa yg mau ma loe
Sa Tokkin
Luar biasa
Maizaton Othman
Memang kamu bodohhhh kan...
Eka Zainal
Luar biasa
Nunung Aminah
kebanyakan adegan ciuman😇😇
Yati Meydayati: ) lllll0u ki0
total 1 replies
Nunung Aminah
k
Yusria Mumba
kasiang. dindah,
Masida Sida
cerita nya bagus aku suka baca cerita nya
Siti Khalim
oke siap thorr
Siti Khalim
wihh ini beda cara nulisnya kek dialog
Diana Susanti
nyimak
Masitah Masitah
itu namay laki laki kurang ajar
Vivi Bidadari
Andini malu" tapi mau ga usah sok" lah Andini terima aja perlakuan manis Rico ga usah balas dendam saling terima kekurangan dan kelebihan masing" tinggalkan masa lalu gapai masa depan dgn bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!